Kosakata: Pesta malam, Tidur, Gunung salju.
Pada hari itu Nia dan Banyu mendaki gunung salju yang terkenal ekstrim. Mereka berdua hobi sekali Hiking banyak gunung-gunung telah di lalui hanya berdua saja. Bahkan hampir mendapat julukan pendaki pro.
Nah, karena akan di adakan pelantikan untuk mendapatkan sertifikat pendaki profesional resmi mereka harus menaiki gunung yang bersalju dengan kecuraman 90°.
Nia dan Banyu selalu mengadakan olahraga cukup dan makanan teratur tak luput dari barang bawaan dan baju standar operasional di lakukan.
"Nia, Kira-kira kita bisa bertahan berapa lama untuk sampai ke tempat pos pertama?" Tanya Banyu.
"Kurang lebih sekitar 1 jam, jika cuaca tidak berubah begitu drastis" Jawab Nia dengan menghitung segala kemungkinan dan waktu.
Sungguh kombinasi yang cukup mantap, Orang-orang sependakian pun cukup memuji banyak soal mereka berdua. Banyak yang percaya mereka akan lolos.
Perkiraan cuaca di atas gunung salju ternyata tidak seperti yang dikira Nia. Angin kencang setelah melewati pos pertama membuat dia terjebak.
"Nia, sebaiknya kita berteduh di suatu tempat, kita tidak bisa kembali ke pos pertama jalannya terlalu licin"
"Bagaimana kalau kita diam di dalam sana"
Nia melihat ada sebuah gua kecil yang sangat sempit untuk di tempati berdua namun itu adalah kesempatan pertama baginya untuk lolos dari kekejaman alam.
"Lapor panitia, angin di atas gunung sekitar 50 kilo meter per jam dan akan terus naik. Sebaiknya kita lakukan evakuasi saja. Ganti"
"Baik Pak kepala instruktur. Evakuasi akan segera di laksanakan sekitar 20 menit akan segera berangkat. Ganti"
"Baik"
Orang-orang yang menyaksikan dari bawah banyak sekali melihat kabut asap tebal berwarna putih dan sesekali hujan es batu bergelimang berjatuhan.
"Banyu, sebaiknya kita nyalakan api daruratnya saja menggunakan kompor gas mini"
"Ya akan aku lakukan itu, mungkin bisa sekalian masak sesuatu" Jawabnya dengan penuh semangat agar tidak terlalu berpikir hal negatif.
Hangatnya api dan juga masakan yang instant membuat dia merasa hidup kembali setelah merasakan dinginnya salju yang membuat mereka mulai terserang kantuk.
Kantuk karena dinginnya salju terpaksa mereka harus saling berpelukan dan gas kompor pun mulai menipis habis. Di ambang keputusasaan mereka berdua berjanji.
"Janji, kita akan hidup bebas setelah badai ini berlalu dan menjadi pendaki profesional!"
"Yah.. Tentu jika semua ini berakhir aku ingin kau jadi istriku"
"Senang sekali.. Tetapi sebelum hal itu, kamu harus melamar aku dulu"
"Hahaha.. Ya pastilah"
Tidur yang lelap entah berapa lama mereka bertahan ketika membuka mata ternyata badai telah hilang dan terdapat sebuah acara pesta malam hari di atas gunung yang tinggi ini. Mereka yang kebingungan dengan adanya orang-orang yang ramai dan meriahnya di atas salju gunung seperti sebuah festival musim panas.
"Apa ini? Sungguh meriah apa aku sedang bermimpi?" Tanya Nia.
"Kalau begitu aku juga sama dong" Jawab Banyu dengan fokus memandang festival megah itu.
"Mungkin ini adalah pesta kemenangan kita kan Banyu, mereka repot-repot melakukan hal ini demi kita yang berhasil bertahan hidup"
Sementara mereka sedang menikmati jamuan bersama teman-teman. Tetapi di bawah kaki gunung panita, instruktur, keluarga dan teman-temannya sedang merelakan kepulangan mereka berdua. Karena berita telah di temukan dua kerangka manusia saling berpelukan di dalam gua kecil telah di evakuasi.
***