Dalam hidup rumah tangga pasti ada bumbu, baik itu bumbu manis atau pun pahit.
Sama halnya dengan Mimi dan Nuno, ada saja yang mereka hadapi, baik itu dari dalam rumah maupun orang luar.
"Udah dong jangan marah lagi." ucap Nuno yang lagi duduk di sofa melihat Mimi hanya berdiri di dekat jendela menatap ke luar rumah.
"Siapa juga yang marah." ujar Mimi dengan senyum terpaksa.
"Ahaha, gak marah tapi senyum kamu asem banget.. mending gak usah senyum kalo di paksa." ledek Nuno.
"Bodo amat." ketus Mimi yang berjalan melewati Nuno hendak ke kamar.
Grep.
Nuno menarik tangan Mimi hingga Mimi terjatuh dan duduk di pangkuan Nuno.
"Sayang, bilang mama kamu dong, marahnya jangan lama-lama." ujar Nuno sambil mengelus perut buncit Mimi.
"Apa sih kamu!" Mimi menggenggam tangan kiri Nuno.
"Aku janji sayang, gak bakal pulang telat lagi kalo kaga terpaksa ya!" rayu Nuno.
"Nganter SPG pulang lagi kaga luh?" selidik Mimi dengan mata memicing.
"Kaga yank, kan udah ada kamu ada calon bayi kita.. masa depan kita, aku mau lebih baik dari yang sekarang... aku mau ngumpulin uang buat kamu, biar hidup kita terjamin nantinya." ujar Nuno.
"Awas aja luh, ampe gua dengan luh nganter SPG pulang lagi!" ancam Mimi.
"Kaga yank, kamu mah matanya dimana mana ya? telinga kamu juga kan di rumah... tahu bae si? aku nganter SPG pulang?" tanya Nuno.
"Ya tau lah, yang jagain parkiran di tempat kerja kamu itu kan temen aku sekola dulunya." jawab Mimi.
"Pantesan kamu tahu dengan detail." ujar Nuno dengan cemberut, gak bisa berkelit lagi.