Bunga mesiu bermekaran di balik dinding kaca apartemen. Kulirik jam digital di samping tempat tidur. Pukul 10 malam lebih sedikit. Hari ini hari terakhir 2021.
Seharusnya aku mulai bersiap. Namun tubuhku melekat di tempat tidur. Musik merambat dari sudut ruang. Aku tidak tahu judulnya, tetapi liriknya membuatku mengenang sebentuk paras.
Senyumnya menyeretku ke musim semi, meski saat aku bersamanya masih Desember. Matanya menenggelamkanku, meski ia membawaku ke tempat tinggi.
Dia bukan cinta sejatiku, tapi kehilangannya mampu membuatku menguntai tanya. Di mana ia sekarang?
Dulu ia meninggalkanku dengan air mata. Amarah membakar diriku. Padahal aku hanya melihat seorang pria membawakan anggur paling mahal. Sebagai pria yang seharusnya merasa beruntung, aku malah mengusir satu-satunya wanita yang mampu menghangatkan malam kelamku.
Mungkin kini ia berada di sebuah taman, dengan bunga-bunga yang cantik. Bercengkerama penuh tawa dengan orang lain. Aku merindukannya, meski ia bukan cinta sejatiku.
Sekonyong-konyong, pintu apartemen terbuka. Langkah ringan bergema memenuhi lorong. Pintu kamarku dikuak. Menampilkan senyum matahari dari si pirang asal selatan.
"Kau belum bersiap juga, Pria Tua?"
Cekatan tangannya meraih kursi roda. "Ayo, kubantu. Jangan melamun saja! Kau harus bangkit! Ingat, hari ini sangat berharga."
Ia membantuku bangkit, menyambar mantel di kursi. Tanpa mengurangi kelembutan, ia memakaikannya di tubuhku.
"Kita akan berpesta. Kau ingat? Pihak panti bahkan mengundang semua anggota keluarga. Akan ada musik dan tari," ia berkata penuh semangat.
Tubuhku dituntun dan didudukkan di kursi roda. Selimut flanel dibentang di pangkuan. Menurutnya, aku cukup tampan untuk pesta kali ini.
Sambil bersenandung ia mendorong kursi rodaku keluar kamar. Beberapa menit kemudian, kami memasuki aula. Semarak balon dan pita memenuhi ruang. Beberapa orang meniup terompet penuh semangat. Mungkin dikiranya semua penghuni tidak terganggu karena tak dapat mendengar. Padahal telingaku masih baik, hingga ingin sekali aku merobek bibir mereka.
Si pirang dari selatan membawaku ke salah satu meja dan meninggalkanku di sana. Seperti yang sudah kuduga, tak ada anggota keluarga. Juga tak ada yang mau repot mengajakku bergabung.
Perlahan kuputar kursi roda. Hampir saja menabrak seorang pemuda. Salah, dia yang hampir menabrakku. Tanpa minta maaf, ia menepuk bahuku sambil tersenyum dan berlalu. Dia pikir aku tuli? Dan tak pantas dihargai?
Aku menggulirkan kursi rodaku keluar ruangan. Melintasi koridor dengan dinding kaca yang masih memamerkan warna warni bunga mesiu. Dentuman silih berganti menusuk telinga.
Aku bergulir terus ke bagian belakang bangunan. Berbelok ke sebuah ruang. Tak seorang pun di sana. Semua sibuk berpesta.
Dus-dus berjajar di bawah jendela. Pasti bagian ini disimpan untuk momen puncak. Sudut bibirku naik.
Manusia memang aneh. Ada kala mereka tak ingin waktu berlari. Namun seringkali mereka tak sabar waktu berlalu.
Perlahan kukeluarkan sebuah kotak mungil dari saku. Kupantik hingga menyala dan melemparkannya ke dalam dus. Beberapa saat hanya ada bunyi mendesis. Kemudian keriuhan dimulai.
Aku tersenyum lebar. Ledakan menutup semua indera, dan menyisakan gelap. Serpihan abu melayang seperti konfeti hitam. Selamat tahun baru, aku menyukaimu bunga mesiu! ***