Sihir, ujian dan gunung salju.
Nama ku adalah Loli, si penyihir cilik yang belum mahir dalam urusan menguasai sihir cinta.
"Putar 3 kali tongkat mu nak, pejamkan kedua mata mu lalu ucapkan dalam hati tujuanmu menggunakan tongkat itu!" seru ayah yang sedang mengajari ku cara manggunakan Tongkat Cinta ini, kecil mungil tapi manfaatnya tidak terhingga.
Ayah dan ibu merupakan penyihir tertua yang ada di desa kami, kami tinggal di bawah kaki gunung Fuji. Desa kami di huni oleh para penyihir yang hebat-hebat tapi entah kenapa dengan diri ku ini, kemampuan ku di bawah rata-rata penyihir cilik yang ada di desa ku, sedihnya aku.
"Ayah, apa harus aku ikut dalam kelas penyihir tongkat cinta?" tanya ku pada ayah.
"Kamu harus mengikutinya nak, tunjukan kalo kamu putri ayah, penyihir tertua Uno." ucap ayah bangga.
"Bagaimana dengan kemampuan ku yah? sampai sekarang saja aku belum bisa menggunakannya Tongkat Cinta ini." dengan suara yang hampir putus asa, aku duduk di samping ayah setel lelah berlatih.
"Jangan patah semangat nak." ayah yang tidak lepah dan henti memberikan semangat untuk ku berlatih.
"Dulu juga ayah bukan siapa-siapa tanpa ibumu, dengan ibumu lah ayah menjadi penyihir tertua dengan banyak melewati yang namanya kegagalan dalam menjadi penyihir.
"Baik lah, ayo kita berlatih lagi." ucap ku yang kembali bersemangat.
Aku terus berlatih hingga waktu yang di tentukan aku pergi menuju tempat berkumpulnya penyihir dari berbagai penjuru untuk melakukan ujian penyihir.
Aku berjalan dengan Puput, teman penyihir yang ikut serta dalam kelas penyihir yang kali ini mewakili kelas untuk mengikuti ujian tongkat cinta.
Sesuai dengan arahan dari wali kelas, kami berjalan menuju gunung salju.. sesekali aku dan Puput mengasah kemampuan Tongkat Cinta biar saat di tes, tidak ada kesalahan yang aku perbuat.
"Lihat itu!" Puput menunjuk dengan jari tangan kanannya, "sepertinya kita sudah sampai." ujarnya lagi.
"Iya, kamu benar."
"Eh lihat itu, waaah keren sekali." Puput yang melihat penyihir tampan.
"Ingat, kita ini disini untuk mewakili kelas berlomba bukan untuk nyari jodoh." Loli mengingatkan.
"Sambil menyelam, minum air.. tak apa lah. hihihi." ejek Puput.
"Terserah kau saja lah." aku berjalan mendahului Puput dan..
Buk...
"Akh.." rintih ku sambil mengusap bokonggg ku yang sakit terhempas ke salju.
"Maaf, aku tidak sengaja." sambil menjulurkan tangan kanannya untuk membantu ku berdiri.
"Iya tidak apa-apa." aku meraih tangan kanannya tanpa menoleh wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Iya tidak, hanya bongkonggg ku yang sakit." keluh ku lagi.
"Aku Lolo." ucap laki-laki yang menubruk dan membantu ku berdiri itu.
"Loli." aku menatapnya, seperti kenal tapi di mana ya? kenapa jantungku berdetak tidak karuan.
"Apa kau putri dari paman Uno?"
"Kau mengenal ayahku?"
"Beliau adalah guruku." akhirnya aku menemukan mu.
Setelah beberapa murid dari kelas lain di uji, kini giliran ku yang di uji.
"Aku pasti bisa." batin Loli dan mulai menunjukkan aksi tongkat cintanya.
Saat Loli memejamkan matanya entah kenapa malah wajah Lolo yang munjul dalam benaknya.
"Waaah Loli hebat." seru beberapa siswa.
Pok pok pok pok
Tepuk tangan menggema di area uji Tongkat Cinta.
Usaha tidak membohongi hasil, Loli yang otaknya bisa di bilang bebel, bisa juga kn menampilkan aksinya yang terbaik hingga di nyatakan menang meski hanya juara 2, itu sudah cukup sempurna untuk Loli.