Duduk di bangku deretan depan, di seberang sana, terpisah jalan untuk orang berlalu-lalang, seorang lelaki dengan bahu yang membungkuk karena usia, terlihat kepayahan ketika menulis, sepertinya ia lupa untuk membawa kacamatanya, tak ada orang lain yang duduk di dekatnya. Aku pun menghampiri. Namun, oleh karena aturan yang diterapkan, sehubungan dengan pandemi yang tengah melanda, kami pun terpisah jarak satu bangku. Aku pun memperhatikan. Lelaki tua itu melirik kepadaku, seraya tersenyum. Lalu dengan bahasa isyarat, aku pun mencoba untuk menawarkan bantuan. Dia mengangguk sambil kemudian menyerahkan kertas tersebut. Kertas itu tak ada lain adalah formulir pendaftaran pasien. Aku pun mulai membaca, satu demi satu, dan ia pun menyahut, seturut apa yang kutanyakan sesuai dengan keterangan yang harus ditulis. Tak kurang lebih dari semenit semuanya telah selesai kami isi. Aku tidak mengembalikan kertas formulir itu kepadanya melainkan menyerahkannya kepada petugas jaga. Si petugas jaga menerima sambil mengangguk dan tersenyum kemudian merapikan kertas tersebut. Aku kembali ke kursi, duduk di dekatnya.
"Begini ini kalau sudah tua," keluhnya sambil terkekeh, dari balik masker.
"Suatu saya juga akan seperti bapak," sahutku.
Dia pun mengangguk, terdengar tawanya sedikit lebih kencang. Aku pun merespon tawa itu dengan senyuman. "Iya suatu hari semua orang akan menjadi tua lalu mati." ia berucap tenang, terlalu tenang bahkan, ketika mengucapkan kata 'mati' gurat takut tak sedikitpun memancar dari sudut matanya, bisa-bisanya.
Dia pun melirik ke arahku. "Jangan takut kita cuma pulang kok," ucapnya kemudian, dengan gerak tangan yang mencoba untuk berbagi perasaan itu kepadaku.
Aku mengangguk sebenarnya cuma berusaha, dalam hati perasaan takut masih menggelayuti juga.
"Tidak ada kehidupan tanpa kematian," ucapannya dengan tenang. Kalau aku bisa menduga-duga, ini orang tua sepertinya sudah siap seratus persen, kapan saja dipanggil ia bakal legawa, barangkali ia juga bakal membentangkan kedua tangan, tak lupa ia bakal menyunggingkan senyuman.
"Tampaknya usia membuat seseorang menjadi lebih bijaksana ya, Pak." Ucapku, kupikir ia akan menyahut omonganku dengan anggukan kepala, ternyata ia menggeleng. "Bukan. Tapi sadar akan tempaan hidup."
"Maksudnya?" Aku pun terperanjat bingung.
Dengan sorot mata yang teduh ia pun memandangku, ke dalam bola mataku, seperti hendak menelisik jauh ke lubuk hatiku yang terdalam, sambil lalu ia berkata: "Semakin cepat kamu menyadari, akan semakin cepat kamu bijaksana. Karena, tidak ada satu orang pun di bawah kolong langit ini, dari kita yang hidup, lepas dari yang namanya persoalan-persoalan, muda-tua, sama saja, yang penting kemauan dan kemampuan untuk menyadari saja."
"Dari sekian banyak persoalan yang pernah bapak alami adakah hal yang bapak sesali?"
"Tentunya. Namanya, hidup."
"Apakah bapak pernah berpikir, kalau saja, begitu."
"Iya, tentu saja, saya sama dengan Anda. Bahkan, tak sekali saya marah, kecewa, bahkan menangisi. Sampai saya berpikiran kalau saja waktu dapat diulang kembali, saya akan... Tapi itu gak mungkin kan, tapi saya juga pernah berpikir seperti itu, saya sama dengan kebanyakan orang."
"Bisakah bapak menyebutkan satu hal saja, hal apa sih yang paling bapak sesali, sampai-sampai bapak sangat berkeinginan untuk memperbaiki kalau bisa mencegah malah, melalui frasa yang sangat jamak dikatakan orang-orang tadi, kalau saja waktu dapat diputar kembali."
"Cinta."
"Maksudnya?"
"Cinta. Kata itu adalah sesuatu kata yang asing buat saya. Sampai saya..." Terlihat ada setitik airmata yang tertahan di pelupuk matanya. "Jangan untuk tumbuh dan berkembang jauh-jauh sebelumnya saya menolak kata itu untuk berdiam di otak saya, saya ini orang yang berpikir logis, teramat logis malah.
"Kalau saya tangkap, sesungguhnya bapak sadar hal tersebut adalah nyata, tapi bapak berusaha keras untuk menolaknya, kenapa Pak..."
"Apa hal yang terbesar yang paling kamu takutkan ketika kamu mengucapkan kalimat itu."
"Ditolak!"
"Berarti kamu kehilangan kan?"
"Tapi kan bisa cari yang lain,"
"Mungkin mudah buat kamu, tapi tidak buat saya. Disitulah letak kekurangan saya, saya sulit, orang yang sulit, njilimet, kalau kata orang-orang, termasuk anggota keluarga saya, pun mengatakan demikian."
"Apakah karena hal tersebut bapak dijauhi?"
"Menjauhi, yang lebih pas."
"Tindakan kesadaran dari bapak sendiri, bukan begitu?"
Dia mengangguk-angguk.
"Kehilangan sangat menakutkan buat bapak, kenapa?"
"Mungkin karena saya sangat sedikit mendapatkan. Jadi ketika saya mendapatkan saya jadi tidak ingin kehilangan."
"Persoalan paradigma berpikir saja sepertinya."
"Paradigma berpikir yang seperti itu sesungguhnya adalah akibat semata. Karena hal yang paling-paling mendasar dari semua itu, kita ini sesungguhnya adalah orang-orang yang dibentuk oleh dan dari masa lalu."
"Masa lalu?!"
"Yang paling sederhana, ya, apalagi kalau bukan karena keinginan orangtua, yang tak jarang jadi menuntut, dengan mengkambinghitamkan 'masa depan' padahal semuanya karena 'masa lalu' saja."
Aku mengangguk. "Lalu kapan dan karena apa berubah?"
"Kapannya, saya tidak mencatat, jadi lupa."
Aku pun tertawa.
"Karena apa?"
"Karena sebuah kemarahan."
"Terhadap?"
"Masa lalu!"
"Lalu?"
"Saya berpikir untuk menciptakan masa depan saya sendiri."
"Caranya?"
"Saya merantau ke sini, Jakarta."
"Lalu?"
"Saya menumpang di rumah kakak, ketika saya datang, kamu tahu siapa yang pertama datang menyambut saya?"
Aku menggeleng.
"Dia..." Menunjuk ke sebuah ruang. "Dia dan ketiga anaknya."
"Bapak langsung jatuh cinta."
"Tidak. Saya malah berkesan cuek, diawal-awal. Tapi dia terus saja menghampiri, setiap hari, aku berusaha menjauh, tapi dia terus mendatangi. Sampai kakak saya harus merantau ke kota lain, lalu menitipkan dia dan ketiga anaknya kepadaku."
"Tidak ada pilihan,"
"Iya.Dan waktu pun berjalan. Suka tidak suka saya harus mengatakan kalau saya jatuh cinta, bukan kepadanya saja, tapi juga ketiga anaknya. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sangat membenci kata tersebut, karena saya pun akhirnya harus kehilangan."
"Anaknya?"
"Kedua anaknya. Saya benar-benar kehilangan. Kehilangan untuk selama-lamanya. Hati saya remuk, berlebihan barangkali, tapi begitulah yang sejujurnya, saya benar-benar remuk. Saya sendiri, saya kehilangan."
"Kalau saja waktu dapat diputar kembali?"
"Saya ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Pada saat itu saya terpuruk secara ekonomi, duit ada tapi untuk berjaga-jaga. Saya tidak, lebih tepatnya beralasan, mencoba untuk merawat sendiri, tapi takdir berkata lain, tak sampai sebulan, saya kehilangan dua dari tiga anaknya. Untungnya, ada sekian banyak tahun yang kami jalani bersama, dan itu pula yang paling menyakitkan."
"Lalu?"
"Saya berjanji dengan seluruh kekuatan dan kemampuan yang ada pada saya untuk menjaga mereka yang tersisa."
"Dan dia yang terakhir?!"
"Ibu yang hebat. Ketika pertama kehilangan anaknya, ia mencium dan mengendus, lalu menghampiri saya, mencium tangan saya, seraya ia hendak berkata, relakan."
"Berat pasti?"
"Sangat berat."
"Apa yang membuat bapak bertahan selain janji yang bapak ucapkan tadi?"
"Cintanya. Dia punya cinta yang tulus, tak pamrih. Dan keberaniannya untuk melepaskan, saya belajar banyak dari dia. Mencintai dengan bahasa sentuhan, bukan cuma sekedar kata. Itu yang paling saya rindukan, yang tak pernah saya dapatkan, sekali lagi mungkin ini berlebihan, terutama buat-buat orang-orang yang..."
"Orang-orang yang beranggapan kalau mereka cuma sekedar hewan, tidak lebih dari itu."
"Merekalah yang lebih dulu memberikan cintanya kepada saya, yang terjadi tidak sebaliknya." kata si lelaki tua sambil mengusap tali kekang di tangannya. Tak berselang lama seseorang juru rawat menghampiri kami, mendekat ke sisi lelaki tua itu."Maukah kamu menghampirinya untuk yang terakhir kali," ucap si juru rawat dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia menunggu."
Si lelaki tua bangkit berdiri, mencoba untuk tegak, tapi kondisi tubuh yang renta mempengaruhi, ia pun berjalan, mencoba untuk tidak goyah, si juru rawat berjalan di sisi kirinya. Aku pun mencoba untuk mengingat nama yang ia ucapkan tadi. "Angel, itulah nama anjing tersebut, anjing kecil, dari jenis poodle."