Bagian 1
Kamar tidur
Sinar matahari menyoroti kamar Febi yang terlihat rapi meskipun tidak begitu besar tapi Febi sangat nyaman dengan kamarnya yang bernuansa hijau mint, dekorasi tempat tidurnya dipadukan dengan warna biru langit serta banyak foto-foto idol group yang Febi sukai. Febi selalu bangun pukul 06.00 pagi dan bersiap untuk bekerja di cafe, dia harus bekerja keras karena keluarganya bukan orang yang berada seperti teman-teman kampus.
sebelum lanjut cerita, aku akan kenalkan tokohnya dulu ya ???
Namaku Febi Amalia Putri, aku seorang mahasiswi semester 6 dan aku juga bekerja di sebuah cafe sahabat baikku. Ditempatku bekerja aku bagian kasir karena aku kuliah di jurusan ekonomi jadi sedikit tau tentang keuangan dan kadang juga aku disuruh untuk bernyanyi beberapa lagu itu juga kalau penyanyinya tidak bisa hadir. Savira Kartikawati nama sahabat baikku yang mempunyai cafe itu.
"Fe, kau tak mau jadi artis atau penyanyi? suaramu itu lho bagus banget !!!" kata sahabatku ini.
"Pengen banget Ra, tapi kau tau kan? aku ini tulang punggung keluarga, ayahku tak bisa kerja lagi dan ibuku tak bisa kerja karena harus merawat ayah dan kamu tau aku sedang kuliah, tambah lagi aku punya 2 adik yang masih sekolah !!" kataku dengan jelas.
"Tapi kau punya bakat !!!, sayang sekali kalau kau tak di asah bakatmu itu !!" ucapnya yang ingin meyakinkanku.
"Mau gimana lagi untuk jadi idol juga butuh uang tak hanya bakat saja Ra !!!" kataku.
"Kau ini tak percaya diri ya?tak semuanya untuk menjadi idol harus dengan modal saja !!! keluhannya padaku karena aku selalu membawa pembicaraan dengan kata uang. Febi membuang nafas kasar karena sahabatnya selalu mengeluh tentangnya.
Cafe Lovely girl
Saat Fe dan Vira sedang berbincang-bincang lonceng yang dipasang dipintu berbunyi tanda ada orang yang masuk dengan sigap meraka berdua yang asik berbincang langsung melihat kearah pintu dan menundukkan sambil mengucapkan. " Selamat datang di cafe Lovely girl " ucapan Fe dan Vira bersamaan.
Begitu kagetnya loncengnya tak berhenti berbunyi berarti tamu yang datang banyak dong. Saat mengangkat kepala mereka berdua begitu kaget soalnya yang datang begitu banyak laki-laki dan tak ada sedikitpun seorang wanita. Aku dan Vira saling menatap satu sama lain, dalam hatiku berkata " Apa yang terjadi ?" tanyaku sambil mengedipkan mata kearah Vira, "Mudah-mudahan dia mengerti kode dariku" kataku dalam hati.
"Matamu kenapa Fe?" tanyanya dengan polos, yang membuat aku malu juga karena salah satu dari pria itu ada dihadapan kami berdua. Aku sedikit malu dan kesal kepada Vira karena tak mengerti maksudku. Dan aku langsung menyapa pria itu untuk menghilangkan rasa maluku. "Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil tersenyum lebar dan Vira juga ikutan tersenyum tapi tak ada jawaban dari pria itu malah dia membuka kacamatanya.
" Ya kak, saya mau pesan dan boleh minta menunya? tanya pria itu sambil tersenyum lebar dan melihatkan lesung pipinya.
"Baiklah" jawaban Febi sambil tersenyum, saat ingin mengambil menu tak disangka sahabatnya itu sudah mengambilnya.
"Ini menunya kak !!" ucapnya sambil senyam-senyum centil sambil terus menatap laki-laki itu dan aku menyenggolnya agar bersikap seperti biasa.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Ih, Fe kamu tuh gak ngerti kalau ada cowo tampan kayak gitu (sambil menunjuk dengan mulut yang monyong) !" ucapnya.
Aku mencubit mulutnya Vira dan sedikit tertawa pelan karena Vira sangat lucu dengan ekspresi wajahnya.
" Kamu kenapa sih Fe ? sakit tau !!" ucapnya dengan nada marah.
Aku hanya tertawa dan menyuruhnya untuk melayani mereka, tapi dia hanya ingin dikasir saja.
"Sana layanin mereka ! " kataku.
"Kamu aja, aku disini aja" jawabnya dengan cengengesan.
"Bukannya kau menganggumi pria tadi?" tanyaku meyakinkan Vira.
"Ya sih, tapi nanti aku pingsan gimana?"tanyanya padaku.
"Mereka pasti menggendongmu !!" jawabku dengan singkat.
"Tapi aku bakalan malu, masa cuman liat orang tampan langsung pingsan !! lebaykan?" katanya.
Aku hanya tertawa dan langsung membawa buku kecil.
"Selamat siang kak, ada bisa saya bantu untuk pesanan?" tanyaku dengan sedikit senyum.
Tak ada jawaban dari 5 orang laki-laki itu hanya sibuk dengan handphonenya masing-masing, dan entah seperti apa mukanya sih karena mereka masih menutupi dengan masker dan kacamata.
5 menit kemudian
Saat aku ingin pergi kembali ke kasir laki-laki yang tadi mengambil menu memanggilku.
"Tunggu, kak ! " panggilnya kepadaku.
Akupun dengan refleks menoleh " ya?" jawabku dan kembali menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu kak?" tanyaku saat tepat didepannya.
" Kami semua mau pesan minuman ini dulu " sambil menunjuk gambarnya tanpa menyebutkan.
" Untuk 8 orang ya!!!" ucapnya dengan jelas.
"Baiklah tunggu sebentar ya kak !!" ucapku dengan sedikit tersenyum.
Aku menyuruh Vira untuk membuatkan pesanan mereka dan sedikit berbincang pelan dengan Vira.
"Ra, aneh sekali Meraka !!" ucapku dengan nada pelan.
" Memangnya kenapa?" tanya Vira yang penasaran maksud ucapanku tadi.
" Tadi saat aku bertanya, tak ada pun yang jawab dan aneh mereka adik memainkan ponselnya !!!" ceritaku pada Vira dan sedikit melirik takut mereka mendengarnya tapi sungguh kesalnya pada Vira yang buat dia hanya biasa saja seperti itu.
"Ya elah, Fe itu biasa saja kali orang ganteng mah bebas tau !!!" ucapnya dengan santainya.
"Ini 8 gelas minuman sudah siap, sana antarkan lagi !!" titahnya kepadaku.
"Kau ini !!" jawabku sambil cemberut dan membawa nampan yang berisi 8 gelas.
"Permisi ini pesanannya!!" ucapku sambil tersenyum.
"Terima kasih" jawaban ucapan laki-laki tadi.
"Oh ya kak, bisakah cafe ini ditutup?" tanyanya padaku.
"Maaf kak, ini masih belum jadwal Kami tutup !!" jawabku dengan sopan.
"Maksudku, aku akan pesan satu hari ini dicafe tapi tanpa ada pelanggan siapapun disini bisakah? " tanyanya padaku.
"Aku akan tanya dulu pada bosku !!" jawabku.
"Baiklah, jika bosmu tak mengijinkan biar aku yang berbicara" ucapnya. Aku hanya mengangguk tanda setuju, sebenarnya tak perlu bicara pasti Vira menyetujui apa permintaannya. Aku langsung menuju kasir dan menarik Vira kedapur membicarakan semuanya pada Vira dan feelingku benar Vira menyetujuinya, aku berjalan menuju pintu untuk membalikkan pintu tanda tutup dan menguncinya serta menarik tirai agar orang tau bahwa tokonya sudah tutup. Setelah itu aku langsung menuju ke arah laki-laki itu dan mengatakan bahwa bosku menyetujuinya serta aku sudah menutup toko ini. Aku mendengar dari salah satu mereka mengatakan "Akhirnya bisa buka masker dan kacamata sungguh pengap sekali".
Aku menatap ke arah laki-laki itu karena penasaran sekali dengan mereka.
Bersambung
Jangan lupa like dan comment