Tema : Cinta Rahasia
Qingge, pengawal bayangan pangeran ke-7, sedang bertarung sengit dengan Meiyin, ahli racun nomor satu di klan ahli racun. Setidaknya itulah yang terlihat di mata anak-anak buah mereka. Namun baik Qingge maupun Meiyin, menganggap ini sebagai latihan. Mereka berada di dua kubu berbeda. Qingge yang melindungi pangeran ke-7. Dan Meiyin yang mendapat misi melenyapkan pangeran ke-7. Tak ada yang tahu bahwa mereka berdua pernah menjadi teman seperguruan semasa kecil. Tiba-tiba...
Syuuut...
Sebuah jarum melesat menembus kegelapan. Tepat mengarah ke jantung Qingge. Meiyin menyadari hal itu dan langsung meraih bom asap dari kantung Qingge. Seketika asap tebal menyelimuti mereka berdua. Meiyin dengan cepat membuat gerakan sekecil mungkin untuk mendorong Qingge agar jarum tersebut tidak mengenai Qingge.
'huftt...untung masih sempat. Tunggu dulu...,' batin Meiyin.
Meiyin yang hendak keluar dari kepulan asap itu pun mengurungkan niatnya ketika melihat bahwa jarum tersebut mengenai lengan kiri Qingge.
'Racun'
Benar saja, Meiyin melihat bahwa tubuh Qingge mulai melemah setelah terkena racun khusus klan Meiyin, klan ahli racun. Dengan cepat ia mengambil satu butir pil penawar racun yang selalu ia bawa. Kemudian segera memberikannya pada Qingge.
"Tiga jam lagi di tempat biasa. Sekarang pergilah cepat," bisiknya pelan.
Sebelum dia keluar dari kepulan asap itu. Dia memastikan Qingge sudah aman terlebih dahulu. Baru kemudian Meiyin keluar. Dengan cepat dia berlari melompat melewati pepohonan hingga sampai di tepi air terjun.
"Maaf, tuan. Saya tidak berhasil. Kali ini begitu ceroboh hingga sasaran berhasil lolos. Meiyin siap menerima hukuman.," ucap Meiyin pada ketuanya.
"Hukumanmu adalah menyelesaikan misi ini. Satu minggu," ucap ketua.
Detik selanjutnya, ketua dengan cepat menghilang di tengah kegelapan malam. Meiyin masih menunduk, menghela nafas panjang. Ia kemudian berdiri. Berjalan menuju air terjun. Menyentuh satu batu di sana. Dan terbukalah pintu rahasia di balik air terjun itu. Tak seorang pun mengetahuinya selain Meiyin dan Qingge.
Setelah melewati air terjun, Meiyin segera memastikan keadaan aman. Lalu ia kembali menekan batu di balik air terjun itu untuk menutup pintu rahasia. Ia mulai berjalan mengikuti lorong gua tersebut. Hingga akhirnya berakhir di sebuah mulut gua kecil. Dari sana nampak kegelapan malam yang terkalahkan oleh sinar rembulan. Ia pun duduk di mulut gua sambil memandang langit yang penuh bintang dan indahnya bulan purnama.
"Sudah lama?" tanya seseorang dari belakang Meiyin.
Meiyin langsung berdiri. Berbalik, tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia teringat luka Qingge.
"Bagaimana lukamu? Apakah sudah lebih baik?" tanyanya.
"Sudah. Terima kasih."
Qingge menggenggam tangan Meiyin, lalu mengajaknya duduk di mulut gua. Meiyin mengangguk. Mereka duduk dengan Meiyin bersandar di bahu Qingge.
"Qingge...Sampai kapan akan seperti ini? Kita berada di dua kubu berbeda yang saling berlawanan. Kita tidak mungkin akan bersama," ucap Meiyin.
"Meiyin...," panggil Qingge sambil merubah posisi duduknya menghadap Meiyin dan menangkupkan tangannya di pipi Meiyin. "Apa pun yang akan kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu," lanjutnya.
"Sungguh?"
Qingge mengangguk. Meiyin meraih tangan Qingge. Meletakkan di pangkuannya sambil menggenggamnya. Ia menundukkan pandangannya.
"Aku tak tahu bagaimana dan kapan aku bisa pergi dari klan ahli racun. Aku benar-benar ingin pergi. Bisakah kau membantuku?"
"Tentu. Kita akan membuat sedikit sandiwara kali ini. Kau bisa?" tanya Qingge.
"Semoga saja bisa secepatnya. Aku benar-benar ingin bersamamu. Terlepas dari mereka. Sangat menantikan hari itu," uacap Meiyin sambil menerawang jauh ke langit.
Qingge meraih bahu Meiyin dan menyandarkan Meiyin di bahunya.
***
Kira-kira sampai kapan ya mereka akan menyembunyikan hubungan mereka?
Dan apa rencana Qingge untuk menolong Meiyin?
🤷♀️
Zukha ngantuk...udah malem...👋👋
makasih udah baca...