Mars mengusap wajah setelah beberapa waktu yang lalu bertengkar dengan kekasihnya, Venus.
Bukan karena permasalahan yang berat, melainkan karena perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak.
Mars tetap pada pendirian untuk meminta Venus di sisinya. Sementara Venus tidak mau, menurutnya Mars harus pergi merelakan hubungan mereka. Semua itu demi orang tua Mars yang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Margaretha, Ibunda kandung Marselino Abraham, kekasih Venus Mutiara Kalila. Wanita paruh baya itu sedang terbaring lemah di salah satu rumah sakit ternama di Singapura.
Margaretha tidak setuju dengan hubungan Mars-Venus yang memiliki perbedaan cukup jauh. Mars dan Venus memiliki perbedaan keyakinan.
“Kamu udah memutuskan? Atau kamu tetap pada pendapat kamu itu, Bi?” Suara Venus terdengar bergetar, sontak Mars berbalik, dan benar saja mata Venus sembab, dia pasti habis menangis.
“Beby? Kamu nangis?”
“Aku tanya kamu, aku nggak mau kamu lebih memilih aku dibandingkan orang tua yang udah melahirkan kamu, Mars!”
Panggilan sayang yang semula masih Venus gunakan, mulai berubah. Mars menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya dia mengangguk.
“Sekarang, kalau posisi kamu di aku, apa yang bakalan kamu lakukan, Beby?”
Venus menyeka air matanya, lalu dia berdecih pelan. “Jangan balik bertanya, aku nggak pengen main berandai-andai,” jawabnya dengan suara serak.
“Aku cuman mau kamu merasakan gimana jadi aku, Beby. Aku sayang kamu, aku yakin aku memilih jalanku. Ini adalah hak aku, mau percaya Tuhan yang mana, dan mau mencintai siapa. Aku tetap mencintai orang tuaku, aku tetap menghormati Mama. Tapi, aku nggak sanggup berpisah dengan kamu, Beby.”
“Tapi kita nggak bisa bersama. Mama kamu sakit, aku nggak mau kamu bikin kondisi beliau tambah parah. Please, kalau ngomong tentang perasaan, sejujurnya aku juga sakit, berat, nggak sanggup.”
Venus makin terisak dengan tangis yang tidak dapat lagi dia bendung.
Mars berjalan beberapa langkah menuju Venus. Tapi gadis itu menggeleng. “Jangan...”
Sudah teramat sakit, dan tidak tahu apakah dia sanggup jika harus berada terlalu dekat dengan lelaki yang telah membersamainya selama kurang lebih tujuh tahun itu.
“Ve, aku mohon, kamu akan selalu tetap menjadi Beby ku yang terbaik.”
Ucapan Mars ibarat menambah pedih luka di hati Venus.
“Aku tahu...” ucap Venus lirih. “Tahu banget, Bi...” tambahnya sangat teramat pelan dia ucapkan dengan dada yang terasa sesak bukan main.
Matahari terbit dengan cahaya kemilau yang menyelip di celah jendela yang hanya terbuka sedikit. Kain gorden berayun terkena udara pagi yang berembun dari luar.
Venus menatap nyalang dengan hati yang masih sama. Pedih, mengingat nama yang terpatri di hati, dan belum berganti. Masih Mars, masih nama yang sama.
Lelaki berumur dua puluh lima tahun itu mungkin sudah terbang ke Singapura. Venus tersenyum, meski rindu entah seperti apa bentuknya sekarang. Teramat sangat, hingga Venus tidak sanggup membuka ponsel yang akan membuatnya terus teringat dengan kenangan bersama Mars.
“Kamu lagi apa, Bi?” Senyum Venus amat getir, ia ingin sekali menghubungi Mars. Sudah satu bulan Mars meninggalkannya.
“Tapi aku bangga, kamu memilih pilihan yang tepat, Bi. Jangan lupa salat ya. Kamu kan sekarang udah punya agama,” gumam Venus hingga tidak sadar bulir bening mengaliri pipi putihnya.
“Maaf ya, aku masih cengeng kalau ingat kamu.”
“Jaga hati Ibu kamu, ya. Dia orang yang paling berjasa, dia orang yang udah mempertaruhkan nyawanya untuk kamu.”
Hela napas panjang mewakili rasa sesak di dada Venus. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu segera mengambil air wudu untuk menunaikan salat Dhuha.
Nama Mars tetap dia langit kan, tak pernah absen menjadi salah satu permintaan yang ia harap suatu saat nanti Allah akan mengabulkan doa itu, meski mungkin terasa mustahil.
Ya Allah, jaga dia, jaga keimanan di hatinya. Hamba yakin, meski hamba dan dia berjauhan, mungkin dia juga sedang sibuk dan tidak ingat ada aku di sini, yang selalu menjadikannya harapan dalam setiap doa yang aku panjatkan Pada-Mu.
Selepas salat, Venus keluar dari kamar. Suara Ibunya sedang mengobrol membuat Venus sedikit melirik ke arah ruang tamu. Ada ayahnya, juga seseorang yang tidak bersuara, hanya duduk di sebelah ayahnya. Siapa dia? Batin Venus sebelum dia memutuskan tidak peduli.
Venus menuang air panas ke dalam cangkir yang telah dia bubuhi sedikit teh bubuk. Suara air yang mengalir masuk ke dalan cangkir terdengar bersama kepulan asap dari air panas yang menyatu dengan bubuk teh sehingga mengeluarkan aroma khasnya.
“Haaah...” Hatinya masih pilu selepas perpisahan yang telah dia alami. Tapi hidup harus tetap berjalan.
“Buatkan satu cangkir lagi ya, Nak.”
Venus menoleh, di sebelahnya datang Ibunya. “Buat siapa, Bu?”
“Tamu,” jawab Ibu Venus dengan senyum.
“Oh, Ve yang bawa atau Ibu?”
“Kamu aja ya. Sekalian kenalan.”
Deg.
Venus gemar membaca novel, dia langsung teringat novel perjodohan yang pernah dibacanya. Ini sama, jangan-jangan ibunya berniat menjodohkan dia?
“Maksud Ibu? Ve nggak mau dijodohin!” tegas Venus.
Ibunda Venus sontak terkekeh. “Pede ih! Siapa juga yang mau menjodohkan kamu. Udah ah, bawa aja teh itu ke depan ya. Nggak pakai lama loh, Sayang ...”
Venus hanya bisa mengangguk patuh. “Iya, deh.”
Venus membuatkan secangkir teh hijau dengan sedikit gula yang dia campurkan di dalamnya. Kemudian dengan amat hati-hati Venus membawa minuman itu ke ruang tamu.
“Ekhem!”
Matanya yang semula menunduk, mendadak langsung terangkat mendengar suara deham dari orang yang ada di depannya. Venus yakin, telinga dan ingatannya masih terhubung dengan baik, juga hatinya yang berdesir mendengar suara barusan.
“Mars?”
Beberapa saat kemudian.
“Jadi? Kamu pulang untuk aku?”
Mars mengangguk.
“Iya. Kamu nggak senang?”
Venus masih bingung. Bukannya Mars harus menemani ibunya?
“Ibu kamu gimana?”
Mars melingkarkan senyum manisnya, hal itu membuat Venus mengernyitkan keningnya, heran.
“Mama yang minta aku datangi kamu. Semua udah selesai, Beby. Aku janji, aku akan meyakinkan mama agar aku bisa tetap bersama kamu,”
“Kamu serius? Kok, bisa?”
“Bisa, dan aku mau tanya sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?”
Tidak mungkin Venus menolak. Bukankah ini sebuah jawaban dari doa-doanya. Kalau saja di awal Venus mengikuti pendapat Mars untuk tetap bersamanya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang. Kalau tidak terjadi perbedaan pendapat sebelumnya, mungkin juga Venus tidak mendapatkan kelegaan yang luar biasa saat mendengar lamaran Mars barusan.
“Aku mau, aku mau menikah dengan kamu.”