(Kemeja Putih, Ujian, Ketos)
Dari lomba cerpen [Game] Pilih Kata dan Tulis Cerita - Period 3
Selamat membaca, Enjoy~
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Aku berlari dengan sangat cepat menuju ke sekolah, jangan tanya kenapa. Karena tentu saja, aku bangun kesiangan. Dan, yang membuatku takut adalah karena hari ini Ujian semester akan dimulai.
"Duh, akhirnya tinggal belok kanan dan sebentar lagi aku bisa tepat waktu sampai di sekolah" Aku pun berbelok ke arah kanan sambil berlari.
BRUK
Sudah bangun kesiangan dan telat untuk ke sekolah, sekarang aku malah baru saja bertabrakan dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak ku kenal saat berbelok tadi. Tunggu, tapi rasanya dia memakai seragam yang sama denganku.
"Hei, kamu tidak apa-apa?" Karena dia hanya duduk terdiam, aku pun berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Diam disitu" Jawabnya dengan nada dingin.
"Dih, udah di tanyain baik-baik malah di jawab jutek" Tak mau kalah, aku juga membalasnya dengan perkataan yang pedas.
Siswa tersebut akhirnya berdiri dan mengangkat kepalanya, dengan muka menahan amarah dia membenarkan rambutnya. Tapi satu hal yang aku akan akui, dia benar-benar tampan.
Jika harus di deskripsikan, matanya berwarna abu-abu keunguan. Helaian rambutnya, seperti berwarna emas namun lebih pucat. Dan yang pasti, tinggi serta bentuk badannya sangatlah pas layaknya seorang model. Apa jangan-jangan aku menabrak anak selebriti?
"Berhenti menatapku begitu, cepat tanggung jawab atas perbuatanmu" Siswa tersebut menatap tajam ke arahku.
"Huh? Apa yang harus aku tanggung jawabkan?" Walaupun ganteng, tapi rasanya aku akan memberi nilai -50 untuk sikapnya itu.
"Matamu rabun? Coba saja, lihat seragamku sekarang" Dia berdecak, karena kesal berbicara dengan orang yang lamban.
Wah, sekarang sepertinya aku mengerti alasan dia sangat marah padaku. Aku baru sama mengotori Kemeja Putih seragamnya, pantas saja aku di tatap setajam silet begitu. Dan, sepertinya aku merasa anak ini tidak asing.
"Astaga, aku minta maaf!" Dengan kikuk, aku sedikit menunduk sebagai tanda permintaan maaf.
Aku mencoba membuka tasku dan mencari tisu yang biasanya selalu aku sediakan di tasku, sayangnya bukannya menemukan tisu tersebut. Aku malah, menjatuhkan salah satu buku catatan rangkuman ujianku untuk seminggu ke depan.
"Ah, BUKU CATATAN RANGKUMAN UJIANKU!!" Percuma saja aku mencoba menyelamatkan buku itu, karena sudah terlanjur terjatuh.
"Huft, kenapa aku bisa bertemu murid perempuan seperti ini dari sekolahku" Siswa di depan ku mengeluh, seolah-olah aku sejenis manusia aneh yang baru di temuinya.
"Hei, berhenti mengeluh! Memangnya, kamu itu sempurna??"
"Kau.. Jangan-jangan, tidak tahu siapa aku?"
"Huh? Untungnya kalau, aku mengenalmu apa?" Luar biasa, baru kali ini aku bertemu seseorang yang memiliki kepercayaan diri sepertinya.
"Unik, baru kali ini ada yang tidak mengenaliku"
"Ya, terserahmu saja. Memangnya, kau itu siapa?"
"Aku? Baiklah, perkenalkan namaku Felix Diordan" Dia mengulurkan tangannya, sebagai tanda ingin berkenalan.
"Sebentar, Felix? Diordan?"
"Iya, siapa namamu?"
'ADUH, BENERAN KENAPA HARI INI AKU GAK BERUNTUNG SIH?!' Batinku.
"Jangan bilang, kamu Felix si Ketos kebanggaan sekolah yang selalu juara 1 satu seluruh sekolah?"
"Pada akhirnya, kamu tahu juga ya? Iya, aku ketos sekolah kita"
"Maaf kak, aku gak sengaja tadi" Jangan lihat wajahku, rasanya aku mau menangis sekarang.
"Ya, dibandingkan itu. Sepertinya, kita benar-benar sudah telat untuk ikut ujian" Felix melihat ke arah jam tangannya.
"Sekarang, jam berapa kak?"
"Heum? Jam 07.25"
"Belum terlambat kak, masih ada lima menit lagi"
"Tapi, kemeja putih seragamku?"
"Benar juga, aku lupa. Tunggu sebentar, kak"
Lagi-lagi aku membuka tasku dengan cepat dan mencari sweater over size yang biasanya selalu ku bawa ke sekolah, karena aku lebih nyaman jika memakai baju atau jaket yang kebesaran.
"Ini, kak Felix boleh pakai saja sweaterku dulu" Aku menyerahkan sweater berwarna putihku itu.
"Memangnya, tidak apa-apa?" Terlihat jelas, Felix ragu-ragu mengambil sweater tersebut.
"Bukannya, di sekolah kita tidak ada larangan memakai sweater?" Tanyaku, yang tidak memahami arti pertanyaan Felix.
"Lupakan, yasudah aku pinjam dulu ya sweatermu"
Felix mengambil sweater dari tanganku, kemudian dia membuka satu persatu kancing kemejanya yang terkena kopi tadi saat bertabrakan denganku. Melihat hal tersebut, sontak saja aku langsung menutup kedua mataku.
"Kenapa kamu tutup mata deh?"
"K.. Kan, kak Felix.. Mau.. Mau.. Ganti baju" Ucapku dengan nada bergetar.
"Kau ini bicara apa? Tentu saja, aku masih memakai baju di balik seragamku"
"Baju?" Aku langsung berbalik menghadap Felix dan benar saja, dia memakai baju hitam di balik seragamnya.
"Hei, masa iya aku mengganti baju begitu saja di depan perempuan?" Felix menggelengkan kepalanya.
"Ahaha.." Mati saja aku, rasanya malu banget sampai ke ubun-ubun.
Sesudah Felix selesai memakai sweaterku, aku mengambil seragamnya yang terkena kopi tadi untuk ku bawa ke laundry setelah pulang sekolah. Kemudian, aku langsung menarik tangan Felix dengan cepat agar tidak terlambat ke sekolah.
"Pelan-pelan, kita mau kemana?"
"Mau lewat jalan pintas, agar tidak terlambat ke sekolah kak"
"Memangnya, masih keburu? Kan, sisa beberapa menit lagi"
"Keburu, percayakan saja padaku kak" Dengan tersenyum percaya diri, aku melihat ke arah Felix.
'Cantik' Batin Felix.
Semenit sebelum gerbang sekolah di tutup, aku dan Felix akhirnya sampai di sekolah sesuai dengan perhitunganku. Setelah itu, kami berdua langsung berpisah dan menuju kelas masing-masing untuk mengikuti ujian.
"Ck, aku lupa menanyakan namanya!" Gumam Felix.
Seminggu kemudian, aku tidak bertemu dengan Felix. Bukannya aku tidak mencari, tapi aku sudah mencarinya di sekolah ini. Sayangnya, sekolahku memang sangat besar. Di tambah lagi, gedung murid kelas dua sepertiku di pisah dari murid kelas tiga yaitu angkatan Felix.
"Duh, kalau tidak ketemu terus begini. Gimana caranya aku bisa mengembalikan seragamnya?" Aku berjalan-jalan sepanjang koridor, sembari celingak-celinguk berharap bisa menemukan Felix.
"Hei, adik manis. Kamu mencari siapa di gedung kelas tiga?"
Aku menghadap ke arah belakang, namun tiba-tiba saja pergerakanku di halangi oleh segerombolan kakak kelas laki-laki yang tidak ku kenal. Kelima orang itu tersenyum aneh ke arahku, yang lebih tidak menguntungkan lagi saat ini aku ada di lorong yang sepi.
"M.. Maaf, siapa ya?" Tanyaku terbata-bata, memangnya ada perempuan yang tidak takut kalau di posisiku?
"Hahaha, kasihan tuh dia takut"
"Sampai gemetar begitu, bukankah malah semakin imut?"
"TOLONG!!!" Teriakku, karena salah satu dari mereka semakin berjalan mendekatiku.
"HAHAHA, tidak akan ada yang mendengarmu disini bodoh"
BUGH
Mendengar suara tonjokkan, aku pun membuka mataku yang tadinya ku tutup akibat ketakutan. Dan, pemandangan pertama yang ku lihat adalah Felix. Ya, seseorang yang menjadi alasan aku berkeliling ke gedung kelas tiga saat ini ada di hadapanku.
"Jangan berani-beraninya kalian mengganggu dia!" Felix meninggikan suaranya pada sekelompok siswa tersebut.
"Kak Felix.."
"Sekali lagi ku lihat kalian mengganggu dia, jangan harap kalian masih bisa bersekolah disini" Siapa saja pasti merasa ketakutan, kalau melihat tatapan mata Felix saat ini.
"K.. Ketua osis, kabur semuanya!!" Segerombolan siswa tersebut pun kabur.
Melihat mereka yang sudah kabur karena, di hajar dan di ancam oleh Felix. Aku pun jatuh terduduk, merasa lega karena sudah tidak di ganggu. Felix langsung berjalan mendekatiku dengan wajah khawatir.
"Kamu tidak apa-apa?" Felix berjongkok, menyamakan pandangannya denganku.
"Iya, terima kasih kak" Ucapku sambil tersenyum kecil.
"Tidak, kamu masih takut. Ayo, ikut aku ke suatu tempat"
"Kemana, kak?"
"Nanti, kamu juga akan tahu"
Felix berdiri dari posisinya, kemudian mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya, semenjak tidak bertemu dengan Felix. Aku merasa cukup aneh, lebih tepatnya seperti sepi. Tak berapa lama kemudian, aku baru tahu kalau Felix mengajakku ke bagian atap sekolah.
"Kenapa kesini, kak?" Tanyaku.
"Ini tempat kesukaanku, kalau sedang banyak masalah" Entahlah, bisa ku lihat wajah Felix begitu damai saat berada di tempat ini.
"Oh iya, ini seragam kemeja putihnya kak" Aku memberikan kantong yang ku bawa kepada Felix.
"Benar juga, sudah seminggu aku tidak melihatmu"
"Aku sudah coba mencari, tapi tidak ketemu"
"Terima kasih, tapi aku memang tidak ujian di sekolah setelah ujian hari pertama"
Dengan tatapan sendu, Felix menatap ke arah langit. Angin bertiup dengan kencang, rambutnya yang berwarna emas pucat itu ikut terkena hembusan angin. Membuatku bisa menyadari, kalau Felix terlihat sangat lelah.
"Kak Felix, ada masalah?" Tanyaku dengan nada pelan, takut menyinggungnya.
"Bukan masalah, cuman kewajiban memenuhi ekspetasi"
"Memenuhi ekspetasi? Untuk apa?"
"Karena, aku memang dilahirkan untuk menjadi anak yang sempurna" Jawabnya dengan tersenyum, seakan terbiasa.
"Maaf kak, aku gak bisa membantu apa-apa" Ya, memangnya apa yang bisa dilakukan anak SMA sepertiku?
"Santai saja, realitanya memang kita gak bisa apa-apa kan?" Felix tertawa kecil.
"Oh benar juga, aku lupa menanyakan namamu! Bodohnya aku, lupa menanyakannya sampai sekarang"
"Hahaha.. Namaku Carla Novera, salam kenal kak Felix" Aku tersenyum, sambil mengulurkan tanganku.
"Hai Carla, apa sehabis ujian nanti kamu ada waktu di akhir pekan?" Felix menerima uluran tanganku.
"Ada, kak Felix!" Mendengar jawabanku, Felix tersenyum.
Dan, bukannya aku tidak paham maksud pertanyaan Felix. Justru karena paham, makanya aku menjawabnya. Semoga ke depannya pun, aku bisa membuat kak Felix tersenyum seperti hari ini. Ternyata, tragedi tumpahan kopi di seragamnya waktu itu ada bagusnya juga.
THE END ♥️
Halo, di mohon bantuan dukungannya ya!! Tolong like dan komen, makasih 😁👍