“Aku benci dia tapi di saat yang sama aku juga mencintainya....”
di atas kapal ferry yang sedang berlayar Surabaya-Jakarta, seorang pria yang memakai kemeja dan jas sederhana duduk di kursi pelanggan ruang makan kapal, tak jauh dengannya, pacarnya juga sedang makan malam dengan lelaki lain yang kelihatannya sedang membicarakan masalah perjodohan.
Bayu pun keluar dengan emosi yang campur aduk menuju deck kapal.
Widia yang melihat Bayu pergi meninggalkan ruang makan kapal pun segera bangkit untuk mengikutinya.
“Ma, aku pergi ke toilet dulu ya” ucap Widia ke mamanya
“iya sayang, jangan lama-lama kasian si Yudha nungguin kamu” ucap mamanya seraya menggoda Widia
“Ah, mama bisa aja” balas Widia
Widia pun segera menuju ke deck kapal menyusul Bayu
.
“Aku tau aku miskin tapi setidaknya jangan permainkan perasaanku! Kamu bilang mau kenalin aku ke orang tua kamu. Tapi, apa yang terjadi sekarang?” bentak Bayu sambil menatap tajam ke arah Widia, putri orang kaya sang pemilik kapal Ferry tersebut.
“Aku tidak mempermainkan perasaanmu Bayu, perjodohan ini mendadak, baru saja tadi di ruang pribadi kapal dibicarakan, lalu... aku dikenalkan kepada calon tunanganku” ucap Widia yang sedang kebingungan sekaligus sedih menanggapi Bayu.
Tujuan Widia membawa Bayu ikut perjalanan keluarganya adalah untuk mengenalkan Bayu kepada kedua orang tua Widia, dengan dalih membawa sahabatnya, Widia meminta izin kepada orang tuanya mengajak Bayu dalam perjalanan tersebut. Namun, tak disangka orang tua Widia juga menyiapkan hal yang sama. Sebenarnya sudah lama Widia diwanti-wanti kalau mau dijodohkan dengan anak teman ayahnya. Tapi, Widia diam saja karena tidak mau berdebat dengan orang tuanya dan dia tau kalau dia akan dijodohkan dengan orang yang sederajat.
“aku juga gak mau dijodohin Bayu, tolong kamu pahamin juga perasaanku” ucap Widia memelas
“lalu, apa yang mau kamu lakukan dengan perjodohan ini?” tanya Bayu yang amarahnya sudah agak reda
“aku akan coba menolak perjodohan ini, aku juga janji akan bilang ke mama papa kalo kamu itu pacar aku” ucap Widia menenangkan Bayu.
Di tengah suasana yang mulai tenang, calon tunangan Widia muncul mencari Widia
“Widia....
Ayo kembali ke ruang makan, kamu dicariin mama kamu” ajak Yudha yang tiba-tiba sudah dibelakang Widia.
Widia yang agak kaget, berkata “oh ya...? ini aku juga mau balik kok.
Oh ya kenalin, ini Bayu sahabat aku”
“ooo jadi ini sahabat kamu, tadi sedikit dibahas sama om Bambang kalo kamu bawa temen kesini, ternyata cowo kukira cewe” ucap Yudha sambil menyodorkan tangannya ke Bayu.
“Hai, Bayu temennya Widia” ucap Bayu dengan nada ketus.
Mereka bersalaman dan saling pandang agak lama.
“ya udah Bayu aku tinggal ya, aku mau lanjut makan” ucap widia memecah keheningan.
“ya” jawab Bayu singkat
Mereka pun kembali ke ruang makan. Sedangkan, Bayu masih memilih untuk menenangkan diri di deck kapal.
Waktu berlalu sekitar 2 jam, Widia keluar menuju deck mencari Bayu, dia melihat bayu sedang berdiri termenung memandang lautan sambil tangannya bertumpu pada pagar kapal.
Widia menghampiri Bayu dengan wajah murung dia mencoba memanggil Bayu.
Bayu yang mulai menyadari kehadiran Widia pun menoleh ke arah Widia, Bayu tau apa yang akan dikatakan Widia, Seolah semuanya sudah tersirat dari raut wajah Widia.
Widia mencoba mengawali percakapan. Tapi, bayu sudah menyelaknya duluan
“Bay....”
“Iya gapapa kok, aku tau apa yang mau kamu omongin, aku sadar diri juga kalau dari awal hubungan kita pasti gak akan dapat restu dari orang tua kamu” selak bayu sambil mencoba bersikap tenang, walau sebenarnya hatinya sudah hancur.
Selama 2 jam sebelumnya bayu mencoba untuk tenang dia tahu kalau semua ini pasti akan berakhir menyakitkan, jadi dia sudah mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi, dia tahu apa yang akan dikatakan orang tua Widia jika dia mencoba muncul ke hadapan mereka.
“Jadi kapan tunangannya?” tanya bayu
Widia yang agak kaget karena mendengar pertanyaan bayu menjawab sambil terbata-bata “ss.. se-telah ki-ta turun dari kapal, di Jakarta, di rumah Yudha"
“Ooo” jawab Bayu tenang.
“ini tiket buat kamu pulang ke Surabaya, aku udah pesenin kalau kamu bakal naik kapal ini lagi buat pulang ke Surabaya” ucap Widia sambil menyodorkan tiket kapal ke Bayu.
Bayu menolak dengan menepis tangan Widia “gak usah aku mau pulang naik kereta aja, aku gak semiskin itu buat kamu kasihani”
Widia agak menyesal setelah semua ini terjadi, dia merasa bersalah kepada Bayu, tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.
“Aku minta maaf ya Bayu kalau selama kita pacaran aku ada salah sama kamu” ucap Widia.
Bayu menoleh menatap lautan, dia sudah tidak mampu menatap wajah widia lagi
“gapapa kok kamu gak salah, yang salah itu aku karena berharap lebih, padahal sebagai cowo miskin, punya pacar kayak kamu aja aku udah beruntung banget, seharusnya aku yang minta maaf ke kamu karena aku gak bisa ngebahagiain kamu” ucap Bayu sambil menatap lautan
“Kamu gak boleh ngomong gitu Bay, aku bahagia kok selama ini pacaran sama kamu” bantah Widia
“Sudah! Hentikan! aku gak mau bicara lagi sama kamu, Pelabuhan sudah keliatan didepan sana aku mau kemasin barang-barang aku” ucap Bayu ketus sambil meninggalkan Widia dan menuju ke kabinnya
“Aku benci dia tapi di saat yang sama aku juga mencintainya....” ucap Bayu dalam hati sambil menuruni kapal untuk terakhir kali