Jam ke empat, pelajaran olah raga. Reina ditugaskan membersihkan lapangan basketball. Lapangan ini ada di dalam ruangan karena merangkap aula. Sekolah Xavier adalah sekolah favorit dan terkenal program pendidikan yang bagus belum beasiswanya yang ditawarkan. Yayasan ini keluarga kaya tidak membedakan jenis kepercayaan agama, jika anak itu pintar dan berprestasi maka akan langsung dapat bimbingan langsung hingga ke perguruan tinggi.
( jadi bukan kaleng-kaleng ya?).
Reina mengepel dan menata bola-bola yang dipakai untuk berolah raga sendiri, saat itu dia tidak sendirian ada Flora dan Sharena. Setelah selesai mereka mendorong troli dan membawa masuk ke dalam gudang. Di menit-menit terakhir waktu sampai Sharena berkata," Reina. Apa aku boleh ke kamar mandi? Aku mau ganti pembalut nich. Takut ctembus, maluu. " Katanya malu malu.
" Ya, pergi aja. Aku bisa kok sendiri." Jawab Reina.
" Kau temenin aja Flow , hanya tinggal semeter . Langsung aja ke kelas, Nanti kelas Matematika" , lanjutnya.
" Beneran tidak apa-apa?", tanya Flora.
Entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu.
Reina mengangguk mantap. Maka pergilah keduanya ke toilet.
Reina mendorong troli masuk ke gudang lalu menata pell keriing yang di gunakan bersama tadi, di saat ia berbalik dan hendak keluar, suara pintu merapat. Braak!!! klik. lampu juga padam. Saklar lampu gudang memang terletak di luar. Paniklah Reina. "Toloong.... toloong....siapa pun toloong..." teriaknya. Pintu terkuncii. Tidak ada yang mendengar. sepanjang lorong sepi...tak ada orang yang lewat karena gedung itu terpisah dari gedung utama. Lapangan itu terletak di belakang gedung utama yang dipisahkan lapangan yang luas, yang untuk lari, sepak bola dan merangkap lapangan upacara bendera. Jadi tidak ada yang aktifitas di sana kecuali olah raga.
Sementara di kelas pelajaran sudah di mulai, semua heran kenapa Reina tidak masuk kelas. Secara anak itu paling rajin dan selalu antusias jika belajar. Hanya anak tertentu yang mengetahui Reina berada. Raka menatap Sava lurus sejenak dia termenung, kenapa gadis itu tenang saja? Ada yang aneh. Dulu pernah Reina hampir telat, Sava kebingungan dan biasanya dia heboh jika tidak melihat Reina. Dan selalu merengek padanya untuk mencari info Reina. Bell jam istirahat berbunyi, Raka melesat berlari di ikuti Bima, ke lapangan basket. Mencari keberadaan Reina. Sava hanya mengepalkan buku jemari kesal, bukan cemburu asmara pubertas tapi karena sifat Reina kan muna! kenapa masih diperhatikan?. Di depan baik di belakang jahat banget pikir Sava.
Semua tempat tidak ada, gudang peralatan, lapangan basket, taman.. terakhir kantin. Tidak ada. Kemana?? Saka dan Bima saling berpandangan bingung. UKS!!! seru mereka bersama.
Mereka langsung menuju ke UKS.. sesampai di sana mereka mengintip, ada orang. Seorang anak laki-laki duduk dengan buku dan head set melingkar di lehernya dan Reina yang tiduran membelakangi nya.
Bukannya itu si jenius anak kelas sebelah? Keduanya mengangguk berpandangan seolah saling berbicara dalam pikiran.
" Istirahatlah, aku akan membantu mu diam diam siapa yang tega berbuat jahat padamu. Janganlah khawatir. Aku sudah bilang guru kita kau sakit...Minumlah dan makan roti itu. Lain kali berhati hatilah banyak orang-orang jahat di sekeliling kita. Aku tahu siapa kamu, saat ini dua sahabatmu ada di luar, aku ke kelas." pamit anak laki-laki itu berdiri.
" Terimakasih dan Assalamualaikum, maaf tidak mengantarmu." cicit Reina lirih.
Saat melangkah kelluar anak itu berpapasan dengan mereka, Raka dan Bima, mereka saling mengangguk memberi salam. Ketiganya bertatapan.
" Reina mempunyai musuh. Dia di kurung cukup lama kelihatannya. Bisa jadi ini unsur kesengajaan. Aku akan bantu menyelidiki kau harus menjaganya" terangnya.
"Baik terimakasih", jawab Saka. mereka berpisah, Saka dan Bima masuk di dalam UKS, melihat keadaan Reina yang rebahan.
"Reina, bagaimana keadaanmu?" Baik sajakah ? ", tanya Saka dan Bima bergantian.
" Maaf kan aku sudah merepotkan", cicit Reina lemah. Jujur Reina shock, seperti kata anak lelaki tadi. Dirinya tidak menyangka sudah berbuat jahat pada orang lain, siapa yang dia singgung? Siapa yang tidak suka padanya? Orang asing itu menolongnya. Bahkan dia tidak mengetahui namanya. Hanya ingat dia anak popular di sekolah. Dia hanya peringkat 5 di satu sekolah dan itu pun sudah dapat beasiswa dan uang saku.
Baginya itu sudah suatu pencapaian. Ia hanya ingin belajar dan sekolah agar kelak menjadi kebanggaan orang tuanya.
Enggak ada masa belanja dan manja manja ala ala anak remaja. Dia selalu membantu sang ibu menyetrika di rumah, ibunya membuka jasa laundry sejak ayahnya meninggal satu tahun lalu. Ayahnya mengalami kecelakaan kerja di perusahaan. Ada asuransi perusahaan dan ayah memang mempunyai tabungan. Dan ibunya tidak ingin berlarut kesedihan maka ia menjual rumah lama dan mobil ia memilih membeli motor dan tinggal di ruko kecil dua lantai.
Memang ruko tidaklah pas untuk hunian, akan tetapi demi hemat waktu dan biaya sang ibu lebih memilih itu. Lagi ada sistem keamanan jadi beliau tenang walau hanya berdua dengan sang putri.
Air matanya mengalir Tampa bisa dia tahan. Dia sedih karena ada yang menyakitinya, juga merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan orang lain. Tapi siapa?
"Kami pergi dulu, sebentar lagi bell akan berbunyi, istirahatlah!! Kau bisa pinjam catatan dari kami dan nanti ku beritahu PR nya yang mana aja." pamit Raka.
" Jangan takut ada kami", sahut Bima
" Iya terimakasih semuanya, maaf merepotkan kalian ", jawabnya lirih.
Sepeninggal nya mereka Reina menagis. Ia duduk dan minum makan roti pemberian sang penolong, karena perutnya perih minta di isi. Hatinya benar sedih, karena ada orang yang membenci dan takut jika nantinya dia di sakiti lagi.
Ya, Allah maafkan dia, batinnya. Setelah dirasa cukup kuat dan menata penampilan ia pun masuk kelas. Dan minta maaf kepada guru di kelas karena masih mengenakan seragam olahraga saat mengikuti pelajaran terakhir.
Saat duduk Sava meliriknya sinis dan memunggunginya. Reina bingung, lalu di bukanya buku pelajaran di sela sela bukunya ia melihat surat dibukannya kertas itu "RASAKAN ITU DASAR ORANG MUNAFIK!!!! Setetes air matanya mengalir segeralah dia hapus dengan berpaling. Saat yang sama ia bertatapan dengan teman di samping nya dan ia masih saja tersenyum.
Raka melihat'. Anak itu memperlihatkan secara diam-diam. Bima yang asyik menulis terhenti melihatnya. melihat arah pandangan mata Raka.
Bell usai sekolah terdengar. Raka berdiri dan menghampiri Sava" kita perlu bicara".
Bima mengikutinya. Mereka berjalan beriringan ke arah taman belakang sekolah.
" Katakanlah ada masalah apa sebenarnya kau dapat melakukan itu?" teriak Raka.
Bima terjenkit terkejut, pasalnya Raka anak yang dapat menahan emosi.
" Reina itu MUNAFIK di..." , bla..bla.. semua nya tentang Reina dia ucapkan dengan lantang, menyuarakan kebenaran itu pikiran Sava.
Di sana mereka tidak mengetahui jika Reina mengintip di balik pohon.
Saat berpaling dari samping tak jauh dia berdiri ada anak lelaki itu acuh dengan headset di lehernya.
Tampa bicara setelah Sava puas dengan cerita nya yang di dapat. Reina maju, ketiganya terkejut.
"Maafkan temanmu ini yang membuat mu sakit, maafkan aku sudah membuat mu dirugikan, Maafkan aku yang salah, maafkan aku", ucapnya dengan menangkup kan tangan nya dan tersedu. Raka dan Bima menahan tangis dengan berpaling. Sava terkejut , matanya mengembun. Reina berlalu berlari ke parkiran naik sepeda pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan mulut mungilnya membaca istighfar dan dan memanggil satu kata, " Ayah sakit, maafkan putrimu yang nakal ini", sedang kan air matanya mengalir tidak berhenti.
Anak laki-laki itu mendekati mereka, dan berkata ;" kenapa kau percaya hasutannya? kau sudah bersama nya hampir tiga tahun, apa kau tak nyaman? Apakah dia pernah berbuat apa-apa padamu? pikirkan tentang nya, apa kejelekan nya yang kau lihat sendiri!! " dan dia pun berlalu.
"Aku tak menyangka kalau kamu sudah memilih untuk percaya hasutannya. Kita sudah bersama, kau lihat apa dia tidak tulus dan ikhlas? Aku kecewa padamu. Sebagai saudara dan temannya aku akan di sisinya dan tidak akan percaya pada cerita yang hanya hisapan jempol saja!" Raka pun berlalu.
"Aku juga sama Sava. Kau keterlaluan. Harusnya kau bisa ngomongin ke kami", sambung Bima. ikut meninggalkan Sava. Gadis itu berjalan gontai menuju mobilnya, dia selalu di antar dan di jemput ke sekolah.
Sejak insiden itu ketiganya terdiam. Reina meminta temannya berganti tempat duduk, duduknya memilih dekat jendela, ia seringkali melamun jam istirahat, ia selalu membawa bekal, dan tidak ke kantin lagi. Ia hanya membaca buku-buku dan memakan bekalnya.
Awalnya anak anak kasak kusuk tapi itupun berlalu. Raka dan Bima selalu menemani di kelas. Ia menghargai keputusan yang diambil oleh Reina. Sava mencoba untuk berkomunikasi dengan Raka dan Bima tapi di acuhkan. Jika Sava ingin mendekati Reina ia memilih menghindar. Ia juga membaca surat nya Sava tapi tak di balasnya. Karena dia pikir lulus sekolah yang utama. Toh dia yang salah bukan Sava, ia sudah meminta maaf lantas apa lagi? pikinya.
Waktu berlalu semuanya berjalan lancar bagi Reina, kelulusannya dengan nilai bagus. Evoria kelulusan anak baru gede sangat antusias ber foto foto..kali ini hanya bertiga. Raka Reina dan Bima. Sedangkan Sava pindah karena orang tuanya memang pindah kerja dan mungkin ini pelajaran baginya dan ia bisa mulai dari awal lagi pikirnya sedih.
Reina tidak memberitahukan ke sekolah mana dia melanjutkan pendidikannya, Bima dan Raka ke sekolah yang sama. Biarpun sudah bersama tiga tahun ke tiga teman nya tidak tahu tempatnya tinggal Reina, dia bersyukur karena itu. Dulu jika ada tugass kelompok pasti di rumah Sava, ia yang selalu minta di temani, karena anak tunggal.
Sejak itu dia putuskan memakai penutup muka, dengan memakai masker, jika ditanya guru ia selalu bilang sakit alergi maka harus memakai masker, lalu lama lama jadi kebiasaan. Dan saat kuliah ia kenakan baju yang lebar dan bercadar.
Ia tidak ingin bertemu lagi teman sekolah masa remajanya. Dia ga ingin mengenang masa itu.
Dengan satu helaian nafas berat ia melanjutkan menyetrika baju baju itu.
( itulah guys ambilah keputusan dengan bijaksana jangan gegabah pertimbangkan baik buruknya akibat keputusan sepihak, alangkah bagusnya minta pendapat dari orang terdekat kita. Ambil nilai positifnya,ya)
Di tempat lain Marcell mempelajari ilmu pengetahuan agama. Ia semakin yakin dan mantapkan hati nya pada pilihannya. Karena papanya mendukung apapun keputusan nya.Ia sudah berdiskusi dengan orang tuanya. Sang kakak Danisa dan kakak iparnya Marcell terkejut pasalnya sang adik yang pendiam dan cuek itu sudah jarang keluar dan banyak berdiam di rumah, dan kebiasaannya pun berubah. Walau ada ekspresi dingin ia masih ada, apalagi saat terdengar dia melafazkan bacaan Al Quran seisi rumah terharu dan meneteskan air matanya.
"Mama ingin bertemu dengan gadis itu. Siapakah dia,pa?" , bisik sang istri. Suami isteri itu hanya berangkulan duduk dengan diam, juga Danisa dan sang suami.
"Suara nya bagus sekali ma, apa om menyanyi? Lagunya aku tidak paham bahasanya." kata Oca keponakan Marcell.
Danisa sang ibu hanya memeluk nya. Sejak dia memperdalam ilmu agama Marcell sudah meninggal kan kebiasaannya itu. Dia juga mengganti model bajunya menjadi kasual. Biasanya dia cuek dan acuh. Sekarang dia membalas sapaan teman sekampus nya biarpun tak mengenali nya. Dari perubahan inilah kaum hawa tambah makin baper.
Di kantin kampus. Ke empatnya kumpul(Marcell, Kevin, Aprilio dan Durant) mereka menikmati semangkok bakso, Ketiga sahabatnya bengong saat Marcell membaca doa saat makan biar lirih tapi terdengar ketiganya.
Bakso yang di seduh Aprilio terjatuh lagi di mangkuk, Durant yang mengunyah terhenti menganga snacknya sampai jatuh dari mulutnya, dan Kevin tertegun seperti patung memegang gelasnya.
" Hei, pada kenapa? Astaghfirullah, sadar hei!!", Marcell menjentikkan jari nya. Semua tergagab.
" lap dulu gih !" , titahnya menyodorkan tisu ke Durant.
" Sori, bro. Barusan Lo doa secara Islami, Lo mualaf?", tanya Aprilio kepo.
Marcell tersenyum dan mengangguk.
"Jadi itu sebabnya Lo jarang eh sudah tidak pergi karena ini?", lanjut Durant.
" Ya.. dan sebelum nya aku meras kosong hatiku. Dan Yach ini pilihan ku. Keluargaku mendukung ku. " Insyaallah aku akan melamar gadis yang kusayangi ." jelas Marcell.
" Bro kan banyak aturannya apa Lo ga ribet?", tanya hati hati Kevin.
" Bukan ribet, aturan di buat untuk menuntun kita lebih baik jika melanggar itu oknum nya aja yang tidak benar. Kita nikmati apa yang bisa, kita memberikan apa yang bisa kita berikan, tak ada paksaan dan semua keikhlasan kita", jelasnya.
"Wow ..kau seperti ustad", Aprilio tercengang.
Marcell geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah temannya.
Tapi Lo ga ninggalin kita kan?" selidik Durant
" Ya enggak lah. kalian best friend forever, hanya aku ga minum minuman keras, dan makan makanan haram itu aja! ", jawabnya riang .
semua kembali tersenyum dan bercanda ria.