Sungguh bahagia masa remaja ku, tidak ku sangka sekian lama ku pendam rasa, ternyata rasa ku terbalaskan. Rasa pada sahabat yang berubah menjadi cinta, bangku SMA, putih abu.
"Kata-kata yang tak terkatakan." batin ku amat bahagia, menikmati pemandangan dengan sang pacar yang tidak pernah terbayangkan akan ku lalui hari ini.
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Satria yang masih dengan setia menggendong ku di punggungnya.
"Ini masih seperti mimpi bagi ku." ujar ku yang melingkarkan kedua tangan di lehernya.
"Mimpi yang mana?"
"Kita sepasang kekasih yang di mabuk cinta." ucap ku.
"Kau saja yang di mabuk cinta, aku engga!" seru Satria meledek ku.
"Enak aja." ucap ku sambil menutup mata kanannya dengan telapak tangan kanan ku.
"Sudah berapa lama kau memendam rasa pada ku, Satria?" tanya ku yang penasaran.
"Sejak kita memutuskan untuk menjadi sahabat."
"Waaah, itu kan SMA, putih abu"
"Saat masih MOS, aku sudah memperhatikan mu.. tapi sayangnya diri mu terlalu cuwek dan mengabaikan keberadaan ku saat itu.
"Maaf, kala itu masih terlalu asing untuk ku.. teman baru, lingkungan baru, tidak ada 1 orang pun teman yang aku kenal.. semuanya asing."
"Sejak kapan kau menyukai ku?" tanya Satria balik, menanyakan persaan yang ada dalam diri ku.
"Sejak kelas 2, kau selalu ada untuk ku.. di saat aku tidak mampu menyelesaikan tugas dari bu guru.. kau hadir memberi penjelasan yang mampu aku mengerti."
"Hanya karena itu?"
"Entah, lah."