"Aku membencinya, Elena."
"Sepanjang hidup, aku samar merasakan kasihnya.
Yang kuingat hanya sakit."
"Dia seorang dengan kepribadian yang buruk. Egois dan kasar membuatnya tak berempati. Aku selalu ingin kabur darinya, namun takdirku telah lama dijebak bersamanya."
"Elena, sesungguhnya aku selalu mengatakan pada diriku untuk bersabar."
"Hah, betapa naifnya diriku."
"Pada akhirnya, aku mati ditangannya. Organ tubuhku dijual dan aku bangkit dengan nestapa yang kasat. Bertemu denganmu saja mungkin adalah sisa keberuntungan yang kupunya."
Sambil menuntun jiwa malang tanpa identitas itu pergi, Malaikat mendengarkan curahan hati manusia yang dia bawa.
"Elena, apakah ini akhir dari kisahku? Aku mati tanpa dicintai?"
Malaikat itupun terdiam. Tak mampu menjawab pertanyaannya. Namun dia tetap meneruskan perjalanan mereka bersama.
Kemudian, tiba-tiba cahaya terang-benderang muncul dari langit. Malaikat tahu bahwa ini adalah kali terakhir mereka bertemu. Maka sebelum berpisah, Malaikat mencoba menghibur jiwa manusia yang sedih itu dengan berkata, "Walaupun kau tak merasa bahagia sepanjang hidupmu, manusia, sekarang kau telah bebas dari kekangan dunia."
Bersamaan dengan itu, jiwa manusia itu menghilang bagai kabut. Tak ada yang tahu kemana sekarang ia berada kecuali Tuhan dan Malaikat Maut-nya, Elena.