Awan itu punya banyak warna. Dia punya kelebihan mengubah warna secepat detik berdentang. Warna yang membawa nyawa disekitarnya terasa hidup. Tapi, ada satu nyawa yang sulit Awan ubah. Yaitu Biru.
Biru yang tak pernah terbawa akan warna Sang Awan. Meski mereka mempunyai ikatan erat yang tak akan pernah bisa diubah. Biru tetaplah Biru. Dengan watak keras kepalanya yang mustahil untuk menerima Sang Awan memberikan warna untuknya. Karena bagi Biru, Awanlah pemberi lubang hitam sedalam dalamnya dikehidupan dia. Semakin Awan memberi warna lain, semakin pekat pula warna hitam itu mencekik Biru.
"Awan, ke sini sebentar!."
Laki-laki bernama Awan itu mendekat, mendudukkan badannya disofa sebelah Sang Ayah. "Tumben Yah jam segini udah pulang."
Ayah melepas kacamatanya lantas menatap Awan dalam. Bola mata besar anak itu mirip dengannya. Sedang pipi cabi Awan menurun dari Sang Bunda. "Ayah sengaja cepat pulang. Rencana nanti malam mau ajak kalian makan malam diluar. Gimana, ada waktu?."
Awan tersenyum lebar. Setelah sekian lama dia tidak merasakan makan malam diluar bersama, akhirnya hari ini Ayahnya itu bisa mengabulkan keinginannya. Tapi, tak butuh lama senyum itu memudar. Kala satu wajah dingin itu melintas bagai kaset yang disetel.
"Kenapa? Awan nggak bisa ya?," tanya Ayah ketika melihat perubahan wajah Awan.
"Awan sih bisa Yah. Tapi-."
Pria paruh dewasa itu tersenyum lembut. Dia sangat tahu apa yang dikhawatirkan anak bungsunya itu. "Biar nanti Ayah bujuk Biru buat ikut, ya. Doa in aja dia lagi kesambet terus mau ikut sama kita."
"Ya. Semoga aja," gumam Awan beralih menatap ke arah tangga yang langsung menampangkan pintu kayu. Kamar Sang Kakak. Biru.
"Ya udah Ayah ke kamar Biru dulu."
Awan mengangguk. Arah pandangnya terus mengikuti langkah Ayah hingga berhenti tepat dikamar Biru. Sampai detik berikutnya pintu itu menenggelamkan tubuh Ayah.
Dalam hati Awan, dia ingin Biru mau ikut makan malam nanti. Meski, Awan sudah tahu akan jawaban anak itu. Bahkan sampai saat ini Awan masih berdoa disetiap malamnya, agar suatu saat nanti Sang Biru mau menerimanya sebagai keluarga. Sebagai adiknya.
"Nggak mau! Pergi aja, nggak usah pikirin Biru."
Ayah menghela napas berat. Penolakan tegas anak sulungnya itu pertanda sebagai jawaban mutlak. Karena apa yang keluar dari mulut Biru tidak akan bisa dibantah. Wataknya yang keras itu juga meniru dari Ayah. Jadi, Ayah selalu memaklumi.
"Sampai kapan kamu kayak gini, Ru?."
Biru menoleh, menatap tajam Ayah yang duduk ditepi ranjangnya. Sampai kapan katanya? Bahkan Biru tidak pernah berpikir untuk mengubah wataknya. Lebih tepatnya, sikap Biru kepada keluarganya. Keluarga yang sepuluh tahun lalu telah menghancurkan mental juga fisiknya. Keluarga yang telah memberikan luka sedalam dalamnya. Dan- luka itu bermula dari Sang Ayah.
"Sampai Biru mati pun Biru nggak akan berubah!."
"Kalau nggak ada yang dibahas lagi, silahkan keluar!."
Tanpa sepatah kata lagi, Ayah beranjak dari sana. Meninggalkan Biru dengan kebencian yang semakin dalam.
"Sampai kapanpun gue nggak bakal sudi terima pelakor sama anaknya itu!."
Mungkin, hidup Biru akan lebih bewarna jika saja dua orang itu tidak muncul di hadapannya. Dan, dia tidak harus kehilangan malaikatnya. Dulu, Biru pernah sangat menyayangi dan menghormati Ayah sebagaimana mestinya. Tapi, ketika Ayah membawa wanita asing itu masuk kedalam rumahnya- dari situlah Biru mulai mati rasa akan sayangnya kepada Sang Ayah.
Sepuluh tahun lalu, dimana Biru masih berumur tujuh tahun- dengan wajah juga hatinya yang polos, anak itu harus menerima kenyataan pahit yang sampai sekarang masih membekas. Luka itu teramat dalam untuknya. Dua luka yang menghantam anak sekecil itu masih Semesta pertahankan untuk hidup.
Luka pertama, dia harus menerima kenyataan ketika kabar meninggalnya Sang Mama memberinya luka begitu besar. Apalagi, meninggalnya Mama disebabkan oleh luka keduanya. Dimana, sang Papa membawa wanita asing bersama anak yang lebih muda satu tahun darinya itu ke rumah.
Ya, Mama Biru meninggal karena kecelakaan mobil. Setelah bagaimana hati wanita itu remuk setelah tahu selama tujuh tahun ini suaminya memiliki hubungan gelap dengan wanita lain. Dan dari situlah luka Biru semakin dalam. Bersamaan dengan kebencian yang tumbuh untuk ketiga orang itu. Ayah, wanita yang tak lain ibu tirinya, dan juga Awan.
Kenapa Semesta menyelamatkannya ketika dia ingin mencoba bunuh diri? Sudah beberapa kali Biru melakukannya, namun tak ada yang berhasil. Apa, Semesta masih punya rencana untuknya? Sedang, Semestalah yang telah menjatuhkannya tanpa ampun. Apa dia tidak berhak mati saja? Kenapa Semesta masih mempertahankan Biru tetap tinggal? Jika alasannya hidup didunia ini sudah pergi kepangkuan illahi sejak lama.
"Awan, kenapa melamun?."
Anak itu mengerjap. Lantas tersenyum manis kearah Bunda. "Lagi mikirin mau nyanyi apa besok Bun. Masa Bu Inar suruh satu kelas nyanyi cuma gara-gara nggak ada yang ngerjain tugas. Kan Awan jadi bingung, mana suara Awan nggak banget lagi. Bisa-bisa habis nyanyi Awan disuruh ganti rugi gara-gara gendang telinga mereka rusak."
Benar bukan? Awan itu pembawa warna yang membuat sekitar terasa bernyawa. Pecah tawa disalah satu meja restauran itu sedikit mengalihkan beberapa atensi. Ayah yang mencoba menahan tawanya lantas menepuk pelan lengan Awan. "Kamu itu, suka banget merendah untuk meroket!."
Awan terkekeh. Dia tahu, tidak akan membuat kecewa semua orang jika melantunkan sebuah melodi. Karena bakat sejak kecilnya itu bernyanyi. Namun, soal hukuman bernyanyi itu ia memang berdusta. Karena, pikirannya sejak tadi hanya mengarah kepada sosok Biru yang ada dirumah. Entah, kekhawatiran apa yang tiba-tiba Awan cemaskan tanpa alasan.
Awan pernah menyalahkan takdir kala dia tahu, dirinya hanya sebuah kesalahan yang kedua orang tuanya lakukan. Bahkan Awan juga persis seperti Biru. Pernah mencoba menghilangkan nyawanya sendiri. Hanya karena ucapan pedas teman-temannya waktu umurnya tujuh tahun. Dimana anak sekecil mereka sudah gencar bermain bullying. Menyalahkan dan mengolok ngolok Awan sebagai anak haram juga anak seorang pelakor. Ya, mungkin teman-temannya itu termakan oleh orang tua mereka yang suka bergosip.
Jadi, ketahuilah. Disini bukan hanya Biru yang tersakiti. Namun, ada Awan yang sangat piawai menyembunyikan lukanya dengan warnanya sendiri.
"Yah, Awan boleh pesan makanan buat Biru? Kasian dia pasti belum makan malam."
"Pasti bolehlah sayang. Ayah juga mau bungkusin dia kok tanpa kamu minta," balas Ayah sembari tersenyum hangat.
Selama sepuluh tahun ini, Awan tidak pernah menyesal mempunyai saudara seperti Biru. Biru yang memperlakukannya seperti musuh, bahkan Biru yang selalu mencaci maki dirinya- Awan masih menganggap Biru Kakaknya. Sampai kapanpun itu. Biru adalah sebagian hidupnya.
Netra itu menatap ragu pintu kayu didepannya. Selalu saja seperti ini, seakan pintu didepannya itu adalah pintu neraka yang siapapun takut memasukinya. Meski ketakutan Awan tidak sebesar itu. Hingga menit yang terbuang sia-sia, akhirnya tangannya mengetuk berulangkali pintu kayu itu.
"Bang, gue bawa makanan nih. Lo pasti belum makan kan? Buka sebentar dong," teriak awan yang tak mendapat respon.
Namun setelahnya, tangan itu membuka engsel pintu. Mengintip ke dalam, hingga suara gemericik dari dalam kamar mandi membuat Awan paham jika saudaranya itu sedang mandi. "Gue masuk ya Ru,"lirihnya lantas melangkah masuk. Duduk dipinggir ranjang Biru setelah meletakkan keresek makanan itu diatas nakas.
Kedua bola mata besar Awan ia bawa menelisik ruang kamar Biru yang berdominan warna hitam. Lantai dingin juga dinding-dinding kamar Biru selalu bisa memberi rasa sakit tersendiri dihati Awan. Entah karena apa, seperti mati rasa ketika ia menampakkan kaki dikamar ini. Seperti sang pemilik, yang tak pernah menerima Awan masuk kedalam kamarnya- ruang itupun seperti tak suka bila Awan berada disana.
Hampir sepuluh menit Awan hanya melamun hingga suara pintu terbuka mengalihkan atensinya. Bibir itu melengkung kala melihat Biru yang sedang mengusap rambutnya dengan handuk. Hingga sedetik kenudian Biru menyadari sosok dirinya. Mata itu sedikit terkejut menemukan sosok awan disana, namun hanya sebentar sampai raut wajah Biru menunjukkan rasa tak suka.
"Ngapain lo disini?!."
"Sorry Bang main masuk aja. Tadi udah ijin masuk kok, tapi lo nya lagi mandi."
"Keluar!."
Tegas dinginnya suara itu mengalun bersama tatap tajam dari sang empu. Namun, senyuman hangat Awan tidak akan pernah luntur meski pancaran api dari kedua bola mata Biru terus menghujaminya. "Iya gue keluar. Tapi jangan lupa dimakan ya."
Setelah itu, langkah kakinya ia bawa keluar. Menutup perlahan pintu kamar kakaknya. Meninggalkan Biru dengan api yang mulai meredam. Berdecak tak suka kala menangkap kresek berisi makanan yang Awan bawa.
Ayah pernah menyesal, ketika nafsu telah mengalahkan logikanya. Disaat melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan malam itu. Malam dimana detik luka itu berasal. Bersama Bunda Awan yang juga tak sepenuhnya salah. Karena kejadian malam dimana umur Biru masih dua bulan- Ayah melakukan dosa besarnya selama ia hidup. Kesalahan satu malam yang membuat Awan hadir tanpa Ayah dan Bunda inginkan. Dan- tanpa Biru inginkan hadirnya.
Andai saja Ayah tidak dalam kondisi mabuk waktu itu, mungkin Awan tidak akan pernah hadir ke dunia yang penuh tipu daya ini. Dan tidak melukai banyak nyawa. Tapi, bukankah Awan juga tidak pernah meminta apa yang menjadi takdirnya sekarang? Bukannya Semesta yang menginginkan hadirnya di dunia ini? Lantas membuatnya terluka sampai sedalam lautan tanpa ada yang tahu. Begitu juga dengan, Biru.
"Heh Wan! Ikut gue yuk nanti pulang sekolah."
Tepukan dibahunya itu refleks membuat Awan memegang dadanya. Berdecak kesal kepada sosok yang kini duduk disampingnya. Lantas tanpa peduli kembali menikmati siomay kantin sekolah yang paling ia sukai.
"Woy! Gue lagi ngomong sama lo loh. Malah dicuekin," lanjut Nata. Sahabat dari kecil Awan yang sangat mengenal seluk beluk Awan. Melebihi keluarga Awan sendiri.
Nata itu adalah salah satu tempat Awan pulang jika dunia saja tak pernah adil padanya. Ketika Semesta memberinya luka tanpa ampun.
"Emang mau ke mana?," tanya Awan dengan mulut penuh.
"Ke bascampnya Bang Odra."
Nata menjauhkan badannya ketika delikan tajam dari Awan mengintimidasinya. "Mau apa lo ke sana? Nggak kapok ke seret masalah tawuran kayak kemarin?!."
"Santai dong Wan. Gue cuma mau bahas bisnis doang kok."
"Bisnis apa?."
"Lo tahu kan Bang Odra punya cafe. Nah gue rencana mau ngisi nyanyi dicafenya. Lumayankan buat tambahan uang jajan."
"Emang kurang uang jajan yang Bokap lo kasih?."
"Ya enggak sih. Cuma pengen mandiri aja."
Mendengar balasan Nata, otak kecil Awan jadi lebih berpikir. Apa ia juga harus seperti Nata? Mulai belajar hidup mandiri tanpa terus menerus merepotkan Ayahnya. Hingga celetukan Awan berhasil membuka lebar-lebar mulut Nata.
"Gue juga mau ikut dong!."
Sedang dilain tempat, Biru menghisap tembakau yang baru saja ia nyalakan. Memejamkan matanya meniknati semilir angin diatas rooftoop sekolah. Biru itu benci akan keramaian. Dia benci diri sendiri dikala berada di tengah tengah bising. Karena bukan keramaian yang ia rasa, melainkan kesendirian. Sepi. Yang semakin membuatnya menyedihkan.
"Di sini lo!."
Biru hanya melirik sekilas. Kembali menghisap benda manis itu. Mengacuhkan satu nyawa yang kini berada disampingnya. Dia- Rangga, sahabat satu-satunya Biru sejak SMP. Meski telah mengenal lama sosok Biru- Rangga tidak pernah bisa membaca terlalu dalam sosok dingin itu. Yang terlalu menyimpan banyak rahasia.
"Nanti ke Bar yok! Lama nggak ke sana," ujar Rangga sembari merogoh saku celana Biru yang langsung ditepis sang empu.
"Minta satu. Jangan pelit-pelit," sahut Rangga membalas tatapan tajam Biru. Yang kemudian menerima satu batang tembakau itu.
"By the way, lo kok jarang nginep dirumah gue?."
"Lagi mode slow nih sama Bokap?," lanjut Rangga.
Biru berdehem. Kebiasaan jika malas membalas panjang lebar pertanyaan beruntun Rangga. Ya, selama ini tempat pulang Biru selain ke rumah adalah rumah Rangga.
"Nanti gue jemput," ujar Rangga yang kemudian melangkah meninggalkan Biru yang masih menatap angkasa yang membentang disana.
Tugas matahari diatas sana telah berganti dengan sang rembulan. Suara gelak tawa itu lagi-lagi berhasil membuat sayatan dihati Biru. Mendengar keluarga kecil itu dengan gelak tawa diatas penderitaannya selama ini sangat tidak adil baginya. Tapi, Biru bisa apa? Dia hanya seekor semut yang tidak pernah mereka lihat. Dan- Biru juga tidak menginginkan itu.
"Biru kamu mau ke mana?," teriak Ayah ketika Biru menuruni anak tangga.
Sedetik netra Biru bersitatap dengan mata tegas Ayah. Namun, setelahnya langkah itu ia pacu kembali tanpa membalas pertanyaan Ayah. Melewati ketiga manusia yang paling Biru benci. Meski berulang kali dia mendengar suara teriakan Ayah yang terus memanggil namanya.
"Udah siap?," tanya Rangga setelah Biru masuk kedalam mobilnya.
Biru mengangguk. Kemudian mobil itu mulai merangkak membelah jalanan Ibu Kota.
"Sabar Mas. Biru mungkin mau pergi main sama temannya. Biasa anak muda," ucap Bunda.
"Nggak bisa dibiarin Bun. Dia udah sering keluar malam-malam sampai nggak pulang beberapa hari. Kalau terus kayak gitu, bagaimana bisa dia menggantikan Ayah diperusahaan. Mau jadi kayak apa dia kalau terus kayak gitu. Makin lama makin kurang ajar!."
"Biru itu pintar loh Mas. Nggak usah terlalu dipikirin kalau masalah perusahaan."
Awan disana hanya diam-diam tersenyum kecut. Tidak sepantasnya Ayah menyalahkan sikap Biru. Karena menurut Awan, Biru seperti itu karena isi rumah ini. Karena hadirnya juga sang Bunda yang merubah kehidupan Biru.
Awan masih betah membuka matanya. Menunggu Biru yang sudah sejak pergi tanpa sepatah kata itu belum juga kembali. Padahal, pukul sudah menunjukkan angka dua dini hari. Hingga suara mobil berhenti tepat didepan rumahnya- langkah Awan ia bawa kedepan. Membuka pintu utama yang langsung diambut Biru yang sudah berada tepat didepan.
Senyum lebar Awan itu mendapatkan tatapan tajam Biru yang memerah. Bau alkohol menyeruak keindera penciuman Awan yang langsung menutup hidungnya.
"Lo mabuk lagi Ru?."
"Bukan urusan lo!," sentak Biru lantas mendorong Awan. Namun belum sempat kakinya melangkah jauh tubuh Biru terasa berputar hingga sebuah tangah berhasil menopang tubuhnya.
"Ru, gue antar ke atas.."
"Nggak usah! Lepas!."
Biru kembali mendorong kasar Awan hingga tak sadar tangan anak itu menatap engsel pintu yang berkarat. Darah segar itu langsung mengalir dari luka dipergelangan tangannya.
"Aawwhhhh," rintih Awan mengalihkan fokus Biru yang hendak memacu langkahnya kembali. Hingga netra kelam itu membola melihat darah menetes cukup deras. Tanpa pikir panjang, Biru melepas headbead yang ia pakai. Meraih pergelangan tangan Awan untuk menghentikan pendarahan itu lebih dulu.
Beberapa detik setelahnya, Biru sadar akan apa yang ia lakukan. Sedang Awan tidak lagi merasakan sakit luka itu. Tersenyum penuh binar melihat Biru yang memperhatikan dirinya. Perhatian sekecil itu, adalah hal langka yang selama ini Awan inginkan. Mengharapkan sedikit rasa sayang sebagai seorang adik Biru itu tidak mudah untuk Awan genggam.
"Obati sendiri!."
"Aduh Ru, sakit. Gue nggak bisa obatin, gimana caranya?."
Awan tersenyum licik ketika Biru menggeram kesal yang kemudian menariknya kasar menuju dapur. Menyuruh Awan duduk dimeja makan lantas dirinya mencari kotak P3k.
Biru tidak sejahat itu akan meninggalkan Awan yang terluka karena dirinya. Dan, Awan tahu- seburuk buruknya sikap Biru kepadanya, Biru tetaplah Biru yang masih memiliki hati nuraninya sebagai seorang Kakak.
"Lo bisa kan? Gue cuma tanya. Takutnya tangan gue tambah lo mutilasi," celetuk Awan diakhiri kekehan.
"Diem! Masih untung gue tolongin!."
"Heh sadar diri! Yang buat tangan gue kayak gini kan elo. Jadi emang tanggung jawab lo Biru," balas Awan yang detik selanjutnya meringis kala tekanan dari kasa itu mengenai lukanya. "Pelan-pelan Ru. Sakit."
"Makanya nggak usah banyak bacot!."
Awan berdecak. Memperhatikan Biru yang dengan telaten mengobati tangannya. Apa harus terluka lebih dulu agar Abangnya itu peduli kepadanya?
"Ru, kalau lo baik kayak gini gue jamin deh banyak cewek yang mau deketin lo."
"Gue cuma mau bertanggung jawab! Bukan mau berniat baik sama lo. Jadi nggak usah kegeeran!."
Senyum lebar Awan kembali mengembang. Tanpa Biru sadari, anak itu sudah mulai bicara melebihi dua kata kepada Awan. Padahal biasanya hanya sekedar bersitatap saja sudah membuat Biru malas melihat hadirnya.
"Sering-sering mabuk deh Ru kalau lo nya kayak gini."
Tatap tajam itu menghunus kedua netra Awan. Hingga setelah perban itu sempurna terpasang, Biru bangkit meninggalkan Awan yang masih meneriakinya
Awan tersenyum melihat perban dipergelangan tangannya. Rasa sakit yang ia rasakan kini sudah melebur. Berganti dengan hatinya yang membaik karena sikap Biru. Sampai kapanpun, Awan akan tetap berusaha mengubah sikap Biru untuk menerima kehadirannya. Karena Awan yakin, sekeras apapun batu itu- jika diterpa air terus menerus pasti akan hancur.
Pagi hari itu suasana hati Awan terlihat lebih bewarna. Kali ini, dia tidak akan menyiakan keadaan tangannya yang terluka. Kesempatan kali ini harus ia gunakan untuk mendekati Biru secara perlahan. Tangan itu mengetuk pintu kayu kamar Biru. Berulangkali sampai sang empu membukanya dengan kasar. Menatap garang satu nyawa yang kini tersenyum lebar.
"Udah siap belum? Keburu telat nih."
Alis Biru menukik tak suka.
"Masalahnya apa sama gue? Serah gue lah mau telat atau nggak!."
"Tapi masalah sama gue Ru. Lo lupa tangan gue sakit? Dan ini juga gara-gara lo! Jadi sampai tangan gue sembuh lo harus berangkat bareng gue."
"Punya HP kan? Digunain buat pesan ojol! Nggak usah bikin repot!," sarkas Biru lantas hendak menutup pintu namun tertahan oleh tangan Awan.
"Nggak bisa. Gue mau hemat. Pokoknya lo harus jadi supir gue! Titik!."
Garis wajah Biru menegang dengan tatapan tajam menghunus dua bola mata Awan. "Sejak kapan lo berani nyuruh-nyuruh gue?!."
"Gue nggak nyuruh lo! Tapi minta pertanggung jawaban. Emag nggak kasihan apa kalau gue nyetir? Bisa-bisa ngebahayain diri gue sendiri sama orang lain jadi-."
"Shit, bacot lu!."
Brak
Awan sedikit terlonjak kala bantingan keras pintu itu menyapu wajahnya. Tapi, jangan katakan bahwa Awan tidak punya nyali. Dia juga bisa keras kepala melebihi ego Biru selama ini. Melirik jam menunjukkan pukul setengah tujuh itu membuat kedua bola matanya melebar sempurna. Bagaimana bisa sampai sekolah dengan aman jika Biru saja belum rapi.
"Ru cepetan! Udah mau telat nih. Gue tunggu didepan ya?!," teriak Awan tanpa mendapat balasan.
Benar saja, sesampainya mereka berdua disana gerbang sekolah sudah ditutup. Tapi, naasnya kedua anak itu tertangkap basah oleh guru BK ketika hendak meloncat dinding belakang. Dan disinilah kedua laki-laki itu- lapangan Basket. Sudah lima kali putaran Awan dan Biru selesaikan. Kurang lima lagi selesai sudah hukuman mereka.
"Ru, istirahat sebentar aja yuk! Capek banget gue," ujar Awan patah-patah.
Wajahnya penuh dengan peluh. Langkah Awan juga memelan. Tidak lagi mengikuti Biru yang sudah melesat didepan sana.
Napas Awan terasa semakin sulit. Pandangan anak itu juga semakin memburam. Hingga tak lama badannya itu meringan. Setelah itu hanya gelap yang ia temui. Dalam hening panjang yang menenangkan.
Biru hanya diam melihat jatuhnya Awan disana. Namun, detik selanjutnya Biru tersadar. Anak itu tidak main-main sekarang. Memacu langkahnya mendekati Awan dengan pejamnya.
"Nggak usah becanda! Bangun!."
Biru mengumpat tak mendapati respon Awan. Lantas menggendong tubuh Awan diatas punggungnya. Biru, tahu betul keadaan tubuh Awan yang selama ini tinggal seatap. Kondisi tubuh yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Awan terlahir dalam keadaan prematur, membuat kondisi imun tubuhnya tidak terlalu baik. Jika kelelahan sedikit saja darah segar sering keluar dari hidungnya. Ataupun tubuhnya yang langsung pingsan begitu saja. Sungguh- selama ini Awan sangat membenci tubuhnya jika dalam mode down.
Awan mendesis kala rasa pening itu menusuk kepalanya. Menutup kembali kelopak matanya ketika silau cahaya membuat dunianya berputar.
"Udah sadar Wan?."
Suara Nata itu membuat kedua mata Awan terbuka sempurna. Raut khawatir yang kental dari wajah Nata menerbitkan senyum manis Awan. Seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Abang gue mana?."
"Ck, ngapain sih lo tanya dia?."
"Tadi gue dihukum bareng Biru. Terus yang bawa gue kesini kalau bukan dia siapa?."
"Udah balik ke kelas. Udah sekarang makan! Udah tahu punya darah rendah malah lewatin sarapan."
"Iya bawel," sahut Awan diselingi kekehan.
Suara bel pulang beberapa saat lalu telah menggema diseluruh penjuru sekolah. Namun, ada satu nyawa yang mengerucutkan bibir kesal. Melihat motor Biru yang sudah hilang dari tempat parkir membuat Awan berdecak kesal. Bagaimana bisa Biru setega itu meninggalkannya?
"Gini nih kalau punya Abang pelitnya sampai keujung samudra."
Gelapnya malam itu menegang kala penuturan Ayah beberapa saat lalu berhasil membuat Biru merasa terbebani. Bagaimana tidak jika dirinya disuruh menjaga Awan selama Ayah dan Bunda pergi keluar negeri karena urusan bisnis. Selama ini, dia tidak pernah tinggal berdua bersama Awan yang sangat merepotkan menurut Biru.
"Enggak bisa apa Ayah suruh orang lain yang urus? Katanya Bos, tapi kok masih sibuk kesana kemari."
Ayah tertawa mendengar ucapan Biru. Lantas mengelus puncak kepala anak sulungnya yang langsung ditepis sang empu. "Kamu ini masih nggak tahu tentang bisnis ternyata. Ayah mana mungkin lepas tangan sama bisnis Ayah sendiri, hm? Apalagi ini urusan penting, harus Ayah sendiri yang tangani."
"Jadi, tolong ya- selama Ayah dan Bunda nggak dirumah kamu baik-baik disini sama Awan. Jangan jutek-jutek. Kalian itu masih satu darah lo. Darah daging ayah, masa sesama saudara berantem mulu."
Tangan Biru mengepal. Garis wajahnya menegang dengan tatap tajam menghunus kedua bola mata Ayah. Mendengar kata saudara saja berhasil memancing emosi Biru. Garisi satu kata itu- Biru benci kata saudara. Apalagi membawa nama-nama Awan. Karena sampai kapanpun Biru tidak akan pernah menganggap Awan ada. Tapi, tidak ada yang tahu bagaimana Semesta menggoreskan takdir untuk mereka berdua.
"Dia bukan saudara Biru, Ayah!."
Ayah menghela napas lelah. "Terserah Biru saja. Tapi ingat, sampai kapanpun kenyataan itu tidak bisa diubah nak. Jadi, tolong berdamai dengan keadaan. Kalian berdua pasti akan saling membutuhkan nantinya."
"Ingat pesan Ayah....Tolong saling menjaga. Jangan jahat-jahat sama Awan. Dia itu nggak sekuat yang kita lihat selama ini Ru."
Setelah kalimat panjang lebar melebur bersama udara dingin itu, Ayah beranjak meninggalkan Biru ditaman belakang rumah. Sedang didalam kamar Awan- anak itu mengerucutkan bibir kesal.
"Maaf ya Nak. Bunda janji bakal cepat balik kok. Kasihan Ayah kamu kalau berangkat sendirian kenegara orang."
"Janji nggak bakal lama?."
"Iya janji," balas Bunda lantas menarik Awan dalam dekap hangatnya.
Seminggu sejak kepergian Ayah dan Bunda, kedua anak itu masih saja seperti biasanya. Dengan Awan yang selalu mencari celah agar mendapat perhatian dari Biru. Sedang Biru yang berusaha keras menghindari anak menyebalkan itu.
"Apaan sih? Bisa nggak jangan ganggu gue hah?!."
Awan tersenyum lebar kala Biru akhirnya membuka suara meski dalam mode bentakan. Tidak perlu khawatir, Awan sudah kebal dengan segala macam emosi Biru.
"Bantuin sebentar napa Ru. Gue nggak bisa pasang gasnya, gimana mau bisa masak. Lo kan bisa tuh pasang gas, bantuin gitu. Udah laper banget dari tadi."
"Delevery aja kan bisa! Ribet banget lo!."
"Hemat Ru! Hemat!."
"Mubazir bahan-bahan dikulkas kalau dianggurin. Mending masak sendiri aja. Jangan mentang-mentang uang Ayah banyak jadi apa-apa tinggal keluar uang."
Biru melirik sinis. Mengepalkan tangannya, berusaha meredam amarah yang siap meledak. Mendengar ocehan Awan itu tidak akan pernah membuatnya nyaman. Hanya membuat darah tingginya naik saja.
"Cerewet tahu nggak lo!," sentak Biru. Lantas meletakkan HPnya keatas meja. Memacu kaki menuju dapur.
"Gitu dong dari tadi. Dasar! Seneng banget lihat orang ngemis-ngemis minta tolong dulu baru berangkat," gerutu Awan yang masih didengar Biru.
"Bacot lu! Udah baik gue bantu!."
Bibir itu tertarik keatas ketika hasil masakannya hampir matang. Padahal, ia hanya merebus mie yang sudah mendidih siap ditiriskan. Namun, detik setelah ia mematikan kompor suara gaduh dari ruang tengah mengalihkan atensi Awan. Hingga langkanya ia bawa lari menuju sumber suara.
"Ru, lo kenapa? Ada yang luka nggak?," tanya Awan panik melihat pecahan gelas itu berserakan dilantai.
Awan mengikuti arah pandang Biru yang membeku. Menonton dalam diam acara berita yang mengabarkan pesawat dari singapure yang menuju Jakarta itu baru saja kehilangan kontak. Dan setelahnya, kabar berubah bahwa pesawat itu jatuh dilaut. Hingga detik jarum jam disana seakan berdetak kencang. Memahami apa yang kedua anak itu rasakan.
Tangan Awan bergetar ketika merogoh gawainya disaku. Membuka ruang obrolannya dengan Sang Bunda beberapa jam lalu.
Bunda
|| Sayang, Bunda pulang hari ini. Naik pesawat Air Wijaya pukul tiga sore. Baik-baik disana ya. Bunda sayang Awan sama Biru.
Seketika, dunianya runtuh. Tubuhnya merosot dengan pandangan yang sudah berbalut kaca. Siap pecah kapan saja. Tidak, ini semua pasti hanya mimpi buruknya saja. Bunda dan Ayah tidak mungkin meninggalkan mereka berdua seperti ini kan?
Tubuh Awan kembali berdiri tegak kala tarikan dari Biru membuat kedua tatap itu bertemu. Tatap tajam Biru dengan tatap sayu Awan itu menjelaskan semuanya. Bahwa setelah ini, tidak akan ada lagi kata baik-baik saja.
"Semua ini gara-gara lo! Dari awal lo sama nyokap lo cuma pembawa sial dikeluarga gue anjing!."
Awan memejam. Menikmati setiap kata yang Biru lontarkan. Yang sayangnya berhasil menusuk lebih dalam relungnya yang kembali terbuka.
Sejak lontaran kalimat Biru tiga hari lalu, juga perang dingin yang Biru berikan itu membuat keputusan Awan untuk pergi dari rumah besar itu sudah bulat. Disini, dia tidak lagi memiliki apapun. Ayah dan Bunda benar-benar dinyatakan tiada setelah hasil pencarian berjalan lancar.
"Ru," panggil Awan sembari mengetuk pintu Biru.
"Gue pamit ya. Lo baik-baik disini. Kalau butuh apa-apa telepon gue aja. Gue siap dua puluh empat jam buat lo," lanjutnya diakhiri tawa kecil.
Didalam sana, Biru mengertakkan gigi giginya. Sudah tiga hari ini emosinya masih saja belum stabil. Setelah cukup lama tidak ada suara diluar, langkahnya ia bawa untuk membuka pintu. Yang kemudian hanya hampa yang ia lihat.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, akhirnya Awan tersenyum lebar. Memandang rumah sederhana yang ada didepannya itu kembali mengingatkan masa kecilnya bersama Bunda sebelum bersama Ayah. Dan, disini Awan bisa merasakan kesempuranaan bahagia itu. Sebelum dia merasakan luka dari keluarga barunya. Ah- atau Awan yang menjadi titik pusat luka itu yang sesungguhnya?
"Bunda, Awan boleh balik kesini lagi kan?."
Awan terbatuk batuk kala menghirup udara pengap yang menyambut datangnya. Ruangan itu sangat gelap. Bahkan, sebenarnya rumah itu sudah tidak layak huni. Tapi, bagaimana lagi? Jika tidak dirumah lamanya, Awan harus pergi kemana?
"Mulai sekarang, lo harus bisa mandiri," gumam Awan.
Apa Awan itu seperti sampah dimata mereka? Hingga cacian juga hinaan selama kedua orang tuanya tiada itu kembali ia terima. Setelah sekian lama cacian itu terpendam- dan sekarang Awan harus lebih mempertahankan mentalnya. Dicaci sebagai anak haram pembawa sial memanglah sudah biasa Awan dengar. Tapi, kenapa sekarang lebih menyakitkan ketika nama almarhum Sang Bunda dibawa bawa. Apa mereka sekolah hanya untuk mengurusi hidup orang lain?
"Wan, kalau mau bolos gue siap ikut kok."
"Gue murid teladan ya Nat! Nggak usah komporin gue," balas ringan Awan sembari terus berjalan meski bisik-bisik menyakitkan itu masih bisa ia dengar.
Nata menatap sendu kearah Awan. Dia tahu, Awan masih belum bisa terbuka kepadanya sekarang. Tapi, Nata ingin Awan bisa melampiaskan semuanya tanpa memendam luka itu seorang diri.
"Gue siap bantu lo kalau butuh apa-apa. Gue sahabat lo, Wan. Jangan anggap gue orang lain."
"Gue ngerti apa yang lo khawatirin Nat. Tenang aja, gue fine kok," balas Awan merangkul pundak Nata.
Satu hela napas lelah itu keluar begitu saja ketika Awan melihat kondisi mejanya yang penuh akan coretan umpatan. Sedang Nata sudah berkoar koar kepada teman sekelas yang berada disana.
"Udah lah, nggak usah diperpanjang. Gue yang diginiin aja sellow, kok lo yang marah-marah sih Nat."
"Lo nya yang terlalu santai Wan! Sampai kapan lo dibully kayak gini hah? Gue nggak terima sahabat gue diperlakuin kayak gini!."
"Nat, tenang oke?!."
Awan menarik Nata agar duduk disebelahnya. Lantas menepuk kedua pundak Nata agar anak itu lebih rileks. "Lebih baik lo bantu gue cari kerjaan dari pada emosi kayak gitu."
"Wan, ada yang belum lo ceritain kan ke gue?," selidik Nata. Sejauh ia kenal seorang Awan yang memiliki penuh teka teki itu, sedikit demi sedikit Nata paham jika Awan menyembunyikan sesuatu.
"Ekhmmm, sebenarnya gue udah pindah dari rumahnya Biru ke rumah lama gue dulu."
"Hah?!."
"Ssttt, biasa aja kali Nat. Pengang nih kuping gue," sahut Awan mengusap telinganya yang berdengung.
"Lo ngapain sih pindah-pindah segala? Emang lo bisa tinggal sendiri? Kenapa nggak ke rumah gue aja sih Wan?."
Pletak
Nata meringis, mengusap bekas jitakan Awan didahinya.
"Gue masih punya harga diri! Nggak banget kalau gue malah repotin lo yang nggak ada hubungan keluarga."
"Tapi gue udah-."
"Iya gue tahu lo udah anggap gue sebagai saudara lo sendiri. Tapi tetap beda Nat. Gue nggak mau repotin lo terus," seloroh Awan.
Nata hanya bisa menghela napas kasar. Menyerah akan selalu menjadi pilihannya kala berdebat dengan seorang Awan.
Bel istirahat itu sudah berdering sejak lima belas menit lalu. Awalnya, Awan tidak ingin mencari masalah. Niatnya kekantin hanya ingin membeli makanan. Pasalanya perut yang sedari tadi pagi tidak diisi itu terus mengeluarkan bunyi sejak jam pelajaran pertama. Tapi, tujuan Awan sepertinya salah. Dia kesini hanya menambah masalah untuknya.
"Hati-hati dong. Lihat nggak sih ada orang segede ini kok main tabrak!," sentak Cewek yang baru saja menumpahkan kuah sotonya kebaju Awan. Yang jelas-jelas disengaja.
"Sorry, bukannya lo ya yang sengaja nabrak gue?."
"Enak aja lo! Udah nabrak gue malah balikin umpan lagi!."
"Dasar anak haram! Masih berani-beraninya ya lo tunjukin muka disekolah elit ini?! Setelah hancurin keluar Biru!," sahut Cowok yang mulai mendekati keduanya.
Awan mengepalkam tangannya hingga kuku kukunya menancap dikulit hingga memerah. Garis rahangnya mengeras. Tapi enggan melayangkan balasan yang hanya memancing keributan.
"Jangan cuma gara-gara lo sekolah kita ikutan sial ya! Makanya minggu kemarin lomba nyanyi kita kalah karena ada lo! Anak pelacur!."
Bugh
Satu hantaman keras mendarat sempurna dirahang cowok yang baru saja melontar patah demi patah yang melukai relung Awan. Hingga jeritan disekeliling menguar.
"Gue biarin lo hina gue sepuasnya! Tapi jangan pernah hina gue sebagai anak pelacur. Itu sama aja lo hina nyokab gue!."
Tanpa peduli balasan makian yang lebih menggema, anak itu beranjak melewati banyaknya pasang mata yang tertuju kepadanya. Tapi, satu nyawa yang menatapnya dingin itu lebih menarik atensi Awan. Hingga Awan memutus lebih dulu kala tatapan keduanya bertemu.
"Lo seneng kan Ru?," gumam Awan.
Bulan telah menggantikan tugas matahari. Kini, suara jangkrik itu lebih mendominan di indera pendengaran Biru. Sudah dua jam lamanya Biru masih nyaman duduk dibelakang rumahnya. Disini, terakhir kali ia berbincang dengan Sang Ayah. Ucapan kala itu kembali terngiang. Bagaimana deretan pesan Ayah membuat pikirannya terus berkelana.
Jujur, dalam lubuk hati Biru ia masih memikirkan keadaan Awan diluar sana. Biru juga tidak tahu, kenapa rasanya sakit ketika melihat anak itu dikucilkan oleh semua warga sekolah yang selalu menyalahkan Awan dalam setiap masalah keluarganya.
Biru mendongak, menatap kelam Angkasa yang membentang jauh disana. "Ayah, apa Biru sejahat itu? Ayah bilang, Biru nggak bakal bisa hilangin kenyataan kalau Awan itu adik Biru. Apa, Biru bisa anggap Awan sebagai adik Biru? Apa Biru masih punya hak setelah apa yang selama ini Biru lakuin?."
Sedang dilain tempat, Nata menatap cemas Awan. Wajah anak itu tidak bewarna seperti pada umumnya. Juga netra sayu lelah itu membuat rasa cemas Nata meningkat. Meski berulang kali Awan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Terus mengalunkan nada indah didepan banyaknya pengunjung cafe.
"Wan, udahan yuk! Muka lo pucat banget gitu."
"Bentar Nat, kurang satu lagu lagi."
"Ck, jangan keras kepala deh! Kalau lo pingsan disini bakal repotin banyak orang."
Awan terdiam sejenak. Benar apa yang dikatakan Nata. Dia sendiri juga tidak yakin berapa lama pertahanan yang ia punya itu bertahan. Hingga anggukan samar dari Awan menerbitkan senyum Nata.
"Bos, gue balik duluan ya. Awan kurang enak badan," ujar Nata kepada pria paruh baya.
"Oh iya enggak apa-apa. Besok dilanjut lagi ya, suara kamu bagus. Saya suka."
Keduanya mengangguk. Lantas melangkah keluar Cafe. Tapi, kedua pasang kaki itu kembali berhenti sebelum menaiki motor masing-masing ketika setetes darah berhasil keluar dari lubang hidung Awan.
"Ya ampun Wan lo mimisan," ujar Nata panik. Lantas segera merogoh sapu tangan yang berada disaku. Memberikannya kepada Awan.
"Udah biasa. Nggak usah panik gitu muka lo."
"Ck, tuh kan kebiasaan. Itu namanya lo udah kecapekan banget Wan sampai mimisan kek gitu."
"Udah sono pulang! Thanks buat hari ini."
Seulas senyum dari Awan itu mengakhiri perbincangan mereka.
.
.
.
Lima hari berlalu, perlahan menenggelamkan hinaan yang tidak lagi menguat. Tidak lagi menjadi topik hangat disekolah elit itu. Dan, Awan merasa lega akan hal itu.
"Awan!."
Sang empu nyawa itu terlonjak. Mendapati tatapan tajam dari sang guru. Lantas menunjukkan sebuah cengiran andalannya.
"Mampus lo Wan," bisik Nata.
"Lagi-lagi ketiduran dikelas! Kamu itu kenapa sih Awan?! Kok jadi bandel kayak gini. Suka ketiduran, suka telat masuk, suka nggak kerjain PR. Apa udah nggak mau jadi ranking kelas lagi?."
"Hehehee masih mau lah Pak. Tapi ya, gimana lagi. Saya ngantuk berat," balas Awan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Keluar! Cuci muka kamu. Habis itu lari di lapangan basket lima kali putaran!."
"Loh kok gitu Pak? Saya kan cuma ketiduran-."
"Cuma ketiduran kamu bilang?! Kemarin-kemarin apa? Banyak loh kesalahan yang kamu buat tapi masih saya ampuni. Sekarang nggak ada tapi-tapian. Cepat kelapangan!."
Mau tak mau, Awan beranjak dengan wajah tertekuk. Sedang Nata hanya bisa menatap sendu Awan. Dia tahu, waktu Awan beristirahat sangatlah sedikit sejak anak itu mengisi waktunya untuk bekerja paruh waktu hingga tengah malam.
Dan, seperti yang Awan perkirakan. Tubuhnya itu selalu tidak bisa diajak kompromi. Baru saja tiga putaran, tapi seakan dunianya berputar. Hingga hanya gelap yang bisa ia lihat. Dan setelahnya tubuh Awan meringan bersamaan dengan kesadarannya yang hilang. Namun, sebelum sadarnya hilang sepenuhnya, Awan bisa mendengar suara langkah kaki yang dipacu cepat itu mendekatinya.
"Bagaimana Sus?," tanya Biru setelah Suster sekolah memeriksa keadaan Awan yang masih dalam pejam panjangnya.
"Darahnya rendah, imun tubuhnya juga menurun. Nanti kalau dia sadar, tolong bilangin ya supaya break dulu. Kalau bisa nanti saya ijinin ke sekolah untuk libur beberapa hari kedepan."
Ada rasa cemas, kecewa, menyesal menjadi satu yang Biru rasakan. Selama Awan tidak ada dirumah, Biru merasa ada yang kurang. Entah mengapa dia baru menyadarinya ketika hati kecil itu tidak bisa lagi ia bohongi. Jika seperti ini, apa Biru akan tetap membohongi dirinya sendiri? Apa rasa pedulinya kepada Awan itu atas rasa kentalnya darah yang mengalir ditubuh mereka atau hanya sebatas rasa kasihan?
"Hei nak, dengar yang saya katakan?," ujar Suster yang menyadarkan Biru.
"Iya Sus. Makasih," balas Biru diakhiri seulas senyum.
"Ru! Gue cariin dari tadi malah di UKS lo," seloroh Rangga yang baru datang.
"Nyari gue? Kenapa?."
"Di cariin Bu Nike noh! Ditunggu sekarang."
"Ngapain?."
"Lah mana gue tahu," balas Rangga mengendikkan kedua bahunya.
"BTW lo ngapain disini?."
Biru melirik bilik dimana ada Awan didalamnya. Lantas kembali menatap Rangga. "Tolong tungguin Awan disini sampai gue balik."
Biru tak membiarkan Rangga bertanya lebih jauh lagi. Segera beranjak dari sana. Menuju ruang Bu Nike yang ia kenal sebagai wakil kelas Awan.
"Permisi Bu!."
"Oh, Biru. Iya Nak masuk!."
"Ada apa ya Bu Nike panggil saya?," tanyanya setelah duduk dikurai seberang Bu Nike.
"Begini Biru, langsung ke intinya saja. Saya disini cuma mau tanya sekaligus mewakili guru mapel yang mengajar kelas adik kamu, Awan."
Bu Nike menjeda ucapannya. Membiarkan Biru menyatukan alisnya penasaran dan memahami perkataannya sebelum mengarah ketopik.
"Sudah banyak keluhan yang datang ke saya kalau beberapa hari ini Awan sangat berbeda dari Awan yang kita kenal. Dia sekarang jadi sering telat, suka ketiduran dikelas, suka lupa kerjain PR dan masih banyak kecerobohan yang adik kamu lakukan."
Sungguh, detik setelah penjelasan panjang lebar itu membuat Biru merasa semakin bersalah. Apa yang ia lakukan selama ini kepada anak itu? Bahkan, Biru sama sekali tidak mencari tahu dimana Awan tinggal. Bagaimana anak itu makan, apa Awan punya uang?
Biru benar-benar lepas tangan ketika musibah itu mereka berdua alami. Membiarkan Awan yang selama ini tinggal bersamanya pergi begitu saja.
"Jadi, apa kamu tahu kenapa Awan berubah? Kamu kan tinggal seatap sama Awan. Saya tahu musibah yang kalian alami tidak lama ini, tapi kenapa perubahan Awan sangat melewati batas. Bahkan, kita lihat kamu masih seperti biasanya. Kenapa sifat Awan berubah drastis, itulah yang kami bingungkan Nak."
"Saya minta maaf atas nama adik saya Awan. Saya janji bakal ubah sikapnya itu seperti dulu," balas Biru tanpa sadar menyebut satu kata yang selama ini ia tentang dan sangat terkutuk baginya. Tapi, kali ini kata itu mengalun begitu tenang tanpa paksaan. Adik. Ya, memang benar bukan bahwa Awan adalah adik Biru?
Awan membuka matanya perlahan ketika silau langsung masuk kedalam matanya. Remang-remang ia melihat orang duduk disebelah ranjangnya. Sampai pandangan Awan benar-benar jelas melihat siapa orang itu.
"Udah sadar?."
"Lo yang bawa gue kesini?," lirih suara Awan dibalas gelengan dari Rangga.
Hendak beratanya tapi urung kala mata Awan kembali tertutup ketika dunianya kembali berputar. "Gue panggilin Suster dulu."
"Nggak usah."
Suara gorden terbuka membuat atensi Awan teralihkan. Dan- tatapnya bertemu dengan netra hitam lekat Biru.
"Setelah ini nggak usah repotin gue lagi! Lo tuh dari dulu cuma jadi benalu tahu nggak dihidup gue. Katanya nggak mau repotin orang, tapi kebiasaan nggak bisa jaga diri. Udah tahu pemyakitan. Kalau udah bosen nggak mau sekolah juga keluar aja! Dari pada nyusahin orang. Yang kena ceramah juga akhirnya gue kan gara-gara kelakuan lo! Atau kalau emang udah bosen hidup mati aja! ."
Perkataan panjang lebar Biru itu bagikan pisau yang langsung menancap direlung Awan. Apa dirinya sudah tidak ada gunanya bagi Biru? Apa memang selama ini dia hanya menyusahkan saja?
"Ru," ujar Rangga lantas menarik tangan Biru untuk keluar. Meninggalkan Awan yang semakin terluka. Sungguh, Awan masih bisa menerima cacian dari orang lain. Tapi, kenapa kali ini perkataan dari Biru membuatnya jatuh sesakit itu?
"Omongan lo keterlakuan Ru! Dia lagi sakit loh," ujar Rangga.
Napas Biru naik turun. Entah kenapa emosinya kembali naik hanya karena melihat wajah Awan. Wajah yang membuatnya ingat akan luka yang ia rasakan selama ini. Padahal, niatnya ingin mengatakan untuk Awan lebih bisa menjaga kesehatannya dan merubah sikap anak itu agar kembali menjadi siswa yang teladan. Tapi ternyata, Biru dengan pikiran dan hatinya sangatlah tidak bisa bersatu.
"Gue mau tenangin diri dulu. Lo bisa antar dia pulang, kan?."
Rangga tersenyum. "Iya, biar gue yang antar."
Sejak Awan pulang diantar Rangga, anak itu hanya melamun diruang tamu tanpa beranjak sampai malam menjemput. Pandangannya kosong, tapi- pikirannya berkeliaran kemana mana. Dan yang lebih berdengung dipendengarannya sampai sekarang adalah ucapan Biru. Hingga senyum kecil itu mengembang dibibir pucatnya.
Iya Ru. Lo benar. Buat apa gue hidup kalau cuma nyusahin orang. Apalagi, sekarang nggak ada tempat buat gue didunia ini. Dua orang yang anggap gue ada aja udah pergi. Lalu, apa gunanya gue disini?, batin Awan
Anak itu merogoh sakunya untuk mencari gawai. Mengetikkan beberapa kata hingga pesan itu benar-benar terkirim. Lantas Awan beranjak perlahan, mencari apapun untuk menjaga tubuhnya agar tidak oleng. Sampai langkahnya berhenti didapur. "Awan kangen Bunda," gumamnya.
Lamunan Biru buyar kala suara notifikasi masuk kedalam gawainya. Sekilas melirik nomor yang tidak ia simpan. Namun, Biru sangat hapal siapa nomor itu. Hendak mengabaikannya, tapi entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak hingga ia meraih dan membaca pesan singkat yang berhasil membuat detak jantungnya bekerja melebihi batas normal.
085********
|| Ru, lo benar. Disini gue emang nggak punya siapa-siapa lagi. Tapi, gue masih punya Ayah sama Bunda kan?
Jari jemari Biru dan otaknya bekerja lebih cepat. Mendial nomor Rangga yang langsung tersambung. "Alamat rumah Awan sekarang dimana?."
Biru memacu motornya dengan kecepatan penuh. Sedari tadi, detak jantungnya masih saja bertalu talu. Hingga tepat didepan rumah sederhana itu ia memacu kakinya. Berlari hingga ketukan berulangkali sama sekali tidak membuahkan hasil.
BRAAKKK
Tidak peduli apa yang dikatakan orang jika melihatnya bertindak seperti maling. Biru masuk begitu saja setelah pintu itu ia buka secara paksa. Mengamati sekeliling ruang tamu usang itu yang tidak menunjukkan keberadaan orang yang ia cari. Atensinya teralihkan kala suara batuk dari belakang spontan membuat Biru berlari. Hingga detik seakan berhenti. Tenggorokannya tercekat kala melihat bagaimana Awan yang mulai kehilangan kesadaran dengan darah yang mengucur deras dari pergelangannya.
"Jangan tidur!."
Bibir Awan terangkat membentuk senyum samar. Sedang Biru meraih pergelangan tangan Awan untuk ia balut dengan sapu tangan yang ada dijaketnya agar pendarahanberhenti.
"Bi- biarin gue pergi. Cuma Bu-bunda yang bisa te-terima gue."
"Diem bego!."
"Jangan tidur! Lo nggak mau gue tambah benci sama lo kan?!."
Awan mengangguk lemah. Meski kantuk yang ia rasa sekarang semakin menjadi. Hingga dia merasakan tubuhnya diangkat dalam gendongan Biru. "Kalau gitu, bertahan!."
Apa Awan tidak salah dengar? Biru menyuruhnya bertahan? Sungguh, biarkan kali ini saja Awan berharap lebih kepada Biru.
Kedua anak itu masih berada didalam taksi dengan Biru yang terus menepuk pipi Awan agar anak itu tetap sadar. Tapi, percuma. Kantuk yang dirasakan Awan tidak bisa ia taklukkan lagi. "Ma- maaf Ru," lirih suara Awan sebelum kesadarannya direnggut paksa kegelapan.
"Awan bangun!," teriak Biru sembari menepuk berulang pipi Awan.
"Pak lebih cepat lagi!."
Sudah setengah jam Awan masuk kedalam ruangan ICU. Namun belum ada tanda-tanda orang-orang didalam sana selesai menangani Awan yang kini berjuang antara hidup dan mati. Sedang Biru, berusaha meyakinkan dirinya bahwa Awan akan baik-baik saja.
"Lo nggak boleh pergi," gumam Biru.
Suara pintu terbuka mengalihkan fokus Biru. Lantas beranjak mendekati Dokter dengan wajah lelah yang kentara.
"Bagaimana Dok?."
Dookter itu tersenyum menenangkan sebelum membalas pertanyaam Biru. "Alhamdulillah, luka dipergelangan tangan pasien tidak sampai mengenai nadinya. Dan pertolongan pertama tidak membuat darah keluar terlalu banyak. Tapi, keadaannya masih terus kami pantau. Kondisi fisik dan mentalnya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik saat ini."
Ada rasa lega juga cemas yang Biru rasakan. Bahkan, mental anak itu mulai bermasalah, dan Biru menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang dilakukannya kepada Awan.
"Terima kasih Dok."
Dokter itu menunggalkan Biru setelah tersenyum ramah.
"Lo masih punya gue, Awan. Dan gue cuma punya lo sekarang. Lo keluarga satu-satunya yang gue punya. Maaf, maaf untuk semuanya," gumam Biru. Mungkin, jika Biru mengucapkan itu semua kepada Awan- anak itu pasti sangat senang. Entah sesenang apa Awan bisa diakui sebagai keluarga oleh Biru.
Biru tersenyum lega ketika kelopak mata itu perlahan terbuka. Hingga hadirnya ditangkap oleh Awan yang menatapnya sendu. "Ma-maaf. Gue.."
"Nggak perlu bilang apa-apa! Sekali lagi lo lakuin ini, gue nggak bakal anggap lo sebagai adik gue!," potong Biru.
Detik selanjutnya, bibir Biru terangkat membentuk senyuman. Lantas meraih puncak kepala Awan untuk ia usap.
"Adik gue udah segede ini ya," ujar Biru dengan senyum manisnya yang membuat Awan mengerjapkan mata berulangkali. Apa yang dia lihat ini benar-benar Biru?
"Coba ulangi Ru."
"Nggak ada pengulangan! Oh ya, jangan lagi panggil gue Biru, Ru- gue ini Abang lo," sahut Biru.
Awan perlahan tersenyum dengan mata berkaca kaca. Jika semua ini bukan mimpi, tolong jangan pernah rubah sikap Biru.
"Lo, anggap gue sebagai adik?."
"Bukan! Lo musuh gue!."
Mulut Awan lantas mengerucut. Baru saja dia berharap lebih kepada Sang Biru yang tak pernah serius dengannya.
"Kalau bukan adik gue lo siapa?," lanjut Biru diakhiri senyum tulus yang selama ini tidak pernah Awan lihat.
Hingga air mata Awan mengalir dari sudut matanya. Kali ini, Awan benar-benar bisa melihat senyum dan tatapan tulus Biru.
"Jangan pergi kemana pun itu tanpa seijin gue, Awan."
"Termasuk, jemput Ayah sama Bunda?."
Tatapan tajam dari Biru sudah bisa Awan artikan. Apa harus seperti ini dulu baru Biru menyadari semuanya?
Karena pada kenyataannya, Biru itu ada untuk Awan. Dan, hadirnya Awan itu untuk melengkapi Sang Biru. Awan sang Biru yang sampai kapanpun akan saling melengkapi. Menyembuhkan luka satu sama lain.
"Makasih Bang."
"Makasih juga udah bertahan selama ini," balas Biru.
♡END♡
Awan Sang Biru menyambut karya pertama yang author pubhlis ditahun baru ini😊
Happy new year 2022🥰
Pengen jadiin mereka sebuah novel yang lebih panjang lagi, tapi masih ada tanggungan story yang masih On Going. Entar deh kalau ada yang mau dijadiin novel author pikir" lagi_
LIKE & KOMEN👍
Tertanda
Naoki Miki