Suasana kampus lengang, Reina berlarian menuju ke kelasnya. Pasalnya dia kesiaangan karena sedang menz jadi tidak apa tidur lagi karena badannya ngilu semuanya. Justru malah bikin bencana...celaka dosennya Amaria ini terkenal judesnya nya, ga kaleng-kaleng Lo..tidak perduli itu siapa dia libas ...emang buldozer kali..hii.hi..
"Brukk..!!" , Tampa sengaja dia menabrak orang di tikungan koridor pas arah ke kelasnya. Jatuhlah tuh buku yang dipegangnya.
Seorang lelaki tegab tinggi menatapnya. "seperti kenal ini tatapan matanya', batinnya.
"Maaf ,kak. sungguh saya buru buru... maaf,ya kak. Assalamualaikum", kata Reina setelah si lelaki itu menerima bukunya.
Beberapa langkah Reina terhenti. Sepertinya itu Raka decjh.,batinnya. Akh, bodoh!! Bu Amaria lebih penting, batinnya terus berlalu.
Di kelas masih riuh pada rumpi ria, dengan pokok bahasan yang sama perubahan Marcell. Reina duduk di sampingnya intan. Bernafas lega karena sang dosen belum datang. Diambilnya air mineral dalam tasnya segera di teguk nya hingga tandas.
"Tumben datang telat" bisik teguh dari belakang Intan.
" Mhmm...tadi subuh tidur lagi karena capek, eh ibu lupa bangunin ya ..gini dechk, harus maraton." jawab Reina lemes.
" Untung gak di dampingi sama mas pol, ya Cin?", sahut intan.
" Ye...kamu ndhoain temen yang bener dong!", intan mendapatkan toyoran di punggung dari teguh. Tergelaklah ketiganya.
"Becanda lagi", sahut intan.
Terdengar suara derap sepatu berdecit di lantai seorang lelaki yang ditabraknya masuk kelas dan berkata:
"Pagiii. Assalamualaikum, maaf saya telat. Kenalkan Saya RAKA BRAMANTYO asisten dosen Amaria, Beliau tidak dapat hadir untuk beberapakali pertemuan ke depan karena ada beberapa hal. Ok kita mulai Absensi kehadiran. Dimulai ya sekarang.."
Ya, Allah lindungilah hamba mu ini, kenapa juga kita bertemu lagi, keluh Reina dalam hati.
"Reina Qin Prasetyo...??", lelaki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Reina menunduk dan hanya mengangkat tangannya sebelah kanan. Dia tersenyum...dua lesung pipi diwajahnya menghias ceria. Dia berjalan ke arah Reina.
"Akhirnya aku nemuin kamu. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar mu?", tanyanya.
Reina mengangkat wajahnya nya dan menangkup kedua tangannya di dada "Alhamdulillaah sehat dan baik", jawabnya ragu. Raka pun mundur dan mangbsen lagi hingga selesai.
Anak-anak riuh begitu selesai absennya.
"Maaf, boleh nanya tidak panggilannya bapak, mas apa sayang? ", tanya Rismaharini yang terkenal jail dan genit di iringi riuh sorakan seisi kelas.
"Panggil bapak dikelas, kalau di luar kelas kita bisa bicara seperti teman. Karena dia pernah jadi teman sekelas ku", tunjuk Raka dengan dagunya
"Ada lagi?? ok kita mulai ya.." akhirnya Raka menerangkan segala materi dan tanya jawab. Ruangan menjadi santai, tapi tidak Reina dia gugub. Bagaimana jika Raka bertanya kenapa memilih menjauhi semuanya.
Bel tanda usai pelajaran berbunyi. Raka mendekat, "Boleh minta no.hp dong Reina. Kau tahu Bima juga mencari mu ." serunya dengan menyodorkan gawainya.
Dengan keraguan ia mengetikkan serial number. "Maaf, aku hanya ingin memulainya sendirian dan tidak ingin ..." belumlah selesaikan kalimatnya dipotongnya kata kata Reina
" Kita berteman selamanya ingat? Suka suka kita bagi bersamaan ingat janjian kita dulu?", sarkasnya ada rasa kesal di matanya dan berlalu.
Anak-anak pada kepo tanya tanya tapi tidaklah lama dosen kelas berikutnya sudah datang.
Reina benar benar gusar...teman temannya mencecarnya tentang RAKA BRAMANTYO.
Ia mencobanya untuk sabar dan setenang mungkin. Raka berubah fisiknya, seperti pria sempurna sama dengan Marcell. Hanya Marcell keturunan warga asing, dan Raka adalah murni asli Sukabumi. Dulu ia pernah cerita kota kelahirannya itu. Dia pikir dia akan pergi keluar kota untuk kuliah eh, masih Jakarta pilihannya.
Di helanya nafas panjang berjalan lesu pulang menyusuri lorong perpustakaan, tadi intan langsung pulang karena ada hajatan di rumahnya dan Teguh ada urusan di BEM.
"Bruukk" dia kepalanya membentur seseorang... " kenapa aku sial terus sih hari ini, ya Allah", keluhnya. Diangkatnya kepala. Ada Marcell dan dibelakang ada tiga kawannya.
"Assalamualaikum, Allah SWT tidak suka jika umatnya mengeluh Tampa upaya/ikhtiar", sapa Marcell.
"Walaikum salam...apa ..kak?", Linglung Reina mendengarkan tutur kata Marcell barusan.
"Bukannya kakak adalah..."
"Dia mualaf cantik...", celetuk Aprilio dengan mengedipkan matanya.
"Jangan mulai DECH!!! Maaf, rekan ku belum di rukiah jadi ..."
" Emang mereka kesambet jin ya kak mau di rukiah? " , seloroh Reina berlalu dengan tertawa pelan melewati mereka.
"Alamak merdunya suaranya...pantas dia kasmaran segitunya", seru Durant..
Reina berhenti melangkah dan menolehkan kepalanya ke belakang"Maaf, kakak bicara apa,ya?"
Keempatnya nya juga ikut berhenti dengan senyuman ala Pepsodent serta menggeleng kan kepalanya. Reina melanjutkan perjalanan pulang, dia tak menyangka ke empat nya juga ikut bergabung bersama beriringan ke parkiran kampus.
Bukan di belakangnya tepat ada jarak dua meteran.
Dan mereka sama-sama naik motor, bedanya adalah jenis motor nya. Saat lewat gerbang keluar kampus motor Reina di hadang sebuah mobil Pajero sport hampir saja Reina kehilangan keseimbangan," Wow,...bisa nyetir ga seh Lo!", Kevin yang mudah emosional berteriak ke empat nya turun dari motor, Raka ikut turun dari mobil, "Maaf...sori.." katanya dengan sopan.
"Raka bisa nggak tidak ngagetin orang!!" bentak Reina berkacak pinggang. ke empat cowok itu bengong, jujur baru kali ini dia melihat emosi gadis itu.
"Makanya angkatlah telepon ku! Please, Cindy. Apa tidak bisa kita seperti dulu?", Raka membalikkan badan dengan memohon.
"Aku yang ingin pergi Raka. Aku anak miskin, tidak layaknya bergaul dengan orang-orang kaya, aku salah. Jauhi aku, aku gak mau jadi korban bullying lagi, menjauh lah!! Demi Allah, cukup kau kenang masa sekolah kita dulu. Tak perlulah kita jalin silaturahmi lagi ...aku tahu aku salah, harusnya aku tidak sekolah di sekolah Xavier, sehingga membuat janjian konyol itu. Tinggalkan masa lalu itu RAKA BRAMANTYO, aku hanya ingin hidup tenang dan damai bersama ibuku. Maafkan aku", katanya dengan lantangnya.
Ia pun memacu motornya dan berlalu. Raka terdiam membisu dan mematung.
"Apakah dia Reina Qin Prasetyo?", tanya Marcell menatap RAKA BRAMANTYO.
" m...ya.." jawabnya tergagab.
" Kau siapa ? Apa kau kenal dia?", tanya Raka setelah terjaga dari shock nya.
"Apa itu benar namanya?", lanjutnya bertanya.
Raka mengangguk dan Marcell tersenyum.
" Akulah yang menggendong nya saat dia di kunci di gudang. " Terimakasih kasih Allah SWT, kau jabani doa ku ,amiin," Marcell meraup mukanya nya bersyukur. Lalu berlalu. Segera naik motor.
Diikuti teman teman nya menuju ke arah tempat tinggal Reina.
Cindy baru memasukkan motornya ke dalam saat hendak menutup pintunya ia terhenti pergerakan nya. Kak Marcell?? Ada apa?? kening nya berkerut.
"Assalamualaikum ", Marcell melompati motor dan mendekatkan dirinya tapi terhenti di jarak yang sopan.
"Walaikum salam. Ada apakah gerangan kakak ke sini?", tanya nya
"Apa boleh aku datang ke rumah untuk melamar mu?", tanyanya lantangnya
Ketiga temannya shock saling berpandangan masih di atas motor.
"Kakak jangan bergurau itu tidak lah lucu", ia berbalik merapatkan pintu.
"Aku yang menyentuhmu, aku yang menggendong mu saat kau di gudang dulu. Aku menyukaimu dan selalu ingin bersama lagi Selama nya jika Allah SWT memberikan ijin", serunya.
Reina berbalik dengan terbelalak. "Kakak?"
Marcell mengangguk pasti. Reina menundukkan matanya mengalir air matanya. " Iya kak, aku tunggu. Pastikan restu dari orang tua mu dulu ." jawabnya dengan tersenyum.
"Yess, Allahu Akbar. Nanti jam 7 malam. kami datang..bersiaplah ", ia berjalan mundur dengan setengah berteriak. Teman temannya pada bercuit ria... menggoda lelaki itu bersamaan pintu tertutup.
"Selamat bro, akhirnya jadi melamar nya", seru Durant.
"Selangkah ke depan oi..", Aprilio tak kalah menyahut.
"Amiin jadi pesta makan makan bachelor party", Kevin memainkan alisnya.
"insyaallah tapi ga aneh-aneh ya, sesuai arahan syari'at ", jawabnya. Mereka berlalu.
Sesampainya di rumah, Marcell menyatakan maksudnya dengan mama papanya, mereka setuju saja, karena mereka tidaklah membatasi dan memiliki kriteria semua pilihan ada pada anak-anak. Mama dan papa Marcell tersentuh melihatnya suasana ruko yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan bekerja mereka naik ke lantai dua, di dampingi Reina di depan .
"Ibu....ini kakak Marcell dan orang tua nya." seru Reina. Saat berpaling ibu Xiang Qin terkejut," Tuan...tuan Marc F. Jacobs ?"
"Kalian saling mengenal?", mama Marcell bingung, demikian juga Reina dan Marcell.
" Ia tuan Marc F. Jacobs lah yang membantuku saat menikah dengan ayahmu sayang, dulu dia yang meminta ayah bekerja di perusahaan kontraktor milik pamannya, dan rumah kita dia yang membantu mencari. Sebagai balas Budi ayah ingin kau jadi menantunya." jawab ibu xiang Qin.
Ibu tidak direstui Oma opa mu, ibu di usir di coret dari ahli waris, Ayahmu juga dia di keluarkan dari Prasetyo group. Ayahmu adalah ahli warisnya hanya dia jatuh cinta sama ibu kami di usir. Ayahmu pernah menjalin kerjasama dengan tuan Jacobs. Makanya dia coba peruntungan ternyata berjodoh, bahkan anak-anak juga berjodoh.." terangnya dengan tersedu.
Suasana haru menyelimuti keluarga itu, rasa hangat kekeluargaan dan kebersamaan dalam. Mereka menentukan akhir bulan untuk pernikahan, sedangkan resepsi pernikahan akan dilaksanakan setelah wisuda Reina.
"Bolehkah mama lihat wajah menantu ?", tanya mama Marcell malu malu.
Semua tertawa terbahak-bahak,"maafkan dia", seru tuan Jacobs.
"Baiklah hanya sebentar...bukalah lah sayang," bujuk ibu xiang Qin.
Marcell langsung duduk membelakangi.
" Hlo.. Marcell kok ?", sebelum selesai mama bicar ia menjelaskan dahulu.
"Kita belum Syah mam, jadi qa boleh mam".
mama Marcell tersenyum dan kagum pada kecantikannya calon mantunya demikian juga dengan tuan Jacobs. sungguh kebetulan yang sudah ditentukan oleh yang memberi kehidupan batinnya.
Pestanya di langsung kan di rumahnya Marcell dan bertema out door di halaman belakang dengan back ground taman bunga koleksinya mama Marcell. Dan akad nikahnya di gazebo sedangkan tamu hanya keluarga inti dan sahabat anak anaknya. "Yang penting Syah dulu", jawab Marcell. Dia takut Reina jatuh cinta pada orang lain. Namanya cowok dimana-mana selalu posesif dengan yang di cintai ya.??