Tulisan ini berdasarkan kisah nyata.
Pagi itu terlihat cerah sekali. Tidak seperti biasanya, Bapak mengantarku pergi ke sekolah. Dengan berjalan kaki, karena jarak rumah ke sekolahku tidak begitu jauh. Lumayan lah itung-itung jalan pagi katanya.
"Ren, pagi ini cerah banget ya." kata Bapakku sembari melihat langit.
"Iya pak, cerah banget. Tumben bapak mau nganterin rendi ke sekolah, mana jalan kaki lagi." Kataku menjawab pernyataan bapak.
Bapakku adalah seorang bapak yang tangguh. Beliau mempunyai 4 anak. 3 laki laki dan 1 perempuan, adik bungsuku. Sedangkan aku anak ke 2.
Abangku sudah bekerja di sebuah pabrik, dan adik laki laki ku sudah bersekolah kelas 2SD, sedangkan adik bungsuku masih 5 tahun usianya.
***********
"Rendii, kamu yang semangat nanti UN nya ya, biar kamu lulus dengan nilai yang baik." Bapak menyemangati ku.
Hari ini adalah hari Ujian Nasional ke-2 , dengan Mata Pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.
Deg-degan pasti, tapi kubawa enjoy sajalah, bisa stres aku mikirin ujian ini kalo terlalu serius mah hehehe....
"Siap pak, InsyaaAllah rendi semangat nanti ngerjainnya, Bapak doain rendi ya." ucap ku sambil mencium tangan Bapak dan berpamitan masuk ke dalam sekolah.
"Assalamualaikum pak, hati hati di jalan ya Pak." Entah mengapa ada perasaan sedih saat melihat Bapak berjalan membalikkan badan nya.
Aku yang masih ingin membahagiakan Bapak ketika aku lulus sekolah nanti, aku ingin Bapak selalu ada di sampingku. Menemani masa mudaku.
Tenggggggggggggg, tenggggggggg.....
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.00 wib.
Aku segera masuk ke ruang ujian ku. Ujian pertama adalah Matematika. Dan waktu yang diberikan selama 90 menit. Cukup mendebarkan untukku yang kurang suka pelajaran matematika.
"Bismillahirrahmanirrahim"
doaku sebelum membuka kertas ujian.
1 jam berlalu ..
Pukul 8 lewat 10 menit. Kertas ujian ku belum selesai, aku masih belum menjawab beberapa soal. Tapi, tiba tiba Guru BK memanggilku untuk keruangan nya. Aku kaget, perasaan aku tidak mencontek deh. Duh, ada apa ya...
"Rendii.. Maaf ibu memanggilmu ke ruangan ibu sekarang, ibu tau ujian mu juga pasti belum selesai kan?" tanya Bu Mila.
"Iya belum selesai bu, memangnya ada apa ya ibu memanggil saya?" tanyaku penasaran.
Raut muka Bu Mila seperti sangat sedih. Ya Allah, ada apa ini, mengapa perasaanku tiba tiba tidak enak.
"Maaf nak Rendi, Ibu dapat kabar dari kakakmu tadi, bahwa ayahmu meninggal dunia."
*****
Degh.
Aku kaget bukan kepalang, dunia seakan runtuh saat itu juga. Bapakk...
"Astaghfirullah, Ga mungkin Bu... Bapak baru saja tadi nganterin saya ke sekolah , ga mungkin bapak pergi secepet itu Bu. Ibu pasti salah orang, siapa yang kasih tau ibu emangnya?"
Bu Mila menunjuk abangku yang baru saja masuk ke ruang BK, raut sedih wajahnya tak bisa tertutupi, padahal selama ini dialah orang yang selalu menguati ku disaat-saat terpuruk.
"Bang benar bapak meninggal?"
"Iya ren." Abangku memelukku menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah kenapa Kau ambil bapakku secepat ini. Aku belum sempat membahagiakan Bapak Ya Allah.
Tangisku pecah di ruang BK. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupku tanpa seorang bapak disampingku.
Aku segera berlari menuju motor bang Dayat, tak kupedulikan tas dan kertas ujianku yang belum usai.
"Ayo bang, cepet, rendi mau liat bapak"
Aku masih tidak percaya kepergian Bapak secepat ini. Berarti tadi pagi adalah kebersamaan ku yang terakhir kalinya bersama Bapak.
Maafkan rendi pak... Rendi belum bisa membahagiakan Bapak.
Sesampainya dirumah sudah banyak orang dirumahku, juga bendera kuning. Kupeluk jenazah Bapak, menangis, menangis dan menangis.
"Bapak, bapak kenapa pergi ninggalin rendi?"
Sedih, kacau, hancur seketika pikiran dan hati ini. Ibu menghampiriku, memelukku dengan erat.
"Sabar nak... ini sudah takdir"ucap ibuku menenangkanku.
"Bu, bapak meninggal kenapa bu? Tadi pagi Bapak sehat sehat aja pas nganterin rendi ke sekolah."
"Tadi bapak tiba tiba aja sesak napas ren, trus Bapak duduk di depan pintu sambil megangin dada. Kata bapak cuma sesak aja dadanya, tapi setelah itu tiba tiba Bapak pingsan dan ternyata sudah ndak ada ren." Jelas ibuku sambil menangis 😭😭.
Tak kusangka, langit pagi ini adalah pemandangan terakhir yang aku nikmati bersama Bapak. Berjalan melewati sejuknya pagi bersama.
Obrolan terakhir dengan Bapak.
Canda tawanya dan semangatnya tak akan pernah ku lupa.
Meskipun bapak sudah tidak lagi di dunia ini, tapi bapak akan selalu ada di hati ku.
Semoga Bapak tenang di sisiNya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Kisah ini kisah nyata seorang teman SMA ku dulu. Semoga kisahnya memberi manfaat ya ..
Sayangi kedua orangtua kita selagi masih ada disisi kita.
NB: Mohon maaf jika ada kesalahan kata, karna saya masih pemula.
Terimakasih yang sudah berkenan membaca ☺️☺️🙏🙏