Jika kita sudah tua, kita akan selalu bersama
Jika kita sudah tua, kita akan tetap saling mencinta
Jika kita sudah tua, kita akan saling menjaga
Jika kita sudah tua, kita akan mati bersama.
…
Akhir-akhir ini segalanya serasa bergetar, bumi yang dipijak seperti berderak-derak seirama dengan gesekan tulang tempurung di lututku. Sudah bertahun-tahun aku didera sakit, dan sudah lebih dari satu bulan ini kondisiku ada di titik terlemah.
Terkadang, di waktu sendiriku, aku merenungi banyak hal, terutama dirimu.
Dulu, saat kita menapaki bahtera rumah tangga, kita pernah bersumpah akan selalu bersama dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan. Kita akan saling mendukung dan menyayangi apapun keadaannya.
Janji itu selalu terngiang dan terpatri di dalam hatiku. Aku yakin pada cintamu bahwa kita akan bersama sehidup semati.
Tapi nyatanya sayang…
…
Kehidupan kita memang kurang beruntung. Tuhan memberi ujian pada kita dengan kesulitan ekonomi. Bertahun-tahun aku tidak memiliki pekerjaan tetap, harus bekerja ekstra keras, bekerja serabutan, melakukan apapun demi mendapatkan uang.
Sepuluh tahun dijalani dengan penuh perjuangan, nyatanya kehidupan kita masih belum membaik, bahkan aku terkena penyakit tulang yang membuatku tak dapat bekerja lagi seperti dulu.
Masih kuingat sore itu, ketika kau akan pergi meninggalkanku dan anak-anak kita. Saat itu aku sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Mau kemana, Ma?” tanyaku yang terheran-heran melihatmu mengemasi pakaian ke dalam tas.
Hening.
“Ma….” Suaraku lemah.
“Aku mau pergi,” jawabmu tanpa menolehku.
“Pergi kemana?” jantungku berdetak kencang, seperti sebuah pertanda buruk.
Kau berhenti mengemas, membalikkan tubuh menghadapku, “Dengar!” suaramu bergetar.
“Aku sudah tidak tahan hidup seperti ini,” lanjutmu, lalu air mata berurai di pipimu.
Aku mengerti sayang. Sangat mengerti. Tapi tegakah kau tinggalkan aku yang lemah ini, tegakah kau tinggalkan anak-anak kita? Bukankah kau seorang ibu yang harus melindungi buah hatimu?
Nyatanya kau tetap pergi.
Sayang, aku paham jika engkau pada akhirnya menyerah dengan kehidupan ini. Walau hati ini perih melihat langkahmu meninggalkanku. Tangisku tak terperi di malam-malam tanpamu. Sayang, raga dan jiwa ini semakin lemah dari hari ke hari.
…
Cinta melahirkan rasa
Cinta melahirkan sumpah dan janji
Cinta juga membawa kepedihan
Cinta membunuhku perlahan.
....
Simple Hayati
Desember 2021