“Noel, aku mau tanya”
“Apa Nay?”
“Kenapa langit berwarna biru? Kenapa senja berwarna jingga? Kenapa mendung jadi tak berwarna? Mengapa warna langit sering berubah-ubah?”
“Mau jawaban ilmiah apa ngaco?”
“Ihh, ilmiahnya dong Noel”
“Asal kamu tahu Nay, warna langit biru disebabkan pemantulan cahaya oleh debu-debu kosmik yang
bertebaran di antarika. Debu kosmik membiaskan cahaya matahari”
"Debu kosmik?"
"Yes, debu yang ada di antariksa"
“Oh begitu, ku kira diluar sana ada tukang cat tak kasat mata”
“super ngacoo”
****
“Noel, aku suka langit”
“kenapa Nay?”
“Aku nggak tahu Noel, saat aku menatapnya hatiku jadi lebih tenang”
“Pengen tahu alasan ilmiahnya?”
“Mau denger dong”
“Nay, ketika kamu ngelihat benda yang jauh seperti langit, matamu jadi nggak berakomodasi …….”
“Oh begitu, kompleks banget ya semesta ini”
****
“Noel, rasanya aku pengen nyentuh langit”
Kali ini aku diam Nay, bukan karena lelah. Aku memilih mendengarkanmu. Kupandangi dirimu yang tengah asyik menatap lekat-lekat hamparan langit biru. Kamu terlihat sangat bahagia.
Sesaat kamu menoleh ke hadapanku, aku bisa melihat dengan jelas kilauan mata lembayungmu.
“Noel, ada hal yang harus kamu tahu”, suaramu memecah keheningan
“Apa Nay"
“Noel, jika aku berdiri disini tanpamu, yang kulihat hanyalah separuh langit biru. Ada, tapi tidak
sempurna.”
Aku sangat bahagia mendengarnya Nay, aku memberikan senyuman terbaik yang ku punya. Aku bergegas menjawab pernyataanmu, tak mau membiarkanmu menungguku barang sedetikpun.
“Nay, aku cuma separuh hati jika tanpamu”
Suara lantang yang susah payah ku ucapkan ternyata hanya berbuah ucapan lirih yang berhasil
membuatmu menoleh keheranan.
“kamu bicara apa Noel?”
Sial, aku asyik termenung kala memandangimu Nad, aku jatuh dalam khayalku, aku segera bersikap tenang dan seolah tak terjadi apa-apa.
“Beli minuman yuk Nay, haus nih”
“Yukk, Minute Maid Pulpy enak nih kayaknya”
“Dasar jeruk makan jeruk”
“Yeeee, salah server kali”
Aku pun tersenyum, kau tertawa dengan lengkungan manis diujung sudut bibirmu. Aku menyukaimu Nay.