Langit mulai berwarna orange, menandakan hari mulai sore. orange nya langit menambah kesan indah taman kota. Banyak orang yang berlalu lalang menikmati indahnya taman kota.
Aku menatap satu persatu orang yang berlalu lalang, menatap setiap kegiatan yang mereka lakukan. Berharap ada cerita menarik dari mereka untuk mengisi buku kosong yang saat ini aku genggam.
"Rino Dianto!!" teriak seorang wanita dari seberang. Aku memalingkan pandangan ku kearahnya yang saat ini sedang tersenyum ramah kepadaku.
Wanita dengan pakaian traning berjalan kearah ku yang langsung duduk disamping ku tanpa bertanya 'Apakah aku boleh duduk disini?' wanita ini bernama Siska, teman salah satu perguruan tempat aku kuliah.
"Masih ajah lu nulis kalimat manis di buku," ucapnya padaku. Aku hanya membalas nya dengan senyuman tipis. "lu tidak merasa jenuh apa setiap menulis kalimat-kalimat puitis dibuku mu?" lanjutnya.
"Bukan kah kamu melihatnya kalau aku menikmati setiap huruf dalam kalimat yang aku tulis. lantas, mengapa kamu mempertanyakan hal bodoh seperti itu," ucapku padanya. Dia tidak membantah atau pun menjawab ucapan ku. hanya fokus menatap kearah ku yang aku tidak tahu apa yang saat ini dia pikirkan tentang ku.
"Lu, tahu. Lu adalah orang yang aneh Dimata Gue. Tidak ada rasa kesepian yang terpancar dalam dirimu. Padahal, Gue berharap itu muncul, walau sebentar tapi tidak masalah. Karena, supaya Gue bisa masuk kehidupan lu. Layaknya, Pena dan buku yang saat ini lu genggam," ucapnya kepadaku yang masih menatap dengan tatapan penuh rasa.
Aku hanya bisa diam tidak menanggapi kalimatnya yang terlalu sensitif kehati. Kalimat yang bisa membuat orang berpikir rasa dia menyukai ku atau sebatas teman.
Dia beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan kalimat pamit sedikit pun. Aku hanya menatap kepergian nya yang perlahan tidak terlihat.
Aku kembali menatap sekeliling ku melihat kembali suasana nya. Aku merasakan Susana berbeda saat hadirnya dan saat tidak ada hadirnya. Disitu kini aku menyadari. Bahwa hadirnya lah yang memberi rasa kesepian itu. jadi, bagaimana bisa kamu melihatnya kalau saat kepergian mu yang memicu kesepian itu.
Aku membuka buku catatan manisku. "Aku bukan lah laki-laki yang bisa menunjukkan rasa kepadamu. Aku hanya lah laki-laki kaku dengan rasa yakin negatif di sisiku. buktinya hanya aku selalu berfikir bahwa kamu tidak menyukai ku, melainkan aku lah yang menyukai mu.
"Aku juga bukan laki-laki yang tangguh seperti yang kamu harapkan. Aku laki-laki lemah yang penuh rasa rapuh didalamnya. Yang perlahan-lahan waktu akan membawa ku pergi dari dunia ini dan hanya akan meninggalkan buku dan pena ini di atas meja aku menciptakan setiap kalimat rasa didalamnya,"
"Kamu, tahu. Aku selalu berfikir seperti apa aku akan pergi. Aku tidak ingin meninggalkan luka tanpa ingatan rasa yang belum terungkap kan. Maka dari itu aku menciptakan rasa itu di setiap bait tulisan dalam buku ini,"
"Aku menyampaikan rasa ku melalui pena ini, berharap kelak kamu akan membaca setiap bait rasa yang kutuang dalam buku ini,"
Buku ini adalah aku yang penuh rasa. kuberharap saat aku pergi. Rasa itu tersampaikan padamu." tulis ku pada buku ini, Dan tulisan terakhir yang kutulis untuk terkahir kalinya.
(Catatan Rino buat Siska. 1998)