Elena terbangun dengan nafas memburu dan keringat di sekujur tubuhnya.
Wanita itu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan yang gelap tersebut.
Hanya ada cahaya dari lampu taman yang masuk menyusup lewat jendela besar yang ada disisi kamar tersebut.
Ya,
Di sinilah Elena.
Di kamarnya.
Elena mengalihkan pandangannya ke sisi lain ranjang tempat tidurnya.
Meskipun sanar-samar, Elena masih bisa melihat Egi yang masih tertidur pulas di sana.
Elena meraih gelas berisi air putih di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Meneguk air putih dingin itu hingga turun membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering karena mimpinya barusan.
Sudah lama Elena tidak mendapatkan mimpi seperti itu. Tapi kenapa malam ini semuanya terasa begitu nyata?
Elena mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
El menyalakan lampu dan memeriksa bayinya yang tidur di box bayi tak jauh dari tempat tidurnya.
Ya, Rhea masih tertidur lelap di tempatnya.
Elena bisa bernafas lega sekarang.
Suara deru mobil yang masuk ke area garasi membuat El penasaran dan langsung menyibak tirai yang menutupi jendela kamarnya.
El mengintip dan bertanya-tanya, siapa yang datang tengah malam begini?
Terlihat mobil Kiki yang baru saja masuk ke dalam garasi.
El melihat ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya.
Pukul satu dinihari,
"Apa gadis itu sudah gila?" Gumam El tak percaya.
Bergegas El keluar dari kamarnya untuk menghampiri Kiki yang baru pulang.
Kiki masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap.
Sengaja ia melepas sepatunya agar tak menimbulkan suara yang mungkin akan membangunkan kak Egi maupun kak Elena.
Tepat saat Kiki menutup pintu depan, lampu diruangan itu menyala.
Elena sudah berdiri di sana sambil bersedekap.
Tampak raut kemarahan di wajah Elena.
"Darimana kamu?" Tanya Elena sambil melotot tajam ke arah Kiki.
"Bukan urusan kakak" jawab Kiki tak kalah ketus.
Elena berdecak.
Adik iparnya ini, selalu saja membuat masalah.
"Masuk ke kamarmu, dan jangan pernah mengulangi perbuatan seperti ini lagi" ucap Elena tegas.
"Kak El tidak berhak mengatur hidupku" Kiki menjawab masih dengan nada ketus.
Elena sudah akan berbicara lagi, saat tiba-tiba terdengar suara tangis Rhea dari dalam kamarnya.
"Urusan kita belum selesai. Kakak akan menginterogasimu besok pagi" ucap El sambil menunjuk ke arah Kiki.
El bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya.
Kiki hanya mencibir kaka iparnya tersebut.
Gadis itu sedikit berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai atas.
Saat masuk ke kamar, El mendapati Egi yang sudah bangun dan sedang menggendong Rhea.
"Kamu darimana, El?" Tanya Egi sembari menguap lebar. Pria itu kelihatannya masih mengantuk.
"Aku kelaparan, jadi aku ke dapur sebentar untuk makan" jawab El berbohong.
El segera mengambil Rhea dari gendongan Egi.
"Istirahatlah, Gi. Kamu harus kerja besok pagi" ucap El masih sambil menenangkan Rhea.
Egi mengecup kening Rhea.
"Kau juga segeralah tidur, kalau Rhea sudah tidur" ucap Egi sambil mengecup singkat bibir Elena.
Elena hanya mengangguk.
Egi merebahkan kembali tubuh lelahnya ke atas tempat tidur. Tak butuh waktu lama dan pria itu sudah kembali terlelap tidur.
Rhea sudah kembali tidur. Elena meletakkan bayinya dengan hati-hati ke dalam box bayi.
Elena kembali keluar dari kamar dan memeriksa ruang depan.
Benar saja, Kiki tak mematikan lampu dan langsung kabur ke kamarnya.
Bergegas El mematikan lampu di ruangan tersebut sebelum akhirnya ia kembali ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.
Matanya menatap ke langit-langit kamar.
Mimpinya tadi mendadak kembali memenuhi kepalanya.
El masih tak mengerti.
*****
Dokter Elena atau yang lebih akrab di panggil El oleh keluarga dan teman dekatnya.
Sebelum menikah, Elena adalah seorang putri di keluarganya.
Terang saja, El adalah anak perempuan satu-satunya sekaligus anak bungsu di keluarganya.
El punya dua orang kakak lelaki yang selalu sigap menjaganya.
Kak Devan dan kak Vian. Dua lelaki yang selalu menyayangi dan menjaga El.
Kedua kakaknya juga yang mengenalkan El pada Egi.
Ya,
Devan, Vian, dan Egi adalah sahabat beda usia.
Vian dan Egi adalah teman semasa SMA, sedangkan Devan yang dua tahun lebih muda dari Vian, selalu ikut nimbrung saat Egi dan Via sedang berkumpul. Jadilah mereka tiga sahabat yang akrab.
El sendiri sebenarnya enggan menjalin hubungan dengan seorang lelaki, sejak kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma mendalam menimpa El.
Namun berkat bujukan dari Vian dan Devan, akhirnya El membuka hatinya untuk Egi.
Hubungan El dan Egi memang terbilang singkat.
Hanya butuh beberapa bulan untuk keduanya saling mengenal sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk melenggang ke pelaminan.
El bekerja sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit yang ada di kota itu.
*****
"Pagi Kak," Kiki yang baru masuk ke ruang makan langsung menyapa Egi.
Gadis itu sudah terlihat segar.
El masih di dapur menyiapkan sarapan.
Rhea duduk di highchair dan sedang disuapi makanan oleh Egi
Kiki menghampiri keponakannya tersebut untuk sekedar menggoda atau mencubit pipinya yang gembul.
"Kamu gak kerja, Ki?" Tanya Egi pada Kiki yang masih berpenampilan santai pagi ini.
"Aku shift malam lagi, Kak. Jadi pagi ini aku dirumah saja" jelas Kiki masih tak mengalihkan pandangannya dari Rhea.
Bayi berumur satu tahun ini sungguh menggemaskan.
Kiki bisa menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk menggoda Rhea atau sekedar mengajaknya bermain.
"Bagaimana denganmu, El," Egi bertanya pada Elena yang kini juga sudah ada di ruangan itu.
El sudah selesai membuat roti isi. Wanita itu menyajikan sarapan di piring Egi, Kiki, dan piringnya sendiri.
"Aku shift siang. Aku berangkat setelah jam makan siang" jelas El.
Egi hanya mengangguk.
El membereskan sisa-sisa makanan di highchair dan di beberapa bagian tubuh Rhea.
Egi dan Kiki sudah menyantap sarapan mereka.
El ikut duduk dan menyantap roti isinya, saat terdengar suara yang tak asing menyapa mereka semua.
"Pagi semuanya" Raka, sahabat sekaligus asisten Egi menyapa semua yang ada di ruangan itu dengan wajah ceria.
"Pagi, Ra. Tumben pagi-pagi udah datang?" Egi yang membalas sapaan dari Raka.
Kiki dan El masih sibuk dengan sarapan mereka.
"Kita ada meeting pagi ini" ujar Raka singkat.
Ia menyapukan pandangan ke atas meja makan.
"Apa tidak ada sisa makanan untukku? Aku belum sarapan" Raka melontarkan pertanyaan yang membuat Egi dan El tertawa.
Segera saja El masuk ke dapur untuk mengambilkan sarapan untuk Raka.
"Hai Rhea cantik" sementara menunggu sarapannya, Raka memilih untuk menyapa Rhea yang sibuk bermain di highchair nya.
Raka hendak mencium Rhea, saat Kiki memukul tangannya.
"Jangan lakukan itu!" Ucap Kiki galak.
Sedari tadi Kiki memang duduk di dekat Rhea.
"Kenapa? Aku hanya ingin mencium pipi Rhea yang gembul ini" Tanya Raka polos
"Tidak ada yang tahu kau habis mencium berapa wanita sebelum masuk ke rumah ini. Jadi bibirmu itu pasti penuh bakteri. Kau bisa saja menularkan penyakit pada Rhea" ujar Kiki panjang lebar.
Egi yang sudah menghabiskan makanannya tergelak mendengar kata-kata dari Kiki.
Adiknya itu terkadang memang over protective terhadap Rhea.
Padahal El yang merupakan mamanya Rhea saja tidak sampai seperti itu.
Sementara itu Raka hanya manyun mendengar kata-kata Kiki.
"Aku tidak se-playboy itu, Ki" Raka membela diri.
"Siapa yang tahu?" Jawab Kiki ketus
El sudah kembali dari dapur membawa piring berisi makanan untuk Raka.
"Makanlah, Ra" ucap El sambil menyodorkan piring kepada Raka.
"Terima kasih dokter El" jawab Raka sambil mendudukkan bokongnya di kursi di samping Egi. Raka langsung menikmati sarapan gratisnya.
"El. Panggil saja El.
Kamu bukan pasienku dan kita tidak sedang di rumah sakit" protes El merasa risih.
Raka hanya meringis dan tak menyahut lagi.
"Cepatlah menikah, Ra. Biar ada yang membuatkanmu sarapan setiap pagi" nasehat Egi pada sahabatnya tersebut.
"Aku masih mencari bidadari yang mau menjadi istriku, Gi" jawab Raka sambil melirik ke arah Kiki yang sedang sibuk bermain bersama Rhea.
Sejak awal melihat gadis itu, Raka merasakan perasaan yang tak biasa.
Ya, meskipun kadang Kiki bersikap ketus kepadanya, tetap saja jantung Raka selalu berdebar-debar jika ada di dekat Kiki.
"Kau sudah terlalu tua untuk itu. Minta saja Egi mencarikan istri untukmu" Elena ikut-ikutan menimpali.
"Maaf aku tak ada waktu" sahut Egi sambil terkekeh. Elena ikut terkekeh.
"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Ayo Raka!" Egi menepuk punggung Raka yang sudah selesai menghabiskan sarapannya.
Egi mencium kening Elena dan berpamitan pada istrinya tersebut.
Tak lupa, Egi juga berpamitan pada Kiki dan Rhea.
Raka beranjak dari duduknya,
"Terima kasih, El untuk sarapan gratisnya. Aku pergi dulu" pamit Raka pada El.
El hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bye, baby Rhea" Raka hanya mentowel pipi gembul Rhea. Ia tak mau kena semprot dari Kiki lagi karena mencoba untuk mencium Rhea.
"Bye juga, putri Kiki." Pamit Raka sambil menggoda Kiki.
"Pergilah!" Jawab Kiki judes. Bukannya marah, Raka malah cengengesan sambil berlalu menyusul Egi yang sudah sampai di teras.
Elena membereskan piring-piring yang ada di atas meja, membawanya ke dapur.
"Jadi, darimana kamu semalam?" Tanya El pada Kiki yang masih saja asyik mengajak Rhea bermain.
"Pesta" jawab Kiki singkat. Gadis itu bahkan tidak menoleh ke arah kakak iparnya.
"Berapa kali kakak harus mengingatkanmu, Ki. Jangan pulang lewat dari jam sebelas malam" ucap El sedikit emosi.
"Kiki baru pulang dari rumah sakit jam sembilan, Kak. Kiki juga butuh hiburan" Kiki mencari alasan.
El hanya berdecak.
"Banyak hal lain yang bisa kamu lakukan selain pergi ke pesta-pesta tak jelas seperti itu" ujar El lagi.
Kiki hanya memutar bola matanya.
"Itu urusanku, kak. Kakak tak perlu ikut campur atau mengatur-atur hidupku" tukas Kiki dengan nada sedikit ketus.
"Ya, itu memang urusanmu. Tapi kalau Egi sampai tahu kelakuanmu, dia akan mengamuk dan marah besar" Elena mengingatkan.
Kiki hanya mencibir.
"Kak Egi tidak akan tahu. Bukankah kak El selalu melindungiku dan menutupi perbuatanku?" Kiki sudah beranjak dari duduknya dan pergi berlalu meninggalkan kakak iparnya tersebut.
Elena sungguh tak percaya dengan ucapan Kiki barusan.
Tak bisa di pungkiri, selama ini memang dirinya selalu menutupi perbuatan Kiki.
Tak jarang El harus berbohong pada Egi demi melindungi Kiki.
Elena hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Kiki dan berusaha menjadi kakak ipar yang baik untuk Kiki.
Tapi El tidak tahu kalau semuanya justru akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
El menggendong Rhea dan membawanya keluar dari ruangan itu.
El akan memikirkan soal Kiki nanti saja.
****
"Kak, biar Kiki yang menjaga Rhea hari ini" ucap Kiki yang kini berdiri di ambang pintu kamar Elena.
Elena sedang mengemasi baju dan perlengkapan Rhea. Tadinya ia akan membawa Rhea ke rumah mamanya dan menitipkannya di sana.
"Kau yakin?" Tanya Elena memastikan.
"Iya. Sudah, kakak berangkat sana!" Usir Kiki.
Elena hanya menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Kakak akan menghubungi kak Egi" ujar Elena.
Elena mencium kening Rhea yang masih terlelap tidur siang sebelum akhirnya berangkat menuju ke rumah sakit.
Sebelumnya, Kiki memang sudah sering mengasuh Rhea saat Elena harus bekerja di rumah sakit.
Meskipun hubungan Elena dan Kiki sedikit rumit, namun Kiki sangat menyayangi Rhea.
Kiki selalu bisa diandalkan dalam urusan mengasuh Rhea.
*****
Sore hari,
Egi baru saja sampai di rumah.
Elena belum pulang, namun tadi siang Elena sudah mengabari kalau Rhea di asuh oleh Kiki hari ini.
Jadi Egi cepat-cepat pulang sebelum Kiki berangkat shift malam.
Sejak awal melahirkan, Elena memang enggan memakai jasa baby sitter.
Elena lebih suka mengurus Rhea sendiri.
Sesekali Elena menitipkan Rhea pada mamanya saat dirinya harus pergi bekerja. Lagipula, jadwal kerja Elena hanya sebentar dan bukan sepanjang hari.
Jadilah Elena tidak terlalu kewalahan menghandel semuanya.
Egi masuk ke dalam rumah.
Kiki sudah rapi dan sepertinya gadis itu memang sudah siap untuk berangkat.
"Maaf, Ki. Kakak sedikit terlambat" ujar Egi sambil menyapa Kiki.
"Tak masalah kak" jawab Kiki santai. Gadis itu masih fokus pada ponsel di tangannya.
"Mana Rhea?" Tanya Egi.
"Rhea di kamar. Aku sudah menidurkannya tadi. Kakak bisa mandi dan makan dulu" ujar Kiki panjang lebar.
Egi mengangguk.
"Gi, berkas kamu ketinggalan" Raka tiba-tiba sudah muncul dari pintu depan membawa setumpuk berkas milik Egi.
Ya, tadi Egi memang pulang diantar oleh Raka.
"Thanks, Raka" jawab Egi sambil menyambar berkas yang tadi di bawa Raka.
"Ki, kamu bisa berangkat bareng Raka. Sekalian dia mau pulang itu" ucap Egi lagi.
Raka sudah memasang senyum bahagia. Ia sangat senang jika Kiki mau dia antar ke rumah sakit.
Kiki beranjak dari duduknya,
"Tidak, terima kasih. Kiki bisa nyetir sendiri" ucap Kiki jutek.
Gadis itu berjalan melewati Raka begitu saja, tak sedikitpun menyapanya.
Raka hanya bisa menghela nafas frustasi.
Gagal sudah acara berduaan bersama Kiki hari ini.
"Yaudah, Gi. Aku langsung balik aja" Raka akhirnya berpamitan pada Egi.
"Oke. Hati-hati, Raka. Makasih udah nganterin" jawab Egi.
Raka tak menyahut lagi dan segera pergi meninggalkan rumah Egi.
Mobil Kiki sudah pergi duluan.
Raka mendengus kesal atau mungkin dia sedang kecewa.
*****
Elena baru selesai menidurkan Rhea.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Belum ada tanda-tanda Kiki akan pulang.
Egi masih di ruang tengah mengerjakan beberapa berkas dan laporan.
Elena memeriksa ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari abang Devan.
Elena menelpon kembali abangnya tersebut.
"Halo, Bang. Tadi menelpon ya? Ada apa?" Tanya Elena.
"El, Kiki mabuk di klub" jawab Devan di seberang sana.
"Apa?" Elena bergegas pergi ke halaman belakang, menjauh dari Egi agar pria tersebut tidak mendengar pembicaraannya di telpon bersama Devan.
"Bisakah Egi menjemputnya? Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku" ujar Devan di seberang sana.
Tidak, tidak, tidak.
Egi akan marah besar kalau tahu Kiki mabuk di klub.
Elena memutar otaknya dan berpikir cepat.
"El, kau masih di sana?" Tanya Devan lagi.
"Iya, aku akan menyuruh Raka menjemput Kiki, Bang. Bisakah abang menjaganya dulu sampai Raka datang?" Putus Elena akhirnya.
Semoga Raka mau bekerja sama kali ini.
"Baiklah, suruh Raka cepat kesini" pesan Devan sebelum menutup telpon.
Setelah menutup telepon dari Devan, Elena bergegas menghubungi Raka.
"Raka, bisakah kamu menjemput Kiki di klub abang Devan sekarang?" Ucap Elena cepat sesaat setelah Raka mengangkat telepon.
"Apa yang terjadi pada Kiki, El?" Tanya Raka khawatir.
"Kiki mabuk" jawab El singkat.
"Apa?" Raka setengah berteriak saat mengucapkannya, membuat Elena harus menjauhkan telepon dari telinganya.
"Bagaimana dengan Egi?" Tanya Raka lagi.
"Aku akan mengurusnya. Cepat kamu jemput Kiki. Hubungi aku saat sudah sampai di jalan masuk kompleks" jawab Elena lagi.
"Baiklah" ucap Raka singkat sebelum menutup panggilan dari Elena.
Elena kembali masuk ke dalam rumah. Egi masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Elena memutuskan untuk masuk ke dapur sambil menunggu pesan dari Raka.
"El, ada apa?" Entah sejak kapan, Egi tiba-tiba saja sudah berdiri di dapur sambil memegang cangkir.
"Tidak, tidak apa-apa" jawab El tergagap.
"Kamu butuh apa?" Tanya El berbasa-basi.
"Aku ingin membuat kopi lagi" Egi menunjukkan cangkir yang ia bawa.
"Biar aku saja" ucap El cepat. Wanita itu meraih cangkir dari tangan Egi.
Saat sedang mengaduk kopi untuk Egi, ponsel El berbunyi.
Pesan masuk dari Raka,
El keluar dari dapur membawa kopi untuk Egi.
"Gi," panggil El sedikit merayu pada sang suami.
"Hmmm" Egi masih fokus pada berkas di tangannya.
"Aku lapar, bisakah kamu keluar sebentar dan membelikanku nasi goreng di ujung kompleks?" Ujar El lagi.
Egi meletakkan berkas di tangannya dan memandang wajah sang istri.
"Kamu tidak ingin makan yang lain? Yang ada di dapur?" Egi sepertinya akan menolak.
Elena menggeleng.
"Aku benar-benar ingin makan nasi goreng sekarang" kali ini El menampilkan wajah manjanya.
Egi tertawa kecil.
"Baiklah, istriku sayang. Aku akan membelikannya. Berikan aku satu ciuman" Egi memajukan bibirnya agar El bisa menciumnya.
El sedikit berdecak, namun akhirnya ia menurut saja dan mencium Egi.
Egi beranjak dari duduknya, mengambil kunci motor dan segera pergi membelikan nasi goreng untuk El.
Tak berselang lama setelah Egi pergi, mobil Kiki yang dikemudikan oleh Raka masuk ke halaman rumah Egi.
Bergegas El keluar dan membantu Raka untuk membawa Kiki maduk ke dalam.
"Biar aku saja, El." Ucap Raka sembari membopong tubuh Kiki yang kini sudah terkulai lemas.
Entah gadis itu pingsan atau tidur, Raka juga tak tahu.
Raka mengikuti langkah Elena untuk membawa Kiki ke kamarnya.
El membukakan pintu kamar Kiki, dan Raka segera menidurkan Kiki di atas ranjang yang ada di kamar tersebut.
"Dimana Egi?" Tanya Raka sedikit berbisik pada Elena.
"Sedang keluar membeli makanan. Kau tunggulah di luar, aku akan mengganti baju Kiki" ujar El.
Raka mengangguk dan segera keluar dari kamar Kiki.
Elena mengganti baju yang di kenakan Kiki dengan baju tidur, lalu menyelimuti gadis itu.
Baju-baju Kiki yang berbau alkohol buru-buru El simpan agar Egi tak curiga.
Tepat saat El keluar dari kamar Kiki, rupanya Egi juga sudah kembali.
"Raka, kamu kesini? Ada apa?" Tanya Egi menyapa Raka yang masih duduk di sofa ruang tamu untuk mengatur nafas.
"Ya, tadi aku dari rumah teman dan kebetulan lewat sini. Jadi aku mampir. Mungkin aku bisa dapat makan malam gratis" ujar Raka sambil melirik bungkusan makanan yang dibawa Egi.
"Aku hanya membeli dua. Aku tidak tahu kalau kamu datang" ujar Egi merasa bersalah.
"Tak apa, kita bisa membaginya menjadi tiga piring El yang baru turun dari tangga memberi solusi.
"Kiki sudah pulang, El? Dia mau ikut makan?" Tanya Egi pada Elena.
"Ya, Kiki baru saja datang. Tapi dia mengeluh kurang enak badan jadi aku memberinya obat dan menyuruhnya untuk tidur" jawab El berbohong.
"Kiki kenapa?" Tanya Egi khawatir.
Pria itu meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja di depan Raka dan bergegas menaiki tangga untuk menuju ke kamar Kiki.
"Kiki tidak apa-apa, Gi. Dia hanya kurang enak badan. Dia juga sudah tidur." Elena berusaha mencegah suaminya itu.
"Aku hanya ingin memeriksanya" jawab Egi dan tetap melanjutkan langkahnya.
Egi membuka pintu kamar Kiki, gadis itu sudah terlelap tidur dengan selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
Egi memegang dahi Kiki. Tidak demam.
'Mungkin benar kata Elena, Kiki hanya kelelahan' gumam Egi.
Ia pun keluar lagi dari kamar Kiki dan turun ke lantai bawah.
"Baiklah, ayo kita makan nasi goreng!" Ucap Egi pada Elena dan Raka yang masih berbincang di sofa ruang tamu.
Elena segera mengambil bungkusan yang yang tadi di bawa Egi, dan membawanya ke dapur, untuk membaginya menjadi tiga porsi agar Raka bisa ikut makan bersama mereka.
*****
Pagi hari,
"Kak, apa yang terjadi padaku?" Kiki menghampiri Elena yang sedang menyuapi Rhea di ruang makan.
Gadis itu memegang kepalanya dan masih sedikit sempoyongan.
"Kamu sudah bangun? Kamu mabuk semalam. Ada apa denganmu sebenarnya?" Ujar El emosi.
Tentu saja El marah, dia harus berbohong lagi pada Egi semalam gara-gara Kiki.
"Aku tidak tahu. Aku hanya minum air mineral, bagaimana mungkin aku bisa mabuk?" Kiki merebahkan krpalanya di atas meja makan.
Kepalanya terasa berat dan sakit.
Elena berdecak.
"Kamu tidak ada jadwal shift malam kemarin. Jadi sebenarnya kamu pergi kemana?" Tanya El dengan nada galak.
"Jerry mengajakku ke pesta ulang tahun temannya" jawab Kiki.
"Di klub?" Tanya El lagi.
Kiki mengangguk.
El mendengus menahan kesal di hatinya.
"Beruntung Bang Devan menemukanmu. Kalau kamu tidak bertemu Bang Devan, entah apa yang akan di lakukan Jerry padamu" ujar Elena masih dengan nada kesal.
"Kakak kan sudah berulang kali bilang kepadamu. Jangan bergaul dengan Jerry. Dia itu bukan lelaki baik-baik" nasehat El panjang lebar.
Kiki hanya memutar bola matanya.
Kepalanya terlalu sakit. Kiki juga malas berdebat dengan kakak iparnya yang semakin hari semakin bawel ini.
"Ya, ya, ya. Terserah kakak saja" jawab Kiki malas.
El berdecak tak percaya.
Ia sungguh kesal melihat Kiki yang selalu saja menyepelekan setiap kali El menasehatinya. Padahal itu semua juga demi kebaikan gadis ini.
El masuk ke dapur untuk mencuci peralatan makan Rhea.
"Kak, kepalaku sakit sekali" Kiki kembali mengeluh dan memanggil Elena.
Meskipun kesal, El tetap menyiapkan sarapan untuk Kiki.
"Makan sarapanmu!" El menyodorkan sepiring nasi goreng pada Kiki.
"Setelah makan, kau bisa minum obat ini. Kepalamu akan segera membaik" El juga menyodorkan obat ke hadapan Kiki.
"Apa kak Egi sudah berangkat?" Tanya Kiki sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Ya, Egi berangkat pagi-pagi karena harus mengantar Raka ke apartemennya." El menjeda kata-katanya.
"Sebaiknya kamu mengucapkan terima kasih pada Raka karena dia yang semalam menjemputmu di klub dan mengantarmu pulang sampai ke rumah" lanjut El lagi.
"Ya" jawab Kiki dengan malas sambil memutar bola matanya.
Berterima kasih pada Raka?
Yang benar saja. Si cowok playboy itu pasti akan kegeeran.
El menggendong Rhea dan mengambil tas besar yang berisi perlengkapan Rhea.
"Kakak mau membawa Rhea kemana?" Tanya Kiki seperti tidak rela.
"Kakak akan menitipkan Rhea ke rumah mama. Kakak ada shift pagi hari ini" jelas Elena.
"Kiki akan menjaga Rhea, Kak" ucap Kiki memohon.
"Tidak, kamu harus istirahat. Kakak akan pulang agak sore." Ujar El lagi.
Kiki hanya bisa berdecak kesal.
Ia bahkan belum bercengkerama dengan Rhea sedari tadi.
"Kakak pergi dulu. Jangan kemana-mana dan istirahat saja di rumah" pesan El sambil berlalu meninggalkan Kiki yang kini cemberut.
*****
Di rumah milik keluarga Elena.
Elena yang baru datang bersama Rhea langsung disambut oleh sang mama di teras depan.
"Sendirian, El?" Tanya sang mama sambil mengambil alih Rhea dari gendongan Elena.
"Egi ada meeting pagi, Ma." Jawab Elena sekenanya.
"Bang Devan di dalam?" Tanya Elena lagi.
"Iya. Masuklah! Mama akan bermain bersama Rhea di halaman" ujar bu Lita, mama dari Elena.
Elena bergegas masuk ke dalam rumah besar tersebut.
"Pagi, El" Vian yang melihat El datang langsung memeluk erat adik perempuannya tersebut bak anak kecil.
"Lepasin, Bang. El bukan anak kecil lagi" ucap El merasa risih.
Vian hanya tertawa.
"Dimana Bang Devan?" Tanya El pada Vian.
"Dev, adik kesayangan loe pulang" Vian memanggil Devan dengan berteriak di depan El. Membuat wanita itu harus menutup telinganya karena suara Vian yang keras dan memekakkan telinga.
Devan keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Berisik loe, Vi" ucap Devan merasa kesal.
"Noh, adek kesayangan loe nyariin" Vian menunjuk ke arah El yang masih berdiri di dekatnya.
"Tumben pagi-pagi udah kesini, El?" Tanya Devan sambil berjalan menuju ke sofa di ruang tengah.
El mengekori abangnya tersebut dan ikut duduk bersama Devan.
"Bisa abang ceritakan padaku apa yang terjadi pada Kiki semalam?" Elena langsung bertanya pada intinya.
"Kenapa tidak bertanya langsung pada adik iparmu itu?" Bukannya menjawab, Devan malah balik bertanya.
Membuat Elena berdecak kesal.
Devan bisa menangkap raut kesal di wajah Elena.
Pria itu malah tertawa.
"Aku baru datang, saat mendapati Kiki yang sudah mabuk bersama teman-teman prianya. Sepertinya ada yang berbuat iseng pada adik iparmu itu. Saat aku bertanya teman-temannya malah pada kabur dan tidak mau tahu. Jadilah aku menelponmu" jelas Devan panjang lebar.
El hanya menghela nafas
"Apa gadis itu masih ketus kepadamu?" Vian tiba-tiba sudah duduk di samping El dan ikut menimpali obrolan El dan Devan.
"Mungkin aku memang bukan kakak ipar yang baik untuk Kiki. Aku merasa apapun yang aku lakukan selalu saja dianggap salah oleh Kiki. Aki benar-benar sudah gagal menjadi seorang kakak." keluh El dengan nada sedih.
Devan tertawa kecil.
"Tak perlu memaksakan diri, El. Kamu sudah menasehatinya, itu sudah cukup." Ujar Devan berusaha menenangkan adiknya tersebut.
"Dan berhentilah melindungi Kiki. Egi harus tahu semua kelakuan adiknya itu" Vian ikut menambahkan.
El hanya diam.
Ia tahu sikapnya yang selalu melindungi Kiki itu salah. Namun El juga tidak mau jika hubungan Egi dan Kiki menjadi renggang.
Tapi mungkin Bang Vian benar. Egi harus tahu semuanya. Jadi Egi bisa menasehati Kiki.
Dan mungkin Kiki akan menurut jika Egi yang menasehatinya.
****
Elena baru saja keluar dari pintu utama bandara saat langit sudah berubah menjadi hitam.
El sudah tak sabar untuk bertemu dan memeluk Rhea, putrinya.
El menitipkan Rhea di rumah sang mama sejak kemarin malam.
El yang melihat Egi sudah menunggunya di dekat pintu masuk, segera menghampiri pria tersebut.
"Sudah lama?" Tanya El berbasa-basi sambil memeluk suaminya tersebut.
"Lumayan" jawab Egi datar.
El tak berkata-kata lagi. Keduanya langsung berjalan menuju ke arah mobil Egi yang terparkir tak jauh dari pintu masuk utama.
"Kau sudah menjemput Rhea?" Tanya El memulai obrolan.
Jalan dari pintu keluar bandara lumayan padat, jadilah laju mobil Egi juga sedikit tersendat.
Egi mengangguk.
"Rhea di rumah bersama Kiki sekarang. Aku menjemputnya sore tadi" jawab Egi sekenanya.
Perasaan El saja, atau ada sesuatu yang terjadi?
Dari nada bicaranya, Egi seperti menyembunyikan sesuatu dari El.
El memilih untuk tidak bertanya lagi.
Mungkin ia akan bicara pada Egi nanti saat mereka sudah sampai di rumah.
*****
Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, El memeriksa Rhea.
Saat dirinya sampai, Rhea sudah tidur, dan sekarang bayi itu masih terlelap.
Elena menciumi wajah Rhea, sembari mengusap lembut kepala bayinya tersebut.
Elena bahkan belum sempat menggendong atau bercengkerama dengan Rhea tadi.
Tapi mungkin besok Elena bisa melakukan itu semua bersama Rhea seharian.
Besok jadwal Elena kosong.
Elena keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Perutnya sudah keroncongan dan minta diisi.
Namun di ruang makan hanya ada Kiki yang sibuk menyiapkan makan malam yang tadi dibeli Elena dan Egi sewaktu perjalanan pulang dari bandara.
Dimana Egi?
"Ki, kakak kamu mana?" Tanya El pada Kiki.
"Kak Egi membawa makanannya ke ruang kerja. Katanya banyak berkas yang harus dia selesaikan" jawab Kiki menjelaskan.
"Ayo makan, Kak!" Ucap Kiki lagi.
Ini aneh, tidak biasanya Egi makan di ruang kerja sesibuk apapun dirinya.
Namun meskipun berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, El memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
El dan Kiki menikmati makan malam mereka dalam diam. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai obrolan.
*****
Elena sudah selesai membereskan sisa makan malamnya bersama Kiki tadi.
Kiki sedang bersantai di ruang tengah dan sibuk dengan ponselnya.
El memutuskan untuk memeriksa Egi di ruang kerjanya.
"Gi," Elena membuka pintu yang tak terkunci itu.
Egi di dalam sedang fokus memeriksa tumpukan kertas di depannya.
"Gi, kamu sudah selesai makan?" Tanya Elena berbasa-basi.
Elena melemparkan pandangannya ke piring yang ada di sudut meja kerja Egi.
Kosong.
Egi sudah menghabiskan makanannya.
"Apa kamu ingin aku buatkan sesuatu?" tawar Elena pada Egi.
Pria itu hanya diam sedari tadi dan tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan-pertanyaan dari Elena.
Egi meletakkan kertas yang tadi dipegangnya ke atas meja, lalu memandang ke arah Elena.
"El..." Egi menjeda kata-katanya dan menarik nafas panjang.
El menatap tajam ke arah netra milik suaminya tersebut.
"Siapa Adrian?"
****
Flashback...
Egi sedang di kantornya, memeriksa beberapa berkas dan dokumen.
Raka baru saja tiba di kantor Egi.
"Pagi" sapa Raka sambil tersenyum hangat pada Egi.
"Pagi, Raka. Tumben kamu terlambat" ucap Egi tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas yang ada di hadapannya.
"Macet" jawab Raka singkat sambil menampilkan senyuman garing.
Raka menyalakan laptop di atas meja kerjanya yang berada tak jauh dari meja kerja Egi.
Ya, dua orang itu memang bekerja di satu ruangan yang sama.
Meskipun dalam jabatan di perusahaan Egi adalah atasan dari Raka, namun Egi tak pernah bersikap kaku.
Egi lebih senang menganggap Raka sebagai rekan kerja.
Egi baru mengenal Raka setahun sebelum dirinya menikah dengan Elena.
Devan, abangnya Elena lah yang mengenalkan Egi pada Raka.
Saat itu Raka baru saja keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena satu alasan, dan Raka sedang mencari pekerjaan baru.
Devan yang merupakan sahabat Raka, langsung mengenalkan Raka pada Egi.
Pengalaman kerja Raka yang luas, membuatnya menjadi rekan kerja yang cocok untuk Egi.
"Apa Elena punya saudara yang bernama Adrian?" Tanya Raka tiba-tiba.
Egi yang tadinya fokus memeriksa berkas, langsung meletakkan kertas di tangannya dan menatap tajam pada Raka.
"Adrian siapa?" Egi malah balik bertanya.
Raka mengendikkan bahu.
"Aku bertemu Elena kemarin sore di pemakaman kota" Raka mulai bercerita.
Egi diam dan menyimak cerita dari sahabatnya tersebut.
"Aku melihat El berlutut dan menangis di sebuah makam, dan saat aku menyapanya, El langsung pergi meninggalkan makam itu" lanjut Raka panjang lebar.
"Lalu kau merasa penasaran dan melihat nisan di makam itu?" Egi mulai menebak.
Raka langsung mengangguk.
"Namanya Adrian. Meninggal sekitar empat tahun yang lalu" Raka menambahkan.
Egi tak menyahut, pria itu hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela kantornya.
Pikiran Egi berkelana.
Yang Egi tahu, Elena hanya tiga bersaudara dan tak ada saudara laki-lakinya yang lain selain Devan dan Vian.
Nama Adrian sebenarnya juga tak asing lagi di telinga Egi.
Beberapa kali Egi mendapati Elena menyebut nama itu dalam tidurnya.
Siapa Adrian?
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di pemakaman?" Tanya Egi menyelidik.
Sepertinya pria itu memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Raka berdecak
"Mengunjungi makam sahabatku. Apalagi? Kau pikir aku membuntuti istrimu?" Jawab Raka berapi-api.
Egi hanya tersenyum simpul.
"Aku hanya bertanya, Ra. Kenapa kamu emosi begitu?" Ujar Egi tak mengerti.
"Dan aku hanya memberimu informasi. Sudahlah! Pekerjaanku masih banyak" Raka memilih untuk menyudahi obrolannya dengan Egi.
Masih banyak email dan berkas yang harus Raka periksa.
Egi masih berdiri di tempatnya semula.
Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua yang terjadi di kehidupannya.
*****
Egi baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun saat kedua orangtuanya mengalami sebuah kecelakaan.
Sebuah titik balik di kehidupan Egi. Karena kecelakan tersebut langsung merenggut nyawa kedua orangtuanya.
Egi merasa sedih dan terpukul.
Saat itu usia Kiki baru dua belas tahun.
Kiki sama terpukulnya dengan Egi.
Bahkan gadis yang ceria itu sempat murung dan mengurung diri selama hampir sebulan.
Namun saat itu Egi sadar, kalau dirinya dan Kiki tetap harus melanjutkan hidup.
Untunglah ada beberapa sahabat dari kedua orangtuanya yang peduli pada Egi dan Kiki.
Merekalah yang menjadi orang tua asuh untuk Egi dan Kiki.
Saat Egi lulus SMA, Egi sudah harus belajar tentang menjalankan bisnis yang ditinggalkan oleh sang ayah.
Egi kuliah sambil bekerja dan juga mengambil peran sebagai orang tua untuk Kiki.
Egi selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Kiki. Karena bagi Egi, Kiki adalah segalanya saat itu.
Egi bekerja keras juga untuk Kiki.
Kebahagiaan Kiki adalah yang menjadi tujuan seorang Egi saat itu.
Egi bahkan lupa pada kebahagiaannya sendiri.
Egi tak pernah memikirkan tentang dirinya, hingga tanpa ia sadari usianya kian hari kian bertambah.
Egi bahkan tak pernah memikirkan tentang pacar atau jatuh cinta.
Hingga suatu hari Egi bertemu dengan Tasya, yang saat itu adalah teman kuliah Kiki.
Egi langsung terpesona saat pertama kali memandang wajah ayu Tasya. Egi juga merasakan perasaan yang dia sendiri tak tahu perasaan macam apa itu.
Egi ingin mendekati Tasya dan menyatakan perasaannya, namun gadis itu seperti menutup diri.
Hingga akhirnya Egi mendapati sebuah fakta bahwa Tasya memang sudah ada yang punya.
Apa Egi terlambat?
Entahlah.
Yang jelas saat itu Egi merasa kecewa dan sakit hati.
Namun sekali lagi, Egi memilih untuk menyimpan rapat rasa sakitnya itu.
Egi memilih untuk membuang jauh perasaannya pada Tasya dan melupakan gadis itu, meskipun rasanya sulit.
Egi selalu menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaannya di kantor, demi melupakan rasa sakit hatinya.
Egi hanya bekerja, bekerja, dan terus bekerja.
Lalu suatu malam, teman-teman SMA nya mengajak reuni kecil-kecilan di rumah Devan.
Saat itulah, Egi bertemu dengan Elena.
Devan mengenalkan Egi pada Elena.
Elena ternyata juga mengenal Kiki, adik Egi.
Dan sejak pertemuan itu, Egi mulai intens menghubungi Elena.
Egi sebenarnya juga tak tahu bagaimana perasaannya pada Elena saat itu.
Namun Egi merasa nyaman setiap kali dirinya bersama gadis itu.
Belum lagi keluarga besar Elena yang mendukung hubungan Egi dan Elena, akhirnya membuat Egi mantap meminang Elena sebagai istrinya.
Kedekatan Elena dengan Kiki juga membuat Egi semakin yakin kalau Elena adalah calon istri yang ideal.
Egi tak pernah mengorek atau mencari tahu tentang masa lalu Elena.
Keluarga besar Elena pun tak pernah menceritakan tentang masa lalu Elena atau tentang cinta pertama yang mungkin pernah dimiliki Elena.
Namun sejak awal Egi mengenal Elena, Egi seperti menangkap sebuah kesedihan di mata gadis itu.
Belum lagi sikap Elena yang saat itu selalu cuek dan acuh setiap Egi menghubunginya atau mengajaknya jalan.
Namun semua sikap acuh Elena itu berubah saat Egi mulai menyatakan perasaannya pada Elena.
Egi dan Elena akhirnya bertunangan dan mulai menjalani hubungan normal selayaknya orang yang sedang berpacaran.
Sejak saat itu juga, Egi tak pernah lagi memikirkan tentang Tasya.
Egi memilih untuk fokus dengan perasaannya pada Elena.
Enam bulan setelah Egi dan Elena bertunangan, mereka pun menikah.
Dan semua berjalan seperti semestinya.
Elena mengambil peran yang baik sebagai seorang istri dan sebagai seorang kakak ipar untuk Kiki.
Kebahagiaan Egi semakin terasa lengkap dengan hadirnya Rhea, di tengah-tengah keluarga kecilnya.
Tiga wanita yang ia sayangi, hidup rukun dan saling menyayangi.
Sebuah kebahagiaan yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga malam itu...
Egi yang lembur menyelesaikan beberapa berkas, baru masuk ke kamar lewat tengah malam.
Elena dan Rhea sudah tertidur pulas.
Namun, saat Egi baru saja merebahkan tubuh lelahnya, Egi mendengar Elena menangis dalam tidurnya.
Elena menangis tersedu-sedu namun matanya tetap terpejam.
Dan saat itulah, Egi mendengar sebuah nama disebut oleh Elena secara berulang-ulang.
"Adrian"
Egi baru malam itu mendengar nama Adrian.
Egi tidak tahu siapa Adrian dan ada hubungan apa antara Adrian dan Elena.
Ingin rasanya Egi menanyakan perihal Adrian ini kepada Devan atau Vian. Namun Egi takut. Egi takut jika dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang Adrian, perasaannya pada Elena akan berubah.
Mati-matian Egi meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Elena. Namun jauh di lubuk hatimya masih saja ada keraguan tentang perasaannya pada Elena.
Kadang terbersit juga di pikirannya kalau Elena hanyalah pelarian dari perasaan Egi pada Tasya yang tak pernah terbalas.
"Gi!" Panggilan dari Raka yang lumayan keras membuyarkan semua lamunan Egi.
Egi menatap pada Raka.
"Ponsel loe bunyi" Raka menunjuk ke arah ponsel Egi yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Bergegas Egi mengambil ponsel itu dan mengangkat telepon yang ternyata dari Elena.
Flashback off
*****
"Siapa Adrian?" Tanya Egi pada Elena yang sekarang berdiri mematung di hadapan Egi.
Tatapan Egi dan Elena saling bertemu, namun Elena tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan dari Egi.
Egi berdecak,
Mendadak ada nyeri di sudut hatinya.
"Apa Raka yang mengadu padamu?" Bukannya menjawab dan menjelaskan pada Egi, malah pertanyaan itu yang El lontarkan.
"Tidak juga" jawab Egi sambil menekan kuat-kuat pinggiran meja kerjanya. Egi ingin melampiaskan emosi yang mendadak membuncah di dadanya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang," ucap Elena lirih. Butir bening sudah jatuh di pipi wanita itu.
"Kenapa? Apa dia orang istimewa di hatimu?" Egi tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menaikkan nada bicaranya.
El semakin tergugu.
Tentu saja Adrian istimewa.
Rasa cinta El pada Adrian begitu besar, Adrian akan selalu menjadi yang teristimewa di sudut hati Elena yang paling dalam.
"Itu hanya masa lalu, Gi" Elena akhirnya membuka suara dan mencari pembenaran.
"Dan kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?" Egi masih pada pendiriannya.
"Karena aku tak mau lagi mengingatnya. Terlalu sakit jika aku mengingat semuanya. Aku hanya berusaha untuk move on dan membuka hatiku untukmu. Aku berusaha untuk lepas dari semua masa lalu itu. Tapi nyatanya aku tak pernah bisa melupakan itu semua. Aku tak pernah bisa, Gi. Maaf" El keluar dari ruang kerja Egi dengan airmata bercucuran.
Elena langsung masuk ke dalam kamarnya.
Elena menangis untuk meluapkan semua kesedihan di hatinya.
Elena sudah berusaha, namun mimpi tentang Adrian selalu saja menghampirinya belakangan ini.
Dan sekarang, Egi mulai membahas dan bertanya tentang Adrian.
Elena bukannya tidak mau terbuka pada Egi, namun Elena hanya merasa belum siap jika harus menceritakan semua itu pada Egi sekarang.
Di tambah pria itu sepertinya sedang emosi, Elena tak mau menyulut api pertengkaran di antara dirinya dan Egi.
****
Setiap orang punya masa lalu
Namun setiap orang juga bisa memilih
Apakah ia ingin tetap bersama masa lalunya
Ataukah ia ingin meninggalkan masa lalu itu demi memulai lembaran baru.
Egi masuk ke dalam kamar.
Elena sudah berbaring dan memunggungi pintu masuk.
Samar-samar masih bisa Egi isak tangis dari Elena.
Egi merengkuh tubuh wanita yang sudah lebih dari dua tahun ini menjadi istri dan teman hidupnya.
Egi merasa bersalah karena sudah berbicara kasar pada Elena di ruang kerjanya tadi.
Egi memeluk Elena dari belakang.
"Maafkan aku, El" ucap Egi lirih.
Elena masih menangis sesenggukan. Meskipun mata Elena terpejam, namun sepertinya wanita itu tidak benar-benar tertidur.
Elena bisa merasakan kehadiran Egi yang kini tengah memeluknya.
"Adrian adalah tunanganku saat itu..." ucap El terbata-bata di antara nafasnya yang masih sesenggukan.
Egi sedikit tersentak mendengar pengakuan El barusan.
Namun Egi tetap pada posisinya semula. Egi tetap merengkuh dan mendekap tubuh itu.
Egi akan membiarkan El untuk menceritakan semuanya.
Egi akan mendengarkan.
"Kami sedang merencanakan pesta pernikahan saat itu. Saat tiba-tiba Ian harus pergi karena ada panggilan mendadak dari atasannya di kantor..." Elena kembali menjeda kalimatnya.
Bisa Egi rasakan Elena yang tengah mengambil nafas panjang.
"Dan sore itu aku mendapat kabar kalau Ian mengalami kecelakaan..." air mata Elena kembali jatuh tanpa permisi. Namun El akan membiarkannya.
El akan menyelesaikan ceritanya.
"Ian meninggal saat itu juga. Ian meninggal dua hari sebelum pesta pernikahan kami berdua." Tangis El langsung pecah.
Egi mengeratkan pelukannya berusaha memberi kekuatan pada Elena.
Mata Egi bahkan sudah ikut berkaca-kaca sekarang.
"Duniaku terasa runtuh saat itu. Aku bahkan berkali-kali pingsan saat acara pemakaman Ian. Aku benar-benar putus asa dan kehilangan harapan. Aku depresi" lanjut El lagi. Derai air mata sudah memenuhi wajahnya.
"Mama mengirimku ke rumah paman di luar kota agar aku bisa ikut terapi dan sedikit melupakan Ian. Terlalu banyak kenanganku bersama Ian di kota ini." Elena kembali menerawang.
"Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya aku berhasil bangkit dari keterpurukan..." El menjeda kalimatnya.
Dadanya sudah terasa sesak sekarang.
Tapi El tetap harus menyelesaikan cerita ini.
"Mama, Abang Devan, Abang Vian,merekalah yang selalu memberiku semangat untuk kembali melanjutkan hidup" Elena kembali mengingat masa-masa berat itu.
Masa-masa saat dirinya hampir mengakhiri hidupnya karena putus asa.
"Aku tidak pernah bisa melupakan Ian sepenuhnya, tapi aku berusaha untuk terus melanjutkan hidupku, meskipun semuanya jadi terasa berbeda tanpa kehadiran Ian..."
"...Abang Devan terus memintaku untuk kembali membuka hatiku. Kata Abang Devan, aku harus bahagia" El berbalik dan menatap wajah Egi yang masih setia mendengarkan ceritanya sedari tadi.
"Lalu aku mengenalmu. Awalnya aku sedikit ragu. Namun saat melihat sikapmu yang lemah lembut dan penuh perhatian, perlahan aku mulai menemukan keyakinan itu" Elena menatap dalam ke manik mata milik Egi.
"Aku mencintaimu, Gi. Aku selalu berusaha untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Adrian hanyalah bagian dari masa lalu ku. Aku sudah mengubur dalam semua tentang Adrian dan semua kenangan bersamanya" ucap El bersungguh-sungguh.
Egi bisa menangkap kesungguhan itu dari netra milik Elena.
"Maafkan aku karena meragukan perasanmu kepadaku" ujar Egi merasa bersalah.
Elena menggeleng,
"Aku juga minta maaf karena tidak jujur padamu sedari awal dan sudah menyakiti hatimu" ucap Elena menarik nafas panjang.
"Kemarilah!" Egi meraup raga Elena ke dalam pelukannya.
Egi dan Elena tak berbicara lagi dan hanya saling diam.
Mungkin Egi sudah terlelap, namun tidak dengan El.
Kedua mata El bahkan tak terasa mengantuk sekarang.
El mendengarkan detak jantung Egi dan irama nafasnya yang mulai teratur.
Pikiran El menerawang...
*****
Adrian, satu nama yang selalu membuat hati Elena berbunga-bunga.
Elena dan Adrian adalah teman sejak SMA. Dan mereka juga berpacaran sejak duduk di bangku SMA.
Saat Elena masuk semester akhir dari kuliah kedokterannya, Adrian melamar Elena secara resmi.
Satu bulan kemudian, keduanya bertunangan.
Adrian dan Elena sudah merencanakan sebuah pernikahan indah.
Mereka akan menikah saat El sudah selesai di wisuda dan mendapatkan gelar dokter nya.
"Manusia berencana, namun Tuhan yang menentukan"
Itulah yang akhirnya terjadi pada hubungan Elena dan Adrian.
Tepat dua hari sebelum pesta pernikahan keduanya di gelar, Adrian mengalami kecelakaan.
Satu peristiwa yang membuat mimpi indah El hancur berantakan.
Laki-laki yang El cintai sepenuh hati harus kehilangan nyawanya saat itu juga, menyisakan kepedihan dan luka mendalam di hati Elena.
Elena bahkan enggan menjalin hubungan dengan pria lain setelah kepergian Adrian.
Elena takut...
Elena takut untuk mencintai lagi.
Elena takut, jika nanti orang yang ia cintai akan kembali meninggalkannya untuk selamanya.
Elena benar-benar belum siap untuk itu semua.
*****
Tangisan Rhea yang terbangun karena haus, membuyarkan semua lamunan Elena tentang Adrian.
Bergegas Elena bangun dan menghampiri bayinya tersebut.
Elena mengangkat tubuh mungil itu dari dalam box bayi dan menimangnya sebentar.
Setelah Rhea sedikit tenang, Elena segera mengambilkan susu untuk Rhea.
Dulu Elena tak menyangka, jika dirinya dan Egi akan cepat mendapat momongan.
Saat El mendapatkan dua garis merah, usia pernikahannya dengan Egi baru berjalan satu bulan.
Mungkin inilah cara Tuhan mengeratkan dan menguatkan perasaan di antara Elena dan Egi.
Tak bisa di pungkiri, kehadiran Rhea benar-benar memberikan warna baru di kehidupan Elena.
Elena bahkan sudah mulai melupakan Adrian dan semua masa lalunya.
Hingga kejadian tak terduga satu minggu yang lalu...
# Flashback satu minggu yang lalu,
Elena yang sedang tidak ada jadwal praktek, mengajak Rhea berjalan-jalan di mall yang ada di kota itu.
Elena berpikir untuk sekalian berbelanja keperluan bulanan.
Kapan lagi Elena menikmati momen berdua saja dengan Rhea seperti sekarang ini.
Saat Elena sedang mendorong stroller Rhea dengan santai, ada suara yang terdengar tak asing menyapa Elena.
"El..." suara itu,
El masih ingat betul dengan suara lembut itu.
Pemilik suara yang selalu memberikan pelukan hangat setiap El berkunjung ke rumahnya.
Sepasang suami istri yang saat itu sangat dekat dengan El, dan bahkan sudah El anggap sebagai orang tua kedua untuknya.
"Elena?" Sapa suara itu lagi, mungkin dia sedang memastikan kalau yang di sapanya benar-benar Elena dan dia tidak sedang salah orang.
"Tante, om, apa kabar?" Elena akhirnya membalas sapaan pasangan suami istri yang tak lagi muda tersebut.
Wanita paruh baya tadi langsung memeluk Elena dengan erat. Menumpahkan segala kerinduan karena sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan Elena.
"Bunda merindukan kamu, El" ujar wanita paruh baya tersebut.
Sesaat ada nyeri di hati Elena.
Dulu Elena memang memanggil keduanya dengan sebutan ayah dan bunda.
Bahkan Elena sudah mereka anggap sebagai putri mereka.
"El juga merindukan..." lidah El terasa kelu.
Haruskah ia tetap memanggil keduanya ayah dan bunda, meskipun El tahu Ian sudah lama pergi dari dunia ini.
El tak lagi mempunyai alasan untuk tetap menggunakan panggilan itu.
"El juga rindu pada om dan tante" pada akhirnya kata-kata itulah yang meluncur dari lidah El.
Nampak sangat kekecewaan di wajah dua orang tua tersebut.
Gadis yang mereka anggap sebagai putri mereka, kini telah banyak berubah seiring dengan perginya Ian, anak kandung mereka satu-satunya.
"Mamamamama" Suara Rhea yang memanggil-manggil El karena merasa diabaikan, segera memecah kekakuan di antara mereka bertiga.
Bunda Mira dan ayah Sandi bersamaan melihat ke arah sumber suara tersebut.
Seorang bayi perempuan mungil dengan dua pipi gembul yang sangat menggemaskan.
"Apa ini putrimu, El?" Tanya Bunda Mira sedikit tak percaya.
"Iya, tante. Namanya Rhea" ujar El menjelaskan.
Bunda Mira mengambil Rhea dari dalam stroller dan langsung menggendongnya.
"Kamu bahkan tidak mengirim undangan pernikahanmu kepada kami" ucap Bunda Mira sambil menatap wajah bayi Rhea.
El bisa menangkap ada nada kesedihan disana.
El benar-benar merasa bersalah.
"Bunda tidak pernah memberikan alamat kita pada El. Jadi bagaimana El bisa mengirim undangan?" Ayah Sandy berkata sambil tertawa renyah.
Bunda Mira ikut tertawa.
"Bunda lupa, Yah" ucap Bunda Mira.
"Tapi kami senang kamu akhirnya menemukan jodoh kamu dan mempunyai keluarga yang bahagia, El" ucap Bunda Mira lagi.
"Ian pasti juga sudah bahagia di sana" tambah Bunda Mira. Kali ini suaranya terdengar lirih.
Dan dada El menjadi sesak sekarang.
El bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada kedua orang tua Adrian ini.
"Apa om dan tante pindah lagi ke kota ini?" Tanya Elena berbasa-basi.
"Tidak, El. Kami hanya mengunjungi makam Ian dan berjalan-jalan sebentar menikmati hari tua" jawab Ayah Sandy sambil tersenyum hangat.
Lelaki paruh baya itu memang murah senyum sejak dulu. Sama dengan Adrian.
"Kami harus segera pergi, El. Lain kali kalau kami mampir lagi ke kota ini apa kamu tidak keberatan makan malam bersama kami? Kami sungguh ingin bertemu dan berkenalan dengan suamimu" Bunda Mira memberikan Rhea pada El.
"Tentu saja, El akan datang" jawab Elena sambil memasang senyuman hangat.
"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa" pasangan paruh baya itu pun melambaikan tangan pada El, sebelum menghilang ke pintu keluar mall.
El menarik nafas dalam-dalam dan meletakkan Rhea kembali ke dalam stroller.
Dada El terasa sesak dan matanya terasa panas.
Sungguh sebuah pertemuan yang tak terduga.
Empat tahun berlalu dan El masih belum bisa melupakan Ian sepenuhnya.
# Flashback off
Dan beberapa hari setelah pertemuan tak terduganya dengan kedua orang tua Adrian, Elena memutuskan untuk mengunjungi makam Adrian sekedar membawakan sebuket bunga lily putih untuk Adrian.
Tadinya El benar-benar hanya ingin berkunjung, namun seperti sebelum-sebelumnya El menangis di makam Adrian.
El kembali ingat semua hal tentang Adrian. Sekuat apapun El berusaha melupakan Adrian, El tidak pernah bisa melakukannya.
Adrian sudah menempati satu tempat di sudut hati El yang terdalam.
El tahu ini salah, tapi El juga tak bisa menyangkalnya.
Bahwa tak ada siapapun yang bisa menggantikan posisi Adrian di hati El.
Adrian tetap akan menjadi cinta pertama bagi Elena.
****