Saat janji yang terucap dengan mudah di lupakan, siapa yang harus di salahkan? si pria pembuat janji itu sendiri? atau si pemegang janji?
Di bawah guyuran hujan Widia masih setia menanti dan berharap bila Leo akan datang menepati janjinya.
Di tempat lain.
Leo yang gila kerja harus kesal dengan tutunnya hujan, skejul yang sudah di buat mendadak jadi berantakan.
"Maaf Tuan, di luar sedang hujan, tidak memungkinkan untuk pergi ke proyek." ucap sag asisten.
"Jam berapa sekarang? kemana sekretaris Widia? bukankah itu tugas dia mengingatkan jadwal ku!" ucap Leo marah.
"Maaf, Tuan.. dari jam makan siang, sekretaris Widia belum kembali ke kantor." jawab sang asisten.
Leo langsung berlari ke arah meja sekretaris nya itu, di lihatnya ada memo di layar komputer nya.
Kecemasan mendadak pun muncul dalam benak hati Leo.
"Gila, kenapa aku bisa melupakannya?" Leo pun berlari dengan tangan kiri menyambar payung yang tengah di pegang oleh salah satu satpam kantor.
Dengan langkah kaki yang lebar Leo berjalan ke arah taman yang ada di samping kantor.
Tatapannya tertuju pada gadis manis yang selama ini di kenalnya sedang duduk di bangku taman dan membiarkan tubuhnya basah dengan guyuran air hujan.
"Bodoh, kau!" umpat Leo sambil memayungi Widia.
"Kalau aku bodoh, untuk apa kau ke sini?" tanya Widia yang terisak bercampur jatuhnya air hujan yang membasahi pipi mulusnya.
"Karena kau bodoh, sudah tahu hujan.. kenapa tidak kembali?" omel Leo.
"Bodohnya aku menunggu dirimu yang batu!" umpat Widia.
"Ia aku batu, lalu kau apa?" tanya Leo.
"A- a- aku ---."
Leo membuang payungnya dan menarik tangan Widia ke dalam dekapannya.
"Aku cinta pada mu!"