[Langit Berbintang]
Tik, tik, tik....
Suara detikan jam di dinding kamar seolah mengolok-olok aku yang malam ini terjaga lagi. Dalam cahaya remang, ku lihat samar-samar kantung mataku yang menghitam di pantulan kaca jendela.
Angin malam berhembus, menggoyang rambutku yang mulai memanjang. Seikat bunga mawar putih kering di tangan kiri, fotomu di tangan kanan.
Sekali lagi, kupeluk erat potret dirimu.
Teringat betapa cantiknya engkau dalam balutan gaun pengantin saat pengambilan photo prewedding, bibirku tersenyum pahit.
Sosokmu begitu indah dan harusnya sudah kumiliki.
Aku masih menyesal, dua hari sebelum pernikahan kenapa kau bersih keras mengambil souvernir pernikahan seorang diri? Kenapa kau tidak mengajakku?
Mati bersamamu dalam kecelakaan waktu itu pasti lebih membahagiakan bagiku.
Kau bilang, kau cinta padaku. Lalu apa bisa kau jelaskan, mengapa kau tega meninggalkan aku sendirian? Dua hari sebelum pernikahan kita?
Mengapa kau seperti pembohong?
Tapi aku pun mencintaimu. Begitu besar cintaku, hingga aku tak bisa melupakanmu.
Aku tak bisa melepaskanmu.
Dulu, sewaktu aku kecil. Mendiang nenek pernah bercerita bahwa mereka yang telah mati pergi ke langit dan menjadi bintang. Nenek percaya bahwa kakek yang meninggal lebih dulu telah menjadi bintang dan selalu mengawasi dirinya.
Apakah kau pun begitu?
Lihat, aku sengaja mematikan lampu kamarku. Agar aku bisa yakin, bahwa aku melihatmu.
Apakah bintang yang paling terang itu dirimu?
Jendela kamar di lantai lima belas tidak bisa dibuka, untung aku menemukan cara untuk menghancurkan kacanya sedikit. Setidaknya cukup untuk ruang yang aku butuhkan.
Aku tersenyum tulus sebisaku, merapikan jas putih yang sebelumnya kita persiapkan. Dengan sangat yakin, aku bersumpah, "Bahwa dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat aku mencintaimu dan kita akan selalu bersama, selamanya."
Setelah bersumpah aku ingin mencium bibirmu yang selalu tersenyum itu, maka dengan teguh aku meloncat.
Mari bertemu dan menghuni langit berbintang berdampingan, bersama dan tidak lagi bisa dipisahkan.
Mari bersama selamanya, dalam kematian.