Sejak kecil, kita diajari untuk tidak berbohong. Dan menguping. Hari ini, aku melanggar semuanya.
Tadi pagi, salah satu redaktur meminta bantuan. Seharusnya kutolak. Pekerjaanku sudah cukup banyak. Aku harus menyelesaikan satu berita untuk halaman depan, dua berita untuk rubrik ekonomi, dan satu depth reporting halaman kriminal. Aku tak punya waktu untuk menulis press release peluncuran produk ban mobil. Lagipula, aku ada kencan pulang kerja nanti.
Namun aku sungkan mengatakan 'tidak' kepada mbak redaktur itu. Statusku baru reporter magang. Masa iya, aku berani menolak pekerjaan hanya karena ada kencan?
Menjadi reporter ternama adalah impianku sejak kanak-kanak. Apalagi perusahaan media tempatku magang ini tergolong papan atas. Jadi aku berbohong. Kusampingkan pacar, dan kuterima pekerjaan tambahan yang membuatku harus lembur.
Pukul tujuh malam. Selesai mengetik dan menyimpan file dengan nama 'Press Release PT Roda Berputar', aku meninggalkan kantor redaksi.
Ketika melewati sebuah ruangan, mendadak kudengar suara ganjil. Kuhentikan langkah untuk menyimak. Suara itu datang dari ruang pimpinan perusahaan. Seharusnya kuabaikan. Namun aku malah berjingkat ke pintu ganda yang sedikit terbuka.
Dari celah pintu aku melihat lelaki itu mencium bibir salah seorang staf marketing. Aku menarik napas, terkesiap.
"Siapa?" seru lelaki itu.
Seharusnya aku lari saja. Namun kakiku terpaku. Tatapan lelaki 40 tahun itu menusuk mataku. Mendadak pikiranku kosong.
Aku ingat namanya tercetak di halaman surat kabar. Aku ingat namanya di lining text televisi. Aku juga ingat wajahnya tersenyum pada kamera.
Namanya berada di jajaran lima besar orang terkaya negeri ini, tiga puluh besar se-Asia Tenggara, dan lima ratus besar se-dunia.
Namanya juga menjadi topik panas bincang perempuan, tentang hubungannya dengan para pemilik raga super molek. Aku bertaruh namanya mengguncang mimpi basah para gadis penyuka kisah bertema CEO.
Kini, sang pemilik nama sedang menatapku dari balik pintu melalui celah yang terkuak. Mengajukan satu pertanyaan yang tak mampu kujawab.
Tentu saja aku ingat ibu memanggilku saat sarapan, makan malam, atau saat aku harus mengerjakan PR di masa kecil yang bandel. Aku juga ingat nama panggilan yang hanya satu suku kata, tapi membuatku mampu menghadapi hari terburuk bagai Hercules.
Aku bahkan ingat cowok yang kutaksir semasa kuliah. Setiap hari dia menjadi alasanku datang ke kampus. Selama tiga tahun, aku hanya menatapnya dari jauh. Diam-diam berharap suatu hari lelaki bermata jenaka itu menyebut namaku.
Saat wisuda, lelaki itu menghampiri dan namaku meluncur manis dari bibirnya! Ia mengucap selamat atas nilai sempurna dan pidatoku yang inspiratif. Senyumnya membuat semua materi kuliah Reportase Dasar semester pertama lenyap dari laci memori.
Kini, aku bahkan melupakan satu hal sederhana yang kubawa seumur hidup. Sesuatu yang menempel sejak hari-hari pertama di dunia. Tercetak di akta dan kartu identitas. Aku lupa namaku, karena mata pemimpin perusahaan tampan itu tertuju padaku. Membuatku terperangkap, seperti seekor serangga di sarang laba-laba.
Staf marketing cantik itu masih menahan napas di pelukannya. Tak mampu berpaling. Aku bisa membayangkan gosip menyembur bagai erupsi gunung berapi. Dia bisa saja merancang rencana berikutnya, untuk menjebak sang pimpinan dan membuatnya menderita seumur hidup. Aku kasihan pada lelaki itu. Juga pada gadis itu. Namun sebelumnya, aku harus memikirkan diri sendiri.
Hilang sudah jalan kesuksesan yang baru kubangun. Kini aku menyesal telah mengacuhkan nasihat ibuku yang paling berharga, jangan ikut campur urusan orang lain. Sebab ternyata, taruhannya adalah masa depanku sendiri.
***