Tidak ada yang salah dengan kelahiranku, aku tumbuh menjadi seorang perempuan yang memiliki kemampuan intelektual yang cukup berguna, namun selama kehidupanku yang hanya dipenuhi mata pelajaran tidak pernah membantuku bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarku. Seperti saat ini, tumpukan piagam penghargaan yang ada tidak berguna untuk membantuku mendapatkan pekerjaan, aku yang dewasa muda merasa gagal, ketika teman-temanku mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan, termasuk menikah muda ... aku harus mengalami apa yang di namakan menganggur dan batal menikah. Ya, mungkin inilah nasibku untuk saat ini, atau karena aku sendiri yang terlalu membenci uang.
Ketika semua orang mengejar uang, aku hanya bisa terdiam, menancapkan pemikiran ku untuk mencoba hidup tanpa uang, seperti buku yang pernah aku baca, seperti keinginan untuk membungkam mulut mereka-yang menghinaku mata duitan ketika butuh uang untuk mengerjakan tugas. Ada yang menyebutku aneh, tapi aku bernama ... Tatiana.
Karena sudah kukatakan aku merupakan pengangguran, maka aku tidak bisa menceritakan kisah masa depan yang belum tentu, sebab aku masih terkungkung dalam rumah berukuran lumayan besar dan berumur ini, dengan peliharaan kucing yang baru saja hilang dan ada yang sakit untuk menjagaku agar tetap hidup.
Aku ingin mengingat masa kanak-kanak yang kulewati dengan ramai, di hari pertama ketika anak-anak yang lain ditemani orang tua mereka dengan senang, aku berpikir bahwa aku sudah dewasa dan aku malu untuk ditemani orang tuaku ke sekolah, jadi di hari kedua aku memutuskan untuk berjalan kaki sendiri, itu adalah pemikiran dewasa yang bisa aku dapatkan di hari pertama, ya mungkin saja itulah hasil dari kelakuan bar-bar di masa kecilku, salah satunya adalah bermain dengan pancuran air hujan sewaktu hujan deras, dan juga berlari mengambil selebaran dealer yang berada di jalan sampai aku dimarahi orang banyak, aku sedang bermain jadi kurasa mereka harusnya mengalah.
Baik, lanjut saja ... setelah hari itu aku memulai perjalanan TK yang membahagiakan, selama beberapa saat aku merasa bahwa aku ada di atas awan, aku cerdas dan pemberani, namun kenyataannya aku mendapati jika aku memiliki kekurangan, kekurangan kemampuan untuk berteman dengan anak lain karena aku dianggap cerewet, endel, banyak omong dan sebagainya, sikapku yang ceria langsung berubah menjadi pendiam. Kurasa aku bisa melupakannya, namun selama bertahun-tahun aku harus bersikap sedingin es karena hal itu. Ditambah, ketika kebiasaanku pulang paling akhir karena ingin bermain di taman bermain membuahkan satu trauma yang sampai saat ini kubawa, ketika aku tanpa sengaja mengajak bermain anak dari salah satu guruku sampai jatuh dan kepalanya membentur komedi putar yang diputar pakai pegangan tangan itu. Sungguh, sampai saat ini aku sangat takut memegang seorang anak kecil bahkan bayi.
Namun, bolehkah aku curhat jika sampai sekarang aku memiliki kecenderungan untuk sangat marah dan memiliki pikiran untuk membunuh diri, ternyata itu bukan datang tanpa sebab ... karena aku baru tahu jika ibuku pernah mengajakku hampir melompat ke sebuah bendungan karena kecewa terhadap ayahku. Jadi, mungkin meskipun aku tidak paham saat itu, tapi jiwaku mampu mengenalinya melalui insting dan direkam untuk ku salin dalam kehidupanku yang terus berlanjut, dan sekarang aku berusaha untuk menghapus apa yang di ingat oleh instingku.
Dan, kupikir hobiku njajan setiap saat merupakan kebiasaanku yang sangat buruk, kupikir aku terlahir sebagai manusia boros, ternyata tidak ... sewaktu kecil ketika ayahku tidak ada di rumah dan ibuku bersama mertuanya, rupanya aku sudah di ajari untuk sarapan di luar, mungkin berlangsung cukup lama, sayangnya aku tidak di ajari untuk membayar uang, sehingga walaupun aku sering njajan di luar saat TK aku pernah di tertawakan karena berpikir bahwa piano bisa di buat oleh ayahku yang pernah membuat sofa, tanpa tahu apa itu beli, apa itu mobil, dan apa itu mall. Kurasa memang bukan takdirku untuk tahu semua itu, apalagi karena aku hanyalah anak kecil dari keluarga sederhana.
Pemikiranku bahwa aku adalah anak orang kaya juga merupakan hal yang salah besar, membuatku lebih senang pamer ke orang-orang di sekitarku, padahal tidak ... itu juga ada sebabnya, nenekku yang terlalu sering menceritakan kisah masa mudanya yang bergelimang harta dari orang tuanya, di mana menyebut bahwa 'aku ini sebenarnya kaya, tapi...' di mana itu juga mempengaruhi mindset yang ada di kepalaku sampai sekarang, bahkan aku tidak pernah di ajari apa itu berusaha keras dengan benar, yang ada semakin lama aku semakin sadar bahwa dunia ini sangat keras, bahkan dari orang tua sendiri.
Ya, aku cukup menyedihkan-terkadang-karena aku harus menjadi anak yang paling sering mendapat didikan secara fisik dan verbal yang pedas, sampai aku tidak tahu batasan untuk mengatakan hal yang baik terhadap teman SMK ku, aku berkata 'kalian tidak punya otak apa?!' karena saking marahnya, namun akhirnya aku menyesal, namun karena egoku aku tidak mampu meminta maaf dengan benar.
Dan, tidak ada yang benar-benar aku sampai saat ini, aku memakai topeng psikologi setiap saat, kadang tertawa dalam menyembunyikan kepedihan, dan menangis berlebihan di hadapan orang yang benar-benar ku anggap bisa di percaya. Prinsip kehidupanku memang aneh, tidak suka dengan mereka yang suka menggosipkan orang lain, tidak suka berkumpul dengan orang lain dan hanya berteman dengan buku, tidak suka membicarakan hal negatif sampai aku di sebut munafik, aku juga tidak suka menjelaskan pemikiran orang lain yang salah tentangku karena malas dan berpikir mereka tidak ada hubungan dengan takdirku, dan aku memang sangat percaya takdir ... mungkin ada hubungannya dengan masa laluku, mungkin aku tidak ingat.
Namun, yang jelas aku berusaha untuk memperbaiki diri, bahwa jika aku berusaha dengan keras maka takdir baik akan mengikuti, bukan sebaliknya. Dan, ada satu hal paling membuatku mendapatkan petunjuk mengenai pekerjaan impianku, menjadi seorang pemeran karena dahulu aku pernah ikut syuting di salah satu tempat bersama anak-anak lainnya sebagai putri langit-tokoh utama dan oleh sutradara aku dipuji sebagai pemeran yang baik di usia masih muda itu, aku berharap di masa depan aku bisa jadi pemeran yang sebenarnya. Atau, jika tidak ingin ku gunakan kemampuan bernyanyiku, karena melihat mereka dengan profesi itu seakan bisa lari dari kenyataan soal dunia nyata.
Oh, kurasa aku berlebihan...
[END]
Mohon dukung aku di
Terimakasih, karya yang di upload berupa puisi🎈