[GAME] Pilihan Kata: Pesta, Malam, Sihir.
Noriega Sylvia Aerlyn.
Perempuan Manis nan Imut, dengan lesung pipi membuat kadar keimutan-nya bertambah berkali kali lipat.
Di Daratan Piere,
Noriega Adalah seorang Putri Count yang lumayan kaya, Bisa dibilang ia Adalah OKB di Kota Silverqueen.
"Ayah, Apakah Nori boleh, ikut pesta ke kerajaan?" Ia dari seminggu yang lalu terus membujuk sang Ayah agar mengizinkannya ke Istana,
Sekarang umur-nya sudah genap 15 Tahun.
"Tapi, Nori, Ayah hanya menginginkan kamu nyaman, disana kamu hanya akan mendapat bahaya Nak, Bangsawan tidak sebaik yang Nori Pikirkan," Ayahnya-Niger Aerlon, membelai pucuk kepala Putrinya-Nori dengan penuh kasih sayang.
"Tapi ayah aku janji, akan selalu menurut perkataan Ayah." ia mengerucutkan bibirnya, dan menggembungkan pipinya yang kemerah merahan itu membuatnya sangat imut~
"Hah, Baiklah Nori boleh ikut ayah, Tetapi jangan pernah Nori bersentuhan dengan sihir maupun marabahaya janji sama ayah?" Pinta Niger dengan harap harap cemas dengan putrinya.
"Boleh Ayah!
Pinkky Promise!" Pekiknya bahagia dengan keputusan ayahnya, lalu ia menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Niger.
"Pinkky Promise." Niger menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking sang Putri dan menatap lembut putrinya.
"Yaeyy!" Girangnya melompat lompat dan segera berlari menuju kamarnya.
"Semoga keputusan yang ayah ambil tidak salah," Gumamnya dengan nada tak yakin.
SKIP.
MALAM HARI..
Pesta kerajaan Diadakan sangat meriah disebuah kota, Banyak bangsawan yang sekedar berjalan jalan dalam aula pesta, Hidangan pencuci mulut, And Minuman menyegarkan ada hampir di setiap sudut istana.
Ballrom terisi dengan musik lembut, Khas para bangsawan abad pertengahan.
Para Nyonya maupun Putri keluarga terkenal sibuk mondar mandir, Bagi mereka inilah saatnya investasi yang diinginkan, menunjukkan betapa mewah dan glamour-nya penampilan mereka.
Pujian pujian terlontar bagi sebagian orang, saling memuji bahkan mencela, sangat kental di Aula istana, Entahlah apa yang diinginkan Nori disana, yang jelas ia tak seharusnya berada di sana..
"Madam Arendele, Anda sangatlah cantik." Puji Nona muda bangsawan dengan elegantnya.
"Benarkah, anda juga sangat cantik," Dengan kipas mewahnya ia menutupi sebagian wajahnya, penampilannya memang cantik walau sudah tak muda lagi, Ia Adalah Madam Arendele, Atau lebih tepatnya Duchess Arendele Herion.
Bahkan ia mempunyai satu anak tunggal-Rensi Herion.
Perkataan Ayah Nori memang benar, Biasanya bangsawan memuji seseorang karena ia menginginkan sesuatu yang mengharuskannya Menjilat mereka yang lebih Tinggi.
"Ah, Anda bisa saja, Apakah putra anda-Rensi ikut? sebenarnya saya menyukainya Madam, Bolehkah?" Tanyanya dengan pipi semerah tomat, Nona bangsawan itu adalah Yuelyn Magenta- Putri Marquess Magenta.
See? dengan memuji seseorang yang berkaitan dengan seseorang yang ia incar, ia dapat mendapatkannya,
Yuelyn Magenta, Sudah kelihatan belangnya.
"Hoho tentu, siapa yang tak mau dengan Nona yang sangat cantik ini, Saya akan menjodohkan Rensi dengan Nona Yuelyn," Putusnya dengan senyuman merekah.
"Benarkah? Terimakasih Madam," Nada nya terdengar antusias, ada Ambisi besar di mata Violetnya.
RIP
Rensi Herion.
Ibu mu tak bisa memilah menantu yang benar,
So Sadd..
Pilihan ibunya adalah seekor rubah...upss!
BACK TO NIGER AND NORI!
"Ayah, wahh istana ini seperti di putri putri kerajaan yang Nori Lihat di buku cerita," Nori menatap Berbinar Interior And Dekorasi istana.
"Iya, Jangan jauh jauh dari ayah ya," Pinta Niger memelas.
"Oke ayah, Nori juga akan selalu bersama dengan Ayah!" Ia tersenyum lebar menatap ayahnya lembut.
TIBA TIBA!
ARrgghh!
Toolooongg!
Semua orang berteriak ketakutan, mereka memilih menyelamatkan diri masing masing, silahkan bilang mereka egois, memang itu kenyataannya.
Terlihat seorang gadis bersurai Pink dengan Netra berwarna Violet, Ia Lady Yuelyn Magenta, telah di ubah menjadi Bongkahan Es oleh seseorang yang duduk di singgasana Raja.
Sedangkan Madam Arendele Herion, selaku orang yang baru saja berbicara, sekaligus jaraknya dengan Nona Yuelyn sangat dekat, sehingga ia langsung melihatnya diubah menjadi bongkahan Es.
Madam Arendele, hanya bisa berdiri mematung dengan pandangan kosong, tidak ada senyum merekah, ataupun Suara tawanya, ia sepertinya sangat Syok dengan keadaan calon menantunya.
Ia pun menangis histeris dan berjalan mundur, ikut berlari bersama bangsawan lainnya.
Bahkan masih sempat sempatnya menangisi Rubah itu Ck.ck.
DI SISI NORI.
Nori Adalah gadis kecil dengan sifat yang ceria, polos, lugu, menyerempet ke bego.
Dengan surai seputih salju miliknya turunan dari sang ayah, Sekaligus netra biru lautnya dari sang Countess.
Di Netra biru lautnya ia melihat Lady yang di ubah jadi bongkahan Es, bukannya takut atau menyingkir dari sana ia malah berdecak kagum.
Ia Terus menerus menatap Es itu dan orang yang berada di singgasana raja bergantian,
sampai tidak sadar bila netranya yang semula Biru laut, berubah menjadi Netra Merah darah.
Senyum polos nan lugunya berubah menjadi Seringaian menyeramkan,
Bisa dibilang ia seperti Lady kecil yang menyeramkan.
Tubuhnya berubah menjadi tinggi, besar, dan dewasa, Pakaiannya yang semula Kuning cerah yang menggambarkan rasa ceria, berubah menjadi gaun warna hitam, dengan sebuah tongkat salju ditangannya di atas tongkat itu terdapat mawar merah merekah yang sedang mekar.
Nori menatap mawar itu dengan tatapan dalam, Netra merah pekatnya, bertemu dengan mawar semerah darah itu.
Orang orang yang melihatnya bergidik ketakutan.
Sedangkan Ayahnya, Niger Aerlon, membeku di tempat, matanya menatap nanar perubahan putrinya.
Ah, Sepertinya ia mulai menyesali membawa putrinya kemari, Putrinya masih seperti dulu, terpengaruh dengan Sihir, dan penyerap segala element sihir.
"Nor-" Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, ia dikejutkan dengan Nori yang berlari dengan anggun menuju Takhta Raja dengan tubuh dewasanya itu.
Nori dengan sigap, hormat dengan menekuk lututnya, dengan tangan yang ia tempelkan ke bahunya, membuat kesan Menawan melekat pada dirinya.
"Saya, Sylvia Einstein, memberi hormat kepada Ayahanda," Nadanya terkesan tegas dan tanpa ragu ragu sedikitpun, Ia menatap kedepan dengan senyum miring andalannya.
Siapa yang tak tau menahu tentang Sylvia Einstein, namanya bahkan melegenda sampai sekarang ini, hampir seluruh daratan Piere's tau tentang asal usul perempuan menawan tetapi menakutkan itu.
Ia dikenal dengan sebutan Penyihir Ice's seluruh hidupnya ia abdikan untuk memenuhi tugas Ayahandanya, Piere Einstein.
Pasti kalian terkejut bukan?
Piere adalah nama semenanjung benua, atau daratan benua yang mereka pijak sekarang, lantas mengapa?
mengapa nama Ayahandanya dengan seluruh daratan sama?
Singkatnya, Piere Einstein Adalah penyihir handal, dengan putrinya Sylvia, ia mengembara bersama sang putri.
Ia Adalah raja dari segala raja, Bahkan Moon Goddes pun tunduk padanya.
Ia Terluka, karena Jiwa baik nya memilih memisahkan diri dengannya, ia harus membunuh jiwa baik itu sebelum jiwa jahatnya termakan kekejiannya.
"Berdirilah, Putriku." Titahnya mutlak pada sang putri, di matanya ada ambisi besar untuk mengalahkan jiwa baiknya.
"Siapkah, putri ku membunuh jiwa baik ayahmu ini Hmm?" Nadanya terkesan main main dengan senyum tipis untuk putrinya yang berharga, hanya Sylvia-nya, bukan Nori yang tak berguna milik jiwa baiknya itu.
"Siap," Senyumnya merekah membuat Semua orang terpana sesaat.
"Bunuh Dia!" Tegas Piere dengan nada perintah menunjuk ke bagian belakang sang putri, hanya jiwa baiknya yang berdiri di sana mematung melihat keduanya.
Seperti Slow Motion, Sylvia membalikkan tubuhnya ke arah belakang, dan terpampanglah,
[NIGER AERLON]
Niger menatap lurus keduanya dengan netra tajamnya berbanding terbalik saat ia bersama putrinya -Nori.
"Laksanakan," Nori yang dikendalikan Putri jiwa jahat ayahnya bernama Sylvia itu pun bergegas berjalan menuju ayahnya.
Rambut seputih salju yang bertebaran diterpa angin, senyum merekah yang senantiasa menghiasi bibir Cherrynya, tatapan dalamnya memperlihatkan bayangan ayahnya, alias jiwa baiknya, Niger.
Niger hanya tersenyum pasrah saat ini, ia mendongak dengan senyum mirisnya.
Ia tau jiwa jahatnya lebih kuat darinya yang hanya seperempat jiwa baik.
Dulu kala, ia pernah merantai jiwa jahatnya Alias Piere dengan Segel pemusnah, karena itu kekuatannya sudah berkurang.
Kalau tidak?
Sudah dari dulu Niger membunuh Piere, begitupun Piere yang terkena segel pemusnah, sebagian besar kekuatannya juga menghilang.
Bisa dibilang keduanya sama sama dalam kondisi lemah.
Piere menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan Sylvia, ia ingin Sylvia membebaskannya, dan merubah Nori menjadi Sylvia Einstein.
Entahlah, Apakah Piere menyayangi Sylvia tulus ataupun tidak, yang jelas ia terlihat mempermainkan dan memanfaatkan putrinya sendiri.
Bersamaan dengan Sylvia berjalan, tangannya yang terisi tongkat berubah menjadi kepingan Es berwarna biru yang sangat mengkilap.
Berdasarkan intruksi, ia harus menusuk Ayah jiwa baiknya, Niger dengan bongkahan Es itu, tepat di jantungnya,
Dengan begitu Piere akan Terbebas dari Segel penghancur yang Niger tanamkan pada Piere.
Saat mereka sudah berhadapan,
Tiba tiba kilasan memori masalalu dan masa depannya bercampur menjadi satu, bahkan kilasan memori tentang Nori terlihat oleh Memory tajam Sylvia.
Sedikit demi sedikit hatinya yang beku mulai mencair karena melihat saat ia menjadi Nori, dan bersama Jiwa baik Ayahnya Niger.
Saat Nori makan bersama Niger, membacakan Dongeng untuk Nori, Mencium kening bahkan mengelus kepala Nori, Ia termanggu sesaat melihat itu.
Ia Terlalu Spechless.
'Ia pernah menjadi Nori?' -batin Sylvia
'Ia pernah menjadi Nori?' -batin Sylvia
''Hahaha, hentikan ayah menggelitikiku!"
"Ayah ayo bermain, Ayah adalah Pahlawan Nori!"
"Ayah Adalah Chef Terbaik milik Nori, Masakan Ayah sangat Enak!"
"Nori beruntung punya ayah sebaik Ayah Niger!"
"Nori ingin selalu bersama Ayah!"
"Hiduplah selamanya denganku Ayah?!"
"Maukah Ayah menjadi pasangan masa depan Nori? Seperti pangeran dan putri yang Nori baca di buku dongeng!"
"Hahaha Nori jangan terlalu sering bercanda bersama ayah,"
"Isshh, Ayah Nori Serius."
"Ayah sayang Nori,"
"Nori juga Sayang ayah,"
Kilasan memory Nori menghantui diri Sylvia, ia mulai bimbang dengan keputusannya,
Membantu Ayahanda Piere?
Atau?
Membantu Ayah Niger?
Tak terasa Matanya mulai memanas, matanya memerah, Lelehan air mata membanjiri wajah menawannya saat itu juga.
"Ia menginginkan Ayah seperti, Ayah Niger,"
Dulu, ia dipandang sebagai gadis terkuat, ia suka sensasi di hormati, disegani..
Dulu bisa dibilang ia gila hormat.
Padahal dalam dirinya, dirinya rapuh, dia butuh kasih sayang seseorang, ia butuh kasih sayang Ayahandanya Piere saat itu,
Namun apa yang di dapatkannya?
Piere mengatainya Lemah, dan tak berguna.
Pada saat itu impian akan kasih sayang dalam diri Sylvia menghilang, seiring berjalannya waktu ia sudah tak menginginkan kasih sayang seorang ayah lagi.
Ia memendam jauh jauh keinginanya, impiannya, hanya simpel ia tak butuh harta, kekuasaan maupun disegani.
Jika Sylvia bisa memilih ia memilih hidup sederhana dengan Superheronya Ayahnya -Piere, tapi itu ia buang sejauh jauhnya dari lubuk hatinya.
Saat ini ia bisa saja berbalik menusuk Piere jiwa jahat, dan berbahagia bersama Ayah Niger Aerlon dengan merubah dirinya menjadi Nori kembali.
Apakah ia sanggup?
Apakah ia akan berbahagia?
kenapa ia diberi pilihan yang sangat sulit?
Tak berhakkah ia berbahagia sedikit saja?
Secuil pun ingatan ia bahagia bersama Piere tidak pernah di dapatinya.
"Tusuk dia tepat di hadapanmu Sylvia!" Perintah Piere menggelegar.
Piere yang menatapnya tajam dan merendahkan,
Walau begitu Piere yang merawatnya,
Atau?
Niger Aerlon yang masih memandang lembut dirinya penuh kasih sayang,
walaupun ia tau dirinya akan menusuknya tepat dijantungnya,
Pada saat ia menjadi Nori, ia memiliki kenangan dengan Niger.
Ia berbalik berjalan menuju Piere dan segera menodongkan senjata bongkahan Es miliknya yang tajam.
"Sy-Sylvia apa yang kau lakukan, kau akan membunuh ayahanda mu sendiri, orang yang telah merawatmu?!" Sentaknya dengan mata memicing tajam ke arah putrinya.
"Jangan menjadi lemah seperti Nori, kau adalah Sylvia, gadis penyihir, darahku mengalir deras di dalam tubuhmu, darah seorang Einstein tidak pernah lemah, Dan kau tega membunuh ku?!" Piere memandang tak percaya pada Putrinya yang bersiap menusuknya.
Ia tak bisa kemana mana karena segel penghancur sialan itu, ia hanya bisa berteleportasi sekali, itupun sudah Piere gunakan untuk mengendalikan Sylvia.
"Darahku adalah darah seorang Einstein, otomatis Ayahanda Piere lebih kuat dariku yang notabene hanya putri, Exilir Emas dan Es yang ada di tubuhku bila bersatu dan bertubrukan bisa membuatku mati Ayah,"
"Ayahanda Piere tahu kah kau?"
"Sylvia lelah, letih, bahkan bosan hidup, Sylvia pernah berusaha bunuh diri tapi gagal,"
"Ayah selalu menghinaku, menekanku untuk menjadi seperti yang Ayah pikirkan,"
"Aku tak tau bagaimana mengatakannya yang pasti, Ayah, kau menganggap Sylvia apa?"
"Alat, pengancur, atau boneka yang ayah mainkan di balik layar?"
"Aku seperti dikendalikan olehmu, aku selalu menuruti perkataanmu, kau tau apa yang ku inginkan?"
"Perasaan kasih sayang Ayah,"
"Sylvia sayang Ayah,"
"Selamat tinggal Ayah," Ia tersenyum lembut dengan wajah lembut dan teduh disinari oleh cahaya ilahi.
Semua orang di malam pesta itu menjadi saksi bisu,
SYLVIA EINSTEIN MENUSUK DIRINYA SENDIRI, TEPAT DI JANTUNGNYA!
Dengan kedua tangannya ia membalikkan bongkahan Es itu tepat depan di jantungnya, dan menusuknya dalam, sekali tusukan,
JLEBB!!
TRASS!!
"SYLVIA!"
"PUTRIKU!"
Teriak Piere dan Niger bersamaan.
"Uhukkk!"
Ia batuk darah, cairan kental menyembur dari mulut Sylvia.
Sylvia menatap nanar tangannya yang dipenuhi oleh darahnya sendiri, tetapi tak urung ia tersenyum lega, sebelum badannya mulai limbung.
Niger menangkapnya dan membelai pipi Sylvia, bahkan sekarang pakaian Niger sudah dipenuhi darah Sylvia.
Piere mulai menyesali perbuatannya akan sang putri, ia yang buta akan kekuasaan dengan menjerumuskan putrinya -Sylvia.
Ia sadar diri ia bukan ayah yang baik bagi putrinya dan sekarang putrinya Sylvia, kehilangan nyawanya tepat di depan matanya.
Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Ia tak bisa berbuat apa apa, ia tak bisa bergerak saat ini.
"Sylvia, buka matamu nak, ayah tak akan meninggalkanmu," Teriak Niger dengan memeluk erat Sylvia, ia pikir ini adalah hari terburuknya, putri nya yang selama ini ia jaga, pergi meninggalkannya tepat di depan matanya sendiri..
"Ayah Sylvia menyayangi Ayah!" Seru suara manis Sylvia, tak selang beberapa lama cahaya memutari tubuh Sylvia yang masih di peluk erat oleh Niger.
Cahaya itu menghilang bersamaan dengan tubuh Sylvia yang juga hilang dari pandangannya.
"SYLVIA TIDAK!!!" Teriaknya frustasi, ia menginginkan putrinya, hanya putrinya, ia menggelengkan kepalanya secara brutal.
"TIDAK?!TIDAK?!, INI HANYA MIMPI HANYA MIMPI!, TIDAK SYLVIA PUTRIKU!, BAGAIMANA MUNGKIN! MENINGGALKAN AYAHNYA SEORANG DIRI!" Teriak Niger, ia sepertinya gila, karena berbicara sendiri, dan menjawab sendiri disertai senyum anehnya.
Ia ingat percakapannya dengan putrinya saat di pesta, sebelum Piere muncul.
Bayangan memory melintas di benaknya.
"Iya, Jangan jauh jauh dari ayah ya," Pinta Niger memelas.
"Oke ayah, Nori juga akan selalu bersama dengan Ayah!" Ia tersenyum lebar menatap ayahnya lembut.
Niger tetap mempertahankan senyum lebarnya, dan selalu menunggu putrinya kembali hingga hari itu.
10 TAHUN KEMUDIAN
Pada hari itu, Niger meninggal dengan bunuh diri persis seperti putrinya.
Ia mengambil cangkir yang biasanya digunakan untuk bersulang, ia meminum anggur.
1 Teguk.
2 Teguk.
3 Teguk.
Ia meminumnya sambil mengingat-ingat wajah terakhir putri kecilnya,
Ia yang merasa obat yang ia masukkan ke anggur yang ia minum mulai bekerja, ia segera berjalan menuju peti mati yang sudah ada Foto putrinya yang tersenyum di dalamnya.
Tak ada yang tau ia mencampur Anggur yang ia minum dengan Racun mematikan.
Tak mempedulikan Jantungnya yang sakit seperti tekoyak, ia mulai menutup peti mati dengan semangatnya berharap sang putri dapat menemuinya.
"Uhukk!"
Darah amis menyembur dari mulutnya berceceran ke pakaian pria itu.
ia senang dapat menemui putrinya.
Tak berselang lama, Ia pun telah meninggalkan raganya.
Saat ia membuka mata ia melihat jasadnya yang sudah tertutup peti mati.
BRAK!!
Pintu terbuka tiba tiba, Terlihat Miko, Ajudannya yang berjalan cepat kearahnya, mulai menyingkirkan penutup peti mati tersebut.
"Ak-aku terlambat maafkan aku tuan," Ia menangis histeris, walaupun ia baru mengenal Tuannya, Duke.
Yah, Niger Aerlon sudah menaikkan pangkatnya yang semula Count menjadi Duke, berkat kerja kerasnya.
Ia bahkan sudah bisa menggeser tempat Duke Herion dari tempatnya.
Ia bertemu Miko 3 bulan yang lalu, di wilayah Duchy miliknya, dan memutuskan untuk menjadikannya orangnya.
Miko menangis histeris, sambil membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan menyedihkannya.
Niger menatap dirinya yang hanya terlapisi cahaya putih khas arwah, tiba tiba ada yang menepuk bahunya, ia berbalik dan melihat Putrinya -Sylvia yang melihatnya sambil tersenyum manis.
"Ayah, Sylvia menunggu, Ayah selama 10 tahun lamanya sejak Sylvia meninggal terakhir kali, akhirnya ayah akan bersama selamanya bersama Sylvia!" ia tersenyum senang melihat ayahnya akan bersamanya.
"Putri ayah menunggu, ayah?, Maafkan ayah nak bila tau Sylvia menunggu ayah sudah dari dulu ayah akan menyusul Sylvia," Serunya sedih.
"Tak apa ayah, ayo kita pergi," Jawabnya dengan senyum meyakinkan dan menarik ayahnya pergi dengan cahaya terang.
Meninggalkan Ajudannya, menangisi tuannya.
Pasangan Ayah dan Anak itu pun bahagia selamanya~
~End