HALAMAN samping rumah besar itu tak terlalu luas. jejeran tanaman bonsai setinggi satu meter berbaris rapi, menjadi Pagar hidup yang memisahkan area taman dengan jalan setapak menurun menuju perkebunan. sekelompok kecil pohon pinang tumbuh subur di sudut kiri halaman, di apit pokok-pokok melati yang beberapa rumpunnya mulai berbunga.
Di tengah taman, dua ayunan besi berdiri kokoh menghadap ke jalan. seorang gadis duduk diam di korsi roda, tepat di sisi kanan ayunan. mata nyan menatap lurus ke arah petak-petak kebun teh yang membentang hijau menuruni lereng perbukitan tak jauh dari tempatnya berada. jauh di sisi timur, sosok besar gunung Salak masih tidur berselimut kan kabut pagi.
gadis itu menarik napas panjang. mencoba mengusir Jejak-jejak duka yang terlanjur menoreh ruang-ruang batinnya. sungguh... ia sangat lelah. lahir dan batin. ternyata sorot tajam kamera, kilau blitz Lampu-lampu panggung, dan gempita gemuruh suara pengagumanya hanya memampu membuat nya tersenyum sesaat. hanya sesaat... karena setelah itu Garis-garis sepi kembali ngebiri hati.
bibir nya mendesah pelan. ia tak pernah menyesal Tuhan akan cacat fisik yang di bawah nya sejak lahir.