(Surat terakhir dari amara untuk ezra)
Sejak dulu, di antara kita berdua, aku yang paling pintar menulis. Dan sejak dulu juga, kamu yang kebagian tugas untuk membacaku. za, kamu ceritaku yang sudah selesai namun tak akan pernah habis kuceritakan.
Tidak. Aku tidak sedang merapikan hidupku yang berantakan, karena aku baik-baik saja. Kamu ingat desember tahun lalu? Sewaktu kita berpisah? Ya. Kita berpisah. Tadinya, kupikir, kita bisa merayakannya. Ada restoran yang ingin kutunjukkan padamu, restorannya romantis, tidak cocok untukku tapi aku tahu kamu pasti menyukainya.
Setahun sudah ya, za? Rasanya baru seperti kemarin aku menghampiri laki laki tinggi dengan baju hitam dan celana coklat. Ia berdiri sendirian di barisan paling belakang yang mungkin sekarang sangat melegenda. Bila tidak untukmu, setidaknya untukku. za, sekarang kamu sudah tumbuh dewasa, semakin tampan, semakin nyaman dengan penampilanmu yang aku tahu dulu kamu tidak pernah percaya diri. Perubahan baik dalam hidupmu kini jadi alasanku melanjutkan hidup.
Aku memutuskan berbicara lagi denganmu melalui surat ini, sebab kudengar amar juga mengirimkanmu salam perpisahan. Aku tidak pernah menyangka jika ia juga menaruh hati padamu. Walau harusnya bisa kumengerti, betapa mudahnya untuk jatuh cinta denganmu.
Awalnya aku agak bingung, apa isi surat yang tepat untuk kuberikan padamu. Karena kalau harus tentang perpisahan, itu sudah kita lakukan. Maka yang akan kusampaikan padamu adalah sebuah batas. Sebab setelah dari surat ini kamu baca, tidak ada lagi yang bisa kita lewati.
Maafkan aku, za. Untuk menuntut banyak hal sulit tanpa peduli kamu mampu atau tidak. Untuk membiarkanmu menyayangi seseorang yang jaraknya jauh sekali dari jangkauanmu. Untuk memintamu menunggu dengan banyak kebingungan yang harus kamu telan sendirian. Untuk memaksamu mengerti caraku mencintai. Dan untuk segala hal yang tidak sepatutnya kamu terima. Aku minta maaf.
Di awal tadi, aku bilang bahwa aku tidak sedang merapikan hidupku sebab aku baik-baik saja. Sebenarnya itu bukan karena aku kuat, za, tetapi karena aku ingat permintaan terakhirmu adalah supaya aku baik-baik saja. Ya, za. Aku tidak berantakan dan akan melanjutkan hidupku, karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk mewujudkan perasaan cintaku padamu. Itu caraku, za. Cara yang selalu kamu bilang aneh dan tidak masuk akal, tapi dengan itu, aku mempertahankanmu. Walau bentuknya tidak di sampingmu, tapi selalu ada bagian dari diriku yang hidup untukmu. Dan untuk yang itu, maaf, aku tidak bisa menghilangkannya, karena itu bukan kendaliku. Ya, za. Aku tidak akan pernah bisa mengendalikan diriku sendiri untuk berhenti menyayangimu.
Dulu, kupikir yang kuinginkan cuma akhir cerita yang bahagia. Namun ternyata hidup lebih dari itu, za. Dan kamu benar soal ending cerita, kita butuh yang baik, bukan cuma bahagia. Kamu cerita bahagiaku, za, tapi tidak cukup baik untukku. Kini aku semakin mengerti mengapa kita berpisah, karena berpasangan bukan jadi tujuan yang kita butuhkan. Terima kasih untuk perasaan senangnya .
Tetap jadi dirimu, za, karena dengan begitu aku tahu aku selalu mengenalmu.
Dari ceritamu yang tidak tergantikan,
Amara pandana