Via telah sampai di halte bus dengan beberapa orang yang tengah menunggu juga, sedangkan Fara perempuan itu sedikit berlari agar cepat sampai menuju halte.
“Via, kenapa ninggalin?” ucap Fara setelah sampai di halte, berdiri disebelah Via yang hanya terdiam entah kenapa.
“Via kamu kenapa?” tanya Fara merasa aneh dengan sikap temanya yang langsung berubah.
“busnya sudah datang” ucap Via tiba-tiba
Benar sajah bus sudah datang di hadapan mereka. Via masuk terlebih dahulu tanpa mempedulikan Fara yang hanya diam memandang Via.
“Via kenapa?” gumam Fara
Fara masuk ke dalam bus dan duduk di kursi yang berbeda dengan Via.
Via hanya memandang ke arah jendela bus, dia melihat gedung gedung malam yang indah dalam pandangannya. Pikirannya sedang mengacu pada ucapan Fara saat di pameran, dia rasanya tidak rela temannya akan pindah ke luar kota, dia hanya ingin Fara tinggal disini untuk selamanya. tapi Tuhan akan memisahkan mereka dari jarak.
Bus berhenti di halte jalur Fara pulang
Fara turun di halte pertama sedangkan Via di halte berikutnya. membuat kedua gadis itu harus berpisah tanpa pamit dan ucapan salam yang dilontarkan keduanya. mereka hanya saling diam, bahkan memandang satu sama lain pun tidak. Mereka melupakan kebahagiaan yang mereka lakukan di pameran. Moment yang tadinya cerah menjadi gelap dengan cepat.
Setelah Via sampai dirumah. Via hanya terduduk di lantai kamarnya. suara tangisan menggelegar ke seluruh penjuru kamar. Via sedang mengeluarkan rasa sedih dan penyesalannya dengan tangisan.
cklek
Suara pintu terbuka. ibu Via masuk saat mendengar suara tangisan putrinya, dia merasa khawatir mendengar tangisan yang berasal dari kamar putrinya. Ibu Via menyamakan posisinya dia mengusap Surai putrinya dengan lembut agar lebih tenang.
“Via kamu kenapa nak?” Suara ibunya membuat Via mendongak menatap dengan tatapan mata sembab.
“ibu”
“kamu kenapa? sampai nangis sesenggukan gitu” tanya ibunya
“Fara mau pindah rumah, mau ninggalin Via” Jawab nita dengan suara sesegukan karena terlalu lama mmenangis
“dia pindah rumah pasti ada alasannya Via” Jawab ibunya untuk menenangkan putri satu satunya.
“alasannya mau ninggalin Via pasti” ibunya menggeleng saat Via menjawab seperti itu.
“nggak mungkin Via. kamu kan sahabatnya, dia nggak bakal rela ninggalin kamu kalau alasannya kaya gitu” ucap ibu Via
“kamu jangan berburuk sangka dulu, Via. dia pasti punya alasan yang belum ia bicarakan sama kamu” lanjut ibunya Via.
“ibu benar. aku besok harus ketemu sama Fara”
Pagi hari di kediaman Fara. Gadis itu sedang membantu ibunya membawa barang barang barang yang diperlukan kedalam bagasi mobil. Barang barang yang ia bawa hanya seperlunya sedangkan perabotan rumah, itu akan di antar oleh jasa pengantar barang.
Fara sedih mengingat kejadian malam di halte, dimana saat Via menjadi cuek dan pendiam tanpa mengucapkan sepatah katapun, entah kenapa Via berubah sikap saat Fara memberitahu bahwa dia akan pindah.
Fara memasukan barang milik ibunya ke dalam bagasi. dia melirik kakaknya yang tengah berbicara ditelepon entah dengan siapa, kekasihnya mungkin.
“gimana barang pentingnya udah dimasukan semua?” tanya ayahnya.
“semuanya sudah beres” jawab ibu Fara
ibunya Fara melihat ke arah putrinya yang terdiam menatap ke arah jalanan, dua tersenyum kecil dan menghampiri putrinya.
“kau memikirkan apa Fara?” Tanya ibunya. Fara menatap ibunya dan menghela nafas.
“Via. aku penasaran, dia sedang apa sekarang” jawab Fara, ibunya mengusap Surai Fara dengan lembut.
“kenapa kau tidak meneleponnya?” tanya ibu Fara
“dia tidak menjawab teleponku” Fara sudah menelepon Via beberapa kali, tapi Via tidak menjawab telepon dari Fara.
“anak ibu yang sabar, yah.. mungkin Via butuh waktu” Fara mengangguk dengan ucapan ibunya.
“ibu, Fara. ayo kita berangkat!” teriak kakak Kiki dari dalam mobil, entah sejak kapan kakak Fara sudah berada di dalam mobil bersama ayahnya.
“Ayo. nanti macet di jalanya”
Fara mengagguk mengikuti ibunya untuk memasuki mobil.
Saat Fara membuka pintu mobil dia mendengar namanya dipanggil.
“FARA!”
Fara menatap ke arah asal Suara itu, saat suara tak asing meneriaki namanya.
dan..
“Via!” Fara berlari saat melihat temannya berlari ke arahnya.
mereka berdua berpelukan, tangisan mereka tidak bisa mereka tahan. rasa tenang bercampur bahagia menjadi satu.
“hiks.. Fara, aku minta maaf karna sikapku kemarin malam” ucap Via sesegukan.
“kamu nggak salah apa apa Via” Fara mengusap punggung Via, agar Via tidak semakin nangis.
“aku salah, Hiks” Via makin nangis saat mengigat kesalahan yang ia buat.
Fara melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Via yang masih sesegukan.
“semua kesalahan kamu udah aku maafin, jadi kamu jangan nangis lagi. jelek” ucap Fara.
Via mengagguk dia mengelap mata dan pipinya yang basah akibat air matanya.
“Nah gitu, jadi cantik mukanya” Puji Fara melihat sahabatnya yang sedang mengelap pipinya yang basah.
Via tersenyum mendengar pujian dari sahabatnya.
“kenapa tidak membalas teleponku?” tanya Fara.
Via menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
“aku hanya ingin memberi kejutan. dan aku juga membawa sebuah hadiah” Via menyondorkan sebuah benda indah yaitu: sebuah bunga yang terbuat dari botol plastik bekas.
“apa ini kerajinan prakaryamu?” tanya Fara saat bunga plastik itu berada di tangannya. Fara merasa tidak asing melihat bunga plastik yang ia pegang.
“Iyah itu kerajinan prakaryaku. aku memberikannya sebagai hadiah perpisahan” jawab Via
Fara tersenyum kecil. Dia terharu sahabatnya ini datang pagi pagi hanya untuk meminta maaf, dan mengucapkan salam perpisahan.
“Terimakasih, Via” Ucap Fara.
Via mengagguk dia tersenyum senang, melihat sahabatnya bahagia.
“Pergilah sebelum di jalan macet” Ucap Via. Fara menatap sahabatnya itu.
“aku akan sering meneleponmu” ucap Fara dengan senyuman
Via tersenyum lalu memeluk sahabatnya untuk terakhir kalinya.
“semoga kita di pertemukan lagi” ucap Via
“Amin” Jawab Fara
Via melepaskan pelukannya “Kau harus pergi. keluargamu pasti nungguin”
Fara mengagguk. dia berjalan menuju mobil sambil sesekali melihat Via yang masih tersenyum kecil kepadanya.
“Via maaf, aku nggak bisa nganter kamu lagi sampai halte!” Teriak Fara
“nggak apa apa” Jawab Via
Fara tersenyum kecil. dia menatap Via untuk terakhir kalinya, pasti dia akan merindukan gadis itu.
Fara melambaikan tangannya pada sahabatnya. Via membalas lambaian Fara, dia menahan tangisannya agar tidak keluar lagi.
Fara masuk ke dalam mobil dia duduk di sebelah kakak Kiki.
Via gadis itu sedikit sedih melihat mobil Fara yang sudah berjalan menjauhi dirinya. Via menunduk tangisnya pecah, dia tidak kuat melihat sahabatnya pergi untuk selama-lamanya.
“Via, jangan nangis!” Fara berteriak saat melihat Via dari jendela mobil yang setengah terbuka. gadis itu menangis lagi, membuat Fara ikut bersedih.
Via hanya terdiam melihat mobil Fara yang semakin jauh, jauh dan jauh dan mobil itu sudah tidak terlihat lagi di mata Via.
Via berjalan lesu menuju halte bus. Dulu Fara lah yang mengantarnya sampai halte, sambil mengobrol dan bercanda sampai mereka tertawa. Tapi sekarang yang mengantarnya sudah jauh.
Ting
Via meronggoh ponselnya saat pesan masuk membuat ponselnya berbunyi.
Via tersenyum melihat pesan itu.
Fara
"Jarak tidak akan kuat memisahkan persahabatan kita
jadi Tunggulah. aku akan kembali"
Via menjadi semangat saat membaca pesan dari Fara. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dia berjalan cepat menuju halte agar bisa segera pulang kerumahnya.
“sahabatmu ini akan menunggu”
Via tersenyum. dia akan menunggu Fara kembali menemuinya di kota ini. Tempat saksi bisu persahabatan mereka selama 11 tahun lamanya.
Dia akan menunggu. Via percaya Fara orang yang selalu menepati janjinya, tidak seperti dirinya.
Fara sahabat yang berbeda.
End