Pertama kali aku bertemu dengannya, dia memakai seragam hijau dengan kacamata minus berbentuk kotak. Orang sering mengira dia om-om berusia 30 tahunan, tapi siapa yang menyangka bahwa dia pria muda yang baru lulus dari kuliah nya.
Perut buncit nya menambahkan kesan tua pada dirinya. Aku seketika ber-celetuk "Udah berapa bulan mas?"
Tawanya terbahak-bahak hingga perut buncitnya ikut berguncang. "Emang segitu parahnya ya?"
"Yah, ngaca aja sendiri."
Kami hanya bertemu ketika mengikuti kursus memasak yang diadakan setiap hari selama 2 jam saja. Selama dua jam itulah, kami saling berbincang dan becanda tentu dengan teman yang lain juga.
"Mas! Kamu tuh orangnya kalau kerja suka yang perfect ya?"
"Loh? Kok tahu? Selama hidupku baru ada satu orang yang bisa menebak kalau aku itu sebenarnya selalu perfect dalam pekerjaan."
"Nebak aja, soalnya keliatan dari gerak-gerik mu."
"Wah, masih kaget sih. Kamu kenapa selalu bisa nebak kepribadian orang sih?"
"Suka aja mas, kayak emang udah bakat gitu dari lahir. Suka dengan hal-hal yang berbau psikologi."
"Oh ya? Kenapa gak lanjut kuliah aja?"
"Haha, mas adalah orang yang kesekian kalinya menanyaiku 'Kenapa gak lanjut kuliah?'"
"Oh ya? Terus, jawabanmu apa?"
"Kadang aku cuma balas senyum aja sih."
"Kenapa?"
"Males aja jelasin satu-satu, itu kan hal pribadi, sensitif."
Aku hanya melihat dia tersenyum dengan samar. Perbincangan kami hanya ada ketika kursus, tak ada WA, DM, dll. Aku menikmati saat-saat berbincang dan becanda dengan dirinya.
Ketika perasaan yang kurasakan terlihat melebihi dari yang seharusnya, aku segera menepis dan meyakinkan diri bahwa dia berada di kelas yang berbeda denganku.
Selang dua bulan, kursus sudah selesai. Tidak ada salam perpisahan maupun perbincangan yang berlanjut. Aku melanjutkan kembali kehidupan ku yang membosankan.
Beberapa tahun kemudian, ketika aku akan mengundang teman-teman lain untuk datang ke pernikahan ku ternyata setelah itu dia juga mengirimkan undangan pernikahan nya.
Aku turut bahagia atas pernikahannya, cukup ku pendam rasa ini dan ku jadikan memori yang indah tentang kisah perbincangan dengannya di kursus waktu itu.