Pagi hari ini sangatlah cerah. Seluruh murid SMP N 1 NABIRE bersiap-siap masuk ke dalam kelas masing-masing. Salah satu guru masuk ke dalam kelas IX C. Ia memberitahukan kepada para murid bahwa akan diadakan sebuah perlombaan menggambar dari masing-masing kelas.
Seluruh murid bersorak-sorai lantaran senang mendengar pemberitahuan itu. Satu-persatu murid dari perwakilan kelas masing-masing pun mulai mendaftarkan dirinya.
“Anjel, siapakah yang akan menjadi perwakilan dari kelas kita?” seru wakil ketua kelas, Azizah.
“tentu saja kita akan mengadakan pemilihan suara, untuk memilih perwakilan dari kelas IX C.” Jawab, Anjel.
Mereka pun melakukan pemilihan suara.
Sepuluh menit berlalu, ternyata hasil terbanyak ditujukan kepada Bunga, seorang murid perempuan yang telah terpilih menjadi perwakilan dari kelas IX C.
Dia dipilih karena kepintarannya dalam menggambar. Selain menggambar ia juga pintar dalam beberapa mata pelajaran. Yaitu, bahasa Indonesia, matematika, ipa, dan bahasa inggris.
Karena telah terpilih sebagai perwakilan dari kelas IX C, Ia pun mendaftarkan diri dan diberikan sebuah kertas yang isinya syarat dan ketentuan lomba. Diberitahukan untuk seluruh murid yang sudah mendaftar, bahwa lomba akan diadakan pada tanggal 13 februari, dan para murid akan diberikan bimbingan selama 4 hari berturut-turut.
Mengetahui hal tersebut, Bunga segera berlatih menggambar. Gadis itu mengasah kemampuan tangannya dengan sangat baik. Hari demi hari ia terus berlatih dengan semangat pantang menyerah. Hingga akhirnya gadis itu siap mengikuti lomba.
Esok harinya pada tanggal 12, sebelum lomba dimulai Bunga mendapatkan kabar bahwa pelaksanaan lomba dipercepat dari tanggal 13 bulan februari pada pukul 10.00 menjadi pukul 08.00 pagi.
Mendengar hal itu Anjel menjadi khawatir,“Bunga, apakah kamu gugup?” Tanya Anjel.
“tidak papa” jawab Bunga tersenyum tenang.
“syukurlah, aku harap kamu bisa baik-baik saja nanti” ujar Anjel, membuat Bunga bingung.
“memangnya ada apa Anjel, kenapa kamu sangatlah khawatir” Tanya Bunga, penasaran.
“Sintia, ikut ke dalam lomba. Ia menjadi perwakilan dari kelas IX G. dia merupakan salah satu murid yang sangat pintar dalam menggambar. Itulah mengapa aku sangat khawatir jika kamu kalah” jawab sang ketua kelas.
“tidak papa, menang ataupun kalah kita harus menerimanya. Masih ada kesempatan lagi, untuk mengulangnya” ucap Bunga, menasihati Anjel.
Keesokan harinya pukul 08.00 pagi, lomba diadakan. Seluruh murid peserta lomba ditujukan untuk apel dilapangan basket. Mereka diberikan arahan sebelum lomba dimulai, begitupun dengan Bunga.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya lomba dimulai. Semua peserta telah duduk dikursi yang telah disiapkan lengkap dengan alat menggambar.
Bunga menatap dalam sintia tempat duduknya tidak jauh dari tempat duduk bunga.
“baik anak-anak waktu perlombaan hanya 35 menit, yang akan dipilih dialah yang masuk ke babak final. Kalian dapat bersiap-siap dalam lima menit.” Ucap sang pembawa acara. Sedikit waktu ia sisakan kepada par murid untuk bersiap-siap. Bunga pun mulai mempersiapkan dirinya.
Lima menit berlalu, sang pembawa acara kembali membuka “ yah, dalam hitungan ketiga lomba akan dimulai. 1….2…3…!!!” lomba dimulai, semua peserta focus pada kertasnya masing-masing. Raut mereka taja, gerakan tangan mereka sangatlah cepat.
Semua orang yang menyaksikan perlombaan ini diam, tidak berani berkutik. Perlombaan sangatlah ketat, semua pandangan hanya mengarahkan kepada peserta lomba. Begitupun dengan murid-murid kelas IX C.
tiga puluh menit berlalu, dan Bunga sudah menyelesaikan gambarannya. Ia pun menatap beberapa peserta yang masih focus pada gambarnya. Pandangannya tertuju pada Sintia. Ia melihat sesuatu yang tidak diketahui dari jauh.
Ternyata Sintia menjiplak gambarannya dari sebuah foto yang ia sembunyikan. Tidak ada yang memerhatikannya.
Bunga sangat kaget akan kecurangan yang dibuat sintia. Bunga ingin menegur Sintia. Namun, gadis itu tetap tenang dan diam menunggu waktu yang tersisa lalu menegurnya.
Tiga puluh lima menit berakhir, lomba pun selesai. Semua peerta diharapkan untuk menunggu dari hasil para juri. Bunga tidak menghiraukan pemberitahuan itu, ia angsung branjak dan mengajak Sintia untuk berbicara dua mata.
“Sintia, apa kamu menjiplak karya orang lain?” Tanya Bunga.
“ti-tidak” jawab Sintia gagap. Bunga tau jika sintia berbohong.
Ia pun menanyakannya lagi “apa kamu yakin? Kamu taukan jika kau curang dengan menjiplak karya orang lain akan dikeluarkan?” Tanya Bunga lagi. Sintia menggerut keningnya tidak berani menyanggah Bunga.
“aku tau. Aku akan mengaku setelah perlombaan selesai. Maafkan aku.” Ujar Sintia takut.
“kamu tidak perlu meminta maaf padaku, minta maaflah kepada para juri. Aku hanya ingin menegurmu agar kau tidak melakukannya lagi.” Ujar Bunga, tersenyum. Mereka pun kembali dan mendengar sebuah pengumuman dari juri.
Hasil dari pengumuman ditujukan kepada Bunga, Sintia dan tiga orang lagi. Mereka akhirnya dipilih masuk kebabak final. Bunga menatap Sintia, ia melihat jika Sintia sangatlah ketakutan ia berharap Sintia bisa mengakui kesalahannya nanti.
“selamat bagi peserta yang masuk kebabak final. Saya harap kalian bisa mengikuti babak final selanjutnya. Babak final akan diadakn sepuluh menit lagi, bersiap-siaplah. Terimakasih” ujar sang pembawa acara.
Bunga pun bersiap-siap. Suasana semakin mencekam. Orang-orang mengigit jari berpikir siapakah yang akan menang? Dari tiga puluh satu orang yang ikut. Hanya tersisa lima orang.
Sepuluh menit berlalu, dan lomba pun dimulai. Bunga segera melakukan tugasnya. Kali ini ia menggambar sebuah pohon, air dan sebuah lukisan apel. Ketiga benda itu ia gambar hanya dengan dua puluh menit saja. Latihan yang sudah ia lakukan tidaklah sia-sia.
Dua puluh delapan menit berlalu, pengumuman yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Para juri mulai mengumumkan satu-persatu.
“selamat bagi, Sintia pemenang juara satu.” Ucap sang juri menepuk tangan pada sintia. Sintia takut, namun justru maju dan berbicara.
“terimakasih pak dan bimbingannya. Mohon maaf semuanya tapi saya bukanlah juara satu. Seharusnya Bunga. Dia adalah juara yang sesungguhnya. Saya mengaku bersalah karna curang. Oleh karena itu saya meminta para juri untuk menggantikan bunga sebagi juara satu.”
Mendengar hal itu, para juri kaget mendengar pernyataan dari Sintia. Ia akhirnya dikeluarkan dari peserta lomba. Bunga akhirnya dipilih sebagi sang juara satu dalam menggambar.
Semua orang senang mendengar pemberitahuan bahwa bungalah yang menjadi juara satu. Seluruh orang pun mengucapkan selamat pada bunga, begitu pun dengan murid-murid yang bangga pada bunga. Mereka akhirnya beramai-ramai merayakan kemenangan bunga.
-TAMAT-