Hewan lucu dan imut yang sering kita lihat adalah Kucing, sekarang kucing ini tinggal bersamaku. Sebelum kucing kecil ini tinggal bersamaku, aku menemukan kucing ini kesepian yang tidak bersama induknya. Memang kasihan, anak kucing Yang begitu lucu seperti dia sendirian di taman. Hari-hari pertamaku bersama kucing kecil ini sangat menyenangkan. " Embul! " aku yang memanggil kucingku. Dengan langkah anak kucing kecilku yang lucu, membuat aku ingin ketawa saat melihatnya. Dia datang mendekat kepadaku, aku mengusap dan mengelus bulu-bulunya yang lembut dan halus, warna bulunyapun sangat indah dan lucu. " Huaa ha ha ha, lucu lucu sekali kamu, tangan ku pun geli karena mu ha ha ha, " dia sangat menggerakkan bukan? Saat tau aku sangat gemas padanya, dia terus bersikap manja padaku yang mengartikan aku tidak boleh berhenti. Saat cape dia berhenti lalu menatapku seolah-olah dia ingin berkata ' aku lapar '. Aku mengetahuinya, lalu aku mengambil makanan anak kucing yang kubeli tadi, dan aku berikan di tempat makan yang kusiapkan di mangkuk yang sudah tidak di pakai lagi. Dia sangat lahap memakan makanannya. " Yaampun apa kamu selamat itu?" ucapku tersenyum sambil mengelus nya pelan.
Aku juga membuat nya sebuah tempat tidur untuknya. Hanya untuk dia tidur kalau kedinginan di saat malam hari. Aku membutnya dari kardus bekas dan beberapa kain bekas yang masih bisa digunakan untuk menghangatkanya. Melihat kucingku yang tertidur pulas, aku bertanya-tanya, ' kemana induk dan saudara nya pergi? Mengapa induknya tegaeninggalkan anaknya sendirian?' Pertanyaan itu terkadang muncul di benakku, tanpaku bisa menjawab satu per satu. Hari demi hari pun berlalu, aku selalu merawat danenyayangi kucing itu sepenuh hatiku. Aku mengerutkan dariku dalam. Ada perbedaan yang terjadi pada kucingku. Bukan, dia tak bertumbuh. Namun, perutnya yang membesar. Langkahnya pun tidak seimbang. Kenapa kucingku? Apa dia kekenyangan? Sepertinya tidak.
Hari esok, setelah pulang sekolah aku langsung menemui kucingku. Betapa aku terkejut melihat kucingku terbaring lemas dengan mata yang setengah terbuka. Aku menyentuh tubuhnya di dia langsung gemetar. Aku pun bingung, cemas, khawatir. Yang kulakukan hanyalah berdoa sambil menyelimutinya dengan kain yang sedikit tebal. "embul kamu kenapa?" aku mulai berfikir negatif. Beberapa saat kemudian dia bangkit, entah yang dia ingi lakukan. Berjalan ketempat yang penuh tanah. Aku sangat terkejut dari sebelumnya. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Namun biasanya yang keluar susu atau makanan. Kucingku mengeluarkan gumpalan cacing Toxocaraa cati/Toxascaris leonina. Dia terus mengeluarkannya dengan tubuh bergetar. Dengan wajah cemas, deg-degan, aku meminta temanku yang sudah biasa merawat kucing.
"Mila!" kupanggil namanya terus-menerus
Sampai seorang perempuan sebayaku keluar dari rumah.
" Ada apa Ririn?" tanyanya padaku. "Ikut denganku sekarang! Kucingku sakit," Aku langsung menarik tangannya dan membawanya kerumah. Untuk menemui kucingku yang sedang duduk lemas.
"Aku tidak tahu mengapa, saat aku pulang sekolah dia sangat lemas dan muntah." Mila menatap kucing itu dengan miris.
Kebetulan, malam ini malam minggu. Aku berencana membawa kucingku kerumah Milan. Saat ingin membawa kucing itu, aku melihat kucing betina yang melihat kearah kucingku. Aku berkata didalam hati. 'Apa jangan-jangan kucing ini adalah induknya?' Ya terserahlah kucing itu mau melakukan apa. Aku langsung membawa kucingku ke tempat Mila. Setelah menyampaikan keluhan pasien kepada dokter, embul diberikan obat cacing sementara. Beberapa hari kemudian, keadaan anak kucingku membaik. Aku meminta Mila merawatnya, dan saat itu aku merasa kesepian. Biasanya Embul yang selalu menghiburku. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, aku mendapat sebuah berita dari Mila.
"Ririn, aku minta maaf ... aku tidak bisa merawat embul dengan baik, tadi pagi aku menemukannya tergeletak dengan penuh busa di mulutnya," aku terkejut dan terdiam lama. Aku bingung ingi berkata apa. Aku sangat sedih mendengarnya. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa. Dalam hatiku berkata, 'Selamat tinggal embul, semoga di kehidupan selanjutnya kita bertemu lagi dan bermain lama denganku, dan maafkan aku tak bisa merawatmu dengan sangat baik.' Atas kejadian itu, aku mendapatkan sebuah pelajaran. Ternyata tak mudah merawat seekor hewan seperti kucing.