[DAY 25]
PANGERAN BUTA
Ada pangeran. Dia buta semenjak lahir. Makanya disebut Pangeran Buta.
Ada raksasa. Juga punya anak. Tapi dia tinggal di hutan. Dengan menguasai gunung .
Anak raksasa jalan-jalan. Menghirup udara gunung, dan melihat-lihat burung yang indah, warna-warni.
Ketemu Pangeran Buta yang tengah sendirian. Dia diajak berburu di hutan oleh para petinggi kerajaan agar mengenal lingkungannya. Walaupun dia tak melihat, tapi kalau alam sekitar dipahami, maka akan mengenal nantinya para kawula, rakyat jelata serta lingkungan yang menjadi kekuasaannya kelak. Itulah yang membuat raja dan pembesar istana mengijinkan sang pangeran untuk jalan-jalan ke hutan. Cuma harus hati-hati selagi dalam hutan itu. Karena banyak bahayanya. Disini para pengawal istana mesti waspada. Tak boleh lengah. Sehingga dari waktu ke waktu, dari saat hingga pergantiannya, selalu ada yang berjaga. Sayang sekali, sebagai manusia ada lelahnya. Sehingga dikala pagi buta, setelah perburuan dan mendapat makanan banyak, sang pangeran terbangun untuk menuju ke kamar mandi. Dia lupa itu bukan istana. Dengan langkahnya yang seperti biasa, dia menuju kamar mandi untuk bersih diri. Hanya sayang langkahnya justru masuk ke dalam hutan. Untuk kembali ke tempat yang belum dia kenali, lupa. Akhirnya dia hanya berjalan sembari meraba-raba. Dan itu bukanlah jalan menuju ke kemah. Tapi jauh masuk dalam hutan. Disinilah bahayanya. Bukan hanya para raksasa yang suka daging, juga binatang dan onak duri dari tumbuhan liar yang penuh racun ganas.
Ditengah kebingungan itu ada anak raksasa yang tengah mencari daging, melihat pangeran buta.
“Siapa kamu?“
“Aku pangeran dari istana.“
“Kenapa di hutan? Sedangkan aku tengah kelaparan dan melihat daging segar kayaknya ini.“
“Aku tak melihat seperti apa yang kau lihat. Namun aku butuh jalan pulang.“
“Baiklah akan aku antar.“
Pangeran Raksasa tidak tega rupanya melihat orang lemah ekonomi begitu berada di hutan yang sepi dan penuh pemakan segala.
“Kau besar sekali, apakah kamu raksasa yang suka manusia.“
“Begitulah, namun kali ini aku tengah mencari buruan lain yang rasanya lebih nikmat. Semacam daging rusa atau banteng. Pelanduk pun boleh lah, cukup membuat kenyang. Kalau manusia aku sedang tidak selera.“
“Wah sayang sekali aku tak bisa memberikan semua itu. Sedangkan aku hanya insan biasa yang punya kekurangan. Mungkin lebh baik kalau kau antar aku ke kemah. Biar aku bisa kembali ke istana untuk makan daging panggang seperti yang kau ceritakan tadi.“
“Baiklah ayo aku antar.“
Merekapun berjalan. Langkah Pangeran Buta tentu saja pelan. Karena jalanan tak dia lihat.
“Anda terlihat lemah pangeran?"
"Mungkin kelaparan dan karena tak melihat."
"Wah aku belum mendapat daging untuk bisa menambah tenaga kita. Tapi Ini ada buah liar yang bisa kita jadikan sebagai pengganjal perut untuk sementara waktu.“
Pangeran dipetikkan buah liar hutan yang sangat banyak. Dengan mudahnya. Karena raksasa itu tinggi.
Dimakan semuanya oleh kedua nya. Ada durian, delima, mangga, juga cempedak. Buah hutan yang liar semuanya. Pangeran buta senang sekali.
“Ayo aku gendong engkau, biar agak cepat jalannya.“
“Baiklah.“
Akhirnya Pangeran Raksasa itu mendukung Pangeran Buta.
“Apakah anda membaui sesuatu?“ tanya Sang Raksasa.
“Kelihatannya aku habis kentut,“ ujar Pangeran Buta diantara rasa malu dan mencoba jujur.
“Wah mestinya jangan sembarangan dong. Disaat anda tengah saya dukung. Atau minta turun dulu kan bisa.“
“Sudah tak keburu. Mungkin karena aku belum makan nasi namun sudah banyak menyantap buah segar tadi.“
“Itu tak membuat keadaan lebih baik. Jika saja saya turunkan paksa anda hingga masuk jurang atau jatuh di selokan alangkah tak menyenangkan bukan? “
“Sepertinya tak usah demikian. Sebab aku tak hendak mengulanginya lagi.“
“Ya sudahlah kalau tak mengulangi lagi.“
Pangeran Buta senang. Bisa bepergian sembari diceritain sama pangeran raksasa.
“Kau lihat pangeran?“
“Apa itu?“
“Lembah luas nan subur dan hijau memanjakan mata.“
“Aku sangat senang kau ceritakan itu secara detail.“
“Itu ada burung Nuri yang warna - warni diatas pohon.“
“Begitukah.“
“Ya.“
“Aku tak mendengarnya.“
“Itu karena dia tengah makan sesuatu.“
“O begitu.“
“Ya.“
“Tapi aku mendengar gemerincik air.“
“Itu hanya sungai yang berkelok-kelok indah Pangeran. Dengan air yang mengucur disela-sela bebatuan.“
Dengan diantar Pangeran Raksasa. Sehingga beberapa saat berikutnya mereka sampai di dekat perkemahan para prajurit.
“Wah dia di culik oleh raksasa ganas. Harus kita bantu,“ ujar panglima kerajaan yang sangat menyayangi pangeran meskipun buta semenjak lahir. Sebab keluarga kerajaan juga merupakan tanggung jawabnya. Dia tak ingin terjadi apa-apa dengan pangeran yang baik hati itu.
Maka belasan anak panah langsung menghujani Pangeran Raksasa.
Sehingga dia hanya bisa mengeluh. Akibat panah-panah itu langsung menancap ke tubuhnya.