Bagaimana jika dunia di penuhi oleh hal fantasi? Seperti singa bersayap, sungai dengan harum coklat, jembatan dari pelangi, istana megah nan indah menunggu mu, unicorn dan lainnya. Terlihat kekanakan bukan? Namun bagaimana jika ke inginan ini terwujud?
.
.
.
Seorang gadis kecil sedang membaca buku favorit nya. Ia begitu suka buku dan film fantasi. Membayangkan nya saja sudah membuat gadis itu merinding.
"Haaah bagaimana jika cerita Charlie And The Chocolate Factory benar-benar ada ya? Atau Alice In Wonderland, dimana semua nya menjadi makhluk fantasi yang tak pernah di pikirkan? Akhhh aku benar-benar penasaran"
Gadis itu bersemangat dan langsung lompat ke kasur empuk nya. Berguling-guling tidak jelas. Namun gadis itu tiba-tiba berhenti. Diam membisu dan memikirkan, apakah itu mungkin terjadi? Hanya mimpi belaka untuk sang gadis, ia menjadi sedih.
"Aku ingin sekali masuk ke salah satu film atau buku yang ku suka. Hah apasih Karin, tidak mungkin hal seperti itu ada"
Gadis bernama Karin itu diam sesaat sambil menatap langit-langit. Dan berusaha melupakan mimpi aneh nya itu.
.
.
.
Waktu berlalu, gadis kecil itu sudah tumbuh dewasa. Gadis berusia 17 tahun dengan sifat kekanakan, supel, aktif, dan mudah bergaul. Pada saat sepulang sekolah, Kiran menghampiri teman-teman nya. Seperti pelajar kebanyakan mereka mampir sebentar ke warung dan mengobrol biasa.
"Eh guys nanti ada film drakor terbaru, pemeran cewek nya imut banget. Dan soal pemeran cowok nya beuh mantap cuy" *semangat
"Beneran?"
"Iya, nih aku kasih link nya, bentar"
Kiran dengan wajah bingung hanya bisa memandang ke-dua teman nya itu. Ia tak terlalu paham dengan film drakor dan sebagainya.
"Oh yang itu, boleh juga. Pr nanti lah selesai nonton beberapa eps, wkwkwk"
"Tapi pr nomer satu! Kerjain dulu baru nonton maymunah!"
Ucap Kiran kepada salah satu teman nya itu sambil menjiwit pipi.
"Awww iwa iwa akwu kejain kwok, bwencanda Ran" (Iya iya aku kerjain kok, bercanda Ran)
Kiran melepas jiwitan nya sambil ketawa cenkikikan. Di balas dengan tawaan salah satu teman nya itu.
"Bwahaha mantap Ran hajar lah"
"Hajar hajar, aku bercanda tau. Iss sakit pula jiwitan mu ya Ran"
"Hehehe"
Tak lama Kiran mengecek jam tangan nya. Jam menunjukan pukul 14.25. Dengan cepat Kiran langsung menghabiskan es teh dan membawa tas nya.
"Mau kemana Ran?"
"Iya nih, buru-buru amat"
"Eh sori guys, aku baru ingat hari ini eps baru komik kesukaan ku sudah keluar. Aduh harusnya jam 13.00 tapi lupa, bye guys takut keburu habis nih"
Ucap Kiran yang langsung berlari meninggalkan sahabat nya itu.
"Oh oke, hati-hati! Elah dah kabur aja tu bocah"
Kiran tidak seperti siswi lain nya. Ia tidak terlalu suka dengan drama, namun ia masih saja menyukai hal-hal fantasi sama seperti dulu. Komik menjadi salah satu nya. Setelah mendapatkan buku yang ia maksud, gadis tersebut pulang ke rumah nya.
Memberi salam dan berlari menuju kamar nya. Merebahkan diri ke kasur dan langsung membaca komik yang ia beli. Kiran menghabiskan waktu dengan membaca komik. Sudah beberapa menit berlalu, gadis itu masih asyik melakukan kegiatan nya. Sampai pada bacaan terakhir.
"Seperti biasa eps cerita ini begitu memuaskan"
Ucap Kiran sambil tersenyum. Tak lama mata nya begitu berat. Menguap dan menutup buku. Lama kelamaan Kiran tertidur.
.
.
.
Perasaan hangat dan nyaman. Entah mengapa membuat Kiran merasa tenang. Gadis itu masih menutup mata. Sampai, ada sesuatu yang menyentuh pipi Kiran. Ia terbangun dengan wajah terkejut. Seorang pria tampan ada di hadapan nya. Tinggi dan nampak lebih dewasa dari Kiran.
"Kamu siapa?"
Pria itu mengulurankan tangan nya, berniat untuk membantu Kiran berdiri. Gadis itu meletakan tangan nya dan segera berdiri. Namun ada satu hal yang membuat Kiran heran. Tanah yang ia pijaki entah mengapa terasa empuk. Mencoba memastikan, Kiran melompat. Dan benar saja, tubuhnya memantul seakan bisa terbang ke langit.
"Eh lho? Weh apa ini?Kok..eh" *bingung
Pria itu tertawa melihat wajah Kiran.
"Sudah cukup Nona kecil, masih ada banyak hal yang ada di dunia ini"
"Nona? Ah tidak, daripada itu tolong hentikan aku! Aku tak bisa mendarat daritadi" *panik
Pria tersebut dengan gesit langsung menangkap tangan Kiran. Akhirnya gadis itu bisa menginjak tanah.
"Ini ada apa?Ah aku tau ini hanya mimpi kan?"
Pria itu tertawa, dan langsung menarik tangan Kiran.
"Terserah kamu mau menyebut apa, tapi ikutilah aku dan lihatlah semua ini"
Mereka berdua dengan ajaib terbang ke langit. Kiran yang takut memeluk pria tersebut.
"Hahaha, jangan takut Nona"
"Hiiii diamlah, fobia ku terhadap ketinggian kenapa bisa berpengaruh di mimpi"
Ucap Kiran yang masih menutup mata nya.Pria itu tersenyum kecil.
"Bagaimana jika ini buka mimpi?" *gumam
"Apa?"
Mereka terbang sangat cepat bagaikan angin. Perjalanan masih berlanjut. Pria itu meminta Kiran untuk membuka mata nya. Sempat menolak namun karena bujukan pria itu Kiran membuka matanya. Dari atas terlihat jembatan dari pelangi, makhluk imut bersenang-senang di sana, danau terbuat dari susu coklat, unicorn terbang kesana-kemari dan berbagai fantasi yang pernah Kiran baca. Bahkan ada beberapa kastil putri terlihat dari atas. Putri-putri cantik yang sedang meminum teh. Kiran merasa takjub dengan semua ini.
"Bukannya ini yang Nona impikan?"
"Apa? Aku? Hahaha itu dulu saat ku kecil. Tak kusangka mimpi ini terjadi saat aku sudah dewasa"
Kiran masih terpukau dengan pemandangan di atas. Pria itu hanya tersenyum, mereka mendarat di taman dengan berbagai bunga.
"Bersenang-senang lah"
"Hahaha tidak, ini terlalu kekanakan. Dan mimpi ini...bukan nya ini imajinasi ku saat masih kecil?"
Ucap Kiran sambil tersenyum.
"Tidak apa tidak apa, bersenang-senang lah"
Pria itu mendorong Kiran, secara mengejutkan datang peri-peri kecil juga menarik tangan Kiran. Tubuh mungil mereka membuat Kiran gemas dan tak tega untuk menolak.
Ia mengikuti para peri, bertemu dengan makhluk lainnya dan bermain bersama. Kiran bersenang-senang di dunia ini. Hal fantasi yang ia impikan terlihat di depan mata. Takjub sekaligus tidak percaya. Mimpi yang menyenangkan.
Beberapa jam Kiran sudah berada di dunia ini. Entah mengapa ia merasa ngantuk yang sungguh tidak bisa tertahan kan. Makhluk lainnya hanya tersenyum, sekaligus pria misterius itu. Badan Kiran ambruk, dengan cepat pria itu menangkap nya. Meletakan secara perlahan dan lembut. Senyuman dan perasaan sedih akan perpisahan mereka dengan Kiran. Pria itu memberikan beberapa permen coklat dan menaruh nya di genggaman Kiran.
"Jangan lupa gosok gigi anak kecil, hahaha...dan kami semua tidak akan melupakan mu. Begitu juga dengan ku, aku harap dengan pertemuan singkat ini kamu tidak akan melupakan nya"
Elusan kepala terasa begitu hangat. Kiran tersenyum kecil dalam tidurnya.
.
.
.
KRINGGG!!!!!
"Ah...apasih berisik"
Kiran mengapai jam alarm dan mematikan nya. Walau malas, ia terduduk dengan wajah linglung. Di tangan nya sudah ada coklat ke sukaan Kiran.
"..."
Melihat jam menunjukan pukul 02.00 WIB. Setelah beberapa menit ia sadar apa yang sebenarnya terjadi. Walau gila namun itulah kejadian yang Kiran alami. Terdiam tak tau harus berkata apa. Apa mungkin kejadian ini nyata? Siapa yang repot-repot memberiku coklat selain makhluk di dunia sana? Itulah yang ada di pikiran Kiran.
Tak mau pusing, ia hendak tidak memikirkan nya. Berdiri berniat untuk membasuh muka. Setelah selesai, Kiran kembali ke kamar.
"Walau tak tau aku harus mengatakan apa, namun tak dapat di pungkiri di sana sungguh menyenangkan"
Kiran mengambil bingkai foto yang ada tepat di sebelah alarm nya. Foto dengan gambaran bayi laki-laki mungil. Memandang dengan senyuman, Kiran berkata...
"Kakak, kakak pasti tidak percaya. Kiran tadi mengalami kejadian seru. Bertemu banyak teman dan hewan lucu yang ada di dunia fantasi. Oh ya ada pria yang memanggil ku Nona kecil lho, kan aneh. Hehehe agak kekanakan sih untuk ku yang sudah dewasa ini, namun aku bermain dengan riang sama seperti aku kecil"
Ucap Kiran dengan senyuman dan sedikit wajah rindu.
"Walau Kiran tidak tau bagaimana wajah kakak, namun Kiran percaya jika kakak selalu mendengar cerita Kiran...impian ku selama ini ingin bertemu kakak. Aku tau ini mustahil...eh tapi Kiran ngak sedih kok, kakak di sana jangan khawatir ya hehehe"
Kiran dengan senyuman manis itu, terdapat kesedihan yang tak dapat di jelaskan. Namun entah mengapa saat melihat pria yang ada di mimpi kerinduan nya terobati. Merasakan kehangatan dari seorang kakak. Kiran tertawa kecil.
"Semoga tenang ya kak di dunia sana, Kiran selalu berdoa kok untuk kakak" *tersenyum