Lemon berwarna kuning terang, sangat menggoda, tetapi, ketika kau mencicipi nya, wuii...
Tia berlari menuju warung mbok inah, uang dua ribuan ia genggam erat di tangan kanannya.
"Mbook... " gadis kecil itu berteriak dari jauh.
"Tia, jalan aja, ngapain lari begitu, nanti jatuh. " mbok Inah menatap ngeri pada gadis kecil yang semakin mendekat.
"Beli Lemon mbok, dua ribu, GPL ya? " kata Tia dengan nafas tersengal.
"GPL? Apa tuh? " tanya mbok Inah sambil memberikan sebuah Lemon.
"Idih, mbok Inah KEPO, " Tia kembali berlari setelah menyerahkan uang yang tadi ia genggam.
"KEPO? apalagi tuh? " mbok Inah melongo menatap gadis kecil yang semakin menjauh.
Tia gadis yang baru kemaren naik ke kelas dua SD, tetapi belum bisa baca tulis, karena belajar nya lewat kamera HP.
Gadis itu masuk ke dalam rumah, berhenti di depan pintu kamar ayahnya. Menatap ke arah pintu yang tertutup, dan melangkah cepat ke arah dapur.
Lemon yang ia beli di warung mbok Inah, ia peras dan tuang ke dalam gelas. Air Lemon yang berwarna kuning jernih, sangat menggoda.
Tia beranjak pergi ke luar rumah, lewat pintu belakang.
"Riniiii, main yuuuk! " teriak Tia ketika ia lewat di depan rumah Rini teman nya.
"Tia, kamu nggak Sekolah? " tanya Rini heran.
"Ayah belum bangun, " ujar Tia menatap Rini yang sangat rapi dengan pakaian Sekolahnya.
"Oh, ya udah, tunggu aja di sini, yuk masuk, bentar lagi kelar kok, " ajak Rini pada Tia.
Rini belajar didampingi oleh ibunya. Tia memperhatikan dengan penuh rasa iri.
Tidak berapa lama, ayah Tia datang mencari gadis kecil itu.
"Permisi, Rini, apa ada Tia di dalam? "
"Ada Om, nih orangnya, " Rini muncul dengan Tia di samping nya.
"Maaf ya Rini, pagi-pagi Tia udah mengganggu, " kata Ayah Tia menggandeng tangan Tia kembali pulang.
"Ya Om, nggak apa-apa kok, Tia ntar kita main lagi yaa, " teriak Rini menatap Tia yang semakin menjauh.
Tia mengacungkan jempolnya, tanda setuju.
"Tia, bikin air Lemon lagi, untuk siapa? " Tanya ayah setelah mereka berada di rumah.
"Untuk Ayah juga boleh, " ucap Tia sambil menyuap nasi goreng buatan ayah.
"Ayah kan nggak suka air Lemon, terus belinya pake uang jajan Tia lagi, ntar kalo mau jajan gimana? " kata ayah menatap gadis kecilnya yang semakin tinggi.
"Makanya, Ayah nikah saja sama mbok Inah, biar Tia nggak perlu beli Lemon nya, tinggal ambil aja, " kata Tia tanpa menatap ayahnya.
"Tia suka kalau mbok Inah jadi Ibu Tia? " tanya ayah pelan, sambil menghabiskan kopinya.
"Nnggak Ayah, kan biar nggak beli Lemon lagi, " jawab Tia melenggang ke dapur membawa piring kotor bekas makannya.
"Ya sudah, Ayah berangkat ya, Tia baik-baik di rumah, "
Tia berlari memeluk ayah, mencium tangan dan mendapatkan ciuman di keningnya, seperti yang selalu ia lakukan setiap ayah pergi bekerja.
"Cepat pulang Yah, " kata Tia sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Ibuu, nih air Lemon buat Ibu, sebagian diminum, sebagian di olesin ke wajah, biar cantik. "
Tia meminum air Lemon yang ia buat, sebagian ia oles ke wajahnya.
Kecut, tetapi, itulah ritual yang selalu ia lakukan dulu sewaktu Ibu masih ada.
Ketika Ibu sudah pergi, Tia masih terus melakukan kebiasaan ibunya dulu.
"Ya Allah, sayangi Ibu, seperti Ibu menyayangi ku, " bisik Tia, sambil terus mengoleskan air Lemon itu ke wajahnya.
Tamat.