Siapa yang tidak kenal Dewa ataupun Dewi? Penguasa yang di percaya hidup di atas langit yang indah bahkan di sebut sebagai surga. Namun, bagaimana jika penguasa khayangan sekaligus makhluk hidup ini memiliki seorang terkasih?
.
.
.
Cerita ini di mulai dari beberapa abad yang lalu. Di mana bumi masih belum bersentuhan dengan teknologi. Manusia yang masih bisa bahagia tanpa internet dan menikmati waktu dengan keseharian yang menyenangkan.
Tawaan mereka di dengar oleh salah satu Dewi Alam. Rumput dan pepohonan menari, angin bersenandung dengan merdu. Dewi itu tersenyum, membuat matahari bersinar terang.
Dewi dengan paras rupawan, kulit putih bening, mata indah bagai cahaya bulan, dan rambut gelombang panjang terurai. Kecantikan nya membuat para Dewi lain iri hati. Para Dewa juga mengakui kecantikan Dewi alam, bahkan tak sedikit yang ingin memiliki cinta dari wanita ini. Namun Dewi bersiteguh ingin menikmati kehidupan nya dengan tawaan manusia, dan ia juga ingin menjaga kesuciannya.
Sama dengan salah satu Dewi favorit nya, yaitu Dewi Athena. Dewi kebijaksanaan yang membuat Dewi alam sangat ingin seperti dirinya.
Namun tak bertahan lama, sampai pada suatu ketika salah satu Dewa tertinggi sekaligus ayah dari Dewi alam berniat menjodohkan putri nya dengan salah satu Dewa terkuat.
Tentu saja Dewi alam berusaha menolak.
"Ayahanda, saya sudah memiliki keyakinan untuk tidak mencintai satu makhluk pun"
Ucap Dewi alam dengan tegas, tatapan nya menunjukan keseriusan namun tak dapat di pungkiri bahwa ia cukup takut di situasi ini. Pandangan para Dewa Dewi mengarah kepadanya. Tangannya bergetar, namun tatapannya masih sama. Ayah dari Dewi alam menatap tajam putrinya. Mengernyitkan alis dengan tatapan kekesalan.
Dengan satu pukulan tangan mendarat di singgasana sang Dewa, bumi bergetar hebat. Teriakan manusia terdengar sampai atas langit. Sang Dewi yang tidak tega melihat ketakutan manusia langsung mencoba menenangkan ayahnya.
"Maafkan saya ayah, tetapi apakah tidak ada pilihan lain?"
Suara lembut terdengar, ia menundukan kepalanya. Namun tetap saja, tidak ada jawaban dari sang ayah. Dewi alam menghela nafas, tetapi dengan keberaniannya ia menatap ayahnya serta para Dewa dan Dewi lain. Walau sekarang ia sudah tidak menjadi wanita suci lagi, namun ia ingin mewujudkan salah 1 impiannya yang hilang.
"Jika kalian semua meminta saya memiliki seorang kekasih, izinkan saya memilih sendiri calon suami saya. Dan siapapun pasangannya, saya harap kalian semua tidak akan ada yang protes"
Ucap Dewi alam dengan mata membara.
"Apa maksudmu putri ku?"
"Saya ingin semua yang ada di sini menjadi bukti perjanjian yang saya buat. Saya mohon...hanya itu permintaan saya"
Para Dewa dan Dewi berpikir sejenak, tak lama terlihat wajah puas. Mereka tidak berpikir aneh-aneh dan menyetujui permintaan Dewi alam. Begitu juga ayahnya, Dewi alam hanya tersenyum lesu. Bagaimana pun juga, ia tidak menginginkan perjodohan ini. Namun sekarang, hak sudah ada di genggamannya. Ia menjadi sedikit lega.
.
.
.
Waktu berlalu, Dewi alam masih belum menemukan pasangan yang cocok untuk dirinya. Berbagai perhiasan, kekuatan magis, bahkan tanah kekuasaan belum membuat sang Dewi puas. Banyak Dewa yang sudah di tolak oleh Dewi alam.
"Aku tidak menginginkan kekuasaan ataupun barang, aku hanya ingin cinta sejati yang sebenarnya. Jika kalian tidak mengetahui apa yang ku mau, sama saja kalian bukan belahan hati ku"
Itulah jawaban yang selalu di berikan oleh Dewi alam kepada setiap pria yang melamarnya. Perasaan sedih, kecewa, bahkan dendam tumbuh di lubuk hati mereka. Ada 4 Dewa yang sangat dendam.Akal mereka sudah di tutupi oleh rasa kedengkian yang di buat oleh sang Dewi alam.
Dengan liciknya, mereka merencanakan untuk menghabisi sang Dewi cantik tersebut.
'Jika satu Dewi membuat ratusan Dewa menangis, kenapa tidak menghilangkannya saja dari dunia ini?'
Itulah yang di pikirkan oleh beberapa Dewa licik tersebut. Bahkan mereka sudah tidak layak di panggil Dewa, melainkan iblis berkulit malaikat.
Rencana di atur dengan rapi, bahkan sang Dewa Alam tidak mengetahui jika akan ada hal buruk terjadi pada putri nya. Suatu hari salah dari mereka bertemu dengan Dewi alam.
Dengan tampang lugu dan menyedihkan, ia mendekat ke Dewi alam yang sedang asyik bermain dengan para hewan.
"Salam sang Dewi, saya melihat ada sesuatu di dalam goa kegelapan. Seperti ada suara manusia yang...meminta tolong"
Ucap sang Dewa dengan wajah khawatir. Dewi yang mendengar langsung syok dan menanyakan apa yang terjadi.
"Apa maksud mu? Goa kegelapan adalah tempat tinggal para iblis, kenapa manusia bisa masuk ke sana?!"
"Saya juga tidak tau namun, terdengar kesedihan dan juga permintaan di kasihani"
Mata indah Dewi alam langsung berubah, mengernyitkan alisnya dengan wajah khawatir. Sang Dewa tersenyum kecil, dan dengan tampang menyedihkan ia meminta sang Dewi untuk mengikuti nya.
Mereka berdua meninggalkan dunia langit tempat Dewa Dewi berada. Melewati dunia manusia dan pergi ke tempat yang tidak di tinggali makhluk hidup. Sampailah mereka ke goa yang menyeramkan. Hawa panas terasa, namun dilihat dari ketinggian tidak ada tanda kehidupan di sini. Dan tidak ada tanda manusia seperti yang di katakan sang Dewa.
"Apakah kau yakin ada manusia di sini?"
Saat Dewi berbalik arah, namun tidak nampak batang hidung Dewa yang mengantarnya.
"Apakah ini sebuah lelucon?"
Gumam Dewi alam dengan kesal, ia berniat untuk pulang kembali ke khayangan. Tak lama, terlihat cahaya mendekat ke arah sang Dewi. Kecepatan cahaya tidak mampu untuk sang Dewi menghindar. Benda tertancap mengenai perut si gadis. Tetesan dar*h keluar, kesadaran mulai redup bersamaan dengan lenyapnya magis Dewi alam. Ia terjatuh dari ketinggian dan menghilang dalam kegelapan.
Ke empat Dewa yang menyaksikan kejadian tadi hanya tertawa puas.
"Bwahaha lihat gadis sombong itu, hanya karena wajahnya yang cantik dia bisa bersikap seenaknya"
"Tapi, akankah Dewi hidup kembali?"
"Tidak, aku sudah memastikan jika tombak yang kupakai benar-benar kuat dengan sihir yang ku tambahkan"
"Hahaha aku senang mendengarnya. Yah, kita lihat apakah Dewa alam dapat menurunkan posisinya kepada Dewa yang kuat. Termasuk kita..."
Tanpa rasa bersalah, mereka pergi dan berusaha untuk berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Sedangkan, Dewi cantik ini masih belum sadarkan diri. Pandangannya buram,tubuhnya lemas, ia...merasa sudah tidak sanggup lagi.
Jika ia mencabut tombak di perutnya, ia akan kehilangan banyak dar*h. Rasa sakit menjadi pilihan untuknya bertahan, merintih kesakitan namun hanya ada kegelapan di sini.
"Apakah sebentar lagi ... aku akan musnah? Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau mati di tangan para Dewa keji itu, aku...ingin melanjutkan kehidupan ku..."
Tubuh Dewi alam mulai melemah, bahkan ia sudah tidak bisa menggerakan jari tangannya. Tak lama dari kegelapan nampak sesosok bayangan mendekat ke arah gadis. Semakin dekat dan dekat, sosok itu membisikkan sesuatu ke Dewi alam.
"Kau sangat cantik dengan kulit pucat mu"
Sesaat setelah sosok itu berbisik, sang Dewi dengan sekuat tenaga menggerakan mulutnya.
"Tolong...aku...siapa..pun dirimu"
Dewi alam kehilangan kesadaran dan menutup matanya. Sosok itu dengan pandangan kosong hanya menatap sang gadis yang sudah sekarat. Ia mengusap pipi nya, tangan kasar membuat goresan luka di wajah sang Dewi. Sosok itu berhenti melakukan gerakannya.
Ia menggendong sang gadis dan membawa nya terbang masuk ke dalam goa yang gelap.
.
.
.
Sesampainya ia meletakan sang gadis ke atas batu, memberikan kulit bulu hewan dan menaruhnya di kepala sang gadis untuk jadikan bantal. Dengan hati-hati ia melepaskan tombak di perut sang gadis, dar*h keluar membuat wajah gadis semakin pucat. Sosok misterius itu tanpa basa-basi menutup luka dengan tangan kosong yang membuat pendarahan berhenti.
"Kekuatan kegelapan yang agung, izinkan hamba yang hina ini meminjam sedikit kekuatan anda"
Gumam sosok tersebut sambil menutup mata. Kegelapan muncul mengelilingi tubuh sang gadis, perlahan luka tusukan tertutup. Dar*h berhenti mengalir. Perlahan kini Dewi alam mulai bernafas. Kulit yang awalnya putih pucat kini kembali normal.
Sosok itu terduduk dan menatap sang gadis. Wajah tanpa ekpresi, bagai tidak ada kehidupan di sosok tersebut. Ia hanya diam dan menunggu sang gadis untuk tersadar. Dan berkali-kali pula ia mengusap rambut halus sang Dewi alam.
"Bagaimana bisa merpati putih masuk ke tempat gelap seperti ini..."
.
.
.
Waktu berlalu, Dewi alam perlahan membuka mata nya. Kegelapan, tempat asing, membuat sang Dewi gelisah. Ia menggerakan tangannya, mata terpejam dan merintih kesakitan. Berusaha bangkit dari tempatnya tertidur, namun selalu gagal. Seluruh badannya masih sakit.
"Ini...tidak nyaman. Di mana aku?"
Sang Dewi menghadap samping mendapati sosok hitam duduk dan menatap nya. Mata sang Dewi terbelalak.
"S..SIAPA KAMU! MENJAUHLAH!!"
Sosok itu menghela nafas dan mendekat ke Dewi. Kini wajah sosok itu mulai terlihat, rambut sehitam arang menutupi sebelah mata nya, kulit pucat, gigi runcing terlihat, dan memiliki sayap bagai kelelawar. Mata merah padamnya membuat Dewi gemetar, ia berusaha menghindar namun lagi-lagi tidak bisa.
"KUBILANG MENJAUHLAH!!"
"Diamlah, kau masih masa pemulihan"
Ucapnya tanpa ekspresi. Memberikan selimut yang terbuat dari kulit singa untuk sang Dewi. Gadis itu terbelalak tak percaya, apakah dia hanya berpura-pura baik? Itulah yang ada di pikiran sang gadis. Sang Dewi berpikir sejenak.
Makhluk yang hidup di dalam kegelapan, berdampingan dengan Dewa Dewi, memiliki mata tajam seperti predator, dan sayap hitam pekat. Hanya satu yang kupikirkan.
"Apakah kau salah satu iblis?"
"Kalian menyebut kami seperti itu?"
Ucap sosok tersebut dengan tatapan tajamnya. Sang Dewi merasa tertekan dan takut akan hal itu. Dewi alam juga termasuk Dewi yang belum dewasa, bisa di bilang usianya sama seperti remaja manusia pada umumnya. Baru kali ini ia bertemu salah satu iblis yang selalu di ceritakan saat ia masih kecil.
Sosok itu memperhatikan wajah Dewi alam, kemudian tak lama ia tertawa.
"Hahaha dasar merpati bodoh, apakah aku segitu mengerikannya sampai kau setakut ini? Bwahaha sungguh bodoh"
Bukannya takut, sang Dewi mulai kesal dengan tingkah iblis itu.
"Hei jangan panggil aku bodoh, semua makhluk tentu saja takut dengan kehadiran kalian. Tapi sepertinya dirimu pengecualian"
Ucap sang Dewi alam dengan ketus. Iblis itu terhenti, dan mendekat ke sang gadis yang masih berbaring.
Sosok itu...walaupun menyeramkan dengan sklera hitam dan pupil mata merah, namun ketampanan dari iblis ini tidak kalah dengan makhluk lainnya. Walau terdapat hawa kedengkian, kemarahan, kerakusan, dan ke4 dosa lain, tak dapat di pungkiri bahwa dia adalah salah satu makhluk dengan paras sempurna.
"Apakah kau benar seorang iblis?"
Tanya Dewi alam tak percaya. Iblis itu memegang tangan sang gadis, meletakannya di pipi dan mengelus paras sang iblis. Dewi hanya diam, dan merasakan helaiannya iblis tersebut. Sebagai Dewi tentu saja ia bisa merasakan hawa kejahatan dari pria itu.
"Panggil aku Neil"
"Neil? Tak ku sangka kalian juga memiliki nama, hahaha"
"Bisa-bisa nya merpati tertawa di kondisi seperti ini"
Kini Dewi alam sudah mulai menurunkan kewaspadaannya.
"Neil berhentilah memanggilku merpati, aku juga memiliki nama sendiri. Earlene, itu nama ku, dan aku adalah salah satu Dewi yang menjaga alam di dunia manusia"
Neil berhenti, dia menatap Earlene lekat-lekat.
Sudah kuduga dia salah satu Dewi. Entah bagaimana dia bisa kesini dengan keadaan terluka parah. Jika dia adalah salah satu Dewi alam maka...penguasa dunia di atas sana mungkin tidak akan tinggal diam. Lebih bahaya lagi jika mereka salah paham menganggap kami bangsa dunia bawah menculiknya. Namun saat melihat gadis ini entah mengapa aku tidak ingin kehilangan dia.
Pikir Neil dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Earlene, bisakah kau tinggal di dunia bawah bersama ku?"
Ini...dunia bawah? Tunggu, aku baru sadar bahwa goa yang ku kunjungi tadi merupakan penghubung dunia tengah dengan dunia bawah. Iblis ini menolong ku...jika benar ia berniat tulus tidak ada salahnya aku berada di sini sementara waktu. Sampai...kondisi ku pulih sepenuhnya.
Pikir Earlene sang Dewi alam, dengan tatapan hangat Earlene berkata.
"Tentu saja"
Waktu berlalu, sudah 5 hari Earlene hanya diam di tempat yang di sebut 'kamar' oleh Neil. Makanan tak perlu di khawatirkan, setiap saat Neil selalu datang sambil membawa makanan dan air untuknya. Walaupun Dewi ataupun Dewa tidak memerlukan makan atau minum, namun Earlene menghargai niat Neil.
"Apakah semua iblis sebaik ini? Hahaha"
"Tidak, jika mereka menemukan merpati seperti mu, mereka mungkin akan menjadikan mu sup"
"Kau sedang menakuti diriku ya?💧"
Neil tertawa dan mengusap rambut Earlene dengan kasar. Earlene sudah terbiasa dengan kebiasaan Neil. Dan entah mengapa...ia senang dengan senyuman dan kebiasaan yang di lakukan Neil.
"Neil, seperti apa dunia bawah? Kau tidak mengizinkan ku untuk keluar dari kamar"
Neil seketika mengernyitkan alisnya.
"Apakah kasur empuk dan makanan yang kubawa tidak cukup untuk mu?!"
"B..bukan begitu, tetapi aku juga bosan jika selalu ada di kamar. Sedikit demi sedikit aku dapat berdiri dan berjalan. Bahkan sepertinya aku bisa terbang kembali"
Jelas Earlene sekuat tenaga untuk menyakinkan Neil. Pria itu menjadi murung. Entah mengapa dimata Earlene, Neil terlihat seperti seekor anak kucing yang sedang merajuk.
"Tidak cukupkah...kau berada di sini?Aku hanya ingin kau menjadi milikku"
"Apa? M..milikku?"
Neil tersenyum, dan mendekat ke Earlene. Senyuman dengan godaan, n*fsu juga terpancar di mata iblis ini membuat Dewi Earlene merasa risih. Ia mendorong Neil agar menjauh dari dirinya namun...
"Kenapa kau sekuat ini?!" *susah payah
"Kau benar-benar cantik"
"A..aku tau, menjauhlah dasar iblis!💢"
Neil tertawa puas, ia menuruti apa yang di katakan sang gadis. Ia lagi-lagi memainkan rambut pirang Earlene.
"Saat aku melihat mu ada 7 dosa terbesar terasa di sekujur tubuh mu. Kau bukan iblis biasa, siapa dirimu yang sebenarnya Neil?"
"Itu tidak terlalu penting bukan?"
"Tentu saja penting, kau adalah penyelamat ku. Bahkan sudah kuanggap seperti teman sendiri. Aku sangat ingin tau tentang diri mu Neil"
Jelas Earlene dengan senyuman manis.
"Hanya teman?"
"Apa? Memang kau mau ku anggap apa?"
Tanya Earlene setengah menggoda, Neil terdiam dan kembali acuh.
"Hei jawab dulu pertanyaan ku Neil!"
"Aissh kau sangat berisik, ya benar aku bukan iblis biasa. Karena aku juga termasuk salah satu anak Raja kegelapan. Puas?"
Earlene terdiam tak percaya. Raja kegelapan merupakan ras terkuat yang ada. Sungguh tidak di sangka dia bersama anak dari Raja kegelapan.
"Tunggu, salah satu?"
"Ah iya, orang yang ku sebut ayah itu memiliki beberapa selir dan istri. Ibu ku juga termasuk. Tapi jangan salah, aku adalah anak terkuat dari saudara-saudara ku yang lain!"
"Siapa?"
"Tentu saja aku"
"Yang tanya😛"
"..."
Neil langsung mencubit pipi Earlene, gadis itu hanya tertawa puas.
"Intinya bahaya jika kau keluar di dunia bawah. Sekarang ini aku berusaha membujuk Raja kegelapan untuk menyembunyikan identitas mu"
"Apa? Kenapa kau memberi tau Raja kegelapan? Bukannya itu malah menjadi masalah?!"
"Tenang saja karena aku..."
Perkataan Neil terpotong, membuat Earlene penasaran.
"Ah tidak, lupakan saja. Ngomong-ngomong bagaimana dunia atas?"
Tanya Neil berusaha mengalihkan perhatian. Earlene dengan semangat menceritakan apa yang ada di dunia nya.
Dunia yang indah dan hanya ada cahaya. Para peri menari dan menemani Dewa ataupun Dewi. Makhluk ajaib juga tinggal di sana. Banyak hal ajaib dan indah di atas sana. Neil cukup puas dengan cerita yang di berikan oleh Earlene.
"Wau, benarkah seindah dengan apa yang kau bicarakan?"
"Iya, Neil sekarang gantian. Apa yang ada di dunia bawah?"
Neil berpikir sejenak, tak lama ia teringat sesuatu.
"Saling membun*h?Hanya ada kegelapan, dan hm...apa lagi ya? Pokoknya ini perbanding terbalik dengan dunia mu"
Jelas Neil tanpa ekspresi. Earlene merasa kasihan dengan Neil, tak lama ia memikirkan suatu ide.
"Neil, lihat ini"
Earlene menutup matanya, sedikit demi sedikit cahaya terlihat di tangan Earlene. Bunga tumbuh di tangan gadis tersebut, dan selesainya...cahaya kembali hilang. Earlene memberikan bunga tersebut ke Neil. Bunga indah dengan kelopak kuning dan putih.
"Ini...makanan?"
"Bukan! Sudah susah payah aku membuatnya kau mau memakannya?!💢"
Neil yang masih asing dengan bunga tersebut hanya takjub. Earlene tersenyum puas.
"Ini namanya bunga Narcissus, indah bukan?Tanam lah di kamar mu"
"Baiklah dan...terimakasih" *senyum
Bunga ini memiliki banyak makna, salah satunya adalah permulaan baru. Ini pertama kali nya aku menemukan pria yang hangat dan membuat ku...senang. Walau terang-terangan mengatakan rasa suka kepada ku. Entah mengapa membuat ku malu dengan wajah memerah. Perasaan asing namun menyenangkan.
Ngomong-ngomong seharusnya menumbuhkan 1 bunga mudah untuk ku, namun...kenapa tadi terasa sulit sekali? Bahkan aku sampai merasa kelelahan hanya karena itu. Apakah kekuatan ku saat ini sangat lemah?
Pikir Earlene dengan serius.
Hari berlalu, Neil dan Earlene menjadi dekat seiringnya waktu. Perasaan mereka juga mulai tumbuh. Earlene juga mulai nyaman dengan Neil. Apakah ini yang manusia namakan 'cinta'? Itulah yang ada di pikiran Earlene ataupun Neil.
Dengan kekuatan dan izin dari Raja Kegelapan, Earlene dapat berubah dirinya menjadi rupa iblis. Penyamaran ini terbukti berhasil, karena semua iblis tidak mengetahui identitas asli Earlene. Ini juga membuat Dewi alam itu dapat bebas berkeliaran di dunia bawah bersama Neil. Semua yang di katakan Neil benar adanya. Hanya ada kegelapan, dan iblis yang selalu beradu kekuatan dengan bodohnya.
Neil sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini, namun tidak dengan Earlene.
"Walau rambut dan sayap mu sudah berubah menjadi hitam, namun kecantikan mu tidak dapat di tutupi"
Ucap Neil dengan kesal, mereka sedang berkeliling di dunia bawah.
"Apakah masalah Tuan Neil?"
Tanya Earlene setengah menggoda.
"Tentu saja, hanya aku yang boleh menatap dan memiliki mu"
Ucap Neil dengan serius. Seketika wajah Earlene langsung memerah. Gadis itu memalingkan wajahnya.
"D..dasar iblis///" *gumam
"Merpa...ah tidak, Earlene. Aku benar-benar serius mencintai mu, apakah kau tidak bisa di dunia ini bersama ku?"
Earlene diam sejenak, ia bimbang. Di satu sisi ia memiliki perasaan yang sama seperti Neil, namun di satu sisi ia juga tidak boleh melalaikan tugas nya sebagai Dewi alam. Banyak manusia yang menantikan kedatangannya. Dan ia juga masih memiliki keluarga yang sangat di cintai.
"Neil, bisakah kau memberi ku waktu?"
Ucap Earlene dengan senyum kaku. Neil terdiam, memalingkan wajahnya dan tidak menjawab pertanyaan Earlene.
.
.
.
3 bulan berlalu, kondisi di dunia atas mulai runyam. Sang Dewa alam sekaligus ayah dari Earlene murka atas hilangnya putrinya. Ia sudah menangkap salah satu Dewa yang terbukti bersama Dewi alam sebelum putri nya menghilang. Dan jawabannya masih sama.
"Mohon ampun Tuan Penguasa, saya sama sekali tidak mengetahui dimana Dewi alam berada"
Dewa Alam bersedih atas hilangnya sang Dewi. Tidak lagi terdengar manusia tertawa. Bahkan para Dewa ataupun Dewi tidak dapat melakukan peran tersebut. Dewi Earlene lah yang selama ini selalu membuat manusia senang, perasaan tulus sang Dewi sudah membuktikan berapa banyak manusia yang menyukai dirinya.
"Tuan saya hanya berpendapat, jika benar...apakah Dewi alam Earlene sudah tiada?"
Ucap Dewi air dengan suara pelan. Dewa alam mengepalkan tangannya, hawa murka terasa membuat semua yang ada di sana bergidik ketakutan.
"Maaf jika perkataan saya salah, namun bisa di lihat sendiri setengah dari bumi ini mengalami kekeringan. Walau tidak terlalu parah karena ada Tuan, tetapi seharusnya ini menjadi tugas dari Dewi Earlene. Jujur Tuan, kekuatan Dewi alam Earlene...sudah tidak terasa lagi"
Jelas sang Dewi dengan sedih, Dewa alam terdiam. Memang benar, bahkan ia sudah tidak lagi merasakan kekuatan Dewi alam. Kenyataan yang tidak ia terima selama kehilangan Dewi Earlene. Namun sang Dewa tetap yakin bahwa putrinya masih hidup.
"Hei kau, dimana tempat terakhir kali kalian berdua berpisah"
Tanya Dewa alam seolah tidak mendengar ucapan dari Dewi air. Ia bertanya kepada Dewa yang terakhir bertemu dengan Earlene.
"S..saya tidak tau"
"Kenapa kau begitu gugup? Apakah kau menyembunyikan sesuatu?"
"Dunia tengah, saya berpisah di dunia tengah"
"Dunia manusia? Kenapa Dewi dan kau pergi ke sana?!"
Ucap Dewa alam dengan amarah.
"Jawablah yang benar, jika ada kebohongan walau hanya di satu kalimat pun, aku akan mengambil kekuasaan dan kekuatan mu!"
Dewa itu langsung terdiam dengan tatapan ketakutan. Kekuatan adalah hal yang paling penting untuk para Dewa ataupun Dewi. Ketiga Dewa yang terlibat panik dan khawatir, akankah temannya membeberkan semua kejahatan mereka.
"G..goa, goa yang menjadi penghubung dunia manusia dan dunia bawah. T..tolong! Saya hanya tau itu saja!!"
Bukannya puas dengan jawabannya, Sang Dewa alam menjadi murka dan dengan kekuatannya ia mengambil kekuasaan serta kekuatan dari Dewa tersebut. Bahkan ia sudah tidak layak di sebut Dewa, kini kekuatannya hanya setara seperti manusia pada umumnya.
"T..TUAN, K..KENAPA?!"
"Ada sesuatu yang salah dari perkataan mu. Kau sebelumnya mengatakan bahwa kau tidak tau dimana tempat terakhir kalian bertemu. Dan sekarang kau bilang di goa terkutuk itu? Berarti...selama ini kau berbohong dan menganggap remeh diri ku? BENAR BUKAN?!"
Dewa itu terdiam, terduduk dan menangis sejadi-jadi nya. Dewa alam sudah mengetahui apa yang ia sembunyikan. Namun karena pada dasarnya ia tidak punya hati, Dewa itu menunjuk ketiga temannya dan berkata...
"Tuan! Saya mengakui bahwa saya bersalah atas hilangnya Dewi alam Earlene, tetapi...MEREKA BERTIGA JUGA TERLIBAT!! Bahkan Dewa Cahaya lah yang melemparkan tombak di perut sang Dewi. MEREKA BERSALAH!!"
Semua yang ada di sana terkejut, begitu juga Dewa alam. Ketiga Dewa yang bersalah menjadi marah atas kelakukan temannya. Dewa cahaya berkata...
"ITU HANYA OMONG KOSONG TUAN! MANA MUNGKIN SAYA MENGHABISI WANITA YANG SAYA CINTAI?!"
"Benar Tuan, kami bertiga mencinta Dewi alam, mana mungkin kami melakukan perbuatan tercela seperti itu?"
Sang Dewa yang kehilangan kekuatannya berdecak kesal.
"Kalian bertigalah yang menghasutku melakukan ini semua. Cinta kalian berubah menjadi kebencian, jika aku di hukum...seharusnya kalian juga sama seperti ku"
Dewa alam berdiri, badan besarnya membuat seluruh Dewa ataupun Dewi terdiam. Kemurkaannya membuat petir bergemuruh di dunia manusia. Dewa dan Dewi berusaha menenangkan Dewa alam, namun tidak bisa.
"Jadi...kalian yang menghabisi putri ku?"
Mereka bertiga terdiam.
"Aku benar-benar tidak percaya, aku akan menyerahkan hukuman kalian ke Dewi Namesis dan Dewa Hades. Bahkan kekuatan ku tidak sebanding dengan kejahatan yang kalian perbuat"
Dewi Namesis adalah Dewi penghukuman. Walau tidak manusiawi, namun ia memberikan hukuman yang sesuai dengan para pendosa. Sedangkan Dewa Hades adalah Dewa terkuat, sekaligus Dewa yang dikenal dengan kekejaman.
"Tuan maafkan saya, tolong ambil saja kekuatan dan kekuasaan saya"
"B..bun*h, lebih baik aku mati daripada di hadapkan dengan Dewa Hades" *gumam
"Saya bersalah Tuan!!"
Dewa alam berjalan mendekat ke Dewa cahaya. Ia mengangkat tangannya setinggi mungkin, dan...
CRAAKSS
Kepala Dewa cahaya terpengg*l dan mengelinding tanpa tau arah, dar*h segar berceceran dimana-mana. Ketiga Dewa yang masih hidup menutup mulut mereka dan menahan rasa jijik dan syok dengan apa yang terjadi.
"Khusus untuk Cahaya, aku benar-benar kecewa dengan mu. Kekuatan yang seharusnya di gunakan dengan baik, di gunakan semena-mena" *marah
Ketiga Dewa yang bersalah langsung di giring oleh beberapa pengawal untuk di kirim ke Dewa Hades dan Dewi Namesis. Suara teriakan penyesalah terdengar, namun tidak ada satupun yang membantu.
"Kita akan pergi ke goa terkutuk itu"
Semua Dewa yang ada di sana mengangguk dan mengikuti Dewa alam dari belakang. Dengan kecepatan cahaya, mereka sudah sampai ke goa hanya dalam itungan menit.
Dewa alam masuk dahulu memimpin yang lain. Selama perjalanan semua iblis yang melihat para Dewa hanya diam di tempat. Mereka tak percaya makhluk seperti mereka mau mengijakan kaki nya di dunia bawah ini.
Sampainya terlihat singgasana yang terbuat dari tengkorak, sosok besar sedang duduk di sana. Kekuatan besar tak kalah dari para Dewa, dia adalah Raja kegelapan. Dewa alam memberi hormat. Begitu juga yang lain, ini adalah bentuk kesopanan.
"Oh sahabat ku, ada angin apa sampai dirimu kemari? Bahkan membawa rombongan sebanyak ini"
Ucap Raja Kegelapan dengan senyuman mengerikan.
"Ada satu masalah yang membuat ku datang berkunjung. Aku memiliki seorang putri, dan dia menghilang entah kemana. Apakah kau pernah melihatnya?"
Jelas Dewa alam, Raja Kegelapan terdiam dan berpikir sejenak. Tak lama ia mengingat sesuatu dan tertawa.
"Hahaha bagaimana mungkin anak dari dunia atas bisa tersesat di dunia ini?"
"Aku hanya ingin tau jawaban mu, iya atau tidak"
Ucap Dewa alam dengan kesal. Sang Raja berhenti tertawa.
"Apakah dia gadis cantik dengan rambut pirang selembut sutra?"
Dewa alam terbelalak tak percaya, harapan terlihat di matanya.
"Ya! Apakah dia ada di sini?!"
Raja kegelapan ingin mengatakan 'iya' namun karena merasa bosan ia memikirkan sebuah rencana. Raja menundukan kepala dan memegang kepalanya. Berakting sedih yang membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Maaf, sebenarnya 4 bulan yang lalu putra ku menemukan tubuh seorang gadis di mulut goa. Tubuhnya sangat pucat, bercak merah terlihat di tubuh gadis itu. Anak ku sudah berusaha menyelamatkannya namun...sepertinya takdir berkata lain"
"Earlene, t...tidak mungkin"
"Apakah aku seperti orang yang berbohong?"
Seketika harapan itu pupus, Dewa alam bersedih atas kepergian Dewi alam Earlene. Begitu juga Dewa lain yang mendengar penjelasan Raja Kegelapan.
"Jika begitu, aku akan pergi"
"Tunggu, apakah kau tidak ingin disini lebih lama sahabat ku?"
"Tidak terima kasih"
Raja Kegelapan tak bisa menahan tawanya, ia selalu memalingkan wajah dan tertawa kecil agar tidak terlihat oleh para Dewa. Tak lama dari kejauhan nampak Neil bersama dengan seorang gadis. Dewa alam berhenti sejenak dan memperhatikan gadis tersebut.
Wajah tak asing, walau sudah berganti penampilan namun Dewa alam menyadari jika gadis tersebut adalah putri nya.
"EARLENE?!"
Earlene yang mendengar suara ayahnya terkejut tak percaya. Ia berlari ke arah Dewa alam. Memeluk nya dengan erat dan menangis sejadi-jadi nya. Tubuh besar sang Dewa dan tubuh mungil Earlene membuat gadis itu merasakan kehangatan.
"Ayah..."
Dewa alam tersenyum dan bahagia karena putri nya baik-baik saja. Tak lama ia memandang Raja Kegelapan yang kini sudah tertawa terbahak-bahak. Dewa alam sangat kesal dengan kejahilan yang di buat oleh Raja Kegelapan.
"Bhawaha lihat wajah mu itu, hahahaha sial aku tidak dapat berhenti, bhwahaha"
Neil yang melihat ayahnya hanya menggelengkan kepala dan memegang kepalanya.
"Ehem!! Apakah ini sikap sang Raja?"
Tanya Neil sambil menatap tajam ayahnya.
"Diam kau bocah, pftt...kau tidak tau apa-apa, seharusnya kau lihat wajahnya tadi, bwahaha"
"Aku ingin cepat-cepat dewasa dan mengantikan posisi Raja tak tau malu ini-_-" *gumam
Dewa alam berusaha tidak memperdulikan Raja Kegelapan. Ia menatap Earlene dengan tatapan kekhawatiran.
"Kau tidak apa-apa?"
"Iya ayah, berkat Neil saya sembuh seiringnya dengan waktu. Maafkan saya membuat ayah khawatir, saya..tidak tau bagaimana cara memberi kabar dengan kekuatan yang lemah ini"
Ucap Earlene dengan sedih. Gadis ini berusaha untuk mengeluarkan kekuatannya, namun tetap saja hanya 10% kekuatan yang keluar.
"Seharusnya saya lebih berhati-hati, maaf..."
"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Kau selamat saja sudah membuat ku senang"
Earlene menatap Neil yang masih sibuk dengan ayahnya, gadis itu tersenyum.
"Ayah, apakah anda ingat janji ayah kepada saya? Janji untuk memperbolehkan saya menikah dengan calon suami pilihan saya sendiri"
"Ya, aku masih ingat. Apakah ini waktu yang tepat membicarakan pasangan mu?"
"Hahaha maaf jika merusak suasana. Tetapi memang benar saya sudah menemukannya"
Mata Neil dan Earlene bertemu, Neil tersenyum manis ke Earlene. Dewa alam yang menyadari langsung tau apa yang putri nya maksud.
"Earlene, walau aku memilih kebebasan untuk mu memilih calon suami. Namun, jika seorang iblis ayah tidak menyetujuinya"
"A..ah, begitu ya, saya sudah menyadarinya"
Ucap Earlene dengan mata sayu. Pelukannya terlepas, Earlene menjauh ke ayahnya dan mendekat ke Neil.
"Earlene, apa yang kau..."
"Sepertinya saya menjadi anak yang nakal ya?"
Badan Earlene bergetar hebat, baru kali ini dia menolak permintaan ayahnya. Neil yang menyadarinya langsung menggenggam erat tangan Earlene. Gadis itu sedikit lebih tenang.
"Earlene, apakah ini pilihan mu?"
"Iya"
Dewa yang menyaksikan terkejut, begitu juga Raja Kegelapan. Ia hanya diam dan memperhatikan tanpa ikut campur dalam urusan mereka.
"Kau tau konsekuensinya kan, jangan menyesal"
"Tentu saja"
Dewa alam menjadi marah, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia memejamkan matanya, cahaya muncul dan terbang menuju Earlene. Seketika tubuh Earlene mengeluarkan cahaya, gadis itu merintih kesakitan. Tubuhnya seperti di cabik-cabik. Earlene terjatuh di pelukan Neil, nafasnya terengah-engah membuat Neil khawatir.
"EARLENE!? APA YANG TERJADI?!"
"N..Neil..."
Cahaya itu menghilang bersamaan dengan hilangnya sayap putih Earlene. Tak ada lagi cahaya di tubuhnya, bahkan...kekuatan miliknya.
"Cahaya dan Kegelapan tidak dapat bersatu. Aku sungguh kecewa cinta yang kau pilih merupakan cinta yang harusnya tidak terjadi Earlene. Dan akibat yang kau buat, aku terpaksa harus mengambil kekuatan Dewi milik mu. Semoga kau tidak menyesal memilih jalan ini"
"Saya...tidak menyesal. Tolong berikan kekuatan saya ke orang yang tepat...ayah"
Ucap Earlene sambil tersenyum sekuat tenaga. Dewa alam hanya diam, dan pergi bersama dengan Dewa lain.
Neil memeluk erat Earlene. Ia menangis dan menangis. Earlene dengan perlahan mengusap rambut Neil. Baru kali ini Neil melihatkan ekspresi yang menyedihkan.Earlene menghapus air mata pria itu, dan tersenyum manis ke arahnya.
"Hukuman ini tidak terlalu berat untuk ku, berhentilah menangis bodoh"
"Diam merpati, kau juga bodoh! Ternyata...kau lebih memilihku, aku sangat bersyukur..."
Mereka berdua berpelukan, walau Earlene kehilangan kekuatannya, Neil tetap mencintai Earlene sepenuh hati. Gadis itu bukanlah manusia ataupun iblis, namun ia akan berumur panjang seperti dahulu kala.
"Ehem, apakah kalian berdua tidak meminta restu ku yang seorang Raja Kegelapan ini?"
"Tidak terima kasih, lebih baik kau pergi saja pengganggu-_-"
"Kau berani mengatai ayah mu pengganggu?!💢"
Earlene hanya tertawa. Walau sekarang ini kehidupannya tidak mudah, tetapi jika ada Nile di sampingnya Earlene tidak akan khawatir.
Cinta itu bisa membuat seseorang bodoh ya? Hahaha... Namun kenapa bisa se indah ini?...
[TAMAT]