[Selamat tahun baru, aku mencintaimu]
"Ini adalah kisah ku"
Kisah saat aku menyadari bahwa aku mencintaimu, dan sangat berharap pada tahun yang akan datang, untuk membawa perubahan pada kita.
****
Sejak kecil, tepatnya waktu yang aku ingat saat usia 4 tahun, aku suka bergaul dengan anak laki-laki yang lebih besar dariku, alasannya simpel itu karena semua saudaraku laki-laki. Aku terbiasa dengan mereka jadi sikapku juga seperti laki-laki, bahkan kata ibu ku, aku lebih nakal dari anak laki-laki. Meski begitu aku tetaplah seorang anak perempuan, yang lebih suka di kamar sendirian dengan membaca buku.
Aku sudah tertarik dengan buku dan belajar sejak dini, oleh sebab itu aku masuk TK saat usia 4 tahun dan SD saat usia 5 tahun. Karena aku tinggal di desa kecil, di tempat ku tinggal tidak ada toko buku. Aku memiliki saudara yang tinggal di kota, setiap dia pulang ke kampung, ia selalu membawa buku majalah anak dan dewasa. Dan biasanya ia akan memberikan beberapa buku untuk ibu ku.
Aku sering menyelinap ke lemari ayahku tanpa sepengetahuan ibu ku, untuk membaca majalah dewasa. Meski itu majalah dewasa, aku cukup pintar memilah mana yang bisa aku baca dan mana yang tidak.
Kegemaran ku pada buku, memiliki pengaruh baik dan buruk juga. Pengaruh buruknya, aku selalu lupa waktu ketika membaca, aku bisa membaca di mana saja, meski itu dalam keadaan berjalan di tengah jalan raya sekali pun yang bisa membahayakan diriku dan orang lain. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan buku, meski ibu ku memanggil ku hingga marah. Tidur sekalipun aku harus dengan buku.
Pengaruh baiknya, aku menemukan sesuatu yang aku sukai, dan menjadikan hal itu sebagai mimpi ku. Aku bahkan rela tidak makan demi membeli komik mini, yang di jual pedagang kaki lima di sekolah. Aku membenci hari minggu dan hari libur, karena aku tidak bisa membeli komik. Karena saat itu sekolah ku tidak memiliki perpustakaan aku tidak bisa menbaca buku.
Waktu terus berjalan, aku mulai suka berimajinasi dan menulisnya di buku. Semakin lama, aku semakin yakin pada mimpiku. Saat usia 11 tahun atau kelas 6 SD, aku memberikan buku tulis yang berisi karya imajinasiku, untuk di baca oleh ibu ku.
Ah...tidak, aku kecewa.
Ibuku bilang cerita ku sangat buruk, dan mengatakan beberapa hal lain yang buruk tentang tulisan ku itu. Aku benar-benar sedih, dan merasa aku tidak layak untuk menjadi seorang penulis. Aku berhenti menulis sejak saat itu. Dan hanya berfokus untuk sekolah dan mengejar beasiswa.
****
Sejak SD, aku tidak memiliki teman di sekolah, karena aku memang merasa aku memiliki dunia ku sendiri, yaitu dunia literasi. Dan itu terus berlanjut ketika aku SMP. Meski kesepian, setidaknya di sekolah menengah pertama ku ada perpustakaan, jadi aku puas membaca buku di sana, ya meski kebanyakan hanya buku pelajaran.
Saat SMP ada 2 remaja yang menyukai ku dan mereka memberikan kado buku diary, di hari ulang tahunku, karena mereka tau aku suka menulis. Aku menulis diary setiap hari dengan buku itu. Aku menuliskan segala keluh kesahku tentang keluarga ku dan keadaan sekolah ku. Tapi yang paling banyak adalah keluhanku tentang Ibuku dan hobiku pada menulis. Sayangnya, niatku yang hanya mengeluhkan perasaanku, membuat perasaan ibu ku terluka. Kami saling marah dan berhenti untuk peduli satu sama lain.
Setelah kejadian itu aku membuang buku diary ku, dan 2 buku tulis yang berisi naskah yang telah aku buat. Aku tidak makan dan minum selama 2 hari karena kejadian itu. Perasaan ku benar-benar hancur, antara amarah dan takut. Aku takut pada amarah ibu ku, tapi aku juga marah pada diriku karena telah membuang naskah itu. Dan pada akhirnya aku berhenti menulis lagi.
Aku tidak bisa bercerita pada siapa pun karena aku tidak memiliki teman. Aku selalu duduk di sudut belakang kelas sendirian, tidak ada teman sebangku atau barisan, aku benar-benar sendirian, karena jumblah siswa di kelas ku juga ganjil.
Bagaikan keajaiban, saat itu guru sastra ku, meminta kami membuat cerpen dalam waktu yang singkat. Aku yang sudah merasa kecewa pada tulisan, jadi aku hanya mengikuti kemana jalan pikiran ku mengalir, untuk membuat cerpen itu. Aku tidak menyangka karya ku menjadi cerpen terbaik. Setelah itu, banyak siswa yang menjadi teman ku dan meminta ku menjadi ketua kelompok.
Aku yang merasa bahagia akan hal itu, kembali membuka buku ku dan penaku untuk menulis kembali. Mengejar mimpi yang sudah tertunda dan hampir terlupakan. Tapi takdir berkata lain, hal itu menjadi akhir dari karya ku dan mimpiku. Aku harus pindah ke kota dan putus sekolah. Seketika aku merasa, mimpi ku telah hancur.
****
Aku mulai bekerja saat usiaku 14 tahun, sebagai buruh catring, ART, atau lainnya. Aku bertemu dengan berbagai orang, dan menjalin hubungan asmara dengan beberapa pria. Yang konyol adalah aku menjalin hubungan dengan mereka hanya untuk menanyakan pendapat mereka tentang karyaku. Aku masih menyimpan buku tulis yang berisi naskahku, saat itu yang selalu aku bawa kemana-mana.
Aku memiliki kebiasaan baru sejak berhenti sekolah, yaitu bersembunyi dan menagis saat ada anak berseragam sekolah yang melintas, meskipun jauh dari pandangan ku. Alasannya, karena aku ingin, sangat ingin seperti mereka yang masih bisa bersekolah.
Tempat tinggal ku terus berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain, karena keadaan ekonomi keluarga ku yang terus memburuk membuat kami harus terus berpindah dan berpindah. Hingga akhirnya aku pindah ke sebuah kontrakan yang keadaan airnya yang asin, dan bau, tapi memang harga sewanya murah, jadi kami memilih untuk bertahan dengan keadaan itu.
Aku mulai melupakan mimpiku untuk menjadi penulis dan melajutkan pendidikan ku. Aku hanya berfokus pada bekerja dan menghasilkan uang. Setiap hari aku hanya berpikir, bagaimana membayar sewa, membayar listrik, biaya makan, dan minum. Seperti itu kah kehidupan ku saat ini, dan memudarkan mimpiku yang telah hancur dan hilang.
Aku pasrah pada kehidupan yang miskin ini dan memang seharusnya mimpi itu tidak ada, untuk orang seperti ku. Tidak ada mimpi, tidak ada keluhan, yang ada hanya cara bertahan hidup. Saat itu, aku seperti mayat hidup, karena tidak memiliki tujuan.
Untungnya kami memiliki tetangga yang baik, mereka juga memiliki seorang anak perempuan yang usianya lebih muda dariku. Kami berteman, setelah beberapa lama menjadi tetangga. Dia memberi tau ku tentang banyak hal, dari pelajaran sekolah, dunia internet, dan menikmati hidup.
Dia terus meminta ku untuk menikmati hidup, tertawa dan menjadi bahagia. Dia juga medorongku untuk mengikuti jaman yang sudah canggih dan maju.
Aku mulai membaca novel digital, komik digital, serta menulis di aplikasi. Ketidak tahuanku membuatku berkembang sangat lambat, aku harus memulainya dari nol dan sangat dasar. Aku menjadi seseorang yang banyak belajar di saat itu. Aku belajar bagaimana menulis yang baik, tata bahasa, tanda baca, dan penggunaan kalimat bahasa asing dan istilah menarik. Aku juga mengikuti banyak seminar literasi, kelas menulis dan sharing.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti dan menjalaninya. Aku mulai percaya, semua yang terjadi padaku bukanlah sebuah kebetulan. Kesukaan ku pada buku, tidak bisa di pisahkan dengan cara apapun.
****
Meski aku harus terus berpindah tempat, berpindah kegiatan, dan mengalami pasang surutnya kehidupan. Pada akhirnya aku terus kembali pada titik dimana aku mulai.
Aku yakin dan tetap berpegang teguh pada diriku, untuk mengejar mimpi ku dan tidak melepasnya lagi.
Aku sudah melewati berbagai ringan dan cobaan. Meski kini keluarga ku melarangku untuk mengejar mimpi ku, tapi aku tetap yakin dan akan ku buktikan pada semua orang, bahwa aku akan meraih mimpi ku.
Meski aku takut akan perubahan, pindah, kembali dan hal itu terus berulang. Entah itu baru atau lama, memang seperti itu lah kehidupan. Aku akan meniggalkan tempat ku yang lama dan pindah ke tempat ku yang baru.
Sejak kecil aku selalu melihat kembang api di malam pergantian tahun, meski aku melihatnya dengan terus berpindah tempat tapi langitnya masih sama.
Setiap pergantian tahun, untuk tahun baru aku selalu berdoa dan berharap dengan harapan yang berbeda. Untuk kali ini aku juga akan mengatakan harapan yang berbeda.
"Selamat tahun baru, aku menyukai mu. Diriku dan cerita ku"
Di setiap tahun yang berganti aku selalu berharap, semoga di tahun depan akan menjadi lebih baik. Kini di tahun yang berganti ini, aku berharap aku mencintai diriku dan kerja keras ku. Tidak membuang tentang masa lalu dan masa yang akan datang.
"Mari kita berpindah, pada hal yang baik dan menyenagkan. Aku berharap aku lebih menghargai kerja keras ku dan menggapai mimpi ku."
"Meski aku tak berbakat dalam menulis. Dan orang yang berbakat selalu menang, tapi orang yang gigih dapat mengalahkan orang yang berbakat akan. Aku yakin dengan hal itu."
"So, let's move on!"