Hujan, yang selalu datang ke telapak tanganku. Selalu berjalan, bak tangisan yang jatuh. Hidupku di penuhi dengan hujan yang dingin bak selat malaka. Selalu datang saat aku menangis bahkan saat ku jatuh ke jurang bahagia.
Hujan, sekalipun aku berteriak tetap saja akan memeluk hidupku. Kau mengeluarkan suara yang indah, bak minta dibelai. Membuaku jatuh cinta, seperti cintaku kepada manusia. Saat kau bertanya apakah aku membenci seseorang, hujan tak akan pernah meninggalkanku.
Mengalir bak darah, bersuara bak kicauan burung. Itulah arti hujan sebenarnya. Aku mencintai hujan, tapi itu mustahil. Karena hujan memiliki tubuhnya sendiri, maka mustahil bagiku untuk menyatu walau hanya dikulitnya saja.
Membuatku seolah lupa akan hidupku sendiri. Kau menghipnotis semua orang, berbisik di telinga bagai kau tahu segalanya. Aku tak ingin terhipnoris, tapi kau terlalu kuat bak keran yang dibesarkan oleh tangan mungil.
Di dalam mimpi kau membisik. Membisik kalau kau ingin pergi, pagi ke atas langit. Bertemu dengan rintik yang lain. Membuatku kesepian dan berteriak. Hanya satu hal yang akan membuyarkan semua itu, yaitu matahari yang bersinar dari ufuk timur sana.
Bisakah aku berbisik juga,mengucap selamat pada hujan yang selalu merangkulku. Selamat tinggal pada dunia yang penuh dengan awan hitam dan rintik air yang terkadang menembus mata. Air yang selalu membasahi tubuh telanjangku yang tak bisa dilihat orang lain.
Kalau gak mau like juga gak papa kok, senyaman pembaca aja sih. ☺☺☺