Di malam pertama pernikahanku, suamiku berkata " Maafkan aku sudah berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita.. bukan seorang lelaki."
Butuh beberapa saat sebelum aku bisa mencerna ucapannya.
"A-apa maksudmu?" Tanyaku.
Dia hanya bergurau, bukan?
Tidak mungkin, mustahil dia seorang wanita! Aku sudah melewati lima tahun berkencan dengannya. Dari pandangan pertama aku sudah jatuh cinta dengannya. Dia sangat baik hati dan tidak berkepala besar ketika orang-orang memuja prestasinya.
Suaranya juga sangat dalam, seperti pria pada umumnya. Tunggu, tapi suaranya yang barusan memang terdengar seperti seorang wanita..
Kepalaku menjadi terasa berputar dan aku jatuh terduduk di atas ranjang yang seharusnya kami gunakan di malam istimewa ini.
"Elise.. tolong jangan marah kepadaku. Biarkan aku bercerita lebih dulu. Dengarkan penjelasanku." Ucapnya berusaha menenangkan aku.
"Baiklah.." ucapku setelah menarik nafas yang panjang, "Tolong.. ceritakan yang sebenarnya."
Orang yang seharusnya Jaden, yang menjadi suamiku itu segera bercerita.
"Namaku adalah Sarah, saudari kembar Jaden."
Elise : "Saudari kembar, katamu?"
Sarah : "Ya, benar. Kami kembar identik, memiliki tinggi yang sama, postur tubuh yang sama serta wajah yang sama. Saat satu dari kami diam, orang-orang tidak akan menyadari siapa yang siapa."
Sarah berhenti sejenak untuk memperhatikan reaksiku tentang pernyataannya barusan.
Tentu saja aku sangat bingung dan hampir tidak sepenuhnya percaya pada ucapannya.
Lalu Sarah melanjutkan,
Sarah : "Saudaraku Jaden, seperti yang kau tahu, ia adalah seorang prajurit. Hidup dan matinya ia persembahkan kepada negara."
Elise : "Tentu, aku tahu dia seorang prajurit yang terhormat. Apa hubungannya dengan ini?"
Sarah terlihat ragu-ragu untuk menjawab.
Sarah : "Setelah perang besar lima bulan yang lalu, Jaden, ia kembali ke rumah dengan selamat.."
Ada jeda yang panjang sebelum Sarah meneruskan ceritanya.
Sarah : "Hanya saja sekarang ia buta. Perang itu mengambil pengelihatannya. Di dalam kegelapan itu Jaden bergetar ketakutan di setiap harinya. Ia selalu berkata tentang bagaimana perang masih terlihat jelas di kepalanya. Tentang bagaimana wajah terakhir musuh-musuh yang telah dibunuhnya membayanginya dalam kegelapan itu."
Elise : "Astaga..!" Ucapku kaget dengan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.
Sarah : "Ya, ia terlihat sangat menyedihkan. Saat Mama membawa topik pernikahan ini, Jaden akan berteriak,
'Tidak!Aku tidak bisa menemui Elise dengan keadaanku yang sekarang! Elise tidak pantas mendapatkan lelaki tak berguna sepertiku, dia lebih baik menikah dengan anak bangsawan yang berpendidikan tinggi dan kaya raya.'
Dia bersikeras untuk membatalkan pernikahan ini demi kebaikan dirimu, Elise. Tapi kami tahu sebenarnya Jaden sangat ingin berada di sisimu, lebih dari bersama kami keluarganya."
Aku terdiam, linangan air mata mulai membentuk di sudut mataku.
Sarah : "Kami meneruskan pernikahan ini tanpa sepengetahuan Jaden, dengan harapan kau mau menerima keadaan Jaden yang sekarang."
Tentu saja air mata itu terus mengalir membasahi kedua pipiku. Aku yang selama ini hidup dengan aman tanpa rasa khawatir akan perang, dengan mendengar cerita Sarah membuatku merasa seperti dilempar sebuah granat yang menghancurkan kenyataan menjadi berkeping-keping.
Aku mengusap air mata yang masih menempel di pipiku dengan jari telunjukku.
Elise : "Tentu saja aku akan menerimanya. Jaden adalah satu-satunya pria yang kucintai!"
Sarah berjalan ke arahku dan mendekapku dengan erat, kali ini ia juga ikut menangis bersamaku.
Dua hari kemudian, aku tiba di kediaman Hunstley, tempat keluarga Jaden dan Sarah tinggal.
Bersama dengan Sarah, aku melangkah masuk ke satu ruangan yang gelap. Semua jendela tertutup oleh korden yang menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan itu.
Sarah mendorong salah satu korden, membiarkan cahaya menyinari ruangan gelap itu. Lalu di sanalah, aku melihat Jaden terbaring di kasurnya. Matanya tampak mati.
Seolah ia masih bisa melihat, Jaden berkata,
Jaden : "Sarah, beberapa hari ini aku tidak mendengar suaramu di rumah ini. Siapa yang datang bersamamu itu? Aku mendengar suara langkah kaki yang asing."
Aku menoleh ke arah Sarah, ia mengangguk kepadaku, menyuruhku untuk berjalan ke arah di mana Jaden berada.
Saat aku tiba di samping kasurnya, akhirnya aku membuka mulutku,
Elise : "Halo Jaden, ku harap kau masih mengingat suaraku."
Mata Jaden membelakak terbuka dan ia langsung terduduk di kasurnya.
Jaden : "E-elise, apa yang.. apa yang kau lakukan di sini?!"
Jaden : "Kau tidak seharusnya di sini. Kau harus pergi, pergi dan menikahi pria lain yang tidak cacat seperti aku!"
Aku menggapai kepalanya dan mendekapnya.
Elise : "Tidak apa, Jaden. Aku yang ingin bersama denganmu. Aku tidak peduli seperti apa kau sekarang ini, yang ku mau hanyalah kau seorang."
Tubuh Jaden bergetar, dan linangan air mata mulai membasahi pipinya.
Elise : "Berhenti memikirkan kebohongan yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Jaden. Aku tau kau juga masih mencintaiku. Jadi, mari kita menikah lagi."
Elise : "Dan kali ini adalah pernikahan yang sungguhan, bukan dengan adikmu Sarah sebagai penggantimu."
Sarah pun tertawa mendengarnya.
Begitu pula dengan Jaden.
Matanya tak lagi terlihat mati. Malahan mata itu terlihat sangat bersinar dan penuh dengan kehidupan.