Kita tidak tahu kapan akan senang atau sedih namun yang pasti itu adalah takdir Tuhan yang menjalani. Hingga suatu tiba takdir itu datang entah aku harus merasa bahagia atau tidak hadirmu bagaikan variabel matematika x dan y jika bertemu akan menjadi sudut.
Sudut tempat aku termenung memikirkan segala hal apapun yang terlihat namun tiba-tiba kamu muncul dan menyapa, "Apa kabar," Setelah itu duduk di depan kursi tempat tunggu antrian rumah sakit.
Aku yang akrab denganmu dahulu dan selalu detil mengetahui seluk-beluk tingkah laku sekarang tidak lagi sama. Dari caramu memandangku, dari caramu berbicara padaku seakan-akan canggung tak pernah ketemu sebelumnya.
Apa yang terjadi padamu itu begitu asing bagiku bagai x dan y terpisah lalu terhubung menjadi xy namun sekarang terpisah kembali.
Aku tahu kita tidak terikat oleh konjungsi apapun namun kenangankan selalu ada yang membuatku lupa dikala aktivitas berat melanda.
Pertanyaan terus menerus berusaha mencari jawabnya "Kemana kamu pergi setelah semuanha terukir? Dan tiba-tiba saja datang tanpa di undang bagai jelangkung,"
Tawa dan senyummu begitu lebar tak seperti dulu kamu telah bangkit dari masa lalu yang tidak ingin membuat hidupmu merasa sulit. Sedangkan aku selalu termenung memikirkan segala hal yang rumit seperti sekarang ini.
Apakah kehadiranmu ini berkat Tuhan? Akankah x dan y kembali bersatu? Atau hanya sekedar menyatukan saja untuk menyelesaikan soal matematika dan pergi begitu saja setelah tahu hasilnya?
Aku hanya berharap xy bersatu menjadi sudut tetapi dengan nol derajat.
***