Sejak kapan perasaan ini muncul? Tuhan, Julian mencintainya, namun tak dapat Julian ungkap.
Lelaki tampan yang menjadi teman Julian sejak 2 tahun lalu, dia tahu, suka duka di dalam hidup. Mereka bercanda, mereka tertawa, dan tanpa sadar perasaan itu muncul.
Julian tak boleh mencintai temannya, Aiden. Karena Aiden telah menyukai gadis lain, gadis itu bukan Julian.
Di sini ia berpura-pura mendukung perasaan temannya, ibarat mengorbankan perasaan diri sendiri.
Seperti orang gila cinta.
"Kamu tahu, tadi aku ketemu sama Tilly!" Ujar Aiden, wajahnya tenang, namun terdengar suara menggebu-gebu dari ucapannya.
Julian tersenyum. "Kau sudah meminta nomor gadis itu?"
Gadis yang disukai Aiden adalah Tilly, dia murid baru di Sekolah. Jujur saja, gadis itu memang sangat cantik dan memiliki pesonanya sendiri.
"Ah, Julian, bisa kau bantu aku?" Aiden memegang kedua tangan temannya.
Julian terkejut dengan sikap Aiden, pipinya memerah. "Y-ya?"
"Beri aku sebuah rencana agar bisa bertemu dengan Tilly berdua! Tak lupa, dengan suasana yang cocok untuk mengungkap perasaan!"
Hembusan merah di pipi Julian menghilang, begitu juga dengan senyumannya. "Itu ..."
"Aku tahu, kau pintar membuat rencana!"
"Em, begini saja,"
Lagi-lagi, Julian menjelaskan rencananya demi Aiden.
Saat bel pulang, seperti rencana dari Julian, Aiden mengajak Tilly pergi berbicara berdua. Lelaki itu berjalan ke kelas Tilly untuk mengajaknya.
Namun, ada suara lain dari sana.
"Aku menyukaimu, Tilly." Ucap seorang lelaki lain dari dalam kelas.
"Aku—menyukaimu juga." Dan balasan itu, suara Tilly.
Aiden terperanjat, langkahnya mundur beberapa kali.
"Aku akan selalu mencintaimu, Tilly. Jadilah pacarku!"
"...Iya, aku menjadi pacarmu sekarang."
Tak sanggup lagi mendengar, Aiden berlari pergi dengan perasaan buruk. Ia marah, tetapi semakin kesal karena sadar tak berhak marah.
Di tengah koridor, lelaki itu melihat temannya, teman yang selalu ada, Julian. Gadis itu menelangkupkan wajahnya di atas kursi.
"Ah, Aiden?" Julian menyapanya dahulu, kedua alis gadis itu menyatu bingung. "Kenapa masih di sini?"
"...Tilly, dia baru saja menjadi pacar lelaki lain."
"A-apa?!"
Julian ikut sedih, tetapi dia juga merasa lega karena Aiden yang tak memiliki kesempatan pada Tilly. Egois sekali, ya?
"SIALAN!" Aiden melempar tinjunya ke tembok. "Aku kesal!"
"Aiden, tidak apa-"
"Tidak apa bagaimana, Julian? Aku merasa Tuhan begitu tak adil! Apakah tak ada seorang pun yang mencintaiku.."
Aiden seorang yatim piatu, dia hidup sendiri sehingga sedikit sensitif tentang kasih sayang.
"Ada."
"Apa?"
"Ada seorang yang mencintaimu, dari dua tahun lalu, hingga sekarang." Julian tiba-tiba memiliki keberanian untuk mengungkap perasaan.
"...Siapa?"
"Aku."
***
Sudah berapa hari semenjak hari dimana Julian mengungkapkan perasaanya?
3 Hari.
Kini, Aiden lagi-lagi tak masuk Sekolah. Apa karena confess-nya? Dia harus menjenguk lelaki itu, tetapi tak memiliki keberanian.
"Tidak bisa begini, Julian. Kau sudah memiliki keberanian untuk mengungkap perasaan, sekarang, ayo lakukan hal yang sama untuk menjenguknya."
Julian berjalan menuju Rumah Aiden, dia mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban, Julian sedikit berteriak. "Aiden, ini aku, Julian!"
Tak menunggu lama, pintu terbuka. Disambut ia dengan seorang lelaki yang matanya lembab, hidungnya memerah dan jelas itu karena sakit.
"Aiden, k-kau sakit?"
Bruk.
Tiba-tiba saja Aiden mendekap tubuhnya, Julian kaku, wajahnya semerah tomat. "Aiden?!"
"Kukira kau marah sehingga tak menjengukku 3 hari ini, aku sangat takut.."
"..Maaf,"
"Seharusnya aku yang meminta maaf, uh, dan perihal ungkapan perasaanmu.. "
Julian menggeleng cepat, "Lupakan saja itu!"
"Kenapa?" Aiden bertanya. "Kita akan terus menjadi teman, dan aku akan berusaha mencintaimu."
"K-kenapa kau memaksa perasaan seperti itu, Aiden?"
"Karena aku tahu kau yang selama ini selalu ada di sisiku. Kini, aku juga ingin mencintaimu, Julian."
"Kita akan menjadi teman, dengan aku yang mencari perasaan untukmu. Sehingga, kita dapat menjalin hubungan yang lebih serius." Lanjut Aiden.
"Aku janji, aku akan mencintaimu, Julian."