[Senja]
"Aku ingin meminta maaf, dulu aku terlalu egois dan meninggalkanmu begitu saja. Aku terlalu kejam, jadi maafkan aku." Kenta membungkuk, menunjukkan jika ia benar-benar menyesal.
Melihat mantan pacarnya, Akane tersenyum. Gadis itu memiliki untuk duduk di bangku taman yang tak jauh dari sana, dengan gesturnya ia meminta Kenta untuk duduk di sampingnya.
Untuk sesaat keduanya terdiam. Menyaksikan anak-anak yang bermain di taman mulai pulang satu per satu. Angin sore berhembus, menggoyangkan puncak pepohonan yang kini terlihat menguning karena sinar matahari sore.
Tiga tahun lalu mereka berpisah dengan cara yang tidak menyenangkan. Sebelumnya, mereka telah bersama sekitar dua tahun dan entah bagaimana mana hubungan mereka terasa semakin hambar. Pada saat itulah Kenta bertemu dengan gadis lain dan jatuh cinta padanya.
Waktu itu Kenta memutuskan Akane secara sepihak dan pergi begitu saja. Meninggalkan Akane yang menangis sendirian dan memohon agar Kenta tidak pergi.
"Semua sudah terjadi, yang lalu biarlah berlalu."
Mendengar suara Akane yang begitu lembut Kenta menunduk. Kenta menyesal jauh di dalam hatinya. Dengan pertimbangan yang mantap, Kenta bertanya, "Apakah aku masih diijinkan untuk memperbaiki semuanya?"
Akane meliriknya, lalu memandang ke langit yang mulai memerah.
Tiga tahun mereka berpisah, Akane hampir tak tahu apa-apa tentang kehidupan Kenta. Tapi setidaknya sesekali ada saja orang-orang yang bergosip tentang bagaimana Kenta kesulitan karena pacarnya dulu dan akhirnya putus, gadis yang dulu menurut Kenta lebih baik darinya.
Dengan nada yang masih tenang, Akane berbicara. "Jangan hanya menunduk, lihatlah langit yang begitu indah itu."
Mendongak, Kenta takjub dengan warna langit. Merah, ungu, pink, kuning, jingga bahkan biru, semua warna berjajar tidak beraturan menjadi satu. Menciptakan pemandangan yang luar biasa. Ia ingat Akane pandai melukis, dan mereka sering melihat pemandangan menakjubkan bersama.
Kenta hampir menangis, dulu pemandangan ini biasa untuknya. Semenjak mereka berpisah, bahkan hal sesederhana memandang senja sekalipun tak pernah ia lakukan. Perasaan nostalgia yang hangat membuncah di hatinya, seolah mata air yang muncul di tengah gurun.
Sekarang Kenta paham, mengapa ia begitu menyesal telah melepaskan terlebih menyakiti sosok yang begitu istimewa ini. Jika bisa Kenta benar-benar ingin memperbaiki semuanya.
Melihat Kenta begitu emosional, Akane tersenyum pedih. Akane kembali melihat ke langit yang semakin gelap.
"Langit biru sama sekali tidak keberatan untuk menjadi langit malam. Dan di antara kedua langit itu selalu ada warna lain yang begitu luar biasa indah. Dari malam ke siang ada pagi, dan dari siang ke malam ada sore. Aku pun begitu."
Kenta memandang sisi wajah Akane. Gadis cantik itu tahu ia memperhatikannya namun enggan menoleh. Tetap teguh memandang langit.
Akane meneruskan, "Bohong bila aku bilang tidak tersakiti, bohong bila memaafkan kamu begitu mudah. Tapi tak apa, semua sudah terjadi," Akane menatap lurus kedua mata Kenta, "Dan aku sama sekali tidak menyesal."
Akane merapikan pakaiannya dan berdiri, "Kamu dan semua yang pernah kita jalani seperti senja yang luar biasa untukku. Itu adalah senja paling berkesan dan tidak akan pernah aku lupakan. Aku sudah menerimanya, dan aku sudah siap menjadi malam." Akane menatap Kenta penuh makna, tepat di mata, "Itu warna yang indah dan tidak perlu diperbaiki. Kenta, waktu sudah berlalu dan kamu tidak bisa mencegahku untuk menjadi malam."
Kenta juga berdiri dan memandang Akane sedih, "Jadi tak ada kesempatan kedua?"
Akane menggeleng, "Aku yang sekarang punya banyak bintang yang luar biasa indah. Jadi selamat tinggal, kamu adalah senja yang tak mungkin aku ulangi dalam hidupku." Akane tersenyum, "Semoga kamu juga bisa menemukan hidup yang lebih baik."
Dengan senyum yang begitu indah, Akane melangkah pergi. Meninggalkan Kenta yang sendirian. Memandang langit senja dengan mata berkaca-kaca.
Kenta hampir tidak bisa menerimanya, tapi ia tahu Akane benar. Tidak ada malam yang memutar waktu hanya untuk mengulangi senja.