Tirakat Cinta
Tahukah engkau, wahai kekasih?
Sejak saat itu namamu terngiang-ngiang dalam ingatanku
Wajahmu sedemikian terbayang di antara riuh-rendahnya kerinduan
Bermukim di puncak menara kesadaran, dan menari berputar-putar laksana Rumi menari diiringi tabuhan gendang Syams Tabrizi.
Maka tatkala aku berdoa, namamu tak pernah alpa kusebut hingga kesudut-sudut paling larut
Demi jiwa yang tidak mengenal gabut
Demi hati yang kadung berkalang kabut
Serta, demi tanah yang serasa kehilangan tabah
Meski sering kali kau menghampiri dalam tabir wajah penuh anugerah.
Lalu pada malam malam nan panjang aku membulatkan tekad, dan mulai bermunajat
Dalam pekat dalam penat
Dalam laku tirakat hatiku kau jerat
Sedemikian erat.
Jelaga namamu, celaka rinduku
Lebur aku ke dalam sang waktu
Betapa larut aku dalam tirakat cintaku padamu
Hanyut kedalam pusaran rindu yang maharindu
Sehingga tidak jelas lagi bagi diriku: siapa yang merindu dan sedang dirindu,
Aku, atau engkau?
Akan tetapi satu hal yang pasti,
Sejak semula engkau telah sendiri
Sedangkan aku tak pernah sanggup untuk sendiri
Berdiri tanpa Engkau yang Maha Sendiri
Tanpa sepi.
Air Raja, November 2021
Pemuda Fana