Rasanya itu berat untuk ku melepas Ara jauh dari pantauan ku meskipun hanya dalam hitungan jam.. namun apa boleh buat, aku pun tidak boleh egois, akhirnya aku izin kan Ara berlibur ke Bogor hanya untuk berenang bersama dengan kaka ipar ku.
Waktu itu pagi hari.
"Mama, dede mau ikut renang sama bunda.. boleh kan?" tanya Ara sambil bergelayut manja.
"Emang dede di ajak?" tanya ku balik.
"Di ajak, dede di suruh tanya mama, boleh ya mah?"
"Dede di rumah aja yah, kan ada mama.. kalo dede ikut, nanti sama siapa di sana? Abang kanada bunda." bujukan ku agar Ara tidak ikut.
"Kan ada bunda, ada ayah abang juga mah."
"Dede nangis gak? nanti rewel, udah dede sama mama aja."
"Dede gak nangis mah, gak rewel juga.. boleh ya mah?" ku perhatikan mata Ara yang mulai menggenang seperti ingin menangis.
"Ya udah boleh ikut, tapi janji... anak mama gak boleh nangis, gak boleh rewel, gak boleh nakal." ucqp ku sambil menggendong Ara dan menowel dagunya.
"Iya janji mah."
Akhirnya aku menyiapkan baju ganti Ara dan juga handuk, sedangakan dari rumah sudah aku pakaikan Ara dengan baju renang pemberian adik ku.
"Ka, titip Ara.." ucap ku pada ka Sani saat dalam mobil.
"Iya tenang bae." ucap ka Sani yang duduk di tengah bersama dengan Ara.
Mereka ke Bogor untuk berenang entah apa nama tempatnya, dengan menggunakan jasa gocar Ara ikut bersama dengan ka Sani, suaminya dan juga putra mereka Arsya, belum lagi ada kaka ipar ku yang lain ka Santi dan juga putranya Rafa.
Selang beberapa jam, aku mendapat kiriman foto, Ara yang sedang berenang sambil mengenakan kacamata renang dengan posisi rebahan di air, "Lucunya tingkah mu, nak." gumam ku.
Ara, Arsya dan Rafa berenang di kolam yang sama, mereka terlihat kompak kala akur tapi udah kaya kucing dan tikus kalo lagi marahan, ada aja yang membuat mereka bertengkar tapi nanti akur lagi, namanya juga anak keci gak kauh beda dengan orang dewsa cuma beda masalahnya.
Asalkan kau bahagia, meski aku tahu ada kalanya raut wajah sedih di kiriman foto yang berikutnya, saat sedang makan setelah lelah berenang, Ara sudah di ganti kan bajunya oleh kaka ipar ku Santi, terlihat jelas raut kesedihan di wajah Ara.
Saat pulang dari renang, aku membombardir Ara dengan beberapa pertanyaan, bagi ku cukup menohok dan perih, gimana gak perih.
Saat aku bertanya soal foto dengan raut wajah sedih Ara, "Dede kenapa? ini dede mau namgis ya?" tanya ku sambil memperlihatkan fotonya pada Ara.
"Dede sedih, abag Arsya sama abang Rafa pada maen hp, dede gak.. mama sih dede gak bawa hp." jawab Ara dengan polosnya.
Deg
Kagetnya aku, sedih tapi pengen ketawa, jauh dari ekspetasi ku untuk jawaban Ara.
"Tapi dede seneng gak? bisa ikut renang sama bunda?"
"Seneng lah mah, dede berenang, di beliin kacamata renang juga mah." ujar Ara dengan senyum mengembang sambil memeluk ku, mungkin kangen pada hal cuma dalam hitungan jam kami berpisah.
"Nanti mau ikut bunda lagi gak?"
"Mau, boleh kan mah?" tanya Ara.
"Boleh, asalkan kau bahagia.. asal gak nangis aja.. dede kan kalo udah nangis, diemnya lama." ledek ku.