Telah menjadi tradisi Desa Mirgaida bahwa 30 hari sebelum Hari Valentine, mereka yang menginginkan keberkahan sepanjang masa diwajibkan menanam 5.000 bunga. Entah di pinggir jalan, pekarangan rumah sendiri, pekarangan tetangga, maupun di pinggir sungai. Asal jumlah bunga yang ditanam mencapai 5.000.
Hari Valentine bagi Desa Mirgaida sendiri adalah hari dimana naga pelindung desa mereka lahir. Sedangkan tepat pada Hari Valentine, mereka merayakannya dengan memberi cokelat pada orang-orang yang mereka kasihi sebagai wujud harapan akan segala yang baik bagi si penerima.
Adapun jauh di pinggir desa, hiduplah seorang anak perempuan bernama Ellijah. Tidak banyak penduduk yang mengetahui keberadaan anak itu, paling sekarang hanya kepala desa yang tahu.
Sejak ibunya meninggal karena melahirkannya, Ellijah diasuh oleh sang nenek yang memang suka di rumah. Setelah beliau meninggal, Ellijah hidup sendiri, di pinggir desa.
Sepasang tangan mungil itu menepuk tanah, kemudian menyiramnya dengan air dari botol yang ia bawa. "Ini yang ke-200," ucap anak perempuan berambut cokelat itu sambil menghela, mengusap peluh di dahi dengan lengan.
Manik hijau itu menatap datar tanah tempat ia menanam benih yang didapat dari kepala desa. Ellijah berusaha memenuhi tradisi desa mereka 30 hari menjelang Hari Valentine sejak usianya 3 tahun, dan kini ia sudah berusia 8 tahun. Namun anak itu tidak pernah bisa menyelesaikannya. Rekor tertingginya hanyalah 999 bunga tepat sebelum hari berganti menjadi Hari Valentine.
Anak itu beralih menatap tangannya yang penuh tanah, mengepal. "Tahun ini, harus bisa!"
Namun tak sampai semenit begitu anak berambut cokelat panjang itu membulatkan tekad, ia dihadapkan pada sebuah masalah. Tanah kosong di pinggir desa tidak banyak dan anak itu sudah menggunakan semuanya selama 5 tahun terakhir.
Sepasang tangan mungil penuh tanah yang membawa sekarung benih dan sekarung botol berisi air itu mengeratkan pegangan. Manik hijaunya mengkilat seolah air mata dapat turun kapan saja. "Sekarang aku harus bagaimana?" gumamnya. Kemudian netra hijau itu tanpa sengaja terarah ke sebuah bukit hijau di balik awan, tersenyum.
***
Ellijah menghabiskan hari-hari berikutnya di kaki bukit, memutuskan memenuhi lebih dulu tanah di sana dengan bunga. Saat lapar anak itu memetik buah dari pohon terdekat. Jika tidak ada pohon, anak itu berburu hewan kecil seperti kelinci. Jika tidak ada lagi, maka mau tak mau anak itu kembali ke hutan dekat rumahnya.
"Tolong!!!" Pada hari ke-20, Ellijah tidak sengaja menginjak ekor seekor monyet yang menyebabkannya monyet itu mengejarnya, bahkan masih berjaga di jalan yang biasa ia lalui selama seharian. Sampai pada hari ini, anak itu telah menanam 2.500 bunga, rekor tertingginya.
"Ah!" Pada hari ke-25, sepasang kaki yang kelelahan itu ambruk dan tidak mau bergerak. Netra anak itu bergetar ketika melihat seekor hewan yang menempel di sana. "Li-li-lin-lintaahhh!!!"
Anak berambut cokelat itu refleks berteriak dan melepas paksa hewan menggeliat itu, kemudian melemparnya jauh-jauh ke langit. Ellijah berusaha mengatur napas yang terengah. Iris hijaunya beralih pada darah yang mengalir dari gigitan hewan itu barusan. "Menyebalkan."
Sampai pada hari ini, anak itu sudah menanam 3.500 bunga.
Hari ke-29, tepat setelah matahari terbit di ufuk timur, pintu gubuk tua di pinggir desa itu terbuka. Anak perempuan yang membawa sekarung benih dan sekarung botol-botol berisi air di kedua tangan mengerutkan dahi.
Kali ini demi menanam lebih banyak bunga, anak itu mengambil jalan berbeda yang tidak sengaja ia lihat dalam perjalanan pulang kemarin.
Matahari yang telah menyelesaikan tugasnya perlahan bergerak turun, bergantikan purnama yang bergerak naik. Ellijah terbaring di tanah saking lelahnya. Menatap langit gelap yang dihiasi bintang.
Akhirnya untuk pertama kali dalam sekian percobaan, Ellijah berhasil menanam sebanyak 4.150 bunga. Tinggal 850 lagi.
Matahari sekali lagi terbit, membangunkan segala yang bernyawa di bawah naungan cakrawala. Anak berambut cokelat itu terbangun di tempat tidur. Kelopak matanya mengeles ingin tidur lebih lama. Tangan dan kakinya juga ikut-ikutan tatkala anak itu sudah memaksakan diri untuk berjalan, menggali tanah, menanam bunga, menyiram, hingga membawa dua karung berisi benih dan botol air, dari matahari terbit hingga terbenam.
Namun teringat hari ini adalah hari terakhir kesempatannya, kelopak mata itu refleks terbuka seiring gerakan duduknya. "Tidak bisa! Pokoknya tahun ini harus berhasil!" ucapnya sambil menyibak selimut.
Anak perempuan itu segera turun dari tempat tidur. Tanpa mandi Ellijah langsung menyikat gigi di belakang rumah, mengingat ia sudah mandi semalam. Piyama merah itu ia ganti dengan baju kaos berwarna biru dan celana panjang hitam. Sekali lagi pintu gubuk tua di pinggir desa itu terbuka, memperlihatkan satu-satunya penghuni yang siap dengan "senjatanya".
Dengan semangat yang sama seperti pada hari pertama, Ellijah mulai melangkah ke arah bukit, menelusuri jalanan lain yang ia lihat di perjalanan kemarin. Baru beberapa langkah, anak itu berhenti. Netranya berbinar ke sebuah lahan kosong luas di pinggir danau kecil.
Dengan segera anak beriris hijau itu berlari ke sana. Ellijah dengan tangan yang mulai mati rasa segera menggali tanah dan menanam.
Burung berkicau melintasi cakrawala biru yang teramat terik. Napas Ellijah mulai terengah tatkala suhu tubuhnya memanas. Keringat terus bercucuran di seluruh tubuh, membasahi pakaian.
"Tidak bisa..," ucapnya ketika tanpa sengaja tangan itu tergelincir dan terjatuh, "tinggal 490...."
Ellijah berusaha bangkit, memaksakan kaki yang tenaganya berada di batas terendah merangkak ke danau. Anak itu dapat merasakan kehidupan begitu ujung jarinya menyentuh permukaan sekumpulan air yang memantulkan bayangan dirinya. Dengan segera Ellijah mencuci tangan, kemudian menangkupkan tangan dan membasahi wajahnya dengan air jernih itu sebanyak 5 kali. Kemudian dengan cara yang sama meminumnya sebanyak 3 kali.
Ellijah menghela, merasakan tenggorokan keringnya membaik. Netra hijaunya menatap mentari yang amat bersemangat menyinari dunia.
Burung yang berkicau sekali lagi melintas, kali ini melewati langit malam. Ellijah mengusap peluh dengan lengan, menghabiskan buah merah yang ia petik dari pohon terdekat. "Tinggal 1 lagi..," ucapnya, "tapi... di mana?"
Di bawah cahaya purnama, anak perempuan berambut cokelat itu menatap lahan luas di dekat danau yang dipenuhi gundukan, tempat benih bunga terkubur di sana. Seolah semesta hendak memberi jawaban, semak di balik pohon tempatnya bersender bergerak. Anak itu refleks melompat menjauh, jantungnya berdetak cepat menatap semak itu.
Sepasang sepatu merah melangkah keluar dari sana. Ellijah menegup ludah. Seorang pria berdiri bermandikan cahaya rembulan. Tampan. Dengan rambut hitam dan manik merah menyala dalam gelap. Kulit cokelat dan kuku bersih panjang nan tajam.
Kaki mungil beralaskan sandal jepit itu perlahan melangkah mundur. "Penyihir...." Anak itu spontan berlari ke belakang, kembali ke jalanan menuju rumahnya.
"Can-tik..," manik Ellijah bergetar begitu suara berat yang dimanis-maniskan terdengar, refleks mempercepat langkah, tanpa mengetahui sumber suara itu berada di atas kepalanya, "mau ke mana?" tanya pria muda itu begitu mendarat, memunculkan bola sihir bermana kemerahan bak rubi di tangan.
Ellijah refleks berhenti. Netra bergetar itu menatap cepat sekitar yang sepi, gelap, dan hanya ada pepohonan.
"Rambutmu pasti akan indah dijadikan hiasan bajuku," ucap pria itu sembari melompat ke depan. Ellijah tidak dapat memikirkan apa-apa, berlari cepat ke antara pepohonan.
"Tunggu!" terdengar decakan di belakang sana. Ellijah terus memaksakan kakinya yang sempat beristirahat sebentar untuk berlari, dan berlari, tanpa tahu jalan yang ia tempuh mengarah ke mana.
"Ah!" Sesuatu menahan kaki mungil itu, membuat Ellijah terjatuh, kepalanya terantuk akar pepohonan yang menjalar di tanah. Anak berambut cokelat itu menoleh cepat. Rupanya itu rantai sihir berwarna merah menyala yang mengikat kakinya.
Ellijah bergidik tatkala langkah berat di antara rerumputan terdengar. "Cantik...," suara berat itu terdengar dalam naungan purnama.
Di saat kepala anak itu kosong dan tidak dapat memikirkan apa-apa, telinganya tanpa sengaja mendengar aliran air di dekat sana. Deras. Saking derasnya mungkin bisa segera membawanya ke tempat lain jika melompat ke sana.
"Cantik, jangan kabur," ucap suara berat yang mendekat. "Aku janji akan merawat bola mara hijaumu sebaik mungkin. Asal kau tahu, mata hijau mengandung khasiat 'ronze' terbaik untuk menciptakan 'zeronal'."
Mendengar itu napas Ellijah tercekat. Meski tidak tahu apa itu "ronze" maupun "zeronal", tapi anak itu tahu itu bukan berita baik, untuknya.
Manik anak itu kemudian terarah ke suara arus deras itu berasal. Ellijah mengangguk, dengan tangan yang sempat terluka menyeret tubuh dan kakinya ke sana.
"Cantik...." Anak beriris hijau itu mengerjap, mempercepat gerakan tangan. Peluh dingin terus membasahi tubuh. Napasnya tersengal tatkala jantungnya berdetak tak karuan.
"Ter-tang-kap." Manik hijau itu membelalak lebar tatkala merasakan sebuah tangan menahan kakinya. Perlahan anak perempuan itu menoleh. Ketakutan yang terpatri jelas di wajah anak itu membuat kedua sudut bibir penyihir itu terangkat.
Cairan bening menetes di sudut mata Ellijah. Suaranya yang hendak berteriak minta tolong tercekat. Pun tak mungkin ada manusia yang akan menolongnya di tempat dan waktu seperti ini.
Yah, pemikiran anak itu tidak salah. Memang bukan manusia.
Srak. Entah dari mana datangnya, sepasang kristal es runcing menjulang di balik punggung penyihir itu. Srak. Srak. Srak. Srak. Srak. Kristal es raksasa terus bermunculan, memenuhi bagian belakang tubuh sang penyihir.
Pria berambut gelap itu tidak sempat bereaksi. Sebelum dirinya sadar, lapisan es telah sepenuhnya merambat ke lengan, kaki, hingga wajah. Membuatnya sempurna berada dalam kristal es raksasa yang tingginya dapat menyaingi gunung.
Ellijah mengerjap, menatap sebuah siluet yang muncul dari balik kristal raksasa itu. Seorang anak laki-laki berambut sebiru es. Manik ungu sejernih permata. Sebuah jaket berwarna biru gelap menggantung di bahu. Daripada tampan, Ellijah lebih suka mengatakan anak lelaki itu cantik.
Tanpa mengatakan apapun, anak itu berjongkok, mendekatkan telapak tangannya ke rantai merah menyala di pergelangan kaki Ellijah. Meski gelap, tapi Ellijahnya dapat melihatnya. Kedua telinga anak itu berubah menjadi sirip….. Kulit di bawah matanya membiru…. Dan sepasang telapak tangan itu… menguarkan sinar berwarna biru!
Crash. Dalam beberapa detik, rantai kemerahan itu terpecah menjadi berkeping-keping. Tepat ketika anak itu merasa tugasnya sudah selesai dan hendak berdiri…. Brak!
Ellijah yang hendak menahan tangan anak itu terlalu bersemangat hingga tanpa sengaja menariknya jatuh ke tanah. “M-maaf!” refleks anak perempuan itu. “Kau… naga kan?”
Anak lelaki itu menatap Ellijah datar, menghela. “Aku bukan naga.”
Ellijah mengerjap. “Tapi telingamu…” Kini ketika Ellijah melihatnya lagi, telinga anak itu normal sebagaimana manusia pada umumnya. Kulit di wajahnya kini juga sepenuhnya putih.
“Aku hanya pengendali es yang kebetulan lewat. Jadi, boleh aku pergi?” ucap anak itu seraya bangkit, menyingkirkan cengkeraman Ellijah dari genggamannya. Namun anak itu tak menyerah. “Kau naga!”
“Bukan! Lagipula naga sudah tidak ada lagi!” seru anak itu kesal.
Seketika cengkeraman Ellijah pada anak lelaki itu melemah. “Tidak… ada…?”
“Makhluk sejenis itu hanya eksis jika banyak manusia yang mempercayai keberadaannya, tapi sekarang bahkan tidak sampai 100 yang meyakini keberadaan naga,” jelas anak itu, kali ini berhasil menyingkirkan tangan menyebalkan itu dari pergelangannya.
“Tapi… kalau begitu….” Seketika lidah anak perempuan itu keluh. Berbagai pikiran berkutat dalam kepalanya. Jika naga tidak ada lagi… lalu… untuk apa usaha kerasnya selama ini?
Melihat anak di hadapannya yang sudah seolah tidak punya tujuan hidup, anak lelaki itu menghela, menyingkap rambut panjang yang menutupi leher. “Sejak awal aku merasakan sesuatu darimu. Ternyata benar ya, naga yang kau cari-cari itu meninggalkan jejaknya padamu.”
Manik hijau itu mengerjap, menyentuh belakang leher, tepatnya pada sebuah tanda hitam berbentuk kristal. “Jejak?”
“Ya, sepertinya naga itu cukup menaruh kasih padamu,” jelas anak itu, kemudian menarik tangannya. “Mungkin ada sesuatu darimu yang membuatnya tertarik.”
Kedua sudut bibir Ellijah perlahan terangkat. Cairan bening mengalir di pipi. Berarti usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia berhasil mendapat kasih dari sang naga! Sesuatu yang tidak ia dapat dari penduduk desa, bahkan dari kepala desa yang mengharapkan kematiannya hanya karena ia anak dari seorang pembunuh bayaran dan buronan.
“Lagipula, di antara 5.000 bunga yang dimaksud, hanya 1 bunga yang sebenarnya perlu ditanam,” anak itu melanjutkan, “yaitu bunga yang ada di dalam sini.” Anak itu menunjuk dadanya dengan jempol. “Keyakinan akan sang naga.”
Ellijah membeku di tempat. Manik hijaunya memantulkan bayangan seorang anak lelaki berambut biru, seindah pemandangan matahari terbit di samping wajahnya. Angin fajar berembus pelan, memainkan anak rambut. Ellijah menegup ludah. “Tapi… dari mana kau tahu semua itu... dan apa arti dari 'jejak' ini...?”
Anak lelaki itu sedikit tersentak, tapi kemudian tersenyum. “Selamat Hari Valentine. Kau mau cokelat?” ucapnya dengan sudut kanan bibir terangkat, menyodorkan sebuah wadah plastik berisi cokelat yang muncul entah dari mana.
Meski samar, Ellijah dapat menangkap sepasang manik violet itu menyala. Entah bagaimana, Ellijah dapat menangkap bayangan sang nenek yang berteriak di dalam manik itu.
"Terima kasih, selamat Hari Valentine."