Disebuah tengah kota yang banyaknya manusia berkegiatan. Sebuah gedung terbengkalai diacuhkan sekitar. Sebuah gedung perkantoran itu milik orang jepang bernama Mr. Okami. Gedung yang ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja.
Hari yang panjang, seharian berkutat dengan pekerjaaan membuat Vera mengajak Mayang nongkrong sebentar, menghilangkan penat disebuah coffee shop, Walau akhirnya mereka sibuk dengan ponsel masing masing.
Mereka merasa risih saat mendengar seorang laki-laki muda kisaran umur akhir 20an bercerita pada temannya dengan mengebu tentang sebuah gedung terbengkalai.
Seperti rahasia umum bahwa gedung itu ditinggalkan pemiliknya tahun 2019 karena terkena dampak virus yang merajalela saat itu.
"Iya banyak aset didalamnya, karyawan mendesak agar dijual..." Celoteh kencang lelaki itu.
"Ah pantesan sering buat macet, disitu demo terus, sampe liyer aing" Canda Vera yang menyenggol dengkul Mayang. "Iya lagian bikin susah orang lain kan, ngeselin emang!" timpal Mayang yang masih berkutat dengan ponselnya.
"Lagian demonya agak gimana gitu, waktu liat spanduk demonya bilang 'Jual Kania, Jual Kania!' Lha ngadi ngadi" Celetuk Mayang lagi dengan senyum mencela. Memang rumah mereka searah dengan gedung itu.
Setiap hari mereka lewati. Jadi terkenal dan ya seperti sudah di lumrahi tidak ikhlas pengguna jalan. juga para pendemo yang tak kenal lelah menuntut hak mereka. Membuat pengguna jalan yang awalnya simpati menjadi gusar karena kemacetan yang mereka timbulkan.
Mayang berjalan kearah mobilnya, Vera mendekati dan masuk ke kursi penumpang, adanya sistem ganjil genap. Membuat Mayang dan Vera menjadi akrab bersahabat.
Malam makin larut. Bukannya langsung pulang Mayang yang penasaran dengan cerita tentang aset mr. Okami di gedungnya membuat ide yang sudah ditolak mentah-mentah oleh Vera.
Mencoba melihat kedalam gedung.
Mayang memberhentikan mobilnya didekat pintu gerbang yang anehnya sepi tak ada pendemo, hanya ada satpam yang duduk tertidur, sepertinya. "Cuma bentar liat liat abis itu pulang" Ujar Mayang yang tak disetujui oleh Vera.
Vera yang engganpun akhirnya turun dari mobil. Melangkah malas mendekat ke Mayang. Mayang yang sedari tadi penasaran. Tersenyum sumringah. Ada rasa gugup tapi juga senang. Adrenalinnya terpacu.
Mayang memang orangnya tak percaya hal hal yang tak masuk di logikanya. Ia menarik tangan Vera yang mengikutinya dengan malas.
"Permisi pak!" Mayang menoel bahu bapak satpam yang kepalanya terkantuk di dinding pos.
"Permisii bapak satpam!" Agak kencang Mayang bersuara. Membuat sia satpam yang name tagnya bertulisan Cecep itu terjengkit dan jatuh dari kursinya.
"Eh, iya neng ada... ada yang bisa bapak bantu... hoaaamm..." Masih dengan mengatur mata yang mengantuk satpam buncit itu mendekat ke Mayang.
"Pak boleh ijin masuk gedung?" Langsung Mayang yang tak suka berbasa basi. Tatapan penasaran dilemparkan Pak Cecep ke Mayang dan Vera.
"Kepentingan apa ya?" Dahi Pak Cecep mengerut, ia melongok ke posnya untuk melihat jam dinding. Hampir tengah malam. Bingung pada dua perempuan didepannya ini.
"Mau liat Kania" jawab asal Mayang yang mendapat senggolan tak suka dari Vera. "Jangan ngide lu" bisik Vera. Yang hanya disenyumi oleh Mayang.
"Oh boleh, kalo gitu silakan ini kartu pengujungnya" Pak Cecep memberikan name tag satu-satu pada Mayang dan Vera. "Pake Name tag segala, berasa masuk ke gedung masih kepake aja" Celetuk Mayang. Dan hanya menyimpan mane tagnya di tas.
Vera yang sedari tadi merasa ada yang janggal, tapi tetap memakai name tagnya.
Dengan berbekal lampu ponsel waktu mereka menapakan kaki di lobi yang tak berpintu itu. Sekitar mereka tak terlalu gelap bahkan bisa dibilang terang walau temaram.
Vera menempeli Mayang. Udara disekitar mereka berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Mengamati sekeliling, disebelah kanan dan kiri lobi ada sebuah bangku berjejer. Dan diatas bangku itu ada masing-masing sebuah lukisan. Kuda liar sedang berlari. Didepannya pas di atas meja resepsionis ada lukisan sang pemilik mungkin.
Seorang lelaki, kira kira usia awal 30an dengan gagahnya. Terlukis disana. Mr. Okami Seto. tertulis dipapan kecil emas di bawah lukisan itu.