Ada ERROS. Dia Membawa PSYCHE Jalan-jalan sembari terbang. PSYCHE senang. Walau sebelumnya takut-takut. Bahkan saat hendak melayang itu tangannya menggapai-gapai sembari merasakan degub jantung di dada yang begitu kacau. Sampai-sampai tangannya menutupi mata ERROS yang untuk terbang. Dalam kondisi tak melihat tentu saja ERROS panik. Takut kalau-kalau menabrak tebing batu karang, atau puncak Gaurisangkar. Kan bisa bengkak jidatnya nanti.
ERROS membawanya terbang Ke gunung tertinggi Lalu menuju laut luas, dimana ada kota Atlantis yang megah. Dan kembali ke bukit Olympus, tempat tahta para dewa.
Di gunung Mahameru, PSIKHE jalan-jalan sejenak. Menikmati hamparan pasir yang luas, diantara bebatuan besar dan bunga-bunga yang tak kunjung berbunga. Melihat taka da bunga, ERROS menuju ke ladag bunga pada bagian lereng nya yang jaraknya lumayan jauh. Lalu menyerahkan bunga wangi dan indah itu pada sang dewi pujaannya.
Pada laut luas, mereka terbang pelan-pelan. Sesekali ERROS menyentuh air itu, kemudian mengangkatlagi tinggi-tinggi. Sesekali ERROS melepaskan anak panahnya. Pada aikan-ikan biar saling mencinta. Antara hiu dan paus, kemudian kodok dan cumi-cumi, lalu pada DewI Buih dan Dewa Neraka agar tak bermusuhan, namun salin cinta.
Melewati sebuah kota Atlantis yang megah di tengah benua Atlantis itu.
“ERROS kau tak mengajakku makan?“ ujar PSIKHE yang erasa sedikit jengah kala berada di kota yang maju itu namun tak sekalipun mampir barang sekejap.
“Kita mampir ke restoran itu. “ Namun sekarang restoran tu sudah hilang.
“Boleh. “
“Kau belikan aku spagetti, burger king, tacho sama dosa ya?“
“Baiklah. Tapi mesti habis itu.“
“Kan kalau tak habis, bisa dibungkus buat nanti.“
Pada sebuah bangunan tinggi di tengah kota itu, ERROS berhenti. Membiarkan PSIKHE mengaguminya. Dan akhirnya, Si PSYCHE terlepas.
“Ah, tolong… aku tergelincir!”
Untung ERROS berhasil menjangkau tangan itu, untuk kemudian diangkat.
Namun pelan-pelan sekali berat badan PSIKHE memaksanya terus merosot, tak berhasil diangkat lagi. Pegangan tangan itu perlahan-lahan melemah, terlepas dan akhirnya meluncur. ERROS lalu menukik, mendahului laju nya PSIKHE. Kemudian dari bawah tangannya menatang dan tubuh PSIKHE tepat jatuh padanya. Berikutnya meluncur naik dengan cepat. Serta dibawa melanjutkan perjalanan.
“Asik ya?“ ujar PSIKHE saat sudah hilang rasa berdebarnya.
“Aku khawatir tahu!“
“Hihi…“ Si PSIKHE hanya mengikik seperti kuntilanak.