Malam tiba, sepi sekali di dalam rumah kamu lihat ibumu telah tidur pulas di kamar dan ponselmu tidak ada pesan BBM sama sekali dari teman-temanmu bosan rasanya.
Kamu memutuskan untuk meraih remot yang angkanya sudah pudar tak menampak, di ganti-gantinya saluran namun acara tidak ada yang kamu sukai.
Akhirnya kamu kembali ke kamar tidur dan berbaring hanya untuk bisa melalui itu semua, tetapi perutmu berkata lain dia terus memanggil untuk di beri pakan.
Kesal rasanya harus melangkahkan kaki ketika posisi sudah nyaman, pergi ke dapur untuk mencari sesuatu untuk di makan tetapi tudung saji tidak tersisa sedikit.
Ahhh itu menyebalkan, kamu tidak ingin membangunkan Ibumu yang sudah terlelap jadi kamu terpaksa mengambil uang tabunganmu dan pergi ke warung.
Terlintas di kepala untuk membeli mi instan yang emang enaknya tiada tanding, aku masak dan makan bersama alunan jangkrik malam yang mengisi hening.
Setelah kamu selesai dan duduk untuk merebahkan, entah kenapa pikiranmu tiba-tiba terpikirkan tentang Ibumu yang telah larut.
"Seandainya jika aku membangunkannya, mungkin Ibu akan ikut makan bersamaku. Aku tak berhak mendapatkan segala kenikmatan ini sendirian. Aku terlalu banyak merepotkan Ibu, membantu saja tidak pernah. Banyak dosa yang telah aku ucapkan padanya, mungkin aku tidak merasa tetapi Ibu bisa saja sakit hati atas tindakanku.
Masa depanku ini akan jadi seperti apa nantinya, ragu aku jika tidak bisa mendapatkan apa-apa atau sekedar membahagiakannya.
Umur terus bertambah, tidak mungkin aku melewati hal ini begitu saja tanpa meninggalkan kesan padanya, aku di lahirkan untuk menjadi tidak berguna, setidaknya maafkan aku uang Tuhan segala macam dosa yang kulakukan selama hidup di dunia ini... "
Malam tiba, malam yang terlalu deras hanya untuk seukuran hujan bagi gubuk kecil peot ini.
***