Hari ini aku membawa adik berlibur ke sebuah danau.
Danau yang indah, hijau oleh pepohonan, angin bertiup sepoi membuat siapapun akan terbuai.
"Dik, sebelum berangkat mengelilingi danau, kita makan dulu, yuk, " ajakku pada adik yang tampak tersenyum menikmati udara yang segar.
"Tidak usah kak, aku masih kenyang, " tolak adik menolehkan wajahnya padaku.
"Dik, perjalanan kita akan lama, danau ini besar sekali, " bujuk ku lagi.
"Apa uang kakak cukup? "
Hatiku tercekat mendengar pertanyaan adik perempuan ku ini, mataku mulai hangat, namun sebisa mungkin aku menahan agar tangisku tidak terurai.
"Kakak kan sudah bekerja dik, tentu uang kakak cukup, " bujuk ku lagi.
Aku menarik tangan adik perlahan, menuju restoran yang menyiapkan makanan yang serba lezat.
Namun, lagi-lagi adik menahan tanganku.
"Jangan Kak, nanti kakak malu. "
Aku menatap adikku, memeluknya dan mencium pipinya, memberi waktu pada diriku untuk meredakan isak.
"Kalau kakak malu, kita tidak akan berada di sini sekarang, ayo, nanti kita terlambat, " aku tersenyum pada adik, walau aku tau ia tidak bisa melihatnya.
Danau ini tempat yang sangat ingin dikunjungi oleh adikku dari dahulu, tetapi karena bapak dan ibu tidak punya uang, keinginan adik tidak bisa terpenuhi.
Ketika aku menamatkan sekolah ku, bekerja adalah tujuan utama ku. Ingin bisa kuliah, karena pesan kakek sebelum meninggal, ingin melihat cucu pertama nya ini menjadi sarjana.
Namun, aku kembali harus menyimpan keinginan ku itu, sekolah adik harus selesai, biaya sekolah adik menjadi tanggung jawabku.
Tangisku tak kunjung mereda, berhari-hari pulang tetapi, aku tidak mau menemui adik, hatiku benar-benar hancur, adik mengalami kebutaan di saat usianya masih belia.
Aku tidak mau menyesal lagi, aku bawa adik ketempat yang ia impikan, sekalipun ia tak bisa melihat lagi.
"Kak, apa tempat ini indah? " tanya adikku di tengah danau.
"Sangat indah dik, di sana penuh pepohonan yang hijau, " aku mangambil tangan adik mengarahkan telunjuknya ke arah bukit yang hijau.
Adik tersenyum bahagia, dan akupun ikut tersenyum.
Asalkan kau bahagia dik, kakak siap menjadi apa saja.
Tamat.