Duduk di bawah pohon besar, menatap langit, menangisi apa yang terjadi hari ini, kejadian hari ini dan kejadian di hari yang sebelumnya, sama saja, hari-hari ku selalu di tindas.
Di rumah, aku di tindas oleh ibu tiri dan juga adik tiri ku, jangan di tanya kemana ayah ku, ada tapi seperti tidak ada.
Di sekolah, aku di tindas teman-teman ku, jangan di tanya kenapa, sudah pasti karena aku di tindas dengan penampilan ku di sekolah datang terlambat, seragam pun sudah lusuh.
Begini lah nasib anak tiri seperti anak jalanan, masih punya orang tua ibarat tak punya orang tua, malangnya nasib ku.
Untung saja punya tetangga baik yang mau memberikan ku pekerjaan, meski hsnya bantu-bantu di rumah makan miliknya, tapi lumayan lah untuk biasa sekolah ku bisa melanjutkan tanpa uang dari ayah.
"Tuhaaaan, aku lelah seperti ini... beri aku kekuatan super.. akan aku balas semua orang yang telah menindas ku!" teriak ku.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, langit yang tadinya di terangi sinar bulan depan bertabur bintang, berubah menjadi gelap gulita.
Jegeeeer...
"Aaaakh." teriak ku, tubuh ku tersambar petir.
Buuuk. Tubuh ku pun langsung ambruk terbujur lemah di lantai.
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, saat aku membuka mata, kepala ku terasa berat.. ku coba untuk mendudukkan tubuh ku.
"Apa yang terjadi dengan ku?" tanya ku dengan mengangkat kedua tangan dan menatap ada kilatan cahaya yang muncul dari kedua tangan ku.
"Apa ini? kenapa tanganku seperti ini?" aku berusaha menenangkan diri ku.
Kruuk... kruuk.. cacing di perutku berbunyi minta di isi.
"Aku lupa, belum makan." gumam ku sambil berhayal dan membayangkan makanan yang bisa ku makan.
Cling.. dengan sekejap ayam goreng dengan nasi panas dan sambal serta es teh manis ada di hadapanku.
Beberapa hari kemudian.
"Hai Li, bersihin sepatu gue." teriak Wiwi, adik tiri ku.
"Punya tangan kan? bersihin aja sendiri." jawab ku acuh.
Grep.
Wiwi menjambak rambut ku.
"Aaakh." jerit ku yang kesakitan.
"Gue bilang bersihin, bersihin!"
Buuuk.
"Aaakh." teriak Wiwi yang kesakitan punggungnya menghantam tembok.
Aku menatap tangan ku lagi, "Dengan tangan ini aku barusan mendorong tubuh Wiwi hingga terhempas ke tembok." ucap ku.
Aku berjalan maju dan berdiri di depan Wiwi, "Balesan buat ade tiri yang gak tau diri.. hihi." ucap ku yang langsung meninggalkan nya.