Kejadian ini terjadi pada pertengahan tahun 2016 saat aku mulai naik kelas 3 SMA di satu kota kecil yang makmur di Jawa Timur. Bukan terjadi padaku melainkan adik kelasku yang baru masuk ke sekolah ku dan kejadiannya benar-benar terjadi didepan Mataku sendiri.
Disekolah aku sangat dekat dengan pak Yon (bukan nama asli, umur sekitar 30an) guru Olahraga ku. Karena aku sering duduk di kantin sama pak Yon, pak Yon ini orangnya asik, ramah sama anak-anak, dan bisa dibilang beliau tahu tentang hal-hal mistis, karena beliau adalah orang yang memiliki ilmu beladiri.
Aku teringat Pak Yon pernah bilang ke aku kalau sekolahku ini dulu pada jaman penjajahan dipakai sebagai tempat perbuatan jahat, seperti pembunuhan dan eksekusi mati. Dan pak Yon bilang disekolah juga ada penunggu yang berasal dari jaman Belanda dulu. Katanya ada yang berupa bayi yang di buang, dipojokan lapangan basket, dan itu tidak hanya satu. Terus ada laki-laki dan perempuan berambut panjang memakai gaun berwarna merah manjadi penunggu gedung kelas X di Bangku nomor 18 di Lab Bahasa yang sudah kosongkan. Dan yang paling kuat energinya adalah makhluk hitam tinggi besar yang jadi penunggu sumur di parkiran belakang.
Tapi aku bisa saja menghadapi hal itu karena aku memang tidak tertarik dengan hal-hal mistis. prinsip ku aku tidak ingin di ganggu maka yang ku lakukan adalah tidak perlu menggangunya.
Kebetulan aku adalah pengurus inti OSIS. Yang mana di setiap acara kegiatan ekstrakurikuler yang menginap disekolah seperti diklat atau semacamnya harus ada perwakilan yang mendampingi kegiatan tersebut. Kebetulan nya lagi aku yang sering kebagian mengikuti acara-acara mereka. Dan aku tidak pernah merasakan janggal setiap disekolah. Karena makhluk halus yang ada disekolah tidak akan menggangu kalau tidak diganggu duluan. So, aku selalu cuek-cuek saja. Waktu itu sekitar bulan Juli 2016 disekolah ada kegiatan penerimaan tamu (PTA) yang setiap tahun diadakan oleh Ekstrakurikuler pramuka.
Malamnya sewaktu kegiatan api unggun ada salah satu anak baru yang tiba-tiba pingsan. setelah dibawa ke ruang UKS ( Unit Kesehatan Sekolah) sontak dia langsung kesurupan dan itu menjalar ke anak lain , total 5 anak perempuan semua.
Aku pikir, yah hal biasa saja. Mungkin kita diingatkan agar tetap fokus, jangan melamun. Dan untungnya Pak Yon ada disekolah juga. Jadi bisa langsung menolong anak yang kesurupan tadi.
Kegiatan PTA berakhir pada minggu pagi. Hari senin kita sekolah seperti biasa, dan sepulang sekolah ekstrakurikuler paskibra latihan seperti biasa.
Sekitar pukul 3 sore aku masih berada diruang OSIS karena memang ada rapat mingguan, Tiba-tiba ada anak paskibra menggedor pintu ruang OSIS, dia meminta tolong katanya anggota baru ada yang kesurupan. Oke, saya dan teman-teman langsung menuju ke lapangan utama. Ternyata yang kesurupan adalah Riska (bukan nama asli) anak yang sama yang kesurupan dimalam api unggun. Saya berpikir bahwa mungkin dia sudah pernah kerasukan makanya kerasukan lagi.
Lalu dibacakan ayat kursi oleh salah satu teman OSIS ku lalu dibaca doa apa itu kedengarannya kurang jelas. Akhirnya Riska sadar dan kami menyuruhnya cepat-cepat pulang.
keesokan harinya adalah jadwalku olahraga, Pak Yon yang ngajar. Sewaktu santai tiba-tiba ada siswa baru yang menghampiri Pak Yon, iya tenyata adalah teman sekelas Riska. Dia bilang kalau Riska tiba-tiba diam dan badannya dingin. Setelah itu aku dan Pak Yon segera menuju kelasnya Riska, dan setelah sampai di sana pak Yon raut wajahnya langsung terkejut. Sepertinya Pak Yon mengetahui sesuatu. Pak Yon langsung menuju ke arah Riska, benar saja Riska sangat pucat, dingin, dan tidak berkata apa-apa.
Didepan Riska ada temannya sebut saja Nia, duduk berhadapan dan Nia sedang menulis aksara Jawa. Dan lagi ada tiga anak di samping Riska yang coba menerka apa yang Nia tulis dalam aksara Jawa tersebut.
Sontak ketika Pak Yon melihat tulisan tersebut Pak Yon langsung merobeknya. Lalu si Nia tertawa terbahak-bahak dan bilang " HAHAHA DEWI WES MATI, DEWI, DEWI WES MATI!!" yang dalam bahasa indonesianya, DEWI SUDAH MENINGGAL.
Tidak ada yang terkejut dangan kata-kata nya karena didalam kelas tidak ada yang bernama Dewi.
Pak Yon langsung menggertak "NANG NDI SAIKI BOCAHE? "
"KOWE ORA BAKAL NGERTI, SAIKI DEWI WES KELELEP! " jawab Nia. Artinya "kamu tidak tahu kalau seorang dewi sudah tenggelam.
Mendengar kata "kelelep" Pak Yon langsung menggendong tubuh Riska menuju sumur yang tertutup berada di parkiran motor belakang kelas Riska. Pak Yon sendiri pun gemetaran. Setelah menududukkan Riska ditepi sumur, Pak Yon membacakan sesuatu, sekitar 5 menit Riska sadar. Dia menangis hebat, tangannya super dingin, dingin banget, tubuhnya pun menggigil, padahal dia memakai jas almamater sekolah, disiang hari pula. Lalu Pak Yon menyuruh saya membawa Riska ke ruang UKS, Memberinya teh hangat, dan menyelimutinya dengan selimut tebal (Btw diruang OSIS ada selimut tebal yang biasanya dipakai anggota OSIS ketika menginap di sekolah).
Setelah itu Pak Yon menghampiri Nia lagi, ternyata Nia sedang kerasukan Jin penunggu sumur tua tersebut. Dan pada awalnya ternyata si Nia ini yang pertama kali ngerasa kalau Riska sedang tidak beres. Karena si Nia punya ilmu beladiri, jadi dia berusaha menolong Riska, namun ternyata dia yang kerasukan sendiri.
Selang beberapa waktu, aku bertanya kepada Pak Yon apa yang terjadi sebenarnya. Pak Yon cerita kalau sebelum Nia menulis aksara tadi, Nia yang sudah kerasukan Jin membawa jiwa Riska dan memasukannya ke sumur belakang kelas. Namun ketika Nia menulis aksara Jawa jika temannya berhasil menerka apa yang Nia tulis maka semakin kedalam jiwa Riska ini tenggelam karena itu mantra nya.
Lantas siapakah "Dewi" yang Nia sebut tadi...? ternyata Dewi adalah nama panggilan Riska sewaktu masih kecil. Karena alasan tertentu namanya diganti Riska. Dia pun terkejut dari mana Jin itu bisa memanggilnya Dewi, padahal nama itu hanya keluarga dekat nya yang tahu.
Jin tersebut mengincar Riska, karena dia merasa terganggu dengan isi kalung yang dipakai Riska. Ketika masih kecil diketahui bahwa Riska adalah indigo. Tidak mau Riska tersiksa maka ayahnya mengalungkan sesuatu kepada Riska sebagai "penjaganya".
Setelah kejadian ini Riska tidak pernah datang lagi ke sekolah. Entah dia trauma atau bagaimana, akhirnya dia terpaksa dipindahkan ke sekolah lain..... TAMAT. Narasumber: Cahaya Via Email